NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis Tipis Kepercayaan

Pagi datang tanpa kehangatan.

Carmela terbangun dengan tubuh masih kaku, seolah malam tadi belum benar-benar berlalu. Suara langkah kaki di luar kamar membuatnya terjaga penuh. Ia duduk perlahan, menatap pintu yang kini dijaga dua pria asing bersetelan hitam.

Pengawal.

Kata itu terdengar seperti perlindungan, tapi rasanya lebih mirip penjara.

Ketika pintu diketuk pelan, Carmela sudah siap.

“Masuk.”

Matteo berdiri di sana, wajahnya dingin, rapi, kembali menjadi Matteo Mariano yang dikenal semua orang—bukan pria yang duduk berjaga semalaman dengan senjata di tangan.

“Kau akan sarapan denganku,” katanya.

Bukan ajakan. Perintah.

Ruang makan kecil di sisi timur rumah terasa jauh lebih intim dibanding meja makan utama. Namun justru di sanalah tekanan terasa lebih pekat. Carmela duduk berhadapan dengan Matteo, mencoba membaca ekspresi pria itu.

“Kau tidak banyak bicara,” kata Matteo sambil menuang kopi.

“Aku sedang belajar diam,” jawab Carmela.

Matteo mengangguk tipis. “Pilihan cerdas.”

Beberapa detik berlalu sebelum Matteo melanjutkan, “Apa pun yang kau dengar malam itu—lupakan.”

Carmela mengangkat pandangannya. “Tidak semudah itu.”

“Di dunia ini, ingatan adalah beban.”

“Lalu kenapa kau membiarkanku mendengarnya?”

Matteo berhenti bergerak. Tatapan mereka bertemu.

“Aku tidak bisa mengontrol segalanya,” katanya jujur. “Dan kau bukan boneka.”

Jawaban itu… mengejutkan.

Menjelang siang, Carmela dipanggil ke ruang duduk utama. Don Salvatore duduk di kursi favoritnya, dikelilingi dua orang kepercayaannya. Matteo berdiri di sisi ruangan, bersandar pada dinding—tidak duduk, tidak ikut campur.

Isyarat yang jelas: ini ujian.

“Duduk,” kata Don Salvatore.

Carmela menuruti.

“Kau tahu kenapa aku memanggilmu?” tanyanya.

“Tidak, Tuan.”

Don Salvatore menatapnya lama. “Kau perempuan tanpa latar. Tanpa pelindung. Tanpa nilai strategis.”

Setiap kata terasa seperti pisau.

“Namun anakku memilihmu,” lanjutnya. “Dan pilihan Matteo jarang tanpa tujuan.”

Carmela menarik napas dalam-dalam. “Aku tidak tahu tujuan itu apa.”

“Jawaban yang aman lagi,” kata Don Salvatore. “Atau kebodohan.”

Matteo bergerak sedikit. “Ayah—”

Don Salvatore mengangkat tangan. “Biarkan dia bicara sendiri.”

Carmela menatap Matteo sejenak, lalu kembali ke Don Salvatore. “Saya tidak pintar bermain strategi. Tapi saya tahu satu hal—saya tidak punya siapa pun selain Matteo sekarang.”

Keheningan jatuh.

“Dan itu,” Carmela melanjutkan, suaranya bergetar namun tegas, “membuat saya berbahaya bagi orang yang ingin menjatuhkannya.”

Mata Don Salvatore menyipit.

Untuk pertama kalinya… ia tersenyum kecil.

“Perempuan miskin yang tahu posisinya,” katanya. “Menarik.”

Bukan pujian. Tapi bukan ancaman juga.

Namun ancaman datang dari arah lain.

Sore itu, Carmela berjalan di taman belakang, mencoba mengurai pikirannya. Langkah kaki lain menyusul. Seorang pria muda dengan senyum licin mendekat—Lorenzo, sepupu Matteo.

“Carmela, bukan?” katanya ramah.

Carmela mengangguk. “Ya.”

“Rumah ini bisa sangat… tidak ramah bagi pendatang,” lanjut Lorenzo. “Apalagi yang tidak tahu aturan.”

“Aku belajar,” jawab Carmela.

Lorenzo tersenyum makin lebar. “Belajar cepatlah. Karena orang seperti kau biasanya tidak bertahan lama.”

Nada suaranya halus. Isinya racun.

“Apa itu ancaman?” tanya Carmela.

“Peringatan,” balas Lorenzo. “Beberapa dari kami tidak suka perubahan.”

Carmela menatapnya lurus. “Beberapa dari kami tidak punya pilihan.”

Senyum Lorenzo memudar. Ia mencondongkan tubuh. “Pastikan kau tidak membuat Matteo lengah.”

Setelah itu ia pergi, meninggalkan udara yang terasa lebih dingin.

Carmela sadar: bahaya tidak selalu datang dengan senjata.

Malam hari, Carmela menemukan Matteo di ruang kerja kecil. Ia berdiri di ambang pintu, ragu.

“Masuk,” kata Matteo tanpa menoleh.

“Kau tahu tentang Lorenzo?” tanya Carmela.

Matteo menghela napas. “Dia bukan satu-satunya.”

“Aku tidak ingin menjadi alasan—”

“Kau bukan alasan,” potong Matteo tegas. Ia menoleh, matanya tajam. “Kau cermin. Dan tidak semua orang suka melihat dirinya sendiri.”

Carmela terdiam.

“Dengar aku,” lanjut Matteo, suaranya lebih rendah. “Mulai sekarang, kau tidak pernah sendirian. Ke mana pun kau pergi, kau bilang padaku.”

“Dan jika aku tidak mau?” tantang Carmela pelan.

Matteo mendekat. Jarak mereka kini sangat dekat. “Maka aku akan memaksamu.”

Kejujuran brutal itu membuat jantung Carmela berdegup kencang. Tapi anehnya… ia tidak merasa takut.

“Baik,” katanya akhirnya. “Aku percaya padamu.”

Matteo menatapnya lama. Lalu berkata pelan, hampir seperti pengakuan, “Itu keputusan paling berbahaya yang bisa kau buat.”

Malam semakin larut. Carmela kembali ke kamarnya dengan pikiran penuh. Ia bukan lagi pengamat. Ia bagian dari permainan.

Dan di tengah semua ancaman itu, satu hal mulai tumbuh—pelan, tak terucap.

Kepercayaan.

Rapuh. Tipis. Tapi nyata.

Ia tahu, sekali kepercayaan itu retak, tidak akan ada jalan kembali.

1
adinda berlian zahhara
/Smile/
Elva Maizora
bagus banget ceritanya thor
adinda berlian zahhara: terimakasih 🫰❤️
total 1 replies
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
putrie_07: iy Thor. iy klo bisa buat ada panas pnasnya🥵🥵🥵🥵
total 2 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!