Arrkkhhh sakit! Tuan tolong lepaskan aku, aku mohon. Delisa Jenifer
Diam! Kau sekarang adalah istriku, dan aku berhak melakukan apapun terhadap dirimu. Bahkan sampai melenyapkan mu pun aku sanggup. Albert Halston Xanders
Delisa gadis cantik yang tiba-tiba di culik dan dipaksa menikah dengan seorang pria yang tidak dia kenal sama sekali.
Menjalani pernikahan dengan Tuan Muda yang kejam, membuat hari-hari Delisa seperti di neraka.
Mampukah Delisa bertahan dengan pernikahan ini?
Atau mampukah Delisa mengubah sosok Tuan Muda yang kejam menjadi pria yang baik?
Yang penasaran dengan ceritanya, langsung saja kepoin ceritanya disini yuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bilqies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan Sengit
'Kau membuat dinding di antara kita Aston, dinding yang di dasari dari pembalasan. Aku tidak tahu dapatkah hati ini memaafkan mu atau tidak, setelah apa yang kau lakukan padaku.' Delisa
Lolos sudah butiran kristal dari ujung ekor matanya, dengan cepat Delisa langsung menghapus air matanya. Dia tidak ingin jika Aston mengetahui bahwa dirinya tengah menangis.
"Aku harap setelah semuanya terungkap, tidak akan ada lagi hati yang tersakiti," gumam Delisa lalu melangkah keluar meninggalkan Albert yang masih setia menutup matanya.
Setelah kepergian Delisa, Albert membuka matanya karena sedari tadi Albert memang sudah bangun. Akan tetapi, Albert sengaja tetap memejamkan matanya karena dia penasaran ingin melihat sendiri apa yang di lakukan Delisa di dalam kamarnya. Selain menyiapkan setelan kerja dan air hangat untuk mandinya.
"Kenapa dia menangis? Dan kenapa dia bergumam seperti tadi," tanya Albert pada dirinya sendiri.
Gumaman Delisa masih terngiang di indra pendengarnya, meskipun tidak terlalu jelas tapi dia masih bisa mendengarnya.
"Dia bilang tidak akan ada lagi hati yang tersakiti."
"Aaaakkkh sial! Kenapa aku harus memikirkannya." Albert bangun dari tidurnya lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
🌷🌷🌷
Seorang wanita yang tengah berjalan menuruni anak tangga, tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar suara yang begitu familiar di indra pendengarnya.
"Kak Delisa ...," panggil Viona berjalan mendekat ke arah Delisa yang saat ini sudah berada di ruang tengah.
Delisa menoleh ke asal bunyi suara tersebut. "Ada apa Viona?"
Bukannya menjawab justru Viona balik bertanya pada Delisa yang saat ini sudah berada di hadapannya.
"Kakak mau kemana?" tanya Viona yang melihat Delisa berjalan dengan buru-buru.
"Aku ingin ke taman belakang," jawab Delisa.
"Tapi kakak harus sarapan dulu, ayo sini," ajak Viona meraih tangan Delisa.
"Maaf Viona, kakak sudah kenyang," tolak Delisa sambil melepaskan tangannya dari genggaman tangan Viona.
"Kak Delisa bohong, aku yakin kakak belum makan," ucap Viona tak percaya sambil menatap dalam manik coklat Delisa.
"Tidak Viona! Serius kakak sudah makan tadi di dapur."
"Serius kak?" Viona kembali bertanya memastikan bahwa kakak iparnya sudah makan.
"Iya serius. Maaf ya aku mau ke taman dulu," pamit Delisa melangkah pergi meninggalkan Viona seorang diri.
🌷Ruang Makan🌷
"Kak Albert, aku ingin mengajak Kak Delisa pergi ke mall," ucap Viona saat sudah berada di ruang makan.
"Kakak ...? Kau memanggilnya kakak." Albert tersentak kaget mendengar panggilan kakak yang Viona sematkan untuk Delisa.
"Iya, dia kan istri Kak Albert. Jadi sudah sepantasnya aku memanggilnya kakak," jawab Viona sambil menikmati makanannya.
"Ingat Viona, dia ku jadikan istri bukan untuk jadi kakakmu, tapi untuk membalas dendam." Albert memperingati sang adik berharap Viona mengerti akan dirinya.
"Apa dengan balas dendam Daddy dan Mommy bisa hidup kembali?" tanya Viona menyeringai.
"Tidak bukan? Jadi tolong jangan sakiti Kak Delisa, dia istrimu kak." Viona berusaha menyadarkan Albert yang terperangkap di dalam lingkaran yang membuatnya membenci Delisa.
Telinga Albert terasa panas kala Viona yang terus membela Delisa, hingga akhirnya dia memutus perbincangannya dengan Viona.
"Aaakkhhh ... terserah kau mau bilang apa. Yang jelas kakak tidak suka kau akrab dengan wanita itu!" tegas Albert memperingati Viona.
"Namanya Delisa, bukan wanita itu," bantah Viona menyorot tajam yang tak ingin kalah dengan Albert.
Viona sangat tidak suka jika mendengar sang kakak menyebut Delisa dengan sebutan wanita itu. Dia tidak habis pikir dengan sikap kakak nya yang sangat membenci Delisa. Sungguh saat ini Viona seakan tidak mengenali sang kakak yang sudah berubah drastis.
"Ah sudahlah, lebih baik kau lanjutkan makan mu."
Setelah perdebatan sengit itu, suasana menjadi hening hanya terdengar suara dentingan sendok yang menemani mereka makan. Di sela mereka menikmati makanan nya tiba-tiba datanglah seseorang yang tanpa di undang.
"Sayang ...," panggil Laura berjalan seperti seorang model menuju ruang makan.
Viona mendongakkan wajahnya menatap wajah asing yang memanggil sayang kepada sang kakak.
"Kau datang Laura?" tanya Albert terkejut akan kedatangan Laura yang secara tiba-tiba ke mansion nya.
"Iya Sayang. Aku ingin sarapan bersamamu," ucap Laura lalu mencium kedua pipi Albert, dan langsung duduk di kursi tanpa di persilahkan.
Sedangkan Viona merasa geram dengan tingkah Laura yang dengan beraninya mencium sang kakak yang notabenenya masih sah sebagai suami dari wanita lain.
"Hei kau," tegur Viona menyorot tajam ke arah Laura.
"Kalau masuk rumah orang jangan kaya hewan dong! Masuk gak pakai permisi, dan langsung main nyosor aja," geram Viona.
"Viona, Diam!" bentak Albert dengan tatapan elangnya seakan ingin menerkam mangsanya.
Albert tidak menyangka bahwa Viona bisa berkata seperti itu, padahal dulu Viona sosok gadis yang ramah dan juga memiliki attitude yang baik. Tapi, sekarang semua itu telah sirna kala Viona yang melontarkan ucapan kasar kepada Laura. Albert seakan tidak mengenali Viona yang sebagai adik kesayangannya.
"Sayang, sudahlah aku tidak apa-apa," rayu Laura berusaha mengambil hati Albert.
"Kak ...."
"VIONA, KAKAK BILANG DIAM!" bentak Albert kembali.
Sementara Laura tersenyum di dalam hati kala melihat Albert yang telah membentak Viona.
'Rasakan kau bocah ingusan. Aku tidak akan membiarkanmu untuk menghalangi rencanaku, bila perlu akan aku musnahkan kau dari dunia ini.' Laura
"Aku tidak akan diam sampai kakak jelasin siapa wanita itu," ucap Viona menunjuk ke arah Laura.
Albert menghela nafas berat lalu menghembuskan nya secara perlahan. "Dia Laura, gadis kecil yang kakak cari selama ini," jelas Albert.
"Jadi, dia gadis itu," tanya Viona melirik sinis ke arah Laura.
"Hai Viona ... perkenalkan aku Laura, calon istri kakak mu," ucap Laura dengan santainya.
Viona yang tengah di sapa oleh Laura hanya diam tanpa berniat membalas ucapan Laura. Viona memandang penampilan Laura, dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.
'Semua barang yang di kenakan bermerek, pasti dia dari kalangan berada.' Viona
"Kak Albert yakin kalau dia gadis itu? Malaikat kecil yang kakak cari selama ini," tanya Viona menatap intens wajah Albert, sementara yang di tatap masih sibuk memakan sarapannya.
"Kok aku ragu ya, dia sepertinya bukan malaikat tapi melainkan Mak lampir," ejek Viona dengan seringainya.
"Viona, apa yang kau katakan?" tegur Albert tidak terima jika Viona menghina Laura.
"Akkkh sudahlah kak, bicara dengan kakak sama halnya bicara dengan tembok. Aku berdoa semoga kakak cepat sadar bahwa wanita itu bukanlah malaikat kecil kakak." Viona yang sudah kesal dengan sang kakak, dia segera beranjak dari tempatnya dan melangkah pergi meninggalkan Albert.
Saat Viona yang hendak melangkah pergi jauh, lalu Viona langsung menghentikan langkahnya. Dia berbalik menatap ke arah Albert.
"Oh iya kak, jujur aku sangat suka dengan Kak Delisa," ungkap Viona.
Ucapan Viona berhasil menyita perhatian Laura hingga akhirnya terlontar sebuah pertanyaan dari bibir Laura.
"Sayang, siapa Delisa? Kenapa Viona lebih suka padanya?" tanya Laura dengan manja.
"Dia hanya pembantu, jadi tidak usah di pikirkan," jawab Albert meyakinkan Laura.
"Baiklah. Oh iya sayang, kapan kau akan ke apartemenku?" Laura menatap wajah tampan Albert.
"Maaf Laura untuk saat ini aku belum bisa ke apartemen mu, tapi aku janji, akan secepatnya mendatangi orang tuamu," ucap Albert dengan sungguh-sungguh.
"Kau serius sayang? Kau ingin menemui orang tuaku?" tanya Laura tak percaya.
"Hmmm ...." Albert hanya berdehem saja sebagai balasan dari pertanyaan Laura.
"Makasih sayang," ucap Laura, langsung mencium kedua pipi Albert.
🌷Kamar Delisa🌷
Seminggu telah berlalu, kini Viona dan Delisa sudah seperti sahabat, dan bahkan seperti kakak adik. Viona sering menghabiskan waktunya bersama dengan Delisa, dan hampir tiap malam Viona tidur di kamar Delisa, seperti malam ini Viona kembali tidur di kamar Delisa.
"Kak apa kau mencintai Kak Albert?"
.
.
.
🌷Bersambung🌷
Nggak tahu deh bagaimana reaksi Al kalau tahu Delisa masih hidup dan selama ini Ferdi yang bantuin.
Aku tahu niat Delisa, tapi apa pun yang Delisa lakuin juga nyakitin hati, terutama hatinya Flo.
Semoga semuanya baik-baik aja setelah semuanya terbongkar🤲🥲🥲🥲
Seneng karena Delisa masih hidup, tapi kasihan Al sama Flo😭😭😭
Semoga Delisa segera pulih seutuhnya🤲🤲