Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.
Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.
Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.
Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.
Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?
Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Make Over
#13
Motor Biru baru mamasuki pelataran kampus, pemuda itu membuka helm dan memastikan motornya terparkir dengan aman, kemudian berjalan ke ruang kelasnya.
Kelas belum dimulai ketika Biru tiba, sebaliknya teman-temannya sudah riuh ngobrol di kursi belakang. “Tugas aman, kan?”
“Aman, aku udah tambahin mana aja yang kurang semalam. Nih, tadi aku mampir fotocopy an sekalian dijilid.” Biru mengeluarkan tugas kelompok mereka yang kini sudah rampung seratus persen.
“Wah, mantul, semoga Pak Afandi gak protes lagi.”
Tengah asyik ngobrol, tiba-tiba pandangan mereka teralihkan dengan kedatangan sang mahasiswi baru yang belakangan jadi bahan pembicaraan para kaum adam seantero kampus. Miranda.
Gadis cantik dan modis itu, langsung menjadi pusat perhatian, sekaligus incaran. Tapi sayang, tak ada yang berhasil menarik perhatian gadis itu. Sebaliknya ia justru sering terlihat berkumpul dengan teman-temannya sesama kaum hawa, pastinya yang se frekuensi dengannya, karena Miranda terindikasi sebagai salah satu anak gaul metropolitan.
“Eh, denger-denger, dia anak dari pemilik firma Gun's.”
“Wah, seriusan?”
“Hem, makanya masuk ke sini juga mudah, kayak lempar gorengan ke piring aja.”
Tak ada yang tahu apa yang dipikirkan Biru setelah mendengar obrolan teman-temannya, tapi ia tiba-tiba menatap gadis yang beberapa kali berjumpa dengannya di situasi tak terduga itu.
Dosen pun masuk kelas beberapa saat kemudian, kelas mendadak tertib dalam waktu sekejap. Hingga dua jam kemudian—
“Baik, sampai di sini saja, ada yang mau ditanyakan?” tanya Pak Afandi ketika menutup pertemuan mereka.
Kelas riuh, namun, tak seorang pun mengangkat tangan. “Ada yang mau mengumpulkan tugas?”
Keriuhan kembali terdengar, hingga Pak Afandi tersenyum simpul.
Biru maju ke depan, lalu menyerahkan tugas yang telah ia rapikan proses akhirnya semalam. “Wah, good job.”
“Yang lain?”
“Kalau tidak ada Bapak akhiri sampai disini, selamat siang dan sampai jumpa minggu depan,” pungkas Pak Afandi. “Bapak tunggu paling lambat jum’at ini, ya? Minggu depan presentasi.”
“Oh, iya, Miranda, setelah ini ke ruangan Bapak, ya? Bapak akan kasih tugas untukmu.”
“Baik, Pak,” sahut Miranda.
•••
Tak lama Miranda berada di ruangan Pak Afandi, setelah keluar dari ruangan Pak Afandi, gadis itu berjalan hendak ke kantin kampus, karena sudah ditunggu teman-temannya. Namun hal tak terduga ia jumpai.
Miranda—” sapa seseorang dari arah samping.
Dengan malas Miranda menoleh, seringai seorang pemuda menyambut tatapan matanya. “Elo lagi,” gerutunya kesal.
“Hahaha, bener, ternyata beneran Miranda yang gue kenal.” Tian berjalan cepat menyamai langkah kaki Miranda, gadis yang ia sukai semasa masih putih abu-abu.
Miranda menatap jengah, “Lama tak jumpa, elo masih judes aja,” goda Tian.
Sama seperti dulu, Miranda tetap mengabaikan keberadaan Tian, si anak Pak Mentri. “Emang.”
Tian tersenyum sambil menaik turunkan kedua alisnya, “Perasaan gue juga masih sama ke elo.”
“Dih, ogah!” tolak Miranda tegas, kemudian berjalan cepat.
“Kali ini, gue gak akan membiarkan elo lepas, Mir. Elo harus jadi milik gue, bagaimanapun caranya,” gumam Tian. Dulu di SMA Tian pernah di permalukan di depan teman-teman satu sekolahnya. Dan kini ia tak mau malu untuk yang kedua kalinya, bila perlu ia akan melakukan pendekatan melalui orang tua mereka, karena secara kebetulan orang tua mereka saling kenal.
•••
“Kak, kita mau ke mana?” tanya Ayu, karena Giana menyeretnya keluar dari ruang kerja, karena Ayu masih menyelesaikan tahap akhir rancangan yang akan diperagakan di acara peragaan busana bulan depan.
“Keluar,” jawab Giana, tak menjelaskan apa-apa lagi.
“Pekerjaanku belum selesai, Kak.”
“Iya, lanjutkan lagi nanti malam, untuk sekarang biarkan para pegawai yang mengurus semuanya.”
“Tapi Kak—”
Dengan cepat Giana meletakkan jari telunjuknya ke bibir Ayu, hingga wanita itu berhenti membantah.
Siang ini Giana juga sengaja mengemudikan sendiri mobil mereka, jadi mereka bisa pergi dengan leluasa.
“Nah, ayo turun,” ajak Giana, setelah mobil terparkir dengan aman.
Mereka masuk ke salah satu mall elite Ibu Kota, dan tujuan pertama mereka adalah salon kecantikan. “Kak, kenapa aku di bawa ke sini?”
“Duduk saja, aku sengaja melakukan reservasi untuk meng-upgrade penampilanmu.”
Ayu keheranan, “Harus, ya?”
“Wajib! Mbak, tolong make over adik saya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki.”
“Baik, Bu.”
Petugas salon segera melakukan tugasnya, mula-mula ia mencuci rambut Ayu sebelum merapikan tatanannya. Rangkaian perawatan yang semula tak pernah Ayu rasakan, kini tengah ia jalani.
Kadang risih, karena mereka memaksa Ayu untuk melepas seluruh pakaiannya tanpa terkecuali, dan menggantinya dengan handuk khusus yang hanya menutupi dada hingga lutut. Kadang geli, ketika pundak punggung hingga kakinya dipijat dengan berbagai rempah berkhasiat. kadang terasa panas karena hembusan hair dryer yang mengeringkan rambut.
Semua Ayu jalani, termasuk saat ini komedo di wajahnya sedang dibersihkan, kemudian dilanjutkan dengan treatment laser untuk menghilangkan sedikit bintik hitam di permukaan kulit wajahnya.
Sementara Ayu menjalani serangkaian treatment, Giana sibuk menunggu dengan laptop dan ponsel. Beberapa jam berlalu, kini Ayu berdiri di depan cermin panjang yang memantulkan bayangan tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Tubuhnya semampai walau kini sedikit berisi karena usia, namun, tidak berlebihan. Wajahnya lebih bersinar cerah, rambutnya tergerai rapi hingga di batas pundak. Tak lupa gaun berwarna putih motif bunga yang lembut, menyempurnakan penampilan seorang Lembayung Senja versi terbaru.
Plok!
Plok!
Plok!
Dari depan pintu ruang ganti, Giana bertepuk tangan, Ayu yang semula tertegun melihat perubahan penampilannya, kini menoleh. “Kak, apa benar, itu aku?”
“Iya. Itu Lembayung Senja, wanita yang cantik, tangguh dan juga kuat. Penuh percaya diri, tak peduli banyak rintangan yang menghalangi.”
Ayu ingin menangis rasanya, “Jangan menangis, karena ini hanyalah wujud kecil dari menghargai dirimu sendiri.”
“Selama ini aku tak pernah berpikir melakukannya, jangankan melakukan perawatan semacam ini. Dulu, aku mana kenal tempat semacam ini. Yang ku tahu, hanya dapur, sumur, ladang, sawah, dan kasur.”
“Kalau begitu, sekarang aku boleh, dong, memberimu semangat.” Giana menampakkan senyuman lebar, agar Ayu bisa melupakan masa pahit dalam hidupnya.
“Semangat memulai kehidupan baru, sebagai Ayu yang baru, bukan ayu yang hanya bisa menunggu. Tapi Ayu yang yakin akan melangkah maju.”
“Mulai sekarang, lakukan ini lebih sering, agar dirimu pun merasakan uang yang sudah kau hasilkan dengan susah payah.”
“Tapi aku mengumpulkannya untuk biaya pendidikan Biru, Kak,” cebik Ayu.
“Hahaha— Biru sudah mandiri, dan lagi masa depan Biru sudah terjamin, karena Huda Tex yang akan menyokong Biru di masa depan.”
“Kalau Biru menolak?”
“Kami sudah pernah bicara secara pribadi, dan kelak Biru tak keberatan menggantikan aku.”
"Bicara soal apa, Kak?"
"Rahasia."
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan