Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.
Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.
Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.
Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.
Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari-hari Kelam II
Hari ini, saat jam menunjukan pukul jam sebelas siang. Lestari sudah beresin rumah. Nyapu, ngepel, ngelap jendela—jendela yang penuh debu sampe tangannya item. Cucian numpuk di ember—baju Dyon, celana Wulandari, daster, handuk—semua harus dicuci tangan karena nggak ada mesin cuci.
Dia cuci di kamar mandi belakang. Tangannya yang udah lecet makin sakit karena kena sabun batangan yang kasar. Kuku-kukunya yang pendek penuh busa sabun, ujung jarinya keriput.
Siang itu panas banget. Matahari terik nusuk kulit. Lestari keringetan, rambutnya basah, lengket di leher.
Dia nggak makan dari pagi. Perutnya bunyi—kruyuk kruyuk—keras. Tapi dia nggak berani ambil nasi. Nanti kalau Wulandari tau, bisa dimarahin lagi.
Dia tahan aja. Haus juga ditahan—minum air keran dikit aja, biar nggak boncos.
Sekitar jam dua belas siang, Wulandari keluar dari kamar. Mukanya masih kesel—mungkin masih kepikiran Dyon yang dipecat.
"Eh, lo," panggil Wulandari.
Lestari yang lagi menjemur cucian di belakang rumah—di tali jemuran yang udah kendur, hampir nyentuh tanah—langsung nengok. "Iya, Mamah?"
"Sini."
Lestari masuk, jalan cepet ke ruang tamu. Wulandari duduk di sofa, mengupas singkong yang direbus—singkong kemarin yang udah bau asem dikit.
"Dyon pulang nanti sore. Sikat sepatu kerjanya. Ada di depan pintu kamarnya. Terus setelah itu lo masak lagi buat makan malam. Jangan gosong lagi kayak tadi pagi. Ngerti?"
"Ngerti, Mamah..."
"Bagus. Sekarang cuci piring siang gue dulu."
Siang gue? Berarti dia udah makan siang. Tapi... Lestari nggak dikasih.
Lestari ke dapur, liat piring—ada satu piring, sisa nasi, sisa ikan asin goreng, sisa tumis kangkung. Dianya cuma dapet ngeliat doang.
Dia cuci piring itu sambil menelan ludah. Perutnya makin bunyi.
Sore itu—sekitar jam lima—Dyon pulang.
Tapi mukanya... beda. Beda dari pagi. Merah. Matanya sayu. Jalan nya agak oleng.
Mabuk lagi.
Wulandari langsung ngomel. "Dasar anak nggak guna! Dipecat malah mabuk! Uang mana lo dapetin buat beli arak?!"
"Uang gue sendiri! Lo nggak usah ikut campur!" Dyon membentak balik, suaranya cadel.
Mereka tengkar lagi. Suara keras. Teriak-teriakan.
Lestari di dapur, lagi masak. Kali ini nasi goreng—karena nasi sisa kemarin masih ada. Dia coba masak lebih hati-hati, api nya kecil, terus diaduk pelan.
Tapi tengkaran di ruang tamu makin panas.
Terus—
"LO YANG BIKIN GUE JADI KAYAK GINI!"
Suara Dyon. Keras. Marah.
Langkah kaki berat mendekat ke dapur.
Lestari noleh—Dyon udah berdiri di pintu dapur, napasnya berat, matanya merah melotot.
"K—kamu kenapa?" tanya Lestari pelan, suaranya gemetar.
"Lo... lo pikir gue nggak tau? Lo... lo ngadu ke Mamah kan?! Bilang gue suka mabuk?!"
"A—aku nggak pernah—"
"BOHONG!" Dyon langsung maju, tangan nya menarik lengan Lestari keras, membanting dia ke tembok dapur.
"AH!" Punggung Lestari nabrak tembok keras, kepalanya nyungsep ke depan—hampir benturan tapi nggak.
"Gara-gara lo, Mamah ngomel terus! Gara-gara lo, gue diusir dari rumah! Gara-gara LO—"
"AKU NGGAK NGOMONG APA-APA! AKU BERSUMPAH!" Lestari teriak, air matanya keluar.
Tapi Dyon nggak percaya. Atau dia nggak mau percaya.
Tangannya mencengkram pipi Lestari—cengkramannya keras, bikin pipinya sakit, tulang rahangnya kayak mau remuk.
"Lo tau, gue benci lo. Gue BENCI banget sama lo. Lo cuma beban. Beban yang nggak guna."
Dia lepasin Lestari, dorong dia sampe jatuh ke lantai dapur.
Lestari jatuh—pantatnya nabrak lantai keras, tangannya menyangga badan tapi tetep sakit.
Dyon melangkah keluar, tapi di pintu dia berhenti, nggak noleh. "Nanti malem lo tidur di kamar. Gue mau lo melayani gue."
Kata-kata itu... kata-kata itu bikin Lestari merinding. Merinding parah.
Dyon pergi.
Lestari duduk di lantai dapur. Sendirian. Nasi goreng di wajan udah mulai gosong lagi—dia lupa matiin kompor.
Dia matiin kompor. Pindahin wajan. Terus dia... nangis.
Nangis sambil nutup mulut pake kedua tangan biar nggak kedengeran.
Bahu nya getar. Napasnya sesengukan.
"Ya Allah... Ya Allah tolong aku... kumohon... aku... aku nggak kuat..."
Malam itu, Lestari cuma dikasih nasi sama sambal buat makan. Lauk? Nggak ada. Sayur? Nggak ada.
Dia makan di pojokan dapur, duduk di lantai, piring plastik di pangkuan. Makannya perlahan. Setiap suapan terasa berat, susah ditelan.
Di ruang tamu, Dyon sama Wulandari makan nasi goreng yang—entah gimana—jadinya lumayan meskipun sempet gosong dikit. Mereka ketawa-ketawa nonton TV, acara komedi yang tawanya dikasih efek—hahaha yang dibuat-buat.
Lestari natap piring nya. Nasi putih polos. Sambal yang cuma cabe rawit diulek sama garam.
Ini... ini makanan nya aku sekarang.
Matanya natap ke jari-jarinya sendiri. Jari yang penuh plester. Luka-luka kecil yang terus bertambah tiap hari.
Di jari manisnya ada cincin.
Cincin lusuh. Cincin besi murah yang udah berkarat di beberapa bagian. Cincin yang dikasih Dyon waktu akad nikah kemarin—dikasih nya sambil nyengir, sambil bilang "ini cuma formalitas aja, ntar juga lo nggak usah pake".
Tapi Lestari tetep pake. Entah kenapa.
Mungkin karena... ini satu-satunya bukti kalau dia... kalau dia bukan budak. Dia istri. Istri sah secara agama.
Meskipun kenyataannya...
Dia bukan istri.
Dia budak.
Budak yang dipake buat kerja, buat layani nafsu, buat jadi sasaran kemarahan.
Lestari merem. Air mata netes lagi—entah yang keberapa kali hari ini.
"Ya Allah... sampai kapan aku harus bertahan kayak gini?"
Tapi nggak ada jawaban.
Yang ada cuma suara TV yang keras, tawa Dyon yang menjijikkan, sama kegelapan yang makin pekat di luar jendela.
Malem itu—sekitar jam sepuluh—Lestari dipanggil ke kamar Dyon.
Kamar yang harusnya jadi kamar mereka berdua, tapi selama ini cuma Dyon yang tidur di situ. Kamarnya lebih gede dari kamar gudang—ada kasur, ada lemari, ada jendela beneran dengan tirai lusuh.
Lestari masuk dengan kaki gemetar. Pintu ditutup di belakangnya. Dikunci.
Dyon duduk di pinggir kasur, rokok di mulut, asap nya ngepul ke langit-langit. Matanya natap Lestari dari atas sampe bawah—natap nya itu bikin Lestari pengen nutup badan meskipun udah pake daster.
lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁