"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 08
Belum sempat Seno bertanya lebih lanjut, mobil mereka tiba-tiba berhenti karena sang supir yang mengerem secara mendadak dan membuat tubuh mereka terguncang ke depan.
Seno berdecak kesal. "Ada apa?!"
"Tidak tahu tuan, ada orang yang tiba-tiba menghadang di depan, " ujar sang supir.
Lantas mendadak saja wajah Rania menyembul ke belakang. "Sen, ada Windya di depan, " ucapnya dengan nada antara panik bercampur kaget.
Sementara Seno yang mendengar nama itu seketika wajahnya diliputi keterkejutan yang sangat kentara. Bahkan Indira baru kali ini melihat ekspresi sang pria yang se kelimpungan itu.
Di lain sisi, perempuan di depan sana menghadang jalannya mobil dengan kedua tangan membentang lebar. Make up nya menor dan dia mengenakan gaun malam yang terlihat memantulkan cahaya karena sinar matahari.
Seno segera keluar untuk menemui perempuan itu. Wajahnya berubah melembut begitu tatapan mereka bertemu, lain halnya si wanita yang begitu nyalak menatap nya seolah ada kemarahan yang tersimpan besar di sana.
"Windya... " panggil Seno.
Si wanita langsung merengek seperti anak kecil, agaknya dia agak mabuk terlihat dari jalannya yang sempoyongan dan Seno sudah bisa menebak hal itu.
"Hiks, hiks, kak Seno jahat sekali... kenapa kakak tiba-tiba menikah hah?! " pekik Windya, seraya tangannya yang memukul- mukul dada Seno, meluapkan emosinya.
Seno sendiri tampak diam saja menerima luapan emosi wanita itu, meski sekarang menjadi tontonan, namun Seno membiarkan sampai Windya tenang sendiri.
Indira yang melihat kejadian itu di dalam mobil hanya bisa terdiam. Dia melihat dengan jelas cara Seno bersikap, raut wajahnya, perlakuannya pada gadis itu sangat berbeda dari apa yang dia kenal selama ini dari pria itu.
Seno tampak tenang, lembut dan penuh pengertian, berbeda seratus delapan puluh derajat dari perlakuan yang di dapatkan nya meski sekarang status mereka adalah suami- istri.
"Dia adalah Windya. " mendadak suara Rania terdengar, berbicara padanya. "Dia adalah kekasih, Seno. "
Deg!
Indira tertegun mendengar informasi yang baru di jelaskan itu. Ternyata pria itu sudah memiliki seorang kekasih? lantas mengapa masih nekat untuk menikahinya?
Dan seolah tahu apa yang Indira pikirkan, Rania mencondongkan tubuhnya untuk berbicara pada Indira.
"Kau mungkin heran, kenapa pernikahan kalian bisa terjadi sementara Seno sendiri sudah memiliki kekasih? kau jangan salah paham, hubungan mereka itu cukup rumit dan tidak bisa juga dibilang saling mencintai, namun Seno sangat menghargai Windya dan tidak mungkin meninggalkan nya. "
"Lalu... kenapa dia menikahi ku? "
Sayangnya Rania terdiam, dengan kelopak mata yang menurun dan wajahnya yang mendadak redup. "Aku juga tidak tahu apa dipikirkan nya, dan tidak bisa mencegah itu. Dari kecil Seno memang seperti itu, jika dia menginginkan sesuatu tidak ada yang bisa menghentikan nya, dia keras kepala. Dan untuk mu.... maaf karena harus terlibat dalam masalah ini. "
Indira bergeming, matanya memerah dan sudah sedikit berair. "Karena dia membenci ku dan ingin balas dendam melalui pernikahan ini. "
"Harusnya aku yang minta maaf padamu, Kak Rania. "
Dan detik itu juga Rania hanya bisa terdiam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhirnya Seno dan kekasihnya itu pergi menggunakan taksi, sementara Indira dan Rania tetap pulang bersama supir.
Indira tidak mau tahu menahu kemana kedua orang itu pergi, toh bukan urusannya juga. Statusnya sebagai istri pria itu pun sejak awal hanya sebuah kepura-puraan saja, mereka tak memiliki perasaan romantis dalam pernikahan balas dendam ini, jadi Indira tak punya hak untuk merasa sakit hati ataupun cemburu karena suaminya lebih memilih menemani wanita lain.
Yang Indira inginkan saat ini hanyalah ketenangan, ia harus tenang menghadapi semua ini baru memikirkan kedepannya.
Mobil mereka berhenti di sebuah kediaman mewah. Supir memikirkan mobil tepat di halaman yang luas dengan berbagai macam tumbuhan dan bunga.
Rania keluar lebih dulu, lalu mengetuk kaca jendela mobil di dekat Indira duduk.
Indira spontan menurunkan kaca mobil.
"Kamu tidak ingin masuk? "
Indira tergagap, ia melamun hampir separuh perjalanan, lantas gadis itu mengangguk dan keluar dari mobil.
"Selamat datang di kediaman keluarga Barata, " ucap Rania, menunjukan bangunan tiga lantai yang tampak begitu megah di hadapan mereka.
Indira melihat kediaman itu, begitu megah, begitu besar namun serasa seperti penjara baru baginya. Supir masuk lebih dulu membawa barang- barang mereka.
Dan Rania, meskipun terlihat acuh tak acuh ia tetap memperhatikan Indira. "ayo masuk. "
Indira mengangguk, suasana yang begitu asing, lingkungan baru dan peraturan baru yang harus di taati, membuat Indira sedikit mual. Di dalam hatinya ia berfikir sampai kapan tepatnya ia harus tinggal di rumah ini, sampai akhirnya nanti ia harus pergi.
Di dalam, mereka di sambut oleh balasan pelayan yang berjejer rapi dengan kepala tertunduk. Rania menjelaskan fondasi- fondasi rumah, dan mengantar Indira ke kamarnya.
"Untuk sementara kamu pakai kamar tamu dulu, ya. " ujar wanita itu ketika mereka sampai di depan sebuah pintu kayu.
"Tidak lama, sampai nanti Seno sendiri yang menentukan semuanya. Sejujurnya aku tak memiliki hak apa- apa, Seno lah yang memegang kendali. "
Indira mengangguk pelan, meski di dalam dadanya terasa ada sesuatu yang runtuh perlahan. Kata 'sementara' terdengar begitu samar, namun justru itulah yang paling menyakitkan. Tidak ada kepastian. Tidak ada tempat yang benar-benar bisa ia sebut miliknya.
Rania membuka pintu kayu itu, memperlihatkan sebuah kamar luas bernuansa krem dengan jendela besar yang menghadap taman belakang. Semuanya tampak rapi, bersih, dan mahal-- namun dingin. Terlalu sempurna untuk disebut nyaman.
“Kamu bisa istirahat dulu,” ujar Rania, suaranya datar. “Kalau butuh apa-apa, panggil pelayan.”
Indira tersenyum tipis. “Terima kasih.”
Rania mengangguk, lalu berbalik pergi tanpa banyak kata. Pintu tertutup pelan, menyisakan Indira sendirian di ruangan asing itu.
Begitu langkah kaki Rania menjauh, Indira akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang. Matanya menatap kosong ke arah lantai, sementara pikirannya berputar tak beraturan. Adegan di jalan tadi terus terulang di kepalanya--cara Seno memandang Windya, kelembutan yang tak pernah ia rasakan, kesabaran yang tak pernah ia dapatkan.
Jadi seperti itu wajah Seno ketika mencintai seseorang…
Dadanya terasa perih. Bukan karena cemburu, melainkan karena kenyataan bahwa sejak awal, ia memang tidak pernah diinginkan. Pernikahan ini hanyalah alat. Dan dirinya--sekadar bidak.
Indira menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia bangkit, membuka koper kecil yang dibawanya, lalu mengeluarkan beberapa helai pakaian sederhana. Saat itulah pandangannya tertumbuk pada cincin di jari manisnya.
Cincin pernikahan itu terasa berat. Terlalu berat untuk sesuatu yang tidak memiliki makna.
Ia hendak melepasnya, namun tangannya berhenti di udara. Ingatan akan kata-kata Seno terlintas begitu saja.
Perlahan, Indira menurunkan kembali tangannya. Cincin itu tetap di sana.
Malam turun dengan cepat di kediaman Barata. Lampu-lampu rumah menyala terang, namun Indira memilih mematikan sebagian lampu kamarnya. Ia duduk di dekat jendela, memandangi taman yang sunyi.
Entah sudah berapa lama ia termenung ketika suara pintu kamar terdengar diketuk.
Tok.
Tok.
Indira tersentak. “Iya?”
Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Seno yang berdiri di ambang pintu. Jasnya sudah dilepas, dasinya longgar, dan wajahnya terlihat lelah. Namun ekspresi dingin itu masih sama.
“Kau belum tidur?” tanyanya singkat.
“Belum,” jawab Indira pelan.
Seno melangkah masuk tanpa izin, lalu berdiri tak jauh darinya. Keheningan kembali menguasai ruangan, canggung dan menekan.
“Windya… bagaimana?” tanya Indira akhirnya, meski kata itu terasa pahit di lidahnya.
Seno menoleh. “Kenapa kau bertanya dan dari mana kau tahu?”
“Dia kekasihmu,” jawab Indira jujur. “Sebagai istri-- meskipun hanya di atas kertas, aku perlu tahu.”
Seno terkekeh pelan, tanpa senyum. “Kau cepat belajar peran.”
Indira menggenggam jemarinya. “Aku hanya ingin semuanya jelas.”
“Dia baik-baik saja,” jawab Seno. “Aku mengantarnya pulang.”
“Ke rumahmu?” tanya Indira refleks.
Seno menatapnya tajam. “Jangan melewati batas.”
Kalimat itu seperti tamparan. Indira mengangguk pelan. “Maaf.”
Seno menghela napas, lalu memalingkan wajah. “Aku tidak akan membawa Windya ke rumah ini. Itu satu hal yang bisa kau pegang.”
Indira terdiam. Entah itu bentuk kelegaan atau sekadar formalitas, ia tak tahu.
“Besok,” lanjut Seno, “kita akan bertemu keluarga besar. Kau harus siap.”
“Siap untuk apa?”
“Untuk menjadi istriku,” jawabnya dingin. “Tersenyum, berbicara seperlunya, dan jangan membuat masalah.”
Indira mengangguk lagi. “Aku mengerti.”
Dan belum sempat Seno melangkahkan kaki untuk pergi, suara Indira terdengar memecah keheningan.
"Untuk perjanjian pernikahan kontrak yang kita bicarakan--"
Seno berhenti, tanpa menoleh.
"Aku ingin itu dilanjutkan besok. "
Seno sempat melirik tanpa memalingkan wajah, dan Indira tetap berdiri menunggu kepastian namun pria itu tak mengatakan apa- apa dan pergi begitu saja dari sana membuat Indira hanya bisa menghela napas pelan.
*****
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah