Kisah sebuah balas dendam dari seorang wanita bernama Kiara yang dikhianati oleh kekasihnya sendiri, membawanya bertemu dengan sosok NYAI RONGGENG yang dapat menjanjikan kecantikan, dan digemari banyak pria.
Kisah mistis ini berasal dari daerah Dusun 16, Desa Kolam, Kecamatan Percut Sei Tuan-Deli Serdang-Sumutera Utara (Sekitaran Medan).
Bagaimana kisah Kiara selanjutnya? ikuti kisahnya dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang
"Ayo, kita harus segera pergi, sebelum ada yang lihat." ajak Rama dengan nada gelisah, mencoba tenang tetapi tak dapat menyembunyikan perasaannya.
Reva yang ternyata juga takut aksinya diketahui warga hanya bisa mengangguk dengan patuh, lalu mengekori sang pemuda pujaan hatinya yang sudah ia serahkan segala apa yang ia punya, yaitu kehormatannya.
Keduanya berjalan menyusuri pematang sawah, dan terlihat dua orang wanita muda berpakaian seksi sedang menapaki area menuju pemakaman Nyai Punden Ronggeng, dan melihat dari cara berpakaiannya, mereka adalah para wanita penghibur, dan bahasa gaul untuk masa sekarang disebut LC.
Mereka membawa sesaji buah pisang dan alat ritual lainnya.
Saat berpapasan, Reva dan juga Rama berpura-pura tidak melihat mereka, lagipula area tersebut memang tidak pernah sepi didatangi oleh para pencari wangsit dengan tujuan tertentu.
Setelah me jauh dari lokasi makam Nyai Punden Ronggeng, Rama menoleh ke arah Reva. "ingat, jangan pernah katakan pada siapapun, kalau kamu tidak mau membusuk dipenjara, dan pastinya jika sampai masalah ini terbongkar, pernikahan kita akan batal," Rama mengingatkan Reva, dan berharap gadis itu dapat bekerjasama, toh, ia juga ikut terlibat dalam pembunuhan tersebut.
"Iya, aku akan menutup kasus ini, dan aku juga tidak mau menjadi penghuni penjara." ucapnya dengan wajah yang pucat.
"Ya, sudah. Kita pisah dulu, aku mau balik ke sawah, kamu pulang saja. Malam nanti aku akan datang lagi untuk menguburkan jasadnya," Rama terpaksa harus menahan rasa kesalnya, sebab saat memadu kasih saat tadi belum sempat tuntas, tetapi Kiara justru sudah muncul saja.
Keduanya berpisah, Reva kembali ke rumahnya, sedangkan Rama kembali ke gubuk, membereskan segala jejak yang nantinya akan membuat masalah semakin rumit.
****
Syamsuddin dan Halimah terlihat gelisah. Sudah tengah hari, tetapi Kiara tak kunjung pulang ke rumah.
Pria paruh baya yang saat ini menjabat sebagai pemilik salah seorang manager diperkebunan kelapa sawit dan memiliki gaji yang cukup fantastis terlihat gelisah saat mendapatkan kabar dari sang istri, jika puteri mereka tak juga terlihat.
"Memangnya Kiara pamit kemana, Bu?" tanya Syamsuddin dengan nada gelisah, mencoba menghubungi beberapa teman puterinya, termasuk Reva yang menjadi salah saudara dan juga teman dekat sang gadis.
"Hallo, Wak. Ya--ada apa?" tanyanya dengan nada gemetar, berusaha menahan rasa gugupnya saat Syamsuddin menghubunginya.
"Kamu ada lihat Kiara? Atau dia ada cerita mau pergi kemana? Uwak sudah hubungi Rama, tapi belum diangkat," ucap pria paruh baya tersebut dengan perasaan gelisah.
"Oh, Gak ada, Wak. Reva gak ada ketemu Kiara, mungkin dia ke pasar," gadis itu semakin merasakan degupan jantungnya memburu, berharap jika Syamsuddin segera mengakhiri panggilannya.
Pria itu terlihat kecewa, sebab kabar tentang puterinya belum diketahuinya.
"Ya, sudah, Uwak mau telpon yang lainnya, kalau ketemu Kiara atau tau dia dimana kabari, ya." pesannya pada gadis tersebut, dan merupakan keponakannya sendiri.
"Iya, Wak, nanti ku kabari kalau dapat kabar tentang Kiara," sahutnya dengan wajah pucat, dan ia bersyukur saat Syamsuddin mengakhiri panggilan tersebut.
"Bagaimana, Pak? Ada kabar?" tanya Halimah dengan cemas. Ia menggenggam jemari tangannya, berharap menemukan jawaban dari pencariannya.
Syamsuddin menggelengkan kepalanya, dan ini membuat hati wanita tersebut semakin nelangsa.
"Ya, Allah. Kemana puteriku Kiara, tunjukkanlah," doanya penuh harap. Hatinya sangat gundah.
Sedangkan Syamsuddin terus berusaha menghubungi Rama dan saudara lainnya, tetapi hasilnya nihil, tak ada kabar tentang keberadaan sang buah hati.
"Kita lapor Polisi saja, Pak," saran Halimah, ditengah rasa kekhawatirannya.
"Gak bisa, Bu. Harus dua kali dua puluh empat jam, baru laporan diterima."
"Ya Allah, kalau kenunggu dua hari baru dapat melapor, keburu anakku dalam bahaya," rutuk Halimah dengan kesal. Ia merasa mengapa aturan seperti itu harus ditetapkan, sebab diluar negeri mereka akan menanggapi laporan dengan cepat, demi meminimalisir hal yang tak diinginkan.
"Ya mau gimana lagi, memang begitu peraturannya," jawab Syamsuddin dengan lirih. "Bapak mau coba cari Kiara sekitar perkampungan, mudah-mudahan saja nanti ketemu bocah itu dijalan," harap Syamsuddin dengan hati gelisah. Ia bergegas keluar rumah, diiringi tatapan Halimah yang gelisah.
****
Malam beranjak, Syamsuddin sudah mencoba mencari, tetapi tak membuahkan hasil, bahkan ia sudah bertemu Rama, dan pemuda itu menjawab tidak tahu, dan bahkan ikut bersama dengannya mencari sang gadis.
Karena tak juga membuahkan hasil, membuat Syamsuddin kembali pulang, meski hatinya harus patah.
Sementara itu, dibawah tumpukan kelaras pisang yang sudah mengering, seseorang berusaha menggerakkan jemari tangannya.
Aroma masakan tercium diudara, sangat gurih dan membuat perutnya lapar.
Perlahan ia mendengar suara alunan gamelan yang ditabuh dengan begitu merdu dan diiringi suara sorak sorai dari orang-orang yang tampaknya sangat ramai.
Tubuh gadis dibawah kelaras pisang kering merasakan sesuatu yang lain, sebuah panggilan yang membuat ia harus bangkit dari tidurnya.
Matanya masih terasa berat, dan kepalanya berdenyut sakit, ia mengerjap, dan melihat hanya ada kegelapan.
Suara tabuhan gamelan membuat ia merasa seperti mendapatkan kekuatan yang datang entah darimana.
Ia menyingkirkan kelaras yang menutupi tubuhnya, lalu dengan segenap tenaganya ia bangkit dan duduk sejenak, memandangi sekelilingnya, dan merasa sangat asing.
Ia semakin kuat mendengar tabuhan yang terdengar nyaring dan riuh suara sorak yang berasal dari para pria.
Dengan rasa penasaran, ia beranjak bangkit, dan mencoba mencari sumber suara tersebut.
Perlahan ia melihat sebuah kerumunan dengan penerangan yang menggunakan obor, dipasang berkeliling untuk memperlihatkan sebuah pertunjukkan yang sangat meriah.
Gadis yang tak lain adalah Kiara berjalan dengan langkah yang tertatih menghampiri pertunjukkan yang mana para pengunjungnya adalah para pria.
Kiara mengerutkan keningnya. Ia merasa bingung dengan alat permainan tersebut, sebab seumur hidupnya tidak pernah melihat alat-alat yang ditabuh dengan aluanan yang sangat merdu.
Kiara mengedarkan pandangannya. Ia melihat dibagian kanan terdapat hutan tembakau yang cukup luas sejauh mata memandang.
"Perasaan kebun tembakau didesaku tidak seluas ini, kenapa ini luas banget?" gumamnya dengan rasa bingung.
Ia semakin dekat berjalam mendekati area pementasan musik gamelan yang sama sekali sangat asing baginya.
Orang-orang yang ada disekitarnya seolah tak peduli dengan kehadirannya.
Ia melihat ada beberapa orang warga asing, dan posturnya adalah orang Belanda, mereka duduk dikursi yang disediakan dan paling depan. Sedangkan para pria yang tampaknya para buruh perkebunan tembakau berdiri sembari menatap lima orang penari yang meliukkan bokong dan pinggulnya dengan begitu menggoda.
Para penonton maju ke arena tarian ronggeng, dan memberikan uang agar sang penari melayaninya.
Namun, diantara para penari itu, ada seorang penari yang membuat perhatian Kiara tertuju kepadanya. Ia terlihat lebih cantik, lebih energik, dan gerakannya juga sangat erotis, sehingga membuat ia menjadi idola diantara para penari lainnya, dan pria tak sabar ingin mendapatkan layanan darinya.
Saat tak sengaja, membuat kedua mata mereka saling beradu.
Rama butuh gol. darah O+ ,, aku nti ikutan nyumbang darah yaa Krn aku jg gol. darah nya O+ 🤣
tp spt nya Rama nti koit deh Krn sdh mau ikut sama iblis Nyai Ronggeng 🤣
apakah iblis Nyai Ronggeng mnta Tumbal yaaa ❓❓
maaf yaa kak ,, mmg TDK ada warga yg ngomong / ngadu ke orang tua nya Kiara yaa kalau anak nya JD Jalang Sampah Masyarakat 😤😤
Mungkin di mata Rama, Nyai Punden Ronggeng seperti Kiara kali yah.. 😁😁🤏
apakah kata-kata Kiara itu akan mjd kutukan untuk Beidah ❓❓
Bagus Rama gak mati di dalam galian kuburan yg di buat nya sndri 🤣🤣
Uang Gajian sebulan malah di berikan PD Kiara ,,, mmg nya nti mo d kasih makan apa tuh keluarga di rumah ,,, tp Alhamdulillah untung nya dh ketahuan duluan 💃
si Kiara di suruh nyari 100 orang laki-laki ,, sdgkan Kiara baru dpt 2 orang ( Tarman dan Rama ) ,,, tinggal 98 laki-laki lagi ,,, mmg kudu ke kota kau Kiara ,,,,,,, gaskeun 🤣🤣
Kiara untung bgt tuh , gak di garap tp ttp dapat uang 5jt dr Rama 💃💃