Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
Lalu datanglah Mori.
Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Mori keluar dari toilet dengan langkah ragu. Ia sudah berganti dengan rok cadangan dari UKS, dan jaket hitam Lian kini tersampir di lengannya setelah ia lipat rapi. Perasaan Mori campur aduk; ada rasa terima kasih yang besar, tapi juga rasa malu yang belum hilang. Ia berjalan menuju parkiran, tempat Lian berjanji akan menunggunya.
Namun, pemandangan di parkiran membuat langkah Mori terhenti.
Di dekat motor Ninja hitam itu, Lian tidak sendirian. Ia sedang berdiri bersandar pada motornya, tampak asyik bercanda dengan Helena, kakak kelas sekaligus wakil ketua OSIS yang terkenal cantik, pintar, dan elegan. Mereka terlihat sangat akrab; Helena berkali-kali tertawa kecil sambil menyentuh lengan Lian.
Mori merasakan cubitan aneh di dadanya. Tadi manis banget nolongin gue, sekarang udah nempel sama Kak Helena? batinnya ketus.
Mori menguatkan hati dan berjalan mendekat. Begitu ia sampai di hadapan mereka, Helena dan Lian menoleh serempak.
"Eh, ini ya cewek yang lagi ramai diomongin itu? Pacar lo, Lian?" tanya Helena sambil menatap Mori dengan senyum ramah yang justru membuat Mori merasa minder.
Mori baru saja membuka mulut untuk membantah, "Bukan, Kak. Saya—"
"Bukan pacar, Kak," sahut Lian cepat, memotong kalimat Mori. Lian menatap Mori dengan tatapan nakal yang membuat Mori mendadak punya firasat buruk. "Dia itu Baby Girl kesayangan gue yang baru aja 'manja' minta dipakein jaket gue. Emang anaknya suka nggak mau lepas kalau udah nempel."
Mori melotot, wajahnya merah padam sampai ke telinga. Manja?! Nggak mau lepas?! Kalimat Lian seolah-olah menyiratkan bahwa mereka baru saja melakukan hal yang tidak-tidak.
Helena tertawa renyah. "Oalah, pantesan tadi lo buru-buru ke koperasi. Ya udah, gue duluan ya, Li. Mori, duluan ya."
Begitu Helena pergi dan jarak mereka sudah cukup jauh, Mori tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia merasa harga dirinya dipermainkan di depan kakak kelas yang ia hormati.
"Lian! Lo bener-bener keterlaluan!" teriak Mori.
"Kenapa? Gue kan emang nolongin lo tadi?" jawab Lian tanpa rasa bersalah.
"Nolongin nggak harus pake fitnah di depan Kak Helena! Lo bikin gue kelihatan kayak cewek gatel yang minta dipakein jaket!" Tanpa aba-aba, Mori melemparkan jaket hitam itu tepat ke wajah Lian.
PLAK!
Jaket itu menutupi kepala Lian. "Makan tuh jaket! Gue benci sama lo!"
Mori berbalik dan berlari meninggalkan parkiran dengan langkah cepat, mengabaikan teriakan Lian yang memanggil namanya. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan cowok red flag itu hari ini.
Mori berjalan cepat menuju gerbang sekolah, bermaksud mencari angkutan umum. Namun, sebuah mobil sedan putih yang sangat ia kenal berhenti tepat di sampingnya. Kaca mobil terbuka, menampakkan wajah Vano yang tenang.
"Mori? Belum pulang? Mau bareng aku aja?" tanya Vano.
"Nggak usah, Kak Vano. Aku naik angkot aja," jawab Mori ketus, sisa-sisa emosinya masih meluap.
Vano keluar dari mobil dan menghalangi langkah Mori. "Mori, di luar mendung. Sebentar lagi hujan. Aku nggak tenang biarin kamu pulang sendirian setelah hari yang melelahkan ini. Ayolah, sebagai partner debat, setidaknya biarkan aku antar kamu sampai rumah."
Mori ragu, tapi langit memang mulai gelap. "Tapi..."
"Nggak ada tapi. Oh iya, daripada langsung pulang, gimana kalau kita mampir ke kedai kopi di depan? Kita rayakan kemenangan debat kita tadi. Cuma berdua, sebagai tim," ajak Vano dengan senyum green flag-nya yang tulus.
Mori terdiam sejenak. Ia butuh ketenangan, dan Vano adalah definisi ketenangan. "Ya udah... makasih ya, Kak."
Mori masuk ke dalam mobil Vano. Ia tidak menyadari bahwa di belakang mereka, beberapa puluh meter jauhnya, sebuah motor Ninja hitam sudah menderu kencang. Lian, dengan jaket yang kembali ia kenakan, menatap mobil Vano dengan mata menyipit tajam.
"Mau main aman ya, Van? Kita liat seberapa lama lo bisa bikin dia tenang," desis Lian sambil menarik gas motornya.
Sesampainya di kedai kopi "Melodi Juara", Vano memesankan dua gelas latte hangat. Suasananya sangat nyaman, dengan musik jazz yang mengalun pelan. Vano mulai membahas tentang rencana lomba tingkat nasional ke depan.
"Mori, kamu tahu nggak? Tadi pas kamu peluk Lian, aku... aku kaget," ucap Vano tiba-tiba, mengubah topik.
Mori tersedak minumannya. "Kak, itu refleks, aku—"
Belum sempat Mori menjelaskan, pintu kedai kopi terbuka dengan kasar. Suara gemerincing bel di pintu terdengar nyaring. Sosok tinggi berjaket hitam masuk dengan aura yang langsung merusak ketenangan tempat itu.
Lian tidak memesan kopi. Ia langsung berjalan menuju meja Mori dan Vano, lalu tanpa permisi menarik kursi di samping Mori dan duduk di sana.
"Kopi di sini emang enak, ya? Gue juga mau coba," ucap Lian santai sambil mengambil gelas latte milik Mori dan meminumnya seolah-olah itu miliknya sendiri.
Vano menghela napas panjang, mencoba menahan emosi. "Lian, kita lagi ada urusan penting. Kamu nggak bisa hargai privasi orang sedikit?"
Lian menatap Vano dengan dingin. "Privasi Mori itu urusan gue. Dan lo..." Lian beralih menatap Mori yang sudah siap meledak lagi. "Baby Girl, lo lupa ya? Tadi lo bilang mau 'balas budi' soal kejadian di toilet? Kok malah sama dia?"
"LIAN! GUE NGGAK PERNAH BILANG GITU!" teriak Mori frustrasi.
Orang-orang di kedai kopi mulai menoleh. Vano berdiri, "Lian, cukup. Mori lagi capek."
Lian ikut berdiri, membuat suasana semakin tegang. "Dia capek karena lo terlalu banyak kasih teori. Dia butuh gue buat bikin dia 'hidup'."
Mori memijat keningnya. Kemenangan debat yang seharusnya manis, kini berubah menjadi medan perang antara dua cowok yang tidak mau mengalah. Ia sadar, sejauh apa pun ia mencoba lari ke Vano yang tenang, Lian sang red flag akan selalu menemukan cara untuk menariknya kembali ke dalam badai yang ia ciptakan.