Di masa depan, ketika perang telah membakar Bumi hingga tak tersisa lagi kehidupan, Rudy adalah seorang jenderal perang, pemegang kendali tertinggi kecerdasan buatan dan armada pemusnah umat manusia. Ia menang dalam perang terakhir, namun kehilangan segalanya.
Sebuah insiden ruang-waktu menyeret Rudy ribuan tahun ke masa lalu, ke era ketika dunia belum mengenal teknologi dan keadilan, ia membawa kekuatan yang cukup untuk menaklukkan segalanya, namun ia memilih jalan lain.
Tanpa merebut tahta, Rudy menantang tirani, melindungi yang lemah, dan membentuk dunia agar tak mengulangi kehancuran yang pernah ia lihat. Di tengah konflik dan kekuasaan, ia menemukan cinta, hidup sebagai manusia, lalu menghilang bersama waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adam Erlangga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Beberapa saat kemudian. Malam hari pun tiba.
Suasana malam itu di selimuti kesedihan mendalam bagi Rachel. Rudy masih memeluknya, dan kabut mulai terlihat.
"Apa kau kedinginan?"
Rachel hanya menganggukkan kepala di pelukannya.
"Kalau begitu, kita masuk kedalam. Oke?"
Rachel menggelengkan kepalanya.
"Aku ambilkan mantel dulu." kata Rudy yang mau berdiri. Tapi tangannya di tahan oleh Rachel.
"Hm, baiklah." kata Rudy dan langsung memeluknya lagi.
"Maaf sudah memancing pembicaraan seperti itu. Aku tidak tau kau memiliki trauma yang dalam."
Rachel masih tidak merespon, bahkan ia tidak bergerak sama sekali.
"Hmm, apa kau tau, aku memang sudah melihat jutaan orang mati begitu saja, tapi aku tidak pernah merasakan kesedihan yang begitu dalam. Ayahku meninggal saat aku masih dalam kandungan, dan ibuku meninggal setelah aku dilahirkan. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. dan setelah mendengar ceritamu tadi, aku jadi mengerti, begitu pentingnya orang tua bagi anaknya."
Rachel mulai memeluk lebih erat. Dan Rudy mengelus lengannya.
"Aku tidak bisa membayangkannya, ketika melihat orang yang paling di sayangi meninggal di pelukanku sendiri. Mungkin dunia terasa berhenti, tidak memiliki ambisi, tidak ingin hidup lagi, dan tidak ada artinya hidup ini. Tapi, masih ada orang lain yang membutuhkanku, masih ada orang lain yang membutuhkan perlindungan ku. masih ada orang lain yang mengharapkanku tetap hidup."
Ia pun mencium rambut Rachel, lalu memeluknya dengan erat.
"Dan sekarang, masih ada orang yang mencintaiku."
"Sekarang, aku tidak ingin melihat yang ketiga kalinya." kata Rachel pelan.
"Kalau begitu, aku butuh perawatan extra."
Rachel pun langsung melihat wajah Rudy.
"Apa maksudnya.?"
"Tidak, tidak ada maksud." Rudy menariknya dan memeluknya lagi. "Cukup begini saja aku sudah bahagia."
"Apa maksud mu hanya memelukmu seperti ini sudah cukup.? kau tidak memikirkan hal aneh lainnya kan."
Rudy tersenyum.
"Tentu saja sudah cukup untuk saat ini."
"Kau punya maksud lain kan, kau sudah merencakan sesuatu di masa depan."
"Tentu saja."
"Apa aku ada dalam rencana mu.?"
"Hmm, sepertinya semua rencana masa depanku adalah milikmu."
Rachel melihat wajah Rudy lagi. lalu Rudy menariknya lagi dan memeluknya dengan erat.
"Jangan melihatku seperti itu." sahut Rudy.
"Kau tidak berfikir yang aneh-aneh kan.?"
"Yang aneh apa.? justru kau yang berfikir aneh-aneh."
"Aku tau kau pasti punya maksud lain."
"Tidak ada,"
"Pasti ada."
"Tidak ada."
Suasana tiba-tiba menjadi tenang, suara air terjun terdengar nyaring saat itu. Tiba-tiba salju turun dari atas langit. Itu pertama kalinya Rudy melihat salju.
"Apa itu putih-putih.?"
"Hm.?" sahut Rachel sambil melihat kedepan.
"Ah, musim salju tiba."
"Jadi ini yang namanya salju.?"
"Kau jangan berpura-pura bodoh. Apa kau tidak pernah melihat salju.?"
"Ehm, di tempatku tidak ada salju. Hanya pergantian siang dan malam. Cuaca juga selalu cerah, hanya terkadang ada hujan buatan."
"Tempat aneh apa itu.?"
"Union, kolonial Union. Semuanya buatan, bahkan cuaca sekalipun."
"Hm, aku tidak paham. Tapi, apa kau senang sekarang melihat salju.?"
"Aku ingin menyentuhnya."
Rachel pun melepaskan pelukannya. "Kalau begitu sentuh lah."
Rudy pun berdiri, lalu berjalan kedepan dan menjulurkan tangannya. salju itu mendarat di telapak tangan Rudy.
"Wah, rasanya dingin sekali, seperti menyentuh es. Tapi terlihat lembut dan sangat putih."
"Setelah ini, jalanan akan di penuhi salju, atap rumah ini, akan di penuhi salju, bahkan sungai itu akan membeku."
"Ya, aku pernah melihat nya di video. Dan sekarang aku melihat nya secara langsung."
"Udaranya jadi dingin." sahut Rachel.
"Tunggu, aku ambilkan mantel." sahut Rudy sambil berlari kedalam rumah.
"huh, dingin sekali." kata Rachel sambil melihat air terjun.
Beberapa saat kemudian,
"Pakailah ini."
"Ah, terimakasih." sahut Rachel sambil menggenakan mantel.
"Tiba-tiba jadi dingin sekali ya. Bahkan telinga dan leherku juga dingin." kata Rudy.
"Tapi mantel mu ini hangat, tidak ada pakaian aneh seperti ini di istana. Kualitas dan bentuknya sangat nyaman di pakai."
"Ah, ada lagi." kata Rudy sambil mengeluarkan syal dari sakunya.
"Ehm? apa itu.?"
Rudy pun melingkarkan syal itu ke leher Rachel.
"Ini terasa nyaman. Leher ku jadi hangat."
"Pakai ini juga untuk melindungi telinga mu." kata Rudy sambil memakaikan topi tebal.
"Kau punya barang aneh untukku ya.?"
"Hehe, sebenarnya aku sudah menyiapkannya kemarin, aku melihat ramalan cuaca kalau akan turun salju hari ini. Untungnya kau datang kesini."
"Begitu ya, tapi bagaimana kau punya ide membuat barang-barang ini.?"
"Aku melihat video. Setelah itu aku melakukan persiapan."
"Video, apa itu.?"
"Itu nanti saja aku jelaskan, sekarang belum waktunya, kau akan benar-benar terkejut saat melihatnya. Kita nikmati saja momen ini."
"Oh, oke." kata Rachel sambil menggosokkan kedua tangan nya.
Rudy pun memegang kedua tangan Rachel, lalu meniupnya. "Eh.?" sahut Rachel terkejut. ia melihat wajah Rudy tanpa berkedip. Moment romantis terjadi lagi, membuat jantungnya berdebar-debar.
"Harusnya aku membuat sarung tangan juga untukmu. Apa masih dingin.?"
Rachel tersenyum sambil menggeleng kan kepala.
"Kita masuk kedalam, udaranya semakin dingin."
"Gak mau, tiup aja tangan ku seperti tadi." sahut Rachel tersenyum.
"Ha.?"
"Hihi. ayo tiup, tiup terus. Ya begitu, ini lebih baik."
.....
Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun memutuskan untuk masuk kedalam rumah.
"Kau akan kembali besok kan.? jangan bilang kau akan kembali sekarang." tanya Rudy.
"Uhm, udara jadi dingin di luar, aku akan tidur di rumah." jawabnya sambil tersenyum.
"Bagus, kamarmu sudah siap. kau bisa tidur kapan saja."
"Apa kau tidak tidur.?"
"Masih ada sesuatu yang harus aku buat."
"Kau mau buat apa.?"
"Sarung tangan untukmu, sepatu bot, pakaian hangat, syal dan topi kepala. Aku akan buat masing-masing 3 pasang dulu."
"Segampang itu kau menciptakan sesuatu.?"
"Ya bisa di bilang begitu sih. Yang penting ada blur print, bahan dan robot yang bekerja."
"Begitu ya. Emm"
"Kau tidak terkejut.?" tanya Rudy penasaran
"Hmm, apapun yang kau lakukan sekarang aku tidak terkejut sama sekali. Kau memang orangnya aneh, tapi juga menakjubkan. Kau memang orang yang penuh kejutan, tapi aku sudah mulai terbiasa."
Rudy tersenyum sambil mengelus kepalanya. Lalu Rachel tiba-tiba ingat sesuatu.
"Oh ya, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, dan aku benar-benar sangat penasaran."
"Apa itu.?"
"Beberapa hari yang lalu waktu aku kembali ke istana, semua orang heboh melihat wajahku. Mereka bilang aku semakin cantik dan bersih, apa itu karena cream pelembab yang kau berikan padaku.?"
"Ah itu. Cream hanya sebagai pelembab aja, biar wajah tetap terlihat fresh. Wajahmu jadi bersih karena kapsul medic. Waktu itu memang tidak ada diagnosis penyakit di wajahmu, tapi aku membersihkan noda pori-pori dan membuang kulit mati. Aku juga memberikan sedikit masker wajah dan vitamin kulit di wajahmu. Waktu kau memberikan cream pelembab, wajahmu akan terlihat sedikit bercahaya, putih dan bersih."
"Ah, jadi karena tempat kapsul itu ya. Ehm, aku mengerti, apa itu bisa di lakukan berulang kali.?"
"Normalnya perawatan dilakukan 1 bulan sekali, agar tetap terjaga biasanya orang-orang memakai sabun untuk membersihkan kulit luar. Aku sudah memberikannya padamu kan."
"Begitu ya, aku paham. jadi seperti itu, ehm." sahut Rachel dengan malu-malu
"Ada apa.? sepertinya kau tertarik dengan produk kecantikan."
"Apa aku terlihat cantik dimatamu.?"
"Prff, hahaha." Rudy tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kau tertawa."
"Itu pertanyaan yang tidak perlu kau tanyakan, sudah jelas jawabannya. Kau memang orang paling cantik didunia, di mataku tidak ada orang lain yang secantik dirimu."
Raut wajah Rachel benar-benar tersipu malu. Ia senang dan gembira, lalu tersenyum.
....