NovelToon NovelToon
Between Our Heart

Between Our Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Anfi

Ashana Keyra Zerrin dan Kafka Acacio Narendra adalah teman masa kecil, namun Ashana tiba-tiba tidak menepati janjinya untuk datang ke ulang tahun Kafka. Sejak saat itu Kafka memutuskan untuk melupakan Asha.

Kemana sebenarnya Asha? Bagaimana jika mereka bertemu kembali?

Asha, bukankah sudah kukatakan jangan kesini lagi. Kamu selalu bertindak sesuka hati tanpa memikirkan orang lain. Aku butuh privasi, tidak selamanya apa yang kamu mau harus dituruti.” Ucapakan Kafka membuat Asha bingung, pasalnya tujuannya kali ini ke Stanford benar-benar bukan sengaja menemui Kafka.

“Tapi kak, Asha ke sini bukan sengaja mau menemui kak Kafka. Asha ada urusan penting mau ke …” belum selesai Asha bicara namun Kafka sudah lebih dulu memotong.

“Asha, aku butuh waktu untuk menerima semua ini. Walaupun untuk saat ini sebenarnya tidak ada kamu dalam rencanaku, semua terjadi begitu cepat tanpa aku bisa berkata tidak.” Asha semakin tidak mengerti dengan yang diucapkan Kafka.

“Maksud kak Kafka apa? Sha tidak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27. Salah paham lagi

Kafka membawa Asha ke sebuah cafe yang tak jauh dari kampusnya, Revan sebenarnya tak ingin ikut. Tapi ada rasa khawatir kalau mereka nanti bertengkar, mengingat emosi Kafka hari ini sedang tidak baik. Setelah Tiara mengabari bahwa Asha ke Stanford, Kafka langsung mencarinya di gedung-gedung fakultas.

Revan memesankan minum untuk mereka bertiga, sementara Kafka dan Asha duduk saling berhadapan. Entah perasaan apa yang saat ini ada di benak mereka berdua, Revan ingin pindah tepat duduk tapi di cegah oleh Kafka. Asha hanya diam menunggu Kafka memulai pembicaraan.

“Asha, bukankah sudah kukatakan jangan kesini lagi. Kamu selalu bertindak sesuka hati tanpa memikirkan orang lain. Aku butuh privasi, tidak selamanya apa yang kamu mau harus dituruti" ucapakan Kafka membuat Asha bingung, pasalnya tujuannya kali ini ke Stanford benar-benar bukan sengaja menemui Kafka.

“Tapi kak, Asha ke sini bukan sengaja mau menemui kak Kafka. Asha ada urusan penting mau ke …” belum selesai Asha bicara namun Kafka sudah lebih dulu memotong.

“Asha, aku butuh waktu untuk menerima semua ini. Walaupun untuk saat ini sebenarnya tidak ada kamu dalam rencanaku, semua terjadi begitu cepat tanpa aku bisa berkata tidak” Asha semakin tidak mengerti dengan yang diucapkan Kafka.

“Maksud kak Kafka apa? Sha tidak paham.”

“Asha, lebih baik kamu pulang dulu. Kita bicara setelah aku selesai USMLE Step 3, aku harap kamu mengerti Asha. Ujian ini sangat penting bagiku, pulanglah” ada rasa nyeri dalam hati Asha, Kafka memang belum tahu kalau dia ke Stanford untuk mendaftar di jurusan yang sama dengannya. Asha sengaja minta pada orang tuanya untuk menyembunyikan bahwa dia juga mengambil kedokteran seperti Kafka.

“Tapi kak, Asha tidak bisa pergi begitu saja. Asha benar-benar ada urusan di sini.” Raut muka Kafka tampak berubah dan itu cukup membuat Asha merasa takut.

“Asha, kalau aku bilang pulang ya pulang! Oh, atau karena sekarang apa yang kamu inginkan tercapai jadi kamu merasa selalu harus ada disampingku? Dulu kamu mengusir siapapun yang dekat denganku, bahkan Alena.”

“Apa maksud kakak?” Asha semakin tidak paham arah pembicaraan Kafka.

“Kamu senang kan sekarang akhirnya bisa menikah denganku? Bukannya itu yang kamu inginkan Sha?” Asha sangat terkejut mendengar ucapan Kafka bahwa sebelum Ayahnya Asha meninggal, beliau meminta Kafka untuk menjaga Asha dan Kafka tidak bisa menolak karena situasi dan kondisi.

Dengan bantuan ustadz akhirnya terjadilah akad nikah antara Kafka dengan Asha yang diwalikan oleh Ayah Asha dan disaksikan asisten Malvin dan Keenan juga keluarga dan dokter. Karena saat itu Asha masih dalam perjalanan menuju Jakarta jadi Asha tidak tahu, bunda Maira urung mengatakan pada Asha karena saat itu dia masih berduka setelah Ayahnya berpulang.

“Aku tidak mengerti apa yang kakak bicarakan,” Asha masih berusaha mencerna ucapan Kafka, sementara Revan merasa kasihan melihat wajah bingung Asha.

“Kamu tidak mengerti atau pura-pura bodoh? Kita sudah menikah Sha, sesaat sebelum ayah Malvin meninggal.”

Kafka menjeda kalimatnya sebentar. “Aku mulai muak dengan tingkahmu yang seperti ini, seolah tidak memberiku ruang untuk bernapas. Kamu seperti perempuan mur**an yang mengejar dan selalu mengekoriku. Aku minta kamu pulang! aku akan menemuimu setelah ujian USMLE ku selesai.”

“Deg …” mendengar ucapan Kafka hatinya benar-benar sakit, dia mencerna semua ucapan Kafka. Sudut bibirnya terangkat sebelah, sorot matanya tajam menatap Kafka. Menanti ucapan menyakitkan apalagi yang akan keluar dari mulut laki-laki yang katanya telah menjadi suaminya itu.

Revan melihat tatapan Asha pada Kafka, di sana tersirat banyak hal yang dia tahan. Merasa kasihan dan akhirnya dia menepuk pundak sahabatnya, mengingatkan Kafka harus bisa menguasai emosinya. Kafka sedang mengatur napasnya, emosinya benar-benar tidak stabil. Dua jam lagi dia harus menghadapi ujian, dia harus fokus untuk mendapatkan lisensi medisnya di ujian kali ini. Tapi fokusnya buyar ketika mamanya memberitahu bahwa Asha ada di sini.

Saat Kafka sedang mengatur emosinya, tiba-tiba Asha berdiri dari duduknya. Dia pergi dan berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun, meninggalkan Kafka yang masih duduk di tempatnya.

“Sana kejar Kaf, aku bayar dulu. Nanti aku susul,” titah Revan pada sahabatnya.

Kafka berdiri menyambar jaketnya di kursi hendak menyusul Asha. Namun Kafka melihat tiba-tiba Asha berhenti, dia membalik badannya dan berjalan kembali menuju Kafka. Dia mendekat pada Kafka, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Kafka. Asha menarik kerah baju Kafka dengan napas yang menderu penuh emosi, sorot mata yang tajam menahan amarah dan berbisik membisikkan sesuatu pada Kafka.

“Kakak bilang aku seperti perempuan mur***n yang mengejarmu bukan?” Sekuat tenaga Asha menahan air matanya agar tidak jatuh, matanya sudah panas karena menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk mata.

“Deg …” Kafka tersadar tak seharusnya tadi dia mengatakan seperti itu.

“Kalau menurutmu aku seperti itu, aku bisa apa?” Asha menarik kerah baju Kafka sampai wajah mereka tak ada jarak, Asha menempelkan bibirnya pada bibir Kafka. Asha mengecup Kafka, menekannya sedikit dalam dan menggigit bibir Kafka sedikit berdarah. Mendapat serangan seperti itu Kafka yang tak siap sedikit terhuyung menaruh satu tangannya di meja untuk menopang tubuhnya agar tak jatuh.

“Aku memang mur**an, bukan? Kakak bisa mengembalikanku pada bunda jika memang kamu terpaksa menikah denganku.

Asha pergi setelah mendengar banyak perkataan dari Kafka, dia berlalu setelah kegilaan yang dilakukannya. Air mata yang sedari tadi di tahannya luruh juga, dia bukan pulang ke apartemen Kafka atau pulang ke Jakarta. Asha justru bergegas ke bandara untuk membeli tiket kembali ke Boston tepatnya ke Harvard, berharap ada penerbangan tercepat ke Boston hari itu setelah sebelumnya dia mengabari Amoora. Entah apa yang akan ada di depannya nanti, yang jelas saat ini dia ingin cepat sampai di Boston dulu untuk mengurus beberapa hal karena dia putuskan tidak jadi mendaftar spesialis di Stanford.

“Oora, batas pendaftaran intership Harvard besokkan?” Asha melakukan panggilan dengan Amoora.

“Hmm … iya, ada apa?” Amoora tentu saja gelisah tiba-tiba sahabatnya menelpon.

“Aku minta tolong masukkan berkasku sesuai spesialis yang ingin aku ambil, aku akan melanjutkan spesialis di Harvard” Asha menjelaskan pada Amoora apa yang terjadi secara garis besar. Dia janji akan menceritakan semua saat sudah tiba di Cambridge.

“Aku dan Argan akan bantu. Kamu hati-hati di jalan, cuaca di sini sedang hujan,” mereka mengakhiri panggilan telepon.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!