NovelToon NovelToon
Aku Bukan Milik Langit

Aku Bukan Milik Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.

Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.

Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.

Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Resonansi Dua Kehendak

Li Shen memacu kuda hitamnya menembus tirai malam, meninggalkan hiruk-pikuk Hongluo yang kian mengecil di cakrawala. Di punggungnya, tubuh Hua’er terasa begitu ringan, seolah berat badannya ikut menguap bersama qi yang bocor dari pori-porinya. Gadis itu tidak sekadar terluka, ia seperti bejana retak yang kehilangan airnya setiap detik.

​Wajahnya pias seputih salju, dengan keringat dingin yang membasahi pelipis hingga helai rambut hitamnya menempel di dahi. Li Shen bisa merasakan detak jantung Hua’er yang tidak stabil melalui persentuhan kulit mereka. Ia tidak kembali ke rumah bordil Selendang Merah. Bukan karena gentar pada omelan Madam Luo, melainkan karena nalurinya, insting yang kini beresonansi dengan sesuatu yang baru di dalam dirinya, berbisik bahwa kerumunan manusia adalah racun bagi kondisi Hua'er saat ini.

​Ingatannya melayang pada sebuah ceruk tersembunyi di lereng timur luar kota Jing’an. Sebuah kolam yang ia temukan saat kembali dari Hutan Batu Hitam. Di sana, udara tidak hanya sejuk, tapi terasa "hidup". Tanah dan airnya belum terjamah oleh polusi qi mandat yang korup.

​Sambil memacu kuda, Li Shen mengerahkan Kehendak Murni untuk menyelimuti tubuh Hua'er, mencoba menyumbat kebocoran itu secara kasar. Namun, ia menyadari sesuatu yang janggal. Qi Hua’er bukan sekadar rusak akibat serangan luar, melainkan terasa seperti struktur yang memang memiliki celah bawaan, sebuah ruang kosong yang menolak untuk menyatu.

​Fajar menyingsing dengan warna merah tembaga saat mereka tiba. Kolam itu melingkar sempurna di bawah perlindungan pepohonan tua yang akarnya menjalar ke air seperti pembuluh darah bumi. Li Shen segera turun, membopong Hua’er dengan hati-hati dan mendudukkannya bersandar pada batu datar di tepi air.

​Napas gadis itu kini hanya tersisa satu-dua tarikan tipis. Li Shen duduk bersila di hadapannya, memejamkan mata, dan mencoba memanggil apa yang baru saja ia terima dari Luyin.

​Selama ini, ia hanya mengenal Kehendak Murni, namun sekarang, ada resonansi lain. Ia mulai merasakan getaran dari tanah yang ia duduki, riak air yang tenang, hingga desis oksigen di antara dedaunan.

​Inikah Kehendak Alam?

​Ia tidak menggunakan mantra. Tidak ada formasi rumit yang ia gambar di tanah. Li Shen hanya membuka "pintu" dalam batinnya. Tiba-tiba, dunia di sekitarnya tidak lagi terasa sebagai benda mati. Angin yang berputar lembut di sekitar mereka bukan lagi sekadar hembusan, melainkan aliran partikel cahaya yang berdenyut.

​Li Shen mengarahkan tangan kanannya ke dada Hua’er. Kali ini, ia tidak memaksakan kehendaknya sendiri ke dalam tubuh gadis itu. Sebaliknya, ia bertindak sebagai jembatan. Ia menarik energi murni dari akar pohon, dari jernihnya air, dan dari kesegaran embun pagi, lalu membiarkannya mengalir melaluinya menuju meridian Hua’er.

​Awalnya, energi itu menolak. Kebocoran di tubuh Hua'er terlalu besar. Aliran alam itu terus mencari jalan keluar, seolah tubuh gadis itu adalah saringan yang rusak.

​Melihat kondisi yang kian kritis, Li Shen mengambil keputusan nekat. Ia mengangkat tubuh Hua’er dan melangkah masuk ke dalam kolam. Dinginnya air seketika menusuk kulit, namun anehnya, air itu mulai berpendar.

​"Tetaplah bersamaku, Hua'er. Jangan menyerah pada kekosongan itu," bisik Li Shen, meski sorot matanya ketara sekali cemas.

​Ia membiarkan tubuh mereka setengah terendam. Di dalam air, interaksi antara Kehendak Murni milik Li Shen dan Kehendak Alam barunya menjadi lebih intens. Air kolam bertindak sebagai konduktor alami. Cahaya kebiruan mulai terpancar dari dasar kolam, menyelimuti mereka berdua dalam kepompong cahaya.

​Riak air yang tadinya kacau perlahan menjadi tenang dan sinkron dengan detak jantung Li Shen. Kehendak Alam mulai "merajut" kembali meridian Hua'er. Celah-celah yang tadinya kosong kini mulai terisi oleh energi hijau yang hangat. Li Shen bisa merasakan sensasi aneh, ia seolah bisa mendengar nyanyian alam yang berusaha menyembuhkan bagian yang hilang dari jiwa gadis itu.

​Waktu seolah terhenti. Cahaya matahari pagi mulai menghangatkan permukaan kolam yang kini sebening kristal. Kelelahan luar biasa mulai menggerogoti kesadaran Li Shen, namun ia mengunci posisinya. Ia harus memastikan aliran ini menetap, memastikan bahwa qi yang baru ini tidak sekadar mampir, tapi menyatu dengan sumsum tulang Hua'er.

​Warna porselen di wajah Hua'er perlahan berganti dengan rona kemerahan yang sehat. Napasnya mulai dalam dan tenang. Seekor rusa keluar dari semak, menatap mereka dengan mata hitam yang cerdas sebelum meminum air kolam yang kini kaya akan energi kehidupan.

​Namun, kedamaian itu pecah dalam sekejap.

​Bulu kuduk Li Shen berdiri. Kehendak Alam yang tadi terasa lembut mendadak bergetar hebat, mengirimkan sinyal peringatan yang tajam.

​Bukan suara manusia. Bukan pula langkah kaki binatang buas biasa.

​Suara lolongan serak bergema dari kegelapan hutan yang belum terjamah matahari. Bau amis yang busuk dari qi yang terdistorsi dan daging yang membusuk menusuk hidung. Sepasang mata kuning menyala muncul di balik bayang-bayang pohon, diikuti oleh yang lain. Satu, dua... kawanan binatang roh yang telah tercemar, monster yang hanya mengenal rasa lapar.

​Li Shen masih terendam di air, satu tangannya menopang Hua’er, sementara tangan lainnya masih terhubung dengan aliran energi alam. Ia berada dalam posisi yang mustahil. Jika ia melepaskan Hua’er untuk meraih pedangnya, stabilitas qi gadis itu akan runtuh seketika, dan seluruh proses penyembuhan ini akan lebih beresiko.

​Li Shen tidak bergerak, namun matanya berkilat tajam seperti belati. Rahangnya mengeras saat monster-monster itu mulai mengitari tepi kolam, air liur mereka menetes, membakar rumput hijau yang tak berdosa. Entah siapa yang mengirimkan binatang-binatang roh itu ditempat yang tidak seharusnya.

1
MuhFaza
bagus. lanjutkan
yuzuuu ✌
bau2 istri MC 🤭
yuzuuu ✌
lanjut lanjutt lanjut thor..... suka bngtt 😍
MuhFaza
lanjutt
yuzuuu ✌
wkakaka mampus
yuzuuu ✌
bakal se op apa beliau2 ini 👀
MuhFaza
baguss
MuhFaza
tpikal novel zero to hero
yuzuuu ✌
wakakak 🤣👍
yuzuuu ✌
meskipun menolak pemberian langit tapi nggak mulai dari nol yh,. si Xuan yg kasi secara cuma2 atw karena li Shen membunuh bayangan2 di taixu jadi naik tingkat?
yuzuuu ✌
apakah nanti jadi jodohnya huaer? 👀🤭
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
yuzuuu ✌
🤣/Sob/
yuzuuu ✌
jarang nemu novel yang pembukaannya rapi begini thor. semangat 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
yuzuuu ✌
suka tipe MC sampah begini di awalnya. tinggal jejak dulu thor, lanjutkan 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!