NovelToon NovelToon
Dendam 172

Dendam 172

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying di Tempat Kerja
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Aku menceritakan semua hal yang kudengar dari Ibu Marlina, termasuk beberapa data yang sudah kucatat sejak awal kasus ini mencuat. Ruang rapat terasa hening saat aku mulai berbicara. Semua pasang mata tertuju kepadaku, seolah menunggu arah ke mana analisisku akan mengalir.

“Jadi, menurut saya ada beberapa orang yang berpotensi menjadi tersangka,” ucapku membuka penjelasan. “Kemungkinan pertama adalah ibu kandung Nirmala, bernama Lusi. Sampai saat ini keberadaannya tidak diketahui. Sebagai seorang ibu, sangat masuk akal bila ia menyimpan dendam atas kematian putrinya.”

Aku berhenti sejenak, memastikan setiap kata terserap dengan baik.

“Berdasarkan catatan kepolisian yang saya dapatkan, Nirmala dinyatakan meninggal lima tahun lalu akibat kecelakaan di Cirata,” lanjutku. “Namun, kita semua tahu bahwa laporan tersebut menyisakan banyak tanda tanya.”

Beberapa perwira terlihat saling pandang, tetapi tidak ada yang memotong pembicaraanku.

“Kemungkinan kedua adalah saudara Salman, teman dekat Nirmala,” kataku lagi. “Namun, setelah kami lakukan konfirmasi, yang bersangkutan sudah berada di Dubai sejak lima tahun lalu.”

Aku menarik napas panjang. Ada satu kemungkinan lain yang jauh lebih berat untuk diucapkan, tetapi aku tahu semua opsi harus disampaikan, seberapa pun tidak nyamannya.

“Kemungkinan ketiga,” ucapku dengan suara lebih tegas, “adalah anggota Polsek yang diberhentikan dan dimutasi pada Februari 2019.”

“Tidak mungkin,” potong Pak Cipto, Kapolsek Pasar Rebo, dengan nada keras.

Aku menoleh ke arahnya. “Saya hanya menyebutkan kemungkinan, Pak,” jawabku tenang. “Anggota yang diberhentikan dan dimutasi itu terkait langsung dengan kasus ini. Mereka diperlakukan tidak adil. Tuduhan sebagai pelanggar hak asasi manusia melekat pada mereka hingga hari ini.”

Aku melanjutkan tanpa ragu. “Padahal, yang mereka lakukan saat itu adalah upaya mengusut kasus kekerasan. Hanya karena para pelaku memiliki bekingan orang-orang berkuasa, anggota tersebut dimutasi, bahkan diberhentikan. Tuduhan pelanggaran HAM itu akan menghantui mereka sepanjang karier, bahkan sampai akhir hidup.”

Aku sadar ucapanku pasti menyinggung banyak pihak. Namun, aku tidak peduli. Jika penanganan kasus Nirmala dulu dilakukan secara adil, mungkin teror ini tidak akan pernah terjadi. Praktik penegakan hukum yang timpang justru menciptakan monster yang kini membunuh satu per satu.

Beberapa perwira menatapku tajam. Entah karena tersinggung atau marah, aku tidak tahu. Aku melirik Pak Nurdin. Wajahnya tetap datar, sulit dibaca.

“Analisa kamu terlalu berlebihan,” ujar Pak Cipto dengan nada tegas. “Dari lima korban yang sudah jatuh, tidak satu pun berasal dari kepolisian. Kalau pelakunya anggota polisi, seharusnya sasaran mereka juga polisi.”

Penjelasannya terdengar masuk akal, setidaknya di permukaan.

“Saya kira masalah ini jangan sampai melebar ke mana-mana,” timpal Pak Sunarji dari Polres. “Kita sudah menetapkan lima belas titik pengamanan. Sekarang sudah pukul 14.00 dan belum terjadi apa-apa. Artinya, kita tinggal menjaga lima belas orang itu. Cepat atau lambat pelaku akan bergerak, lalu kita sergap.”

Ia melanjutkan dengan nada dingin. “Membuka kembali kasus lima tahun lalu akan sangat sulit. Keputusan mutasi sudah keluar. Mutasi itu hal biasa. Lagipula, Pak Rinto, Kapolsek Pasar Rebo yang diberhentikan waktu itu, memang tinggal dua bulan lagi pensiun. Sampai sekarang, beliau masih menerima uang pensiun.”

Dadaku terasa sesak mendengarnya. Tuduhan sebagai pelanggar HAM seolah diselesaikan hanya dengan selembar keputusan dan uang pensiun.

Suasana kembali hening, hingga seorang perwira yang duduk di samping Pak Nurdin akhirnya angkat bicara.

“Menurut saya, kemungkinan yang disampaikan Pak Andi ada benarnya,” ucap Pak Tio. “Dan saya pribadi mencurigai Romi. Dia rekan saya dulu. Sekarang dia menjadi bos klub malam di beberapa kota. Hartanya besar, dan jaringannya dengan dunia bawah cukup kuat.”

Pak Nurdin berdehem pelan. Seketika ruang rapat yang sejak tadi dipenuhi perdebatan menjadi sunyi. Semua mata tertuju padanya.

“Saya sudah mendapatkan hasil autopsi dari kedua korban,” ucapnya sambil membuka map cokelat di hadapannya.

Ia memberi isyarat, lalu layar di depan ruangan menampilkan beberapa data dan foto. “Dalam darah korban ditemukan paparan zat adiktif. Kemungkinan besar narkotika. Zat ini mampu memicu halusinasi tingkat tinggi, sampai membuat seseorang melakukan tindakan berbahaya terhadap dirinya sendiri, termasuk bunuh diri.”

Foto-foto hasil autopsi berganti satu per satu. Dari segi fisik luar, tubuh korban tampak nyaris sempurna, tidak ada luka mencolok atau tanda kekerasan. Aku menyipitkan mata, memperhatikan detail yang lain. Pandanganku tertuju pada telinga kedua korban. Di sana terpasang sebuah anting kecil.

“Maaf, Pak,” kataku mengangkat tangan. “Bagian telinga bisa diperbesar?”

Pak Nurdin mengangguk dan memberi isyarat kepada operator. Gambar di layar diperbesar, menampilkan anting tersebut dengan lebih jelas.

“Bagaimana, Pak Andi? Apa yang Anda lihat?” tanya Pak Nurdin.

“Itu anting dengan kode merek Raka Surya,” jawabku mantap.

Aku berdiri, lalu menyerahkan beberapa foto yang sempat kuambil dari korban-korban sebelumnya kepada operator. “Maaf, Pak, mohon ditampilkan juga foto-foto ini.”

Pak Nurdin kembali mengangguk. Aku merasa lebih nyaman berdiskusi dengannya. Ia tenang dan terbuka, berbeda dengan sebagian perwira menengah yang sejak tadi terasa defensif.

“Di tiga korban sebelumnya juga ditemukan anting yang sama,” lanjutku.

“Izin bicara, Pak,” suara Zaki terdengar.

Pak Nurdin memberi isyarat mempersilakan.

“Raka Surya adalah ayah dari Riska, salah satu calon korban,” ucap Zaki.

Wajah Pak Nurdin tampak berubah. Ada ketertarikan sekaligus kewaspadaan di matanya.

“Jadi ada kemungkinan Riska masuk dalam daftar tersangka,” kataku menyimpulkan.

“Jangan asal bicara,” potong Pak Cipto dengan nada keras. “Pak Raka itu ayahnya mantan jenderal polisi. Kita tidak bisa sembarangan menuduh.”

Lagi-lagi status menjadi tameng. Aku menahan diri agar tidak tersenyum getir.

“Ya, jangan asal bicara,” timpal Pak Nurdin dengan suara lebih terkendali. “Bisa jadi pelaku sengaja meninggalkan jejak ini untuk mengalihkan tuduhan kepada Riska. Berdasarkan keterangan yang Anda sampaikan sebelumnya, Riska adalah dalang perundungan terhadap Nirmala. Jadi sangat mungkin pelaku ingin menghancurkan nama baik Riska dan keluarganya.”

Aku melangkah kembali ke kursi dan duduk. “Baik, Pak. Anggap saja pernyataan saya tadi tidak pernah diucapkan.”

Pak Nurdin menutup map dan berdiri lebih tegak. “Baiklah, untuk sementara kita simpulkan beberapa hal.”

Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. “Pertama, ini jelas teror. Pelaku menggunakan zat narkotika untuk mengendalikan korban. Karena itu, saya instruksikan kepada seluruh anggota yang bertugas mengamankan calon korban untuk memutus komunikasi mereka dengan siapa pun. Para calon korban harus tetap di lokasi pengamanan dan tidak diizinkan ke mana pun sampai pelaku tertangkap.”

Beberapa perwira mengangguk.

“Kedua,” lanjutnya, “membuka kembali kasus mutasi lima tahun lalu akan sangat sulit dan justru mengaburkan fokus kita. Untuk Pak Rinto, saya sudah konfirmasi. Saat ini beliau berada di Sulawesi bersama keluarganya. Alibinya kuat.”

Aku hendak menyela, tetapi Pak Nurdin mengangkat tangan, memberi isyarat agar aku menunggu.

“Sekarang fokus kita adalah saudari Lusi dan Salman,” tegasnya.

Aku mengernyit. Dalam benakku, arah penyelidikan seharusnya bisa mengarah ke anggota kepolisian yang dimutasi, tetapi itu seolah ditutup rapat.

“Untuk kemungkinan pelaku dari unsur kepolisian,” tambah Pak Nurdin, “sangat kecil. Tidak ada satu pun korban dari anggota polisi.”

“Jadi,” simpulnya, “prioritas kita ada dua. Pertama, pengamanan maksimal di lima belas titik calon korban. Kedua, melacak keberadaan Salman dan saudari Lusi.”

Secara logika, kesimpulan itu kuat dan masuk akal. Aku melirik jam. Jarum menunjukkan pukul 15.00. Dua jam telah berlalu sejak rapat dimulai, dan tidak ada pembunuhan baru. Untuk sesaat, aku hampir percaya semua analisis ini benar.

Namun ketenangan itu pecah tiba-tiba.

“Pak, Bapak harus lihat ini,” seru Zaki sambil berdiri.

Ia menyerahkan ponselnya kepada Pak Nurdin. Aku melihat raut wajah Pak Nurdin berubah drastis.

“Ada apa, Pak?” tanyaku.

“Pak Darmawan meninggal dunia,” jawab Pak Nurdin dengan suara berat.

“Innalilahi,” seru beberapa orang hampir bersamaan.

“Pak Darmawan mantan Kapolsek Pasar Rebo setelah Pak Rinto,” jelas Pak Cipto.

“Kenapa meninggal?” tanyaku cepat.

“Gantung diri,” jawab Pak Nurdin singkat.

“Boleh saya lihat, Pak?” pintaku.

Pak Nurdin mengulurkan ponsel Zaki kepadaku. Aku menatap layar. Sebuah video menampilkan jasad tergantung di sebuah ruangan. Mataku tertarik pada satu detail di belakang tubuh itu. Sebuah jam digital menempel di dinding.

Jam itu menunjukkan pukul 13.01.

Dadaku mendadak terasa kosong. Dalam sekejap, semua kesimpulan rapat ini runtuh. Teror itu belum berhenti. Kami hanya terlambat menyadarinya.

1
Nurr Tika
makin penasaran
Nurr Tika
sebanarnya meraka maunya pa
Nurr Tika
sebenarnya siapa mereka
Nurr Tika
apakah mereka terlibat akan teror itu
Intan Melani
iya kan si anak y di tolong kakek
Nurr Tika
lanjut,,,,,,
Nurr Tika
diantara mereka ada yg jd mata" siapa ya, lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,,
Nurr Tika
lanjut thor semakin seru
Fitur AI
Semangat ya pak , nanti jangan lupa mampir kenovel aku hehehe...🙏😊
Fitur AI
seharus nya bersukur punya cowo begini
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
benarkah nirmala msh hidup
Nurr Tika
lanjut thor
Intan Melani
aqkya pernah baca thor kayanya y si Nirmala di buang ke jurang sama 2orang cwo. di temuin sama kakek2 terus di obati terus di ajarin bela diri bwt balas dendam.
Nurr Tika
lebih banyak dong thor up nya
Nurr Tika
bikin penasaran thor lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,, apakah ini yg bls dendam pcaranya atau ibunya.
Nurr Tika
lanjut,,,,,
Nurr Tika
makin seru lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!