NovelToon NovelToon
Terjerat Boss Playboy

Terjerat Boss Playboy

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Playboy / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Kantor
Popularitas:39.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kim.nana

"Tuan, ayo tidur denganku?" Kalimat gila itu Dea ucapkan pada sang boss di bawah kendali alkohol.
Namun Dea pikir semuanya akan berakhir malam itu juga, namun siapa sangka satu sentuhan membuatnya dikejar selamanya oleh sang boss playboy.
"Dea, kamu harus tanggung jawab padaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 - Tidak Mau Berbagi

Setelah pintu depan tertutup dan suara langkah Dea benar-benar menghilang, Gisel masih berdiri beberapa detik di ruang tengah. Daddanya naik turun dan rahangnya mengeras.

“Kurang ajar,” gumamnya lirih.

Ia berbalik kasar lalu masuk ke kamarnya, membanting pintu tanpa peduli Mama Mia bisa saja terbangun. Begitu pintu tertutup, Gisel langsung meraih ponselnya.

Nama Barry terpampang jelas di layar. Tanpa ragu, ia menekan tombol panggil.

Tak sampai lima detik, panggilan tersambung.

“Sayang?” suara Barry terdengar lembut, penuh perhatian. Bagaimana tidak, selama ini Gisel lah yang memuaskan hasrratnya, sementara Dea hanya sibuk bekerja. “Kamu kenapa telepon pagi-pagi?”

Begitu mendengar suara itu, pertahanan Gisel langsung runtuh. “Barry,” suaranya bergetar, lalu tangisnya pecah. “Aku dimarahin Dea.”

“Hah?” Barry langsung siaga. “Bagaimana bisa?”

“Aku hanya bertanya kenapa dia pergi sepagi ini,” isak Gisel. “Tapi dia malah membentakku, meminta ku tidak ikut campur urusan kalian. Jahat sekali, Barry. Aku diperlakukan seperti orang asing di rumah sendiri.”

Barry terdiam sesaat, lalu mendecak pelan. “Dia keterlaluan.”

“Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba dia berubah,” lanjut Gisel, suaranya penuh kebingungan bercampur curiga. “Biasanya dia selalu sabar, selalu ngalah. Sekarang tatapannya ke aku dingin sekali.”

Gisel mengusap air matanya. “Bar, menurut kamu, apa mungkin Dea tahu soal kita?”

Barry langsung tertawa kecil, terdengar santai. Karena baginya hal itu sangat mustahil terjadi. selama ini Barry sudah sangat yakin bahwa dia bermain aman.

“Tidak mungkin,” jawabnya yakin. “Jika dia tahu, dia pasti sudah ribut sejak kemarin. Dea itu lurus, Sel. Tidak pernah curiga macam-macam.”

“Tapi sikapnya_”

“Mungkin dia sedang lelah dengan pekerjaannya,,” potong Barry. “Atau sedang PMS, Kamu jangan terbawa perasaan.”

Ucapan itu membuat Gisel sedikit tenang. Ia menghela napas, lalu matanya melirik ke arah tas lamanya yang tergeletak di kursi.

“Barry…” suaranya berubah manja. “Aku ingin beli tas baru.”

“Hah? Sekarang?”

“Iya,” jawab Gisel cepat. “Temanku hari ini mau ke mall. Aku malu kalau pakai tas ini terus. Lagian Dea sekarang kaya raya, pulang-pulang bawa tas mahal semua.”

Barry terdiam sejenak, lalu terdengar helaan napas di seberang.

“Lalu kamu maunya bagaimana?”

Gisel menggigit bibir, lalu berkata pelan tapi jelas, “Kamu minta uang ke Dea hari ini.”

“Apa?” Barry tertawa kecil. “Sekarang?”

“Iya,” kata Gisel mendesak. “Kamu kan pacarnya. Masa minta uang sedikit saja tidak bisa? Bilang saja kamu lagi butuh.”

Barry berpikir sebentar, lalu akhirnya mengalah. “Ya sudah. Nanti aku temui dia," balas Barry, karena sampai sekarang dia belum bisa menghubungi Dea melalui telepon.

Gisel langsung tersenyum puas meski matanya masih sembap. “Benarkah?”

“Iya,” jawab Barry. “Tenang saja, Dea itu tidak pernah menolakku.”

Panggilan ditutup.

Gisel merebahkan tubuhnya di ranjang, menatap langit-langit dengan senyum tipis yang kembali terukir.

“Lihat saja, Dea,” gumamnya. “Selama Barry masih di tanganku, kamu tetap kalah.”

Ia tak tahu pagi ini Dea sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali menjadi wanita yang sama.

Setibanya di apartemen Alex, jam dinding di lobi sudah menunjukkan hampir pukul enam pagi. Dea menyeret dua kopernya masuk ke dalam unit dengan jantung berdegup tak karuan.

Entah kenapa langkah kakinya mendadak terasa lebih berat.

Bayangan semalam masih terlalu segar di ingatan. Nada suara Alex, tatapannya, sentuhan yang membuatnya kehilangan kendali. Dea refleks menelan ludah, bersiap kalau-kalau pria itu kembali mendekat dan menuntut haknya sebagai suami.

'Ya ampun, masalah ku banyak sekali,' gerutu Dea. Tapi dia tidak punya jalan untuk mundur, jadi terus masuk ke dalam apartemen tersebut.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Ketika Dea masuk dia melihat Alex yang sudah berdiri rapi di ruang tengah. Mengenakan setelan kerja seperti biasa, bahkan tidak ada senyum mesyum, tidak ada tatapan pria hidung belang.

Yang ada hanyalah Alex yang terlihat sebagai bos.

“Kamu sudah datang,” ucap Alex sambil melirik jam tangannya, lalu mendekati Dea sampai berdiri di hadapan wanita tersebut, mungkin jaraknya hanya dua langkah.

Dea menelan ludah kasar, kadang masih bingung bagaimana caranya dia harus bersikap di hadapan Alex.

"Iya,” jawabnya singkat.

Alex melirik koper-koper itu. “Taruh saja dulu di kamar, nanti sore kita atur ulang.”

Dea mengangguk, ucapan itu juga membuat Dea sedikit lega dan entah kenapa, sedikit kecewa. Ia segera menepis perasaan itu dari kepalanya.

“Baik,” katanya cepat.

“Hari ini kita ada rapat kan, kita pergi bersama atau kamu ke kantor sendiri?”

Dea menggeleng. “Aku akan ke kantor sendiri."

"Baiklah, aku sudah pesan sarapan. Setelah kini kita makan bersama sebelum pergi ke kantor sendiri-sendiri."

Dea mengangguk lagi, benar-benar merasa aman pagi ini. Semua ketakutannya mendadak hilang entah kemana, sungguh, sejak kemarin Dea sangat merindukan hubungan mereka yang profesional seperti ini.

Setelah Dea meletakkan koper di kamar mereka, dia segera datang ke meja makan. Benar saja di sana sudah ada Alex dan makanan yang tersaji di atas meja. Tapi dilihatnya gelas minum Alex masih kosong.

"Aku ambilkan minum lebih dulu," ucap Dea, melayani Alex seperti ini bukanlah hal baru bagi Dea, selama ini pun dia melakukannya.

Setelahnya mereka mulai sarapan bersama, sesekali Alex menatap Dea dan hassratnya kembali terpancing. Tapi pagi ini mereka benar-benar tak bisa melakukannya karena rapat sudah ada di depan mata.

Meskipun Alex adalah pria mesyum, tapi dia tak pernah lalai dengan pekerjaannya. Karena itulah kini Alex berhasil menjadi salah satu pengusaha muda yang sukses.

"Jangan menatapku terus," ucap Dea kemudian, dia jelas menyadari jika Alex terus menatapnya di sela-sela makan.

"Kamu cantik sekali, apalagi saat tidak pakai baju."

"Alex!" kesal Dea, karena kini dia kembali melihat Alex yang mesyum.

"Kesini."

"Mau apa?"

"Ciuman sedikit."

"Tapi kita sedang makan."

"Itu bukan masalah, sini." Alex menepuk pangkuannya.

Namun sebelum benar-benar mendekat, Dea lebih dulu minum. Baru sedikit saja bernafas lega tapi kini Alex kembali membuatnya tak tenang.

Canggung sekali akhirnya Dea duduk di pangkuan bosnya, menggunakan seragam kerja seperti ini seolah semakin mempertajam kesan bahwa hubungan mereka adalah hubungan terlarang.

Belum sempat Dea berpikir jauh, Alex sudah lebih dulu mengecup bibirnya dengan lembut.

Cup! Satu kecupan mendarat lalu disusul lidah yang menelusup masuk.

Lima belas detik kemudian barulah ciuman itu dilepaskan oleh Alex.

Hah! Nafas Dea terengah-engah.

"Aku akan mengakhiri hubungan dengan Serine, jadi akhirnya juga hubungan mu dengan pria tukang selingkuh itu," ucap Alex, dia tak tahu nama kekasih Dea.

"Baik, nanti aku akan mengakhirinya."

"Tidak nanti-nanti, tapi hari ini juga. Aku tidak mau berbagi wanita dengan siapapun."

1
Sarinah Quinn
semoga Dea tidak bodoh dengan membunuh anaknya sendiri 😭 Thor tlong lindungi anak Dea 🙏🙏🙏
rizky tria
Dea & Alex saling jujur sama perasaan kalian, nanti myesel loh 😢
Yanti Gunawan
please lah Dea jgn Oon jd org dah punya duit banyak tgl besarin tuh anak kq mau d buang😫😫 ke dokter biar jelas itu anak siapa kn nnt ketauan brp bln umurnya...please thor jgn buat aku emosi dgn tingkah dea y 😫😫😫😫😫
Naviah
jangan gugurin kandungan kamu Dea, bayi dalam kandunganmu tidak bersalah
🌈Yulianti🌈
semoga Dea GK jd gugurin kandungan nya kasian anak GK bersalah jd korban ego orang tua nya yg tidak saling jujur padahal sudah jelas saling cinta tp saling menyakiti
Kim.nana: gak kak 🤣
total 2 replies
Margaretha Indrayani
tolong pikirkan lagi dea buat aborsi, janinmu juga ingin hidup. kalaumau pergi dari alex ya besarkan sendiri anakmu itu dea, kasihan
RaveENa
kayanya si alex sengaja lepas kb/Proud/
Kim.nana: benar 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Naviah
Dea lebih baik pergi dulu dari Alex
Naviah
tinggal saling jujur satu sama lainnya kalo begini pasti salah paham dengan perasaan masing-masing 😁
Mita Paramita
jadi rumit masalah nya 🤣 kalian berdua sama-sama gengsi dgn perasaan masing-masing
Rizka Susanto
klo itu anak Juan berarti ganti judul dong de 🤣😅
udh pergi lah sejauh mungkin de...
syaloom
dea mending kabur aja , ketempat yang Alex tidak tau.biar semakin tersiksa si alex
Salim ah
sama"suka tapi dalam diam ya akhirnya sama" terluka🙄
yg KB saja bisa kebobolan de , dan Alex juga begitu bisa jadi kbnya bocor dan menghasilkan Alex junior🫰
EviJm13
semoga si Alex peka
EviJm13
seru
EviJm13
lanjut thor
syaloom
sering² up dong kak
Sarinah Quinn
semoga masih selalu up ceritanya menarik sekali 🙏🥰
Naviah
lanjut thor
❤️MOMMY JEJE💋💋💋
💋💋💋💋💋💋💋
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!