NovelToon NovelToon
Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:790.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Lulun Eerlyan

Pernikahan adalah sebuah moment paling bahagia dalam setiap pasangan, tetapi berbeda dengan Alena yang menikah karena terpaksa.

Saat bersama keluarga datang kepernikahan Daffin yang adalah mantan kekasihnya. Tiba-tiba, masalah datang karena calon istri Daffin tidak hadir dipernikahannya sendiri. Orangtua Daffin pun langsung menjodohkan Alena agar menikah dengannya. Dengan niat ingin balas dendam, Alena pun terpaksa menikahi Daffin.

Namun, semuanya tidak seperti yang diharapkan. Jangankan untuk balas dendam, Alena malah terjebak dengan semua masalah yang dialami Daffin. Calon istrinya yang dulu ingin ia nikahi datang membawa seorang anak. Banyak masalah yang terjadi hingga tak berujung.

Masalah apa yang sebenarnya terjadi??
Apakah Alena akan membantu menyelesaikan masalah Daffin, atau akan langsung meminta cerai??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulun Eerlyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS. 28 Rahasia yang terungkap

Semalaman Alena terlihat gelisah memikirkan masalahnya yang belum selesai. Ia terus saja memikirkan jawaban apa yang akan Daffin katakan. Iya atau bukan, kedua kata itu terus terngiang dipikirannya sehingga membuatnya tidak bisa tidur.

Keesokan paginya, suara burung kecil berkicau seolah-olah menjadi alarm dipagi hari. Begitu pula dengan sinar matahari pagi yang datang seolah menyapa Alena agar segera terbangun dari tidur nyenyaknya yang hanya beberapa jam saja.

Alena perlahan membuka kedua matanya dan langsung terlihat sang Bunda dengan senyuman hangat langsung menyapanya dengan penuh kasih sayang.

"Selamat pagi kesayangan Bunda!!" sapa bu Dewi sambil mengecup kening putrinya.

"Hah, sudah pagi, Bun??" Alena sedikit terkejut sambil mengucek sebelah matanya.

"Iya sayang sudah pagi." jawab bu Dewi sambil membuka tirai.

Alena duduk dan termenung, dia merasa baru saja dia memejamkan kedua matanya, tapi sekarang dia harus terbangun lagi karena hari sudah pagi.

"Bunda! Alena gak bisa jalan ya? Alena cacat, kan?" Alena tiba-tiba saja bertanya seperti itu membuat bu Dewi yang sedang membuka tirai langsung berhenti dan menggenggam tirai dengan sangat erat.

Bu Dewi menahan air matanya agar tidak terjatuh. Dia menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Setelah merasa baik bu Dewi langsung berbalik menghampiri putrinya dengan senyuman yang hangat.

"Siapa yang bilang kamu cacat? Anak bunda bisa jalan kok. Cuman... Karena kamu lagi sakit untuk sementara jangan banyak jalan dulu, oke!" jawab bu Dewi sambil membelai kedua pipi Alena.

Alena mengerti maksud sang Bunda. Dia hanya mengangguk agar bundanya tidak merasa sedih. Sebenarnya dia sudah mengetahui semuanya saat bundanya berbicara dibalik pintu. Alena merasa sangat sedih saat mengetahui kondisi fisiknya. Namun, dia menguatkan dirinya karena jika dia bersedih maka bundanya akan ikut bersedih juga karenanya.

"Sayang kamu cepet sarapan ya nanti langsung minum obat, oke!" ujar sang bunda sambil mengambil meja khusus untuk Alena.

"Makasih, bunda. Tapi ini banyak sekali obat yang harus Alena minum," omel Alena sambil memperhatikan obat dengan tatapan malas.

"Sayang kamu mau cepet sembuh, kan??" tanya bu Dewi. Alena langsung mengangguk pasrah melihat obat-obat yang begitu banyak berbaris dihadapannya.

"Bunda mau panggil Suster dulu ya sayang. Infus kamu sudah mau habis, tapi para suster itu tidak teliti. Suster jaman sekarang hanya kebanyakan gaya saja mereka, bla bla bla..." Bu Dewi mengomel panjang lebar sambil berjalan keluar dari ruangan. Alena yang mendengarkannya hanya dapat menggelengkan kepala karena sifat sang Bunda yang sangat cerewet itu.

Kini tinggal Alena sendirian didalam kamar. Alena semakin malas untuk sarapan. Jangankan untuk meminum obat melihatnya saja Alena sudah merasa mual.

"Ck, males banget rasanya mau sarapan. Mas Daffin kemana, ya?" ucap Alena sambil meletakkan meja lipatnya keatas nakas.

Alena merasa sangat bosan terus berbaring diatas ranjang. Ia pun memaksa tubuhnya untuk bergerak. Perlahan Alena menurunkan kakinya secara bergantian.

"Aduhhh, sakit banget!" rintih Alena ketika ia menurunkan kaki kanannya.

Alena berusaha untuk menjangkau tongkat yang berada di sebelah nakas. Sebenarnya dia belum boleh berjalan untuk saat ini, tapi rasa bosan membuatnya tidak peduli dengan saran Dokter.

"Haish, kaki jadi kaku dan sakit banget kalau ada kursi roda enak juga nih." keluh Alena sambil menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit untuk meraih tongkat.

Setelah berusaha sekuat tenaganya, akhirnya ia bisa menggapai tongkat untuk membantunya berjalan. Walau Alena sangat kesulitan berjalan dan belum lagi rasa sakit terus menusuk-nusuk kaki kanannya. Tidak membuat dia menyerah agar bisa keluar dari dalam kamarnya.

"Aduhh, kaki ku tambah sakit!" rintih Alena ketika ia baru berjalan satu langkah.

Kali ini Alena benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit di kakinya. Ia pun segera memundurkan langkahnya dan langsung duduk di tepi ranjang.

Tidak lama saat Alena termenung, seorang Suster datang dengan membawa satu kantong infus. Alena langsung merekahkan senyumnya karena ada orang yang bisa ia mintai pertolongan.

"Suster! Boleh bantu saya tolong ambilkan kursi roda tidak??" tanya Alena dengan penuh harap.

"Baik akan saya ambilkan, mbak." jawab Suster.

Tidak menunggu lama suster itu kembali sambil mendorong kursi roda. Alena pun langsung dibantu duduk di kursi roda oleh suster.

"Mbak Alena mau pergi kemana biar saya bantu dorong," tanya Suster sambil bersiap dibelakang Alena.

"Tidak usah, Sus. Saya cuman mau keruangan sebelah saja. Nanti kalau bunda saya bertanya bilang kalau saya lagi cari angin." jawab Alena lalu menggulirkan roda dengan sangat hati-hati.

"Tapi Mbak... " Suster itu merasa khawatir dengan kondisi Alena. Namun, Alena tidak peduli dan tidak ingin ditemani oleh sang Suster.

Alena menatap lurus koridor yang panjang dihadapannya. Dia tadi tidak berpikir bahwa koridor Rumah Sakit akan sepanjang itu.

"Mas Daffin kemana, sih?? Apa dia sedang menjaga Vivi, tapi kenapa sampai segitunya dia terus menjaga Vivi. Atau jangan-jangan benar apa yang dikatakan Fira." gumam Alena sambil terus menggulirkan roda kearah depan.

Alena merasa lelah karena terus menggulirkan roda dengan tangannya sendiri. Dia menyesal sudah menolak bantuan Suster untuk mengantarnya kemana pun ia pergi.

"Capek, mana lupa bawa ponsel lagi." keluh Alena sambil memejamkan kedua matanya.

"Alena? Kamu kok disini sendirian bukannya di kamar?" tanya seorang laki-laki membuat Alena terkejut.

Sontak Alena pun langsung membuka kedua matanya untuk melihat siapa pria yang mengajaknya bicara.

"Kak Alex?"

Alena terkejut setelah melihatnya, karena ternyata dia adalah Alex kakak sepupunya Alena yang baru saja datang dari kota Batam.

"Kamu kaget ya? Maaf ya kakak baru datang buat jenguk kamu, soalnya kakak sibuk." jelas Alex sambil berjongkok dan mengusap kepala Alena.

"Punya kakak satu, tapi jahat." omel Alena sambil memanyunkan bibirnya.

"Iya-iya maaf, kamu ngapain sih disini mau pergi kemana?" tanya Alex sambil berdiri dan siap mendorong kursi roda Alena.

"Aku mau jenguk seseorang, Kak. Antar aku ke kamar no 89 ya!" pinta Alena. Alex pun mengangguk dan langsung mendorong Alena ke tempat tujuan.

Sambil berjalan mencari kamar no 89, mereka berbincang-bincang sambil bercanda ria. Mereka memang sudah lama sekali tidak bertemu. Saat Alena pergi ke Singapura, Alex pergi ke Kota Batam untuk menjalankan usaha kecil-kecilannya.

"O,iya. Kakak baru tau lo kalau adik manja ini ternyata sudah menikah." ucap Alex sambil mencubit pipi Alena.

"Menikah juga karena terpaksa," jawab Alena lirih.

"Kakak itu sudah tau sifat kamu. Kalau kamu gak suka dengan sesuatu siapapun gak bakal ada yang bisa maksa, tapi kalau kamu mau walau bilang dipaksa. Itu tandanya dari lubuk hati kamu yang paling dalam kamu pasti suka dengan laki-laki itu, iya kan??" tutur Alex panjang lebar.

Alena langsung termenung. Tentu saja yang dikatakan Alex memang ada benarnya. Didalam hatinya yang paling dalam Alena memang masih berharap bisa bahagia bersama Daffin. Walau dia berniat hanya untuk balas dendam, tapi tidak bisa dipungkiri kalau dia berharap bisa mendapatkan cinta Daffin kembali.

"Hey, malah ngelamun. Kita sudah sampai nih dikamar no 89." ucap Alex membuat lamunan Alena buyar.

"Oh, iya Kak ayo masuk!" ajak Alena.

Tringg triingg...

"Ehh tunggu bentar, Al. Kakak ada telepon nih, kamu masuk duluan, ya!"

Alena pun akhirnya berniat untuk masuk sendiri kedalam kamar. Namun, belum sempat Alena memegang handle pintu, dari dalam terdengar suara Daffin yang sedang berbicara dengan seseorang.

"Mas Daffin ada didalam, ya? Tapi ngomong sama siapa?" Alena pun penasaran dan membuka sedikit pintu untuk mengintip dengan siapa Daffin berbicara.

Alena mengintip kedalam dan ternyata Daffin sedang berbicara dengan Serli. Alena sudah tidak heran lagi karena semenjak ada Serli, Daffin sudah tidak peduli dengan siapapun.

"Mas Daffin terlihat marah-marah dengan Serli," gumam Alena sambil terus memperhatikan mereka dari balik pintu.

"Mas! Kalau kamu berani pergi, sekarang juga akan aku katakan semuanya kepada Alena dan orang tua kamu kalau kamu sudah memiliki anak bersamaku!" ancam Serli dengan nada tinggi.

"Serli kamu itu keterlaluan, kalau bukan karena kamu ibunya Vivi. Kamu sudah aku buang jauh-jauh." bentak Daffin kepada Serli.

"Mas, memang apa salahnya kalau aku minta kamu nemenin Vivi, vivi itu anak kamu wajar kalau aku minta kamu buat nemenin dia pas lagi sakit. Kamu itu gak perlu nemenin Alena, dia itu kena karma karena sudah menabrak anak kita sampai kritis." balas Serli sambil memeluk tangan Daffin.

Awalny Alena tidak bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan. Namun, lama-lama karena Daffin terlalu emosi mereka bertengkar hingga perbincangan mereka terdengar di telinga Alena.

"Apa-apaan ini, apa yang barusan aku dengar. Aku pasti salah dengar!" gumamnya. Alena sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.

Perasaan Alena sudah tidak karuan, jantungnya terasa berhenti berdetak saat mendengar bahwa Vivi adalah anak dari Daffin dan Serli.

"Jaga ucapan mu, Serli! Alena bisa jatuh karena kamu sengaja mendorongnya, kan?" ucap Daffin lalu pergi menuju pintu keluar.

"Mas, aku mohon kamu jangan pergi. Vivi tidak punya siapa-siapa selain kamu papanya." rengek Serli menghentikan langkah Daffin.

"Sejak kemarin kamu terus menahanku untuk bertemu Alena. Vivi sudah baik-baik saja, sekarang aku ingin bertemu dengan istriku." ucap Daffin sambil menepis tangan Serli dari lengannya.

Dada Alena terasa sangat sesak setelah mengetahui semuanya. Terasa ditusuk seribu pedang saat mendengar bahwa Vivi adalah anak dari Daffin. Dia tidak menyangka bahwa apa yang dikatakan Fira itu benar adanya. Dia benar-benar kecewa dan teramat sakit hati oleh suaminya sendiri. Bukan hanya Daffin tidak jujur dengannya, bahkan dia tidak memberitahu kedua orangtuanya tentang anak kandungnya itu.

Alena menangis sejadi-jadinya dibalik pintu. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang melihatnya dengan tatapan heran.

Daffin baru sadar kalau ada seseorang di balik pintu. Dia pun perlahan menghampiri dan langsung membukanya.

"Alena??"

Mata Daffin langsung terbelalak saat melihat Alena sedang menangis dibalik pintu. Alena yang sedang menangispun perlahan mengangkat kepalanya dan menatap kedua manik mata Daffin yang membulat karena sangat terkejut melihat Alena.

.

.

.

.

**BERSAMBUNG

Maaf ya para pembaca setiaku kalau ceritanya kurang memuaskan,

buat yang sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya biar author semangatttt**...

1
Amilia Indriyanti
kandani kok
kamu tuh oon nya Alena
sekolah di luar negeri juga lho 🤣🤣🤣
Amilia Indriyanti
Halah....
alena Alena
kamu yg bloonya .... 😡😠🙁☹️
Mmh Arya Mmh Arya
thor kemana,kenapa,?semoga dlm keadaan sehat selalu.
Mmh Arya Mmh Arya
tamat kah??
Mmh Arya Mmh Arya
kmn si thor ?
Mmh Arya Mmh Arya
lama up
Mmh Arya Mmh Arya
nanggung,tp ok,lanjuuuut,,thor,semangaaaaaat
Mmh Arya Mmh Arya
wow,selamat ya thor,semoga debay n mom nya sehat terus
Mmh Arya Mmh Arya
kok tamat thor,blm jg bahagia alena dafinnya
Mmh Arya Mmh Arya: jd ga seru thor nanggung
total 1 replies
Mmh Arya Mmh Arya
thor kpn unyu2 nya ,,,dafin sm alena
Mmh Arya Mmh Arya
iya kasih dikit kemesraan kecil thor
Mmh Arya Mmh Arya
sulit aku cerna/tebak di episod ini,karena ga fokus dan ngantuk hehehehe
Mmh Arya Mmh Arya
pasti vivi yg ditabrak
Mmh Arya Mmh Arya
aku masih setia thor
Rizky Sandy
sdh tau orangtuanya dlm bahaya kok dibiarin aja, diamankan di bawa kmn kek,,
Azka Amirul
Thor kapan lanjutan nya
Azka Amirul
Blm ada lanjutan nya thor
Sri Saragih
lanjutan nya mana ??
Imach Bharum Rogot
lanjut donk
Priskha
lagi2 anak jd korban keegisan org tua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!