Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Bernama Lorenzo
Nama Lorenzo pertama kali terdengar seperti bisikan.
Bukan disebutkan keras-keras, bukan pula diperkenalkan secara resmi. Nama itu meluncur dari mulut salah satu pengawal Matteo dengan nada rendah, hampir seperti kutukan.
“Lorenzo terlihat di pelabuhan timur.”
Matteo tidak langsung bereaksi. Ia berdiri di dekat jendela ruang kerjanya, punggung tegap, tangan bersedekap. Dari lantai dua, ia bisa melihat sebagian halaman rumah—pengawal berjaga, mobil-mobil hitam terparkir rapi, semuanya terlihat terkendali.
Namun rahangnya mengeras.
“Sendirian?” tanyanya.
“Tidak. Dia membawa orang-orangnya.”
Matteo mengangguk singkat. “Biarkan dia menunggu.”
Kalimat itu terdengar tenang, tetapi pria yang menyampaikannya tahu: Matteo Mariano tidak pernah mengucapkan perintah tanpa alasan.
—
Carmela sedang duduk di ruang kecil dekat perpustakaan ketika Matteo memanggilnya.
Ia berdiri ragu-ragu di ambang pintu ruang kerja Matteo. Ruangan itu luas, dindingnya dipenuhi rak buku dan lukisan-lukisan gelap. Udara di dalamnya terasa berat, seperti menyimpan terlalu banyak keputusan dan terlalu sedikit belas kasihan.
“Kau memanggilku?” tanya Carmela pelan.
Matteo menoleh. “Duduk.”
Nada itu bukan permintaan.
Carmela duduk di kursi kulit di seberang meja besar Matteo. Ia memperhatikan wajah suaminya—dingin, terkendali, dan sedikit lebih tegang dari biasanya.
“Akan ada tamu hari ini,” kata Matteo. “Namanya Lorenzo.”
Carmela mengernyit. “Siapa dia?”
“Orang yang tidak perlu kau sukai.”
Jawaban itu membuat jantung Carmela berdegup lebih cepat. “Kenapa aku harus menemuinya?”
Matteo terdiam sesaat. “Karena dia akan menemuimu, suka atau tidak.”
Nada suaranya tegas, tetapi ada sesuatu yang tidak biasa—kehati-hatian.
“Apa dia berbahaya?” tanya Carmela jujur.
Matteo menatapnya lama. “Semua orang di lingkaranku berbahaya. Perbedaannya hanya pada seberapa sabar mereka.”
Carmela menelan ludah. “Dan Lorenzo…?”
“Tidak sabar.”
—
Lorenzo datang menjelang sore.
Ia tidak datang dengan tergesa-gesa, tidak pula dengan keributan. Mobil hitamnya berhenti di halaman seperti milik sendiri. Ketika ia turun, senyum tipis terukir di wajahnya—senyum pria yang tahu ia sedang menginjak wilayah orang lain dan menikmati setiap detiknya.
Ia tinggi, berambut gelap dengan garis perak di pelipis, mengenakan jas mahal dengan gaya yang lebih santai dibanding Matteo. Tatapannya tajam, penuh perhitungan, tetapi juga—mengganggu.
Matteo menunggunya di ruang tamu utama.
“Matteo,” sapa Lorenzo sambil membuka tangan. “Sudah lama.”
“Tidak cukup lama,” jawab Matteo dingin.
Lorenzo tertawa kecil. “Ah, kau selalu menyenangkan.”
Tatapan Lorenzo bergeser, lalu berhenti pada Carmela yang berdiri di sisi ruangan, sedikit di belakang Matteo.
“Dan ini pasti istrinya,” kata Lorenzo dengan nada penuh minat. “Cantik. Jauh dari apa yang kubayangkan.”
Carmela menegang. Matteo melangkah setengah langkah ke depan, hampir tidak terlihat, tetapi cukup jelas bagi Lorenzo.
“Jaga ucapanmu,” kata Matteo pelan.
Lorenzo mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah. “Aku hanya memuji.”
Matteo tidak menjawab. Ia memberi isyarat pada pengawal untuk meninggalkan ruangan. Hanya mereka bertiga yang tersisa.
Ketegangan terasa seperti kawat yang ditarik terlalu kencang.
—
Percakapan mereka dimulai dengan basa-basi—bisnis lama, wilayah, kesepakatan yang retak. Carmela mendengarkan dalam diam, berusaha memahami dunia yang bahasanya dipenuhi ancaman terselubung.
Lorenzo berbicara dengan santai, seperti pria yang tidak pernah merasa terancam. Ia menyesap minumannya perlahan, tatapannya sesekali melirik Carmela.
“Aku dengar ada penyerangan kecil kemarin,” kata Lorenzo ringan. “Peringatan, mungkin.”
Matteo menatapnya tajam. “Jika itu peringatan darimu, kau ceroboh.”
Lorenzo tersenyum tipis. “Jika itu dariku, kau tidak akan duduk setenang ini.”
Keheningan jatuh.
Carmela bisa merasakan udara berubah. Tangannya mengepal di sisi gaun.
“Apa yang kau mau, Lorenzo?” tanya Matteo akhirnya.
Lorenzo menyandarkan punggung. “Aku mau keseimbangan kembali seperti dulu. Kau mengambil terlalu banyak wilayah.”
“Aku mengambil apa yang tidak bisa kau jaga.”
“Dan sekarang kau punya istri.” Tatapan Lorenzo kembali pada Carmela. “Perubahan besar untuk pria sepertimu.”
Matteo berdiri.
“Kau melewati batas.”
Lorenzo ikut berdiri, namun senyumnya tetap santai. “Aku hanya menyatakan fakta. Istri adalah tanggung jawab. Dan tanggung jawab… selalu menarik.”
Carmela merasakan sesuatu yang dingin merayap di tulang belakangnya.
Matteo melangkah lebih dekat pada Lorenzo. “Jika kau menyentuh satu helai rambutnya—”
“Aku mati?” potong Lorenzo. “Mungkin. Tapi jangan lupa, Matteo. Dunia kita tidak pernah hanya soal hidup dan mati. Kadang, yang lebih menyakitkan adalah ketakutan.”
Matteo menahan diri dengan susah payah.
“Keluar dari rumahku,” katanya.
Lorenzo tertawa kecil, lalu berjalan pergi. Sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh ke Carmela.
“Hati-hati, signora,” katanya lembut. “Pria seperti suamimu selalu dikelilingi bayangan.”
Pintu tertutup.
—
Setelah Lorenzo pergi, rumah terasa lebih sunyi—namun bukan lebih aman.
Carmela berdiri mematung. “Dia… menakutkan.”
Matteo menghela napas pelan. “Ya.”
“Apa dia akan kembali?”
“Pasti.”
Carmela memeluk dirinya sendiri. “Aku tidak ingin menjadi alasan perang.”
Matteo menatapnya, matanya gelap. “Perang sudah ada jauh sebelum kau.”
Ia mendekat, lalu berhenti, seolah ragu.
“Aku akan memindahkanmu ke tempat yang lebih aman sementara.”
“Apa aku harus pergi dari sini?” tanya Carmela.
“Bukan pergi,” jawab Matteo. “Dilindungi.”
Carmela menggeleng pelan. “Aku tidak ingin bersembunyi seumur hidup.”
Matteo menatapnya lama. “Ini bukan pilihan, Carmela.”
Nada itu dingin—tetapi di baliknya ada sesuatu yang lain. Ketakutan.
—
Malam itu, Carmela terbangun karena mimpi buruk.
Ia duduk terengah-engah, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ketukan pelan terdengar di pintu.
Matteo masuk tanpa bicara.
“Aku bermimpi buruk,” ucap Carmela jujur.
Matteo duduk di tepi ranjang, jaraknya dekat namun tidak menyentuh. “Tentang Lorenzo?”
Carmela mengangguk.
“Aku tidak akan membiarkan dia mendekatimu,” kata Matteo rendah.
“Kenapa dunia ini seperti ini?” suara Carmela bergetar. “Kenapa kau memilih hidup seperti ini?”
Matteo terdiam lama. Lalu berkata pelan, “Aku tidak memilih. Aku bertahan.”
Carmela menatapnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat kelelahan di mata pria itu.
“Kau bukan monster,” katanya lirih.
Matteo tersenyum tipis—senyum pahit. “Kau belum melihat cukup banyak.”
Carmela mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Matteo dengan ragu. Sentuhan itu ringan, hampir tak terasa.
Namun Matteo menegang.
“Jangan,” katanya pelan.
“Kenapa?”
“Karena jika aku mulai merasa…” Ia berhenti. Menarik napas. “…aku akan lengah.”
Carmela menarik tangannya kembali, dadanya terasa sesak.
“Tidurlah,” kata Matteo akhirnya. “Aku di luar.”
Ia bangkit dan pergi.
Carmela berbaring kembali, matanya terbuka, pikirannya penuh satu nama yang kini terasa lebih berbahaya dari senjata apa pun.
Lorenzo.
Dan satu kenyataan yang lebih menakutkan:
Ia mulai peduli pada pria yang dunia dan darahnya bisa menghancurkannya kapan saja.