Pratama Attarilah Putra Wijaya (Tama), adalah seorang yang usil dan jahil. Sejak kecil dia sering menjahili anak dari sahabat ibunya, Kiara. Akankah kejahilan itu terus berlanjut dan menumbuhkan cinta?
Mikhaila Azzariyah Putri Wijaya(Mikha), dia lahir lebih lambat 2 menit dari saudara kembarnnya Tama. Mikha yang memiliki sifat lugu dan polos bertemu dengan seorang pemuda bernama Dion Sebastian yang memiliki sifat jutek dan temperamental. Dan suatu kesalah pahaman membuat mereka terpaksa harus menikah. Akankah keduanya saling jatuh cinta, ketika ternyata di hati Dion sudah ada wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Dion tidak menjawab, dia menatap Mikha sambil terus berjalan mendekat ke arahnya.
"Mau mau apa kamu?" tanya Mikha yang semakin gugup, dia juga semakin erat memegangi selimutnya.
Dion terus berjalan mendekat ke arahnya, langkah demi langkah semakin mengurangi jarak keduanya. Hingga pada akhirnya, langkah Dion terhenti tepat di hadapan Mikha. Dia menatap istrinya tersebut dari atas hingga bawah.
"Jangan macam-macam ya, kamu sudah janji padaku tidak akan meminta hakmu sebelum aku menjadi dokter!"
Mikha memundurkan langkahnya saat Dion mulai menggerakkan tangannya, awalnya Mikha mengira kalau suaminya itu hendak menyentuhnya, namun ternyata tangan itu malah menuju ke tempat lain.
Ya, tangan itu mengambil sesuatu yang ada di atas nakas di belakang Mikha. Lebih tepatnya, Dion mengambil dompetnya yang tertinggal.
"Astaga, kenapa aku bisa berfikir macam-macam sih?" lirih Mikha dalam hati.
Dion menatap ke arah Mikha, dia yakin kalau istrinya itu sudah berfikiran macam-macam tentangnya.
"Pasti tadi kamu sudah berfikir, aku mau ngapa-ngapain kamukan?" tanya Dion.
"Ti..tidak, aku tidak berfikir begitu kok," elak Mikha, walau sebenarnya dia sempat berfikir kalau suaminya akan bertindak macam-macam terhadapnya.
"Baguslah kalau begitu, setidaknya sampai saat ini aku juga tidak ada niatan untuk menyentuhmu."
Padahal yang terjadi kebalikannya, adik kecil Dion sudah menegang sedari tadi.
"Shit! Kalau aku masih di sini, bisa-bisa aku tidak akan mampu mengendalikan diri." Dion kembali membatin dengan umpatannya.
Dion benar-benar merasa tersiksa dengan keadaannya sekarang. Mulutnya memang bisa menyangkal dan mengatakan kalau dia tidak tergoda dengan kemolekan istrinya. Tapi berbeda dengan tubuhnya, gairah itu muncul dengan sangat kuat. Padahal saat bersama dengan Cantika dulu, meski pacarnya itu berkali-kali minta berhubungan badan, dia bisa dengan mudah menolaknya.
Entahlah!
Apa karena dia sudah terbiasa melihat tubuh seksi Cantika dulu? Atau memang tubuh istrinya ini lebih bisa membuatnya tergoda?
Apapun jawabannya, nyatanya saat ini adik kecilnya sudah meronta-ronta di dalam sana.
Dion adalah tipe orang dengan gengsi yang begitu besar, meski saat ini dia sudah sangat ingin menerkam tubuh istrinya. Namun dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk tetap bisa mengendalikan dirinya, walau harus merasakan siksaan yang teramat berat karena adik kecilnya sudah minta untuk di puaskan.
"Kenapa masih di sini?" Suara istrinya mampu membuyarkan pikirannya yang sudah mulai mesum.
"Iya, ini juga aku mau pergi," jawab Dion yang seolah tidak bernafsu terhadap tubuh istrinya.
"Lalu kenapa masih menatapku seperti itu?" tanya Mikha sekali lagi, "Jangan-jangan pikiranmu memang sudah mesum ya?"
Sebenarnya tebakan istrinya itu seratus persen benar, namun dengan cepat Dion mengelaknya.
"Mana mungkin aku punya nafsu dengan cewek kerempeng sepertimu. Jika kekasihku yang tubuhnya seksi saja tidak mampu membangkitkan gairahku, apalagi tubuh kerempengmu!" elaknya walau yang Dion rasakan adalah kebalikannya. "Walaupun saat ini kamu tanpa busana sekalipun, aku tidak akan tergoda."
"Kalau begitu baguslah! Jadi aku tidak perlu berhati-hati terhadapmu," kata Mikha yang akhirnya merasa aman karena merasa yakin kalau apapun yang dia lakukan tidak akan mungkin membuat suaminya itu tergoda untuk memangsanya. Bahkan tanpa dia sadari gundukan kembar miliknya hampir saja terlihat karena dia sedikit menurunkan selimutnya.
Dan lagi-lagi Dion menelan salivanya dengan bersusah payah. Rasanya akan semakin sulit untuk mengendalikan gairahnya jika dia masih tetap berada di kamar tersebut.
"Jika aku masih tetap di sini, pasti aku tidak akan bisa mengendalikan diriku lagi," batin Dion dengan menahan segala gairahnya.
"Mau kemana kamu?" tanya Mikha saat suaminya tersebut ke luar dari dalam kamar tanpa mengeluarkan sepatah katapun lagi. "Aneh," dengusnya.
Mikha kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti gara-gara kedatangan Dion, suaminya.
*****
Saat ini Dion sudah berada di dalam mobil miliknya. Berkali-kali dia menarik napas panjangnya kemudian menghembuskannya. Bayang-bayang kemolekan tubuh istrinya kembali muncul di otaknya.
"Sepertinya, aku harus menidurkannya sendiri."
Sebenarnya sangat mudah bagi Dion jika ingin bisa melepaskan gairahnya kepada wanita lain. Karena akan ada banyak wanita yang dengan suka rela bahkan ikhlas menjadi pemuas nafsunya di atas ranjang.
Tetapi Dion bukanlah pria seperti itu, dia bukan tipe pria yang suka memuaskan nafsunya kesembarang wanita.
Dion mulai melajukan mobilnya, dia ingin segera membuat adik kecilnya itu kembali tertidur. Saat tiba di depan rumah yang tak lain adalah rumah orang tuanya. Dia segera berlari masuk ke dalam kamar pribadinya. Bahkan sapaan kedua orang tuanya tidak dia perdulikan. Saat ini yang dia butuhkan adalah mendinginkan dirinya agar adik kecilnya itu segera tertidur kembali.
Entah sudah berapa lama Dion berada di dalam kamar mandi. Dengan memanfaatkan dinginnya air, akhirnya dia sudah berhasil menidurkan adik kecilnya.
"Bersabarlah, kamu harus berpuasa sampai istrimu berhasil menjadi seorang dokter!" tuturnya saat berada di dalam kamar mandi.
Setelah semuanya berhasil dia kendalikan, Dion pun keluar dari dalam kamar mandi miliknya. Dia ke luar dengan wajah yang sudah lebih fresh dari sebelumnya.
"Nak, kamu kenapa? Hampir satu jam lho kamu di dalam kamar mandi?" tanya Maya.
"Tidak apa-apa kok, Ma. Aku hanya ketiduran tadi," jawab Dion berbohong. Dion tidak mungkin mengatakan kepada ibunya kalau dia lama di kamar mandi karena sedang berusaha menidurkan adik kecilnya.
"Ohya bagaimana kabar menantu Mama? Apa kalian sudah selesai membereskan apartemen kalian?"
Dion langsung teringat tujuan awal dia keluar dari apartemen adalah untuk membelikan istrinya itu makanan.
"Ma, Dion langsung pergi ya!" pamit Dion kepada mamanya.
"Lho kok buru-buru?"
"Dion lupa, Ma. Kalau tujuanku ke luar apartemen untuk membeli makanan. Mikha pasti sudah menunggu makanannya."
"Kenapa sampai lupa?" tanya Maya kepada putranya.
'Masa iya aku harus menjawab kalau aku lupa karena ingin menidurkan adikku kecilku'
Dion kembali membatin.
"Awas ya, kalau sampai kamu membuat menantu Mama itu kelaparan!" Dengan tegas Maya memperingatkan putranya itu.
"Iya-iya, Ma. Dion cuma kelupaan barusan," ucap Dion. Setelah berpamitan dengan mamanya dengan segera Dion meninggalkan kediaman orang tuanya. Dia tidak ingin membuat istrinya terlalu lama menunggunya.
*****
Kiara, Lisa dan Meisya ketiganya baru saja ke luar dari lingkungan kampus. Mereka berjalan beriringan meninggalkan area kampus.
"Ki, Mei, gue duluan ya!" pamit Lisa saat pacarnya sudah menunggunya di seberang jalan sana.
"Hati-hati ya, Lis," jawab Kiara.
Kiara dan Meisya melambaikan tangan mereka saat Lisa sudah masuk ke dalam mobil milik kekasihnya.
"Maaf ya Sayang aku telat," ucap Zeno yang baru saja datang.
"Tidak terlambat kok, aku juga baru saja ke luar," jawab Kiara.
"Ayo, Sayang aku antar kamu pulang!" seru Zeno kepada kekasihnya. Dia membukakan sebelah pintu mobil miliknya untuk Kiara.
"Tapi bagaimana dengan Meisya?" tanya Kiara seraya menatap ke arah teman barunya.
"Jangan khawatir, aku yang akan mengantarkan Meisya pulang."
Suara itu tiba-tiba muncul dari arah belakang Kiara.
"Tam, kamu di sini?" tanya Kiara.
"Tadi ada tugas, makanya aku juga baru pulang," jawab Tama. "Sudah Kia, soal Meisya aku yang akan mengantarnya. Kamu dan Zeno bisa pulang sekarang?"
"Iya," jawab Kiara. Entah kenapa Kiara jadi merasa tidak senang saat Tama menawarkan dirinya untuk mengantar Meisya.
"Ayo Sayang masuk!" suruh Zeno sekali lagi.
Kiara melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil milik Zeno, namun perhatiannya masih tertuju pada Tama dan Meisya.
Saat Zeno sudah mulai melajukan mobilnya pun, Kiara masih tetap melihat ke arah Tama dan Meisya melalui kaca spion.
Bahkan saat mobil itu sudah menjauh dari lingkungan kampus, pikiran Kiara masih tertuju pada Tama dan Meisya.
"Kenapa Tama begitu akrab dengan Meisya? Apa mereka pacaran?" batinnya.
"Kenapa Sayang?" tanya Zeno saat melihat kekasihnya yang hanya diam.
"Tidak apa-apa," jawab Kiara berbohong.
"Sepertinya cewek itu cocok ya dengan Tama. Dan yang aku lihat, Tama juga perhatian sama dia."
Kiara merasa tidak senang mendengar perkataan Zeno mengenai hubungan Tama dan Meisya. Namun dia hanya menjawabnya dengan senyum yang nampak jelas di paksakan.
Kiara masih saja diam, saat mobil milik Zeno sudah sampai di depan rumahnya.
"Sayang, ayo turun kita sudah sampai!" seru Zeno. Kiara masih terdiam, pikirannya masih berada di tempat Tama dan Meisya.
"Kenapa Tama akrab dengan Meisya? Sejak kapan dia mengenal si Meisya itu?"
Kiara kembali kesal saat mengingat bagaimana Tama menggandeng tangan Meisya.
"Kia, Sayang. Kita sudah sampai," kembali Zeno memberitahu.
"Eh, iya Tam."
Zeno memicingkan matanya saat mendengar kekasihnya menyebut nama Tama.
"Maksudku...maksudku Zeno Sayang," Kiara meralat perkataannya.
"Ya sudah aku pulang, besok aku akan ke sini lagi untuk menjemputmu."
"Iya, Zen," kata Kiara dengan menunjukkan senyumnya. "Hati-hati ya."
Setelah mobil Zeno menghilang dari pandangannya, Kiara segera berjalan masuk ke dalam rumah.
🍀🍀🍀🍀
**Tetap tinggalkan jejak kalian dengan cara like, komen dan kalau bisa vote sebanyak-banyaknya.
Dan sambil menunggu update berikutnya, silahkan mampir ke karya temen author yang berjudul:
➡️ Dipaksa Menikah karena skandal -> Linanda Anggen**.
Di tunggu kunjungannya ya, Terimakasih🤗🤗