NovelToon NovelToon
Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ibu Mertua Kejam / Anak Yatim Piatu / Action / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Mimpi Buruk

Kegelapan di dalam kamar utama sayap barat High Tower tidaklah alami. Nayara berbaring di atas sprei sutra yang mendadak terasa kasar seperti amplas, sementara suhu ruangan merosot drastis hingga napasnya membentuk uap tipis. Sabotase listrik yang mematikan seluruh sistem pencahayaan dan penghangat ruangan telah menciptakan panggung sempurna bagi Kyai Hitam. Nayara memejamkan mata, mencoba melarikan diri dari kesunyian yang menekan, namun ia justru terjatuh ke dalam perangkap yang lebih dalam. Tasbih kayu di genggamannya terasa mendingin, warnanya memudar pucat di bawah cahaya bulan yang masuk melalui celah gorden, seolah seluruh kehidupan di dalam butiran kayu itu sedang disedot habis.

Di sisi lain menara, di dalam penjara kaca yang steril, Arkananta tersentak. Ia berdiri mematung di tengah ruangan yang hampa. Rasa sakit yang tiba-tiba menusuk ulu hatinya membuatnya terbungkuk. Ia mencengkeram pinggiran meja kristal yang tadi sempat ia retakkan.

"Nayara..." geram Arkan, suaranya parau. Ia merasakan sensasi tercekik yang sangat nyata di tenggorokannya, sebuah pantulan dari apa yang sedang dialami istrinya melalui ikatan luka mereka.

Arkan dipaksa melakukan napas manual. Setiap tarikan udaranya terasa berat, seolah paru-parunya diisi oleh cairan logam panas. Ia menatap ke arah sayap barat, namun dinding kaca satu arah itu hanya memantulkan wajahnya sendiri yang tampak seperti monster yang sedang menahan amarah.

Proyeksi Api di Balik Kelopak Mata

Nayara tidak lagi berada di High Tower. Di dalam alam bawah sadarnya, ia berdiri di depan gerbang panti asuhan "Cahaya Sauh". Namun, pemandangan itu mengerikan. Langit berwarna merah darah, dan aroma kemenyan yang tajam bercampur dengan bau anyir besi memenuhi indra penciumannya. Ia melihat api mulai menjilat dinding bata merah berlumut tempat ia dibesarkan.

"Ibu Fatimah! Mang Asep!" Nayara berteriak, namun suaranya tidak keluar. Lidahnya terasa kelu, seolah-olah ada jarum perak ghaib yang menusuk pangkal sarafnya.

Seorang pria dengan jubah hitam—proyeksi ghaib dari Kyai Hitam—muncul dari balik kobaran api. Wajahnya tidak terlihat, hanya matanya yang berpijar seperti bara. Di tangannya, ia memegang sebuah boneka kain yang mirip dengan Nayara, dengan belasan jarum tertancap di bagian leher dan jantung.

"Kau hanyalah pembawa sial, Nayara. Lihat apa yang terjadi pada rumahmu karena kau mencoba naik ke menara yang bukan milikmu," suara pria itu bergema di dalam kepala Nayara, terdengar seperti bisikan ribuan orang yang menghina kasta panti asuhannya.

"Ini adalah proyeksi artifisial. Ini hanyalah manipulasi halusinasi yang diinstruksikan Nyonya Besar melalui instrumen dukunnya," batin Nayara memberontak. Ia mencoba menggerakkan tangannya untuk meraba tasbih, namun tubuhnya mengalami paralisis tidur yang hebat.

Di dunia nyata, tubuh Nayara di atas ranjang mulai berkeringat dingin. Keringat itu berbau anyir, sebuah tanda fisik dari serangan santet halusinasi yang sedang merusak sistem sarafnya.

Arkananta di ruang isolasi mulai kehilangan kendali atas energi hampa di tubuhnya. Sumsum tulangnya berdenyut panas, memicu aktivasi awal integritas tulang besinya. Ia menghantam dinding kaca dengan bahunya. Duum! Suara itu bergema, namun kaca antipeluru itu tetap kokoh, hanya menunjukkan getaran kecil pada sensor keamanan.

"Lakukan pembukaan akses pintu ini! Saya mengidentifikasi adanya pemantauan visual dari koordinat Anda!" teriak Arkan ke arah kamera pengawas di sudut plafon.

"Tuan Arkananta, pertahankan status tenang Anda. Anda sedang berada dalam interval prosedur pembersihan batin," suara Nyonya Besar terdengar dingin melalui pengeras suara.

"Pembersihan? Anda sedang menginisiasi terminasi terhadapnya di sana! Saya merasakan resonansinya, Nyonya Besar! Saya mendeteksi tekanan jeratan pada laringnya!" rahang Arkan mengunci rapat, matanya memancarkan hawa mendingin yang absolut.

Bisikan di Antara Dua Dunia

Dalam mimpinya, Nayara melihat Arkan muncul di tengah api panti asuhan. Namun, Arkan itu membelakangi dirinya, berdiri dengan angkuh bersama Kireina dan Erlangga. Proyeksi Arkan itu menoleh, menatap Nayara dengan tatapan jijik yang belum pernah ia lihat di dunia nyata.

"Kau pikir kau siapa? Kau hanyalah alat untuk menstabilkan posisiku, Nayara. Sekarang kau sudah tidak berguna," ucap proyeksi Arkan itu sembari tertawa tajam.

Nayara merasakan hatinya seolah dihantam oleh palu godam. Meskipun ia tahu ini adalah serangan sihir, rasa sakit emosional yang ditimbulkan terasa sangat nyata. Ia mulai menangis tanpa suara, air mata merembes dari kelopak matanya yang terpejam di dunia nyata.

"Jangan memberikan kepercayaan pada visual tersebut... Nayara... itu bukan entitas saya..." suara Arkan yang asli terdengar sangat jauh, seolah datang dari balik dinding beton yang tebal.

Resonansi Shared Scar bekerja dengan cara yang menyiksa. Arkan di ruang kaca kini berlutut di lantai, memegangi dadanya yang terasa seperti sedang dibakar hidup-hidup. Ia bisa melihat apa yang dilihat Nayara—pengkhianatan palsu yang sedang dipentaskan oleh Kyai Hitam.

"Kyai... jika Anda melakukan penetrasi pada kognisinya lebih jauh, saya menjamin tidak akan ada koordinat aman bagi Anda di seluruh yurisdiksi Astinapura ini," bisik Arkan, suaranya mengandung getaran frekuensi rendah yang membuat gelas-gelas di atas meja kerjanya bergetar hebat.

Di kamar Nayara, bau busuk sihir semakin menyengat. Sosok berjubah hitam itu melangkah mendekat, jarinya yang kurus mencoba menyentuh kening Nayara untuk menanamkan benih kegilaan yang permanen. Nayara terus menggenggam tasbihnya di dunia nyata, meski tangannya gemetar hebat. Ia mencoba mengingat aroma nasi hangat di dapur panti dan sholawat yang biasa ia lantunkan bersama Mina untuk mengusir rasa takut.

"Sholallahu 'ala Muhammad..." batin Nayara mulai merapal secara refleks.

Seketika, di dalam mimpinya, butiran cahaya emas mulai muncul dari butiran tasbih yang ia peluk. Api panti asuhan yang membara mulai meredup, namun sosok Kyai Hitam justru semakin murka dan menancapkan jarum perak terakhir tepat di bagian kepala boneka tersebut.

Lantai yang Membara

Di dunia nyata, tubuh Nayara tersentak di atas sprei yang kini basah oleh keringat dingin. Sensasi jarum perak yang ditancapkan Kyai Hitam pada boneka santet itu mewujud menjadi migrain hebat yang seolah membelah batok kepalanya. Ia tidak berteriak, karena Silent Dignity yang ia miliki melarangnya untuk meratap di hadapan musuh yang mengintai melalui kamera tersembunyi. Namun, kukunya menusuk telapak tangan hingga meninggalkan bekas luka bulan sabit yang dalam.

"Arkan... lakukan prosedur bantuan untuk saya..." bisik batin Nayara, suaranya terperangkap di dalam tenggorokan yang tercekik.

Di ruang isolasi, Arkananta meraung tanpa suara. Kepalanya menghantam dinding kaca satu arah, bukan karena putus asa, melainkan karena ia berusaha melakukan transfer beban rasa sakit Nayara ke dalam sistem sarafnya sendiri. Gusi Arkan mulai mengeluarkan darah—sebuah efek samping dari teknik absorbsi yang dipaksakan melampaui batas kemampuannya saat ini.

"Nyonya Besar! Lakukan terminasi terhadap prosedur ini sekarang atau saya akan menginisiasi destruksi total terhadap struktur gedung ini!" Arkan berteriak ke arah speaker.

"Kapasitas Anda terlalu rendah untuk kualifikasi seorang Komandan, Arkan. Jika Anda tidak mampu memvalidasi penderitaan pasangan demi masa depan Empire, maka Anda tidak layak memegang otoritas kepemimpinan kami," sahut suara Nyonya Besar dari interkom, tetap tenang meski di monitornya ia melihat Arkan mulai memancarkan energi kelabu yang berbahaya.

Arkan menarik napas manual dengan sangat berat. Ia melihat jam tangan peraknya; jarumnya bergetar hebat sebelum akhirnya berhenti total. Integritas politiknya telah dikorbankan demi keselamatan Nayara. Ia memusatkan seluruh sisa energinya pada resonansi luka mereka.

"Nayara, fokus pada output suara saya! Abaikan proyeksi api tersebut! Pertahankan visual pada eksistensi saya!" Arkan membenturkan tinjunya ke kaca dengan frekuensi yang sama dengan detak jantung Nayara.

Pecahnya Halusinasi

Di dalam alam bawah sadar, Nayara melihat sosok proyeksi Arkan yang jahat itu mulai mengalami retakan sistemik. Suara dentuman dari dunia nyata yang dikirimkan Arkan melalui ikatan batin mereka terdengar seperti guntur yang membelah langit merah darah panti asuhan. Nayara memaksa kelopak matanya terbuka.

"Anda... bukan pasangan resmi saya," desis Nayara dalam mimpinya.

Ia menghentakkan kakinya ke bumi panti asuhan yang terbakar. Seketika, visi tentang panti asuhan yang musnah itu hancur berkeping keping seperti cermin yang dipukul godam. Bau anyir besi di udara digantikan oleh aroma melati yang samar—sebuah jangkar emosi yang ia bawa dari memori masa kecilnya di Terra.

Nayara terbangun dengan sentakan hebat di kamar High Tower yang gelap. Ia duduk tegak, napasnya tersengal-sengal, namun matanya memancarkan cahaya "Cursed Eye of the Truth" yang menyala tajam dalam kegelapan. Ia bisa melihat asap hitam sisa sihir Kyai Hitam yang masih mengambang di pojok ruangan, perlahan lenyap karena tidak lagi memiliki inang untuk dihancurkan.

"Eksistensi saya masih bertahan," ucap Nayara lirih, suaranya serak namun penuh wibawa.

Di ruang kaca, Arkan terjatuh ke lantai dengan posisi berlutut. Rasa tercekik di lehernya menghilang seketika, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa meski tubuhnya terasa seperti baru saja dihantam badai. Ia menyeka darah dari sudut bibirnya dengan punggung tangan.

"Dia telah berhasil melakukan resistensi," gumam Arkan, napasnya perlahan kembali normal.

Meskipun ia masih terkunci di dalam penjara kaca dan Nayara masih terisolasi di sayap barat, kemenangan kecil ini telah mengubah dinamika kekuatan di High Tower. Nyonya Besar yang memperhatikan dari ruang kendali hanya bisa terdiam, melihat bagaimana menantunya yang "lemah" itu mampu mematahkan serangan elit Kyai Hitam tanpa satu pun teriakan bantuan.

Nayara meraba tasbihnya. Warnanya tidak lagi pucat, melainkan mulai kembali kecokelatan meski retakan di butirannya semakin dalam. Ia tahu bahwa malam ini hanyalah permulaan. Di balik pintu yang terkunci, ia bisa mendengar langkah kaki pelayan yang panik karena rencana "pembersihan batin" mereka gagal total.

"Arkan, saya akan melakukan prosedur penjemputan untuk Anda," janji Nayara dalam hati, sambil menatap pintu kamarnya yang masih terkunci rapat dari luar.

1
Kartika Candrabuwana
iya. makasih ya.
prameswari azka salsabil
bagus arkan
prameswari azka salsabil
mantap betul
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kasihan mereka
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
waduh pengacau lagi
prameswari azka salsabil
sabar nay
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
joss arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
mantap arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
tegar nayara
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
miga baik baik saja
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
Kartika Candrabuwana
pasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
iya betul arkan
Kartika Candrabuwana
tetao semangat arkan
Kartika Candrabuwana
bagys nayara
Kartika Candrabuwana
semangat arkan
Kartika Candrabuwana
yetap beraholawat nayara
Kartika Candrabuwana
lasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
wah ada pahar ghaib
Kartika Candrabuwana
semoga arkan dan nayara baik baik saja
Kartika Candrabuwana
jangan lupa bersholawat nayara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!