Nafisha Retno Kinathi adalah seoarang ibu muda yang harus berjuang sendiri menghidupi rumah tangganya, meskipun sosok suaminya masih berdiri gagah.
Hidup berdampingan dengan suami yang begitu menjunjung tinggi rasa hormatnya kepada ibundanya membuat Nafis harus sering mengalah. suaminya selalu menyerahkan segala keputusan di tangan umminya. Termasuk dalam hal urusan rumah tangganya.
Dalam segala hal Nafis mencoba mengalah tapi, ketika ibu mertuanya mengingikan suaminya menikah lagi Nafis berontak.
Masih sangupkah Nafis mempertahankan rumah tangganya, atau dia memelih menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Hingga sampai menjelang Isya' Nafis masih tertahan di dalam Polresta magelang. Korban yang awalnya hanya dua anak, kini bertambah menjadi lebih dari 10 anak. Dengan kondisi trauma berbeda-beda.
Dengan pembawaannya yang tenang Nafis memberikan pendampingan kepada para korban bahkan dia sudah menghubungi Andini agar segera menerjunkan teamnya. Karena ada beberapa korban yang belum mendapat perlindungan hukum. Hanya beberapa yang sudah di dampingi pengacara.
Sekitar pukul 20.00 malam, Nafis baru selesai dengan tugasnya. Dia segera mengemas barangnya dan meminta kang Tejo untuk menjemputnya. Rencana usai menghadap komandan yang menangani kasus ini dan menyampaikan hasil pemeriksaannya terhadap korban dia akan pulang.
Nafis memlilih menunggu di luar karena tak mau nanti kang Tejo menunggu lama.
" Mbak Nafis menunggu jemputan ?" Nafis menoleh begitu mendengar ada yang menyapanya.
" Njeh ndan. Komandan sendiri juga sudah mau pulang ?"
" Iya mbak Nafis. Seharusnya saya sudah pulang sejak sore tadi. Di rumah sedang dapat giliran pengajian komplek tapi, kasus ini tidak bisa saya lepas begitu saja ke anak-anak. Pelaku orang berpengaruh di wilayahnya mbak. Khawatir ada gesekan dengan warga kalau tidak tepat eksekusinya "
" Betul komandan, saya sempat mendengar cerita pak Dwi anggota anda, kalau butuh perjuangan membawa pelaku kemari."
" Warga sempat menolak pelaku kita amankan, karena mereka merasa ini fitnah keji. Padahal korban juga sudah banyak. Bahkan ada yang sedang hamil besar begitu. Susah mbak menyadarkan masyarakat yang sudah kadung fanatik"
" Betul komandan "
" Mobil saya sudah sampai mbak Nafis, saya duluan. Oya yang saya sampaikan kapan itu masih saya tunggu jawabannya mbak Nafis. " Nafis tersenyum kecut.
" Mohon maaf komandan saat ini saya sedang ingin fokus dengan anak-anak dan pendidikan saya. Dan lagi saya merasa tidak pantas jika harus berdampingan dengan putranya panjenengan. Beliau berkah mendapat perempuan yang jauh lebih baik dari pada saya komandan. Banyak gadis di luar saya yang lebih pantas bersanding dengan beliau. Umur kami saya juga lebih tua dari beliau "
" Mbak Nafis tenang saja, karena begitu anak saya melihat profil njenengan dia langsung tertarik. Jangan risau soal status dan juga umur. "
" Terima kasih komandan, akan tetapi memang untuk saat ini saya belum terpikir kearah sana."
" Ya sudah tidak usah terburu-buru mbak Nafis, anak saya juga sedang dinas." Nafis mengangguk kaku.
" Saya duluan mbak Nafis "
" Silahkan komandan"
Nafis menghela Nafas. Komandan Satya adalah orang baik, begitu juga dengan putra beliau. Seharusnya Nafis senang mendapat pinangan ini tapi, sedari awal dia memang belum ada niatan berumah tangga lagi. Banyak hal yang menjadi pertimbangannya. Terutama soal anak-anaknya. Dia tak mau kebahagiannya justru membuat anak-anaknya tak nyaman.
" Selamat malam mbak Nafis, menunggu jemputan ?" Nafis menghela Nafas. Baru saja komandan Satya pergi, sekarang malah datang Pak Adi salah satu anggota polisi yang berdinas disini.
" Iya pak "
" Suruh pulang saja mbak, biar saya antar "
" Mohon maaf pak, jemputan saya sebentar lagi sampai."
" Ya tinggal disuruh putar balik to bu " Nafis hanya tersenyum.
" Maaf pak, saya sama kang Tejo saja." Nafis mulai risi.
" Oya bu Nafis bagaimana jawaban lamaran saya kemaren. Istri saya sudah legowo kok kalau saya poligami "
" Mohon maaf pak, sedari awal saya sudah katakan bukan, jika saya tidak bisa menerima pinangan bapak. Mohon maaf sekali lagi "
" Apa perlu saya pisah sama istri saya dulu baru mbak Nafis mau ?" Nafis memilih diam. Percuma meladeni pria hidung belang yang bersembunyi di balik rapinya seragamnya.
" Ayolah mbak Nafis jangan egois begini " Nafis menatap tajam pria di sampingnya. Egois katanya, sedikit pusing sepertinya pria satu ini.
" Mohon maaf pak adi, pernah saya berucap demikian ?"
" Saya menolak anda karena memang saya tidak mau berumah tangga lagi saat ini. Saya juga seorang perempuan, mana mungkin saya tega merusak rumah tangga sesama perempuan. Kecuali otak saya sudah gila "
" Anda kalau mau berbuat gila silahkan cari perempuan lain. Bagaimana mungkin saya bisa menikah dengan pria yang tidak tau cara menghargai perempuan. Maaf pak adi dengan tegas saya katakan, silahkan anda cari perempuan lain. Maaf saya tidak bisa mengikuti kegilaan anda "
" Ya sudah kalau mbak Nafis tidak mau. Sayang saja anda melewatkan kesempatan bagus. Padahal sebentar lagi saya naik jabatan menjadi kapolres di sini " Nafis tak menjawab.
Bersamaan dengan perginya pria bernama Adi pergi, beberapa anggota polisi yang kebetulan berada di tempat yang sama dengan Nafis tertawa terbahak-bahak.
" Egois konon, nggak sadar apa gimana sih pak adi itu ?" Ucap salah satu Anggota polwan.
" Pusing saya mbak Dwi, " Perempuan yang di kenal sebagai komandan Reserse kriminal itu terbahak.
" Tinggal pilih bun, mau anaknya komandan Satya yang masih bujang atau sama pak Adi yang sudah beristri "
" Tidak keduanya mbak. Saya masih menikmati waktu dengan anak-anak dan diri sendiri mbak"
" Legan kok nggolek momongan ya bu, kurang kerjaan nggak sih ?"
**( Istilah dalam bahasa jawa yang bisa diartikan enak-enak sendiri kok cari pasangan )**
" Betul mas Bayu. Terlebih pasangannya model pak Adi, bukan bahagia malah rugi bandar" ucap Dwi yang di sambut gelak tawa orang-orang yang ada disana.
" Jemputan njenengan sudah sampai itu bun ?" Nafis menoleh, benar saja Honda Jazz merahnya sudah terparkir di halaman polres.
Penselnya bergetar ada sebuah pesan masuk. Nafis menghela nafas begitu melihat pesan yang masuk. Rupanya Farid lah yang datang menjemputnya.
" Saya duluan ya teman-teman. Oya komandan besok team dari LSM saya akan datang membawa pengacara untuk mendampingin korban yang belum mendapat pendampingan hukum "
" Terima kasih banyak bun "
" Dan laporan mengenai kondisi psikis mereka sudah saya kirim ke email njenengan. Jika besok masih membutuhkan pendampingan saya. Silahkan langsung hubungi saya mbak"
" Siap, terima kasih sekali lagi "
" Sama-sama mbak, mari saya duluan " Semua mengangguk.
Nafis bergegas masuk ke dalam mobil. Tak mau ada yang melihat siapa yang menjemputnya.
" Kok njenengan yang jemput mas Farid ?" Ucapnya begitu duduk di kursi sebelah kemudi. Tak enak jika mau duduk di belakang tapi, sebenarnya dia risi juga duduk di samping Farid begini.
" Kang Tejo sedang mengirim barang ke Salatiga katanya. Makanya saya yang jemput. Tidak apa-apa kan ?"
" Tidak apa-apa mas, maaf jadi merepotkan njenengan "
" Tidak kok. Oya saya mau ajak mbak Nafis ke suatu tempat. Apakah boleh ?" Nafis menoleh sebentar.
" Mohon maaf mau kemana ya mas ?"
" Temani saya makan sebentar saja ya ?" Ada keraguan dalam diri Nafis. Jika menolak tidak enak, akan tetapi menerima juga tidak enak karena takut Farid mengartikan lain.
" Tenang ini tempatnya privat kok. Jadi jangan khawatir akan tersorot kamera " Nafis menghela Nafas. Kalau kali ini dua tolak Farid pasti akan terus mencoba mengajaknya lain kali.
" Ya sudah akan tetapi, jangan lama-lama karena sudah malam"
masih sj jd laki2 model robot setelan pabrik hanafi..😁
bu suuusiiiii ada orang tak berguna tenggelamkan bu...biar jd santapan iwak teri