Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 : Beraliansi secara rahasia
Serah berjalan melewati lorong istana di belakang Edward yang memimpin jalan bersama dengan Oliver di sampingnya menuju ke suatu ruangan.
"Yang mulia." Dua orang pengawal yang berdiri di depan pintu ruangan, langsung membungkuk sopan saat melihat kedatangan Serah dan yang lain.
Serah hanya melirik ke arah Edward yang kemudian berkata, "mereka sudah menunggu di dalam, yang mulia." Serah tersenyum samar dan mengangguk kecil. Lalu, Edward meminta pengawal untuk membukakan pintu ruangan tersebut.
Pintu ruangan itu terbuka. Di dalamnya sudah ada lima orang pria yang menunggu, sedang duduk. Namun, begitu Serah melangkahkan kaki ke dalamnya, kelima pria tersebut segera berdiri dan masing-masing dari mereka membungkuk dengan santun.
Serah melempar pandangan sesaat dan tersenyum sampai ia berdiri di hadapan kelimanya. "Selamat datang Tuan-tuan, mari silahkan duduk," ucapnya ramah dan mempersilahkan para tamunya untuk duduk kembali.
Serah pun segera duduk di tempatnya dan menatap mereka berlima dengan senyum kecil.
"Yang mulia, terimakasih atas undangan dan kesediaan anda untuk membantu kami." Seorang pria membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Apa itu berarti, kalian setuju dengan kesepakatan yang sudah saya ajukan disurat itu?" Tanya Serah langsung ke titik inti pembicaraan. Matanya mengedar, seolah sedang mencari keraguan dari kelima pria yang berada di dalam ruangannya.
Oliver dan Edward mendadak hening sesaat setelah Serah melontarkan pertanyaan itu.
"Kami bersedia menerimanya." Grenseal berdiri lalu membungkuk di depan Serah sebagai penghormatan dan tanda kesepakatan itu ia setujui langsung sebagai Raja dari Duncan itu sendiri.
"Bagus, kalau begitu, kita bisa mulai bekerja sekarang." Serah tersenyum puas. Suasana tegang seketika lenyap menjadi desahan napas lega yang sejak tadi tertahan.
"Tuan Edward ikut denganku, kita ke ruangan kerja sekarang." Serah kemudian berdiri, "Mari, Yang mulia," ucapnya sopan kepada Grenseal.
Pria itu pun ikut berdiri dan berpandangan dengan empat pria lain. "Carles kau ikut denganku," ujarnya dan kemudian mulai bergerak mengikuti langkah Serah yang sudah terlebih dahulu berjalan dengan Edward dan Oliver. Tiga orang pengawalnya berada di posisi paling belakang.
"Kak, kau tidak mengajakku?" Oliver langsung menyatakan keberatannya kepada Serah kenapa ia tak diikut sertakan.
"Tuan William akan menjelaskannya kepadamu nanti, kau senang?" Serah menoleh ke arah Oliver yang berjalan di sampingnya dengan tersenyum geli saat melihat sang adik mulai ingin belajar lebih dalam soal kerajaan.
"Hmm, baiklah selama dia tidak menggunakan kata-kata yang terlalu sulit, aku tak akan keberatan!" Balasnya setengah menyindir William yang biasanya menggunakan bahasa yang sulit untuk ia mengerti.
"Ah-- uh...." Pria itu tersentak saat disindir begitu. "Tentu saja, Yang mulia, saya selalu menjelaskan dengan bahasa yang mudah 'kan?" Pria itu menoleh ke belakang mencoba untuk tersenyum manis dan Serah hanya menggeleng melihat sikap Oliver yang masih suka iseng. Wajar saja, usianya masih sangat muda untuk saat ini ia baru menginjak 18 tahun.
"Silahkan, Yang mulia." William akhirnya membuka sebuah pintu ruangan lain.
Mereka masuk ke dalam ruangan kerja sang Ratu, Serah. Wanita itu langsung memandangi setiap sudut sekitar ruangan itu dengan lamat. Tak ada satu pun yang berubah. Tata letak buku, kursi, juga tirai besar berwarna hijau yang menjadi ciri khas Regina. Semuanya masih sama dan bersih seperti belum pernah tersentuh.
"Oliver...." Serah berbalik, menatap ke arah sang adik.
"Ya, baiklah, aku pergi...." Pangeran muda itu langsung membalikkan badan dan keluar ruangan.
Grenseal lalu memerintahkan tiga orang lainnya untuk menunggu di depan ruangan yang langsung dituruti dengan patuh.
"Baik, Yang mulia," ucap ketiganya dengan kompak, terdengar samar dari kejauhan.
Sekarang di dalam ruangan itu hanya tinggal mereka berempat saja, yaitu Serah, Edward, Grenseal dan Carles.
"Tuan Edward...," ucapnya dengan lembut.
Seakan mengerti maksud dari sang Ratu, pria yang sudah berusia hampir 60 tahun itu langsung mengambil sebuah buku dengan cover biru dari lemari besar yang berada di sisi kiri dari tempat duduk Serah.
"Yang mulia," balasnya sambil memberikan buku itu ke tangan Serah.
"Sekarang kita mulai memperhitungkan semua bahan pangan yang dibutuhkan oleh Duncan, termasuk hitungan dari kerajaan lain."
Akhirnya keempat orang itu berdiskusi pada satu meja yang sama dengan Serah yang berada pada porosnya. Edward berdiri di sisi kiri, Grenseal di sisi kanan Serah, sementara Carles berdiri di depan sang Ratu.
Semuanya memasang ekspresi serius sambil memperhitungkan segala sesuatunya. Mereka harus melakukannya tanpa dicurigai oleh pihak Mathilda, karena salah sedikit saja semuanya bisa gagal dan Duncan akan jatuh berada di bawah kendali Louis, yang pastinya Regina pun akan menyusul kalau sampai itu terjadi.
"Bawa peta itu kemari, Tuan Edward," ucap Serah menunjuk ke arah belakang pria itu.
Edward segera berbalik dan mengambil sebuah peta yang terselip di antara buku dengan susunan rapi. Ia mengeluarkannya dengan hati-hati, lalu memberikannya kepada sang Ratu.
Serah membuka peta wilayah kerajaan miliknya dan kerajaan sekitar, termasuk wilayah Duncan dan meletakkannya di atas meja agar semua orang dapat melihat.
"Kami akan mengantar pasokan pangan melewati jalur ini." Serah menunjuk ke salah satu jalur utama yang memang biasa dilewati oleh para pedagang dari berbagai macam kerajaan. "Tapi, seperti yang kau tau, jalur ini sangat ramai dilalui, dan akan memakan waktu lebih dari empat hari baru tiba di perbatasan Duncan, bahkan bisa lebih karena medan Duncan yang cukup sulit," jelasnya setelah menimbang perkiraan waktu tempuh yang akan dilalui.
Grenseal tampak serius memperhatikan, lalu tiba-tiba saja dia mendekati Serah, lalu membungkuk. Pria muda itu mengambil pulpen kecil di tangan Serah, dan berkata, "saya akan menyarankan anda untuk melewati jalur ini karena akan lebih mudah dan cepat." Ia membungkukkan badannya begitu dekat di sebelah Serah.
Wanita itu terpaku karena jarak di antara mereka seakan terhapus sedikit demi sedikit. Grenseal fokus memberi penjelasan dengan wajah serius. Sementara Serah merasa ada sesuatu yang aneh. Di jarak sedekat ini ia dapat merasakan hembusan napas pemuda itu tiap kali ia berbicara dan Serah kehilangan sedikit fokus karenanya.
"Jalur utama sangat padat dan tidak efisien, alternatif kedua bisa berbahaya dan tidak cocok untuk prajurit anda, jadi alternatif ketiga jauh lebih aman, karena ini salah satu alternatif lain selain kedua jalur tadi, mari saya bantu menandakannya."
Grenseal memberi tanda garis di sepanjang jalur yang ia maksud itu sampai di perbatasan wilayah Duncan.
Ia menjelaskan dengan sangat detail, mengenai medan tempat, lokasi air, juga beberapa rumah singgah kecil yang ada di sekitar wilayah itu.
"Jadi, bagaimana dengan usulan saya, Lady Serah?" Grenseal menoleh ke samping menatap wanita di sebelahnya.
Serah agak terkejut, ia bahkan tak menyadari kalau posisi Grenseal sudah sangat sedekat ini sekarang. Ia bertatapan langsung dengan jarak yang begitu dekat, kurang satu jengkal tangan.
Grenseal sendiri tampaknya juga baru menyadari kalau posisinya terlalu dekat dengan wajah sang Ratu Regina. Ia terpaku ketika menatap sepasang manik gelap di hadapannya yang begitu menghanyutkan.
Sementara dua orang penasehat dari masing-masing kerajaan kini saling melempar pandang seperti sebuah sinyal rahasia.
Carles yang menatap Edward menaikkan kedua alisnya sekali lalu melirik ke arah Serah dan Grenseal, lalu dibalas oleh Edward dengan mengangkat kedua alisnya dua kali. Seketika kedua orang itu tersenyum lebar. Setelah memastikan mereka memiliki pikiran yang sama.
"Ehem, Yang mulia Serah."
"Yang mulia Grenseal."
Kedua orang itu berdeham bersamaan yang membuat Raja dan Ratu dari dua kerajaan yang saling berbeda itu segera tersadar dan berusaha menjauhkan diri.
"Maaf, Yang mulia...," ucap Grenseal dengan sopan sambil berusaha bersikap biasa dan menarik diri terlebih dahulu.
Serah sendiri segera memposisikan dirinya kembali dengan benar dan menatap ke arah peta.
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib