NovelToon NovelToon
Qalbu Yang Terlupa

Qalbu Yang Terlupa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi
Popularitas:26
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 3: Rahasia Raesha

Mahira tidak ingat kapan ia meninggalkan Kiara di kantin.

Yang ia ingat hanya kakinya membawanya keluar—melewati koridor, melewati ruang-ruang kerja, hingga ia berdiri di depan pintu ruangan Raesha tanpa sadar bagaimana ia sampai di sana.

"Masuk." Suara kakaknya terdengar dari dalam setelah Mahira mengetuk.

Raesha duduk di balik meja kerjanya, masih dengan blazer abu-abu yang rapi. Tapi raut wajahnya terlihat lelah. Posisi CEO yang baru saja diumumkan jelas bukan hadiah yang mudah diterima.

"Mahira?" Raesha mendongak, kening berkerut melihat wajah adiknya. "Kenapa? Kamu—tunggu, kamu nangis?"

Mahira baru menyadari pipinya basah. Ia mengusapnya cepat. "Nggak. Aku cuma—" suaranya tercekat. "Kak, aku perlu ngomong sama kakak."

Raesha langsung berdiri, menutup pintu ruangannya dan mengunci dari dalam. Ia menarik Mahira ke sofa di sudut ruangan.

"Duduk. Cerita." Kakaknya menatap dengan pandangan khawatir yang dalam. "Ini soal mimpi buruk lagi?"

"Lebih dari itu." Mahira menarik napas gemetar. "Kak, aku... aku rasa aku mulai gila."

"Jangan ngomong gitu."

"Tapi aku serius!" Mahira menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. "Aku lihat hal-hal yang nggak mungkin. Aku denger nama yang nggak pernah aku kenal tapi kok rasanya familiar banget. Dan Khaerul—" ia berhenti, menggigit bibir. "Aku yakin dia... dia orang yang bunuh aku di kehidupan sebelumnya."

Keheningan.

Raesha menatapnya tanpa ekspresi. Terlalu lama. Terlalu tenang untuk reaksi orang yang mendengar kalimat gila seperti itu.

"Kak?" Mahira mengguncang lengan kakaknya. "Kakak nggak bilang aku gila?"

"Karena aku nggak pikir kamu gila." Raesha menghela napas panjang. Ia berdiri, berjalan ke meja kerjanya dan membuka laci paling bawah. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah buku tua dengan sampul kulit cokelat lusuh.

"Ini apa?" Mahira menerima buku itu dengan hati-hati.

"Catatan Nenek." Raesha duduk kembali di sampingnya. "Dia kasih ini ke aku seminggu sebelum dia meninggal. Bilang, kalau suatu hari kamu mulai ngalamin hal-hal aneh, aku harus kasih ini ke kamu."

Mahira membuka buku itu dengan tangan bergetar. Halaman-halamannya penuh tulisan tangan dengan tinta hitam. Tanggal-tanggal lama. Nama-nama asing. Dan sebuah sketsa—sketsa istana yang persis dengan istana di visinya tadi pagi.

"Nenek tahu?" bisik Mahira. "Nenek tahu soal... ini semua?"

"Nenek bukan cuma tahu." Raesha menatap adiknya dengan serius. "Dia ngalamin hal yang sama. Dan kata dia, ini warisan spiritual keluarga kita. Turun-temurun dari generasi ke generasi. Tapi nggak semua orang di keluarga ini dapet... kemampuan ini."

"Kemampuan?" Mahira tertawa pahit. "Ini bukan kemampuan, Kak. Ini kutukan!"

"Atau mungkin keduanya." Raesha meraih tangan adiknya. "Dengar, aku nggak ngerti semua ini. Nenek nggak kasih banyak penjelasan karena dia meninggal terlalu cepat. Tapi dia bilang, kamu yang akan jadi kunci. Kamu yang akan mengungkap semuanya."

"Kunci buat apa?"

"Itu yang harus kita cari tahu." Raesha berdiri lagi, kali ini berjalan ke jendela besar yang memamerkan Jakarta di siang hari. "Nenek juga bilang, ada brankas rahasia di perpustakaan rumahnya. Di dalamnya ada sesuatu yang penting. Sesuatu yang harus kamu buka kalau waktunya tiba."

Mahira menatap buku di pangkuannya. Jemarinya menelusuri sketsa istana itu—dan ia merasakan getaran halus, seperti energi yang mengalir dari kertas tua itu ke kulitnya.

"Kenapa Nenek nggak bilang langsung ke aku?" suaranya nyaris berbisik.

"Karena waktu itu kamu masih terlalu muda." Raesha berbalik menatapnya. "Nenek bilang, kamu harus mengalami sendiri dulu. Harus merasakan sendiri. Baru kamu akan percaya."

"Dan kakak? Kakak percaya sama semua ini?"

Raesha diam sejenak. "Sejujurnya? Aku nggak yakin. Tapi aku percaya sama kamu. Aku tahu kamu nggak akan bohong soal hal segila ini. Dan aku percaya sama Nenek. Dia nggak pernah ngomong sembarangan."

Mahira menutup buku itu perlahan. "Kak, tadi di kantin, Kiara bilang dia denger Khaerul nyebut nama Putri Aisyara. Dan itu nama yang—"

"—yang kamu denger di mimpi?" Raesha menyelesaikan kalimatnya. Wajahnya mengeras. "Khaerul tahu sesuatu. Dia pasti tahu."

"Atau dia juga ngalamin hal yang sama kayak aku." Mahira bangkit berdiri, langkahnya gontai menuju jendela. "Mungkin dia juga reinkarnasi dari masa lalu. Dari orang yang... yang bunuh Putri Aisyara."

"Kalau itu bener..." Raesha menelan ludah. "Berarti ini nggak cuma soal mimpi atau visi. Ini soal takdir yang terulang."

Mahira memeluk dirinya sendiri. Pandangannya kosong menatap gedung-gedung tinggi di luar sana. "Aku takut, Kak. Aku nggak tahu kenapa, tapi setiap kali liat Khaerul, ada yang... sakit di dada. Seperti luka lama yang belum sembuh."

"Kita harus ke rumah Nenek. Sekarang." Raesha meraih tasnya. "Buka brankas itu. Cari tahu apa yang Nenek tinggalin buat kamu."

"Sekarang? Bukannya kakak ada meeting—"

"Ini lebih penting." Raesha menatapnya dengan pandangan tegas. "Kamu lebih penting. Kita harus tahu apa yang terjadi sebelum terlambat."

***

Rumah nenek tampak berbeda di sore hari.

Cahaya matahari yang menerobos lewat jendela-jendela tinggi menciptakan pola-pola emas di lantai kayu. Bi Sumi menyambut mereka dengan terkejut—jarang kedua nona datang bersamaan di hari kerja.

"Bi, kami mau ke perpustakaan," kata Raesha sambil melepas sepatunya. "Jangan ganggu kami ya, Bi. Ada urusan penting."

"Baik, Nona. Mau Bi buatin minum?"

"Nggak usah, Bi. Makasih."

Perpustakaan keluarga Qalendra berada di sayap kiri rumah—ruangan besar dengan rak-rak kayu jati penuh buku dari lantai hingga langit-langit. Ada tangga putar di pojok untuk mencapai rak-rak tinggi. Meja baca besar di tengah ruangan. Dan aroma khas buku-buku tua yang menenangkan.

"Nenek bilang, brankas itu di balik lukisan almarhum Kakek." Raesha menunjuk dinding belakang.

Di sana tergantung lukisan besar—potret kakek Mahira yang meninggal sebelum ia lahir. Pria dengan jenggot putih dan mata tajam yang entah kenapa selalu membuat Mahira tidak nyaman.

Mereka berdua menarik lukisan itu—dan benar saja, di baliknya terpasang pintu besi kecil dengan kombinasi angka.

"Kombinasinya apa?" Mahira bertanya.

"Tanggal lahir kamu. 24-05-2001." Raesha mulai memutar kombinasi. "Nenek bilang, ini semua tentang kamu."

Klik.

Pintu brankas terbuka.

Di dalamnya, ada beberapa benda: sebuah kotak kayu berukir, setumpuk surat-surat lama yang diikat tali, dan sebuah foto hitam putih yang terlipat.

Raesha mengeluarkan semuanya dengan hati-hati, meletakkannya di meja baca. Mahira mengambil foto itu lebih dulu—membukanya perlahan.

Dan jantungnya berhenti berdetak.

Foto itu menunjukkan seorang wanita muda dengan kebaya tradisional. Rambutnya panjang terurai. Senyumnya lembut. Dan wajahnya—

"Ya Allah," gumam Raesha. "Itu..."

"Itu aku." Mahira nyaris menjatuhkan foto itu. "Tapi ini foto jaman kapan? 1940-an? Aku belum lahir—"

"Itu bukan kamu." Raesha meraih foto itu, membaliknya. Di belakangnya tertulis dengan tinta pudar: *Putri Aisyara binti Sultan Mahmud. 1724.*

Keheningan mencekam mengisi ruangan.

"Ini... nggak mungkin." Mahira mundur selangkah. "Foto nggak ada tahun 1700-an. Ini pasti manipulasi. Pasti—"

"Atau ini bukan foto." Raesha menatap gambar itu lebih seksama. "Ini lukisan yang dipotret. Liat, ada tekstur kuas di wajahnya."

Mahira mengambil foto itu lagi dengan tangan gemetar. Ia mempelajari setiap detail wajah Putri Aisyara. Mata sewarna madu. Bibir yang persis seperti bibirnya. Bahkan tanda lahir kecil di sudut kiri dagu—sama persis dengan tanda lahir Mahira.

"Kita... orang yang sama," bisiknya. "Aku adalah dia. Dia adalah aku."

Raesha membuka kotak kayu itu. Di dalamnya, tergeletak sebuah surat dengan kertas yang hampir rapuh. Ia membacanya dalam hati—wajahnya berubah pucat.

"Kak? Ada apa?"

Raesha tidak menjawab. Ia hanya memberikan surat itu ke Mahira.

Tulisan tangan nenek, dengan tinta biru yang sudah memudar:

---

*Mahira sayangku,*

*Jika kamu membaca ini, berarti waktunya sudah tiba. Aku harap aku bisa menjelaskan semua ini dengan lebih baik, tapi takdir tidak memberi aku cukup waktu.*

*Kamu adalah reinkarnasi Putri Aisyara—putri kesayangan Sultan Mahmud yang dibunuh dalam pengkhianatan istana 300 tahun lalu. Pembunuhnya adalah Pangeran Khalil, panglima yang seharusnya melindunginya. Dia membunuh Aisyara karena cinta yang tidak terbalas.*

*Tapi cerita tidak berakhir di sana.*

*Aisyara meninggal dengan dendam yang begitu kuat hingga menciptakan kutukan. Kutukan yang membuat jiwa-jiwa yang terlibat dalam tragedi itu terikat untuk bereinkarnasi, terus-menerus, hingga kebenaran terungkap dan dendam terselesaikan.*

*Kamu, Mahira, adalah Aisyara.*

*Dan Khaerul... adalah Khalil.*

*Tapi ada satu lagi. Belahan jiwa Aisyara yang sejati. Pangeran Zarvan dari Kerajaan Utara—lelaki yang seharusnya menikah dengan Aisyara. Lelaki yang mati mencoba menyelamatkannya.*

*Dia juga akan bereinkarnasi. Dan kalian akan bertemu lagi.*

*Tugas kamu, sayang, adalah memutuskan rantai kutukan ini. Mengungkap kebenaran. Dan menemukan cinta yang tertunda 300 tahun.*

*Tapi hati-hati. Khalil—atau Khaerul—masih membawa dendam yang sama. Dia tidak akan membiarkan kamu bahagia.*

*Percayalah pada takdirmu. Percayalah pada cinta.*

*Nenek akan selalu bersamamu, meskipun dalam cara yang berbeda.*

*Dengan cinta,*

*Nenekmu, Siti Rahma Qalendra*

---

Surat itu jatuh dari tangan Mahira yang gemetar.

Raesha memeluknya—merasakan tubuh adiknya menggigil. "Mahira... kamu nggak sendirian. Aku di sini. Aku akan bantu kamu."

Tapi Mahira tidak mendengar. Pikirannya berputar cepat. Putri Aisyara. Pangeran Khalil. Pangeran Zarvan.

Dan nama terakhir itu—

Zarvan.

"Kak," Mahira menarik diri dari pelukan kakaknya. "Minggu depan. CEO Al-Hakim Corporation yang akan datang. Namanya—"

"Zarvan Mikhael Al-Hakim," Raesha melanjutkan dengan suara pelan. Wajahnya pucat. "Ya. Aku juga baru sadar."

Mereka saling menatap—dan untuk pertama kalinya, ketakutan yang sesungguhnya merayap masuk.

Takdir tidak main-main.

Dan pertemuan yang ditakdirkan itu tinggal menghitung hari.

---

**BERSAMBUNG KE BAB 4**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!