-TAMAT-
Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.
Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.
Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.
Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 28 - Hukuman
Gus Faiz mulai menjalani hukumannya. Padahal, dia baru pulang dari rumah Akbar. Meski rumah Akbar tidak terlalu jauh namun tetap saja, dia baru saja kembali dari sana. Gus Faiz mulai memeras kain pel, lalu mulai mengepel lantai kamar mandi.
Kamar mandi santri laki-laki tidak pernah jauh dari kata bersih dan wangi. Itulah mengapa Ustaz Ridwan lebih suka memberikan hukuman membersihkan toilet kepada santri yang melakukan kesalahan.
Peluh mulai membanjiri dahi dan punggung Gus Faiz. Suhu badannya tinggi. Kepalanya mulai pening. Dia mulai memijit keningnya, lalu menggeleng, dan memaksakan diri untuk menyelesaikan hukumannya.
Sejak pergi meninggalkan pondok pesantren, Gus Faiz memang belum beristirahat, dia sangatlah lelah baik raga maupun jiwa.
“Ini, buat lo.” kata Rizki yang tiba-tiba datang ke kamar mandi.
Rizki menyodorkan air mineral kepada Gus Faiz. Gus Faiz mengambilnya. “Terima kasih.” kata Gus Faiz.
“Lo pucet banget!” seru Rizki.
BRUG!
Tubuh Gus Faiz pun jatuh ke lantai, air minum yang tadi dipegang Gus Faiz langsung tumpah begitu saja.
“Faiz!” seru Rizki.
Gus Faiz diam saja tidak bergerak, kini matanya tertutup dengan sempurna.
Rizki langsung menghampiri Gus Faiz, meraih kedua tangan Gus Faiz lalu menggendong Gus Faiz di punggungnya. Dia membawa dengan cekatan Gus Faiz ke ruang kesehatan. Gus Faiz pingsan.
***
Keesokkan harinya suara adzan subuh terdengar di telinga Gus Faiz. Dia mengerjapkan matanya. Lalu dia buru-buru bangun.
Kepala Gus Faiz masih terasa sakit. Tanpa memiliki waktu untuk mengamati keadaan sekitar, Gus Faiz memegangi kepalanya sambil meringis. “Aw!” ringisnya.
“Kamu sudah bangun, Gus?” tanya seseorang perempuan.
Gus Faiz melirik pemilik suara itu. Ning Aisha. Ning Aisha mendekat dan menyodorkan air minum kepada Gus Faiz.
Gus Faiz mengamati keadaan sekitar. Ternyata hanya ada mereka berdua di ruangan ini. Dia berada di ruang kesehatan. Ruang kesehatan berada tepat di tengah-tengah antara asrama putra dan asrama putri.
“Pergilah, saya tidak mau ada fitnah.” kata Gus Faiz terang-terangan menyuruh Ning Aisha untuk pergi meninggalkannya.
“Minumlah dulu.” kata Ning Aisha.
Gus Faiz pun mengambil gelas itu dan meminum air tersebut dalam 3x tenguk. Kerongkongannya sangatlah kering, dia kehausan.
“Terima kasih, dan pergilah!” seru Gus Faiz.
“Aku tidak mau pergi, aku ingin menjagamu.” kata Ning Aisha.
“Kau bukan istriku juga bukan adik atau ibuku, pergilah!” seru Gus Faiz.
“Biarkanlah aku menemanimu sampai kawanmu datang.” kata Ning Aisha.
Melihat Ning Aisha yang kekeh tidak mau meninggalkannya, Gus Faiz beranjak, dia melirik sekilas Ning Aisha yang diam saja. Gus Faiz hendak keluar dia tidak mau ada fitnah bila dia berada dalam satu ruangan dengan Ning Aisha.
BRUG!
Gus Faiz terjatuh. Ntah mengapa kepalanya sangat pening dan tubuhnya sangat lemas. Melihat Gus Faiz terjatuh, Ning Aisha buru-buru membantu Gus Faiz untuk kembali ke tempat tidur. Kali ini Gus Faiz pasrah, dia benar-benar tak kuasa berjalan sendiri.
“Saya mohon pergilah, tolong carikan saja Rizki!” kata Gus Faiz. Suaranya melemah.
“Kamu tunggu sebentar..” kata Ning Aisha. Dia hendak keluar. Meski dia sangat mengkhawatirkan Gus Faiz dan ingin selalu berada di samping Gus Faiz namun dia sadar kalau Gus Faiz bukanlah mahramnya.
“Tunggu!” seru Gus Faiz.
Ning Aisha berhenti dan menoleh. Dia menunduk hanya sekali melirik Gus Faiz.
“Jam berapa sekarang?” tanya Gus Faiz.
“Jam 4 pagi.” kata Ning Aisha.
“Terima kasih.” jawab Gus Faiz.
Ning Aisha tersenyum dan mengangguk. Lalu pergi keluar ruangan kesehatan, lalu dia mencari Rizki. Ning Aisha tidak mungkin masuk ke asrama putra karena dirinya seorang putri. Dia juga tidak tahu siapa itu Rizki.
Ning Aisha pun memutuskan untuk datang ke ruangan Ustaz Ridwan, dia berharap bisa meminta tolong. Karena dia tidak mengenal satupun santri putra selain Gus Faiz. Belum sempat Ning Aisha mengetuk pintu tiba-tiba pintu terbuka dan Ustaz Ridwan ada di sana.
“Ada yang bisa saya bantu, Ning?” tanya Ustaz Ridwan.
“G-Faiz sudah sadar, Ustaz.” kata Ning Aisha.
Ustaz Ridwan memandang Ning Aisha bingung. Dia menugaskan Rizki untuk menemani Gus Faiz, namun kini saat Gus Faiz sudah sadar, justri Ning Aisha yang melaporkan padanya. Tanpa memikirkan keadaan yang terjadi, Ustaz Ridwan langsung bergegas ke ruangan kesehatan.
Ning Aisha mengekor dari belakang.
“Di mana Rizki?” tanya Ustaz Ridwan.
“Siapa itu Rizki, Ustaz?” tanya Ning Aisha. Ning Aisha langsung memutar otak. “Ah, apa teman G-Faiz yang menemaninya?” lanjut Ning Aisha.
“Betul.” kata Ustaz Ridwan.
"Dia menitipkan Gus Faiz pada saya Ustaz, karena dia harus salat berjamaah, kebetulan saya sedang tidak salat." kata Ning Aisha.
Ning Aisha dan Ustaz Ridwan pun berjalan ke ruang kesehatan. Di sana sudah ada Rizki di samping Gus Faiz. Rizki mencium tangan Ustaz Ridwan cepat. Wajahnya menunjukkan kalau dia telah melakukan sebuah kesalahan.
"Dari mana kamu?" tanya Ustaz Ridwan.
"Maafkan saya Ustaz. Maafkan saya." kata Rizki.
Ning Aisha terus memperhatikan Gus Faiz, dia sangat ingin merawat Gus Faiz sampai sembuh namun itu tidak mungkin.
"Ekhm.." Ustaz Ridwan sengaja berdehem.
"Eh, saya kembali ke rumah dulu, Ustaz, Gus, dan Masnya." kata Ning Aisha.
Ning Aisha berbalik dan berjalan namun dia lupa kalau dia belum salam. Lalu Ning Aisha pun berbalik sambil tersenyum malu. "Assalamualaikum." salamnya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab Ustaz Ridwan, Gus Faiz, dan Rizki bersamaan.
"Tunggu!" seru Gus Faiz.
Ning Aisha langsung menghentikan langkahnya. "Ustaz, boleh saya berbicara dengan Ning Aisha?" tanya Gus Faiz.
"Silakan." kata Ustaz.
"Tolong sampaikan permintaan maaf saya karena semalam saya tidak jadi menemui Abah." kata Gus Faiz.
"Baik." kata Ning Aisha.
Pipi Ning Aisha memerah. Dua kali Gus Faiz menahannya agar tidak pergi. Dari dua seruan itu saja, Ning Aisha sangat senang. Dia merasa kalau dia sudah memiliki kesempatan untuk bisa dekat dengan Gus Faiz. Padahal, Gus Faiz hanya menitip pesan kepada Abahnya.
"Terima kasih." kata Gus Faiz.
Ning Aisha mengangguk, "Permisi." kata Ning Aisha berbalik dan keluar ruangan.
Kini tatapan Ustaz Ridwan tertuju pada Gus Faiz.
"Kamu menyukai Ning Aisha?" pertanyaan Ustaz Ridwan membuat Gus Faiz menoleh.
Gus Faiz tidak tahu arah pertanyaan Ustaz Ridwan. Yang dia tahu dia tidak boleh mengatakan hal-hal buruk tentang Ning Aisha. Lagi pula Ning Aisha adalah gadis yang baik dan sopan.
"Dia anak yang baik." jawab Gus Faiz.
Dalam hati Gus Faiz berharap kalau jawabannya tidak membuat Ustaz Ridwan menyangka kalau dia tidak menyukai dalam kategori cinta pada Ning Aisha.