hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22:
Ruang rapat utama di lantai teratas gedung Maheswara Group biasanya menjadi saksi bisu kesepakatan-kesepakatan bernilai miliaran rupiah. Namun pagi ini, udara di dalam ruangan itu terasa lebih berat, seolah oksigen telah habis disedot oleh ketegangan yang memuncak. Meja jati bundar di tengah ruangan menjadi pemisah antara dua kubu yang sebenarnya memiliki darah yang sama.
Raga Maheswara duduk di kursi kebesarannya, wajahnya terlihat pucat dengan kantung mata yang menghitam. Di sebelah kanannya, Ratih duduk dengan wajah yang dipoles make-up tebal untuk menutupi kecemasan, sesekali ia mengusap tangan Maya yang terus menunduk sambil sesenggukan kecil—sebuah taktik lama yang mulai terasa hambar.
Di sisi lain meja, Safira duduk dengan tenang. Ia mengenakan setelan blazer berwarna biru dongker yang tajam, memancarkan aura otoritas yang bahkan melampaui ayahnya. Abian duduk di sampingnya, bukan sebagai peserta rapat, melainkan sebagai pengamat yang kehadirannya saja sudah cukup untuk mengintimidasi siapa pun di ruangan itu.
Raka dan Bima duduk di posisi tengah, di antara ayah mereka dan Safira. Posisi duduk mereka mencerminkan kegundahan hati mereka: terjepit di antara loyalitas kepada orang tua dan rasa bersalah kepada adik kandung.
"Kita mulai rapatnya," suara Raga terdengar parau. Ia menatap Safira dengan tatapan yang sulit diartikan—antara marah, kecewa, dan sedikit rasa takut. "Safira, Papa tidak akan berbasa-basi. Cabut tuntutan audit itu sekarang juga. Kamu tahu apa taruhannya? Harga saham kita bisa anjlok, dan nama Maheswara akan terseret ke lumpur."
Safira tidak segera menjawab. Ia membuka map di depannya dengan perlahan, menciptakan suara gesekan kertas yang terasa nyaring di tengah keheningan. "Nama Maheswara sudah ada di lumpur sejak Papa membiarkan uang yayasan anak yatim mengalir ke butik-butik di Paris untuk keperluan Maya. Aku tidak menghancurkan nama itu, Pa. Aku hanya menunjukkan betapa kotornya lumpur yang selama ini Papa tinggali."
"Safira! Jaga bicaramu pada Papa!" teriak Ratih, suaranya melengking. "Kamu sengaja melakukan ini karena iri pada Maya, kan? Kamu mau menghancurkan masa depan adikmu sendiri?"
"Adik?" Safira menaikkan sebelah alisnya, menatap Ratih dengan tajam. "Anakmu bukan adikku. Dan soal masa depan, Maya sudah menghancurkan masa depannya sendiri saat dia memutuskan untuk memfitnahku di depan seluruh sekolah. Aku hanya memastikan keadilan berjalan."
Raga memukul meja. "Cukup! Raka, Bima... bicara kalian! Katakan pada adik kalian betapa berbahayanya tindakan ini bagi masa depan kalian juga sebagai ahli waris!"
Raka menarik napas panjang. Ia melirik Bima, yang juga tampak sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Bima menatap Maya, lalu beralih menatap Safira. Ia teringat betapa dinginnya rumah itu bagi Safira selama bertahun-tahun, dan bagaimana ia hanya diam saat Safira disalahkan atas hal-hal yang tidak ia lakukan.
"Pa," Raka akhirnya bersuara. Suaranya tenang, namun ada ketegasan yang baru di sana. "Setelah aku melihat laporan yang dibawa Pak Haryo semalam... aku rasa Safira benar."
Seluruh ruangan seketika membeku. Ratih melotot tidak percaya, sementara Raga seolah tersedak kata-katanya sendiri.
"Apa kamu bilang, Raka?" tanya Raga, suaranya bergetar karena amarah.
"Audit ini harus tetap berjalan, Pa," lanjut Raka, mengabaikan tatapan tajam ayahnya. "Bukan untuk menghancurkan Papa, tapi untuk membersihkan perusahaan. Kalau kita terus menutupi borok yang dibuat Mama Ratih dan Maya, suatu saat Maheswara Group akan meledak dari dalam. Dan saat itu terjadi, tidak akan ada yang tersisa untuk kita semua."
"Raka! Kamu sudah gila?!" jerit Ratih. "Aku ini Mamamu!"
"Anda adalah istri Papa, tapi Anda bukan Ibu kami," sahut Bima, ikut bersuara. Suaranya yang biasanya ceria kini terdengar sangat dingin. "Aku juga setuju dengan Raka. Selama ini kita semua hidup dalam kebohongan yang manis. Safira adalah orang pertama yang punya nyali untuk merobek topeng itu. Aku tidak mau lagi menjadi pengecut yang bersembunyi di balik nama besar Papa sambil melihat adik kandungku sendiri diperlakukan seperti sampah."
Raga tersandar di kursinya, wajahnya tampak semakin menua. Ia tidak menyangka dua putra kebanggaannya, dua pilar yang ia siapkan untuk meneruskan tahtanya, justru berdiri di sisi Safira.
"Kalian... kalian mengkhianati Papa demi dia?" bisik Raga lirih.
"Kami sedang mencoba menyelamatkan Papa dari diri Papa sendiri," jawab Raka pahit.
Maya, yang menyadari bahwa pembelaan dari kakak-kakaknya telah hilang, mulai menangis lebih keras. "Kak Raka, Kak Bima... jahat! Kalian lebih sayang Kak Fira yang sudah pergi daripada aku?"
Safira berdiri, ia tidak ingin berlama-lama dalam drama keluarga yang memuakkan ini. "Rapat ini seharusnya tentang masa depan perusahaan, bukan tentang siapa yang lebih disayangi. Pa, aku beri satu pilihan. Papa umumkan pengunduran diri Ratih dari yayasan secara sukarela, kembalikan semua dana yang telah diselewengkan dalam waktu empat puluh delapan jam, dan akui secara publik bahwa fitnah terhadapku adalah rekayasa."
"Jika tidak?" tanya Raga dengan sisa-sisa harga dirinya.
"Jika tidak, bukan hanya audit yang akan berjalan, tapi bukti-bukti penggelapan pajak yang dilakukan perusahaan cangkang bentukan Ratih juga akan sampai ke meja jaksa," Safira memberikan dokumen terakhir. "Abian , ayo pergi. Aku sudah cukup mual berada di sini."
Abian berdiri, merapikan jasnya, lalu menatap Raga Maheswara dengan senyum tipis yang merendahkan. "Tuan Maheswara, Anda memiliki putra-putra yang akhirnya belajar menjadi pria sejati. Sayang sekali Anda harus kehilangan mereka untuk menyadari itu."
Safira berjalan keluar ruangan tanpa menoleh lagi. Raka dan Bima berdiri secara bersamaan, namun mereka tidak mengikuti Safira. Mereka tetap di ruangan itu, menatap ayah mereka yang kini tampak hancur.
"Raka, Bima... kejar Safira! Suruh dia berhenti!" perintah Raga lemah.
"Tidak, Pa," ucap Raka sambil merapikan kertas-kertas di depannya. "Kami akan tetap di sini untuk membantu Papa membereskan kekacauan yang dibuat istri dan anak tiri Papa. Tapi jangan harap kami akan membujuk Safira lagi. Dia sudah melakukan hal yang benar."
Di lorong gedung, Safira menghentikan langkahnya sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam. Ada rasa lega, namun juga ada sedikit perih yang tersisa. Ia telah memenangkan pertempuran ini, namun ia tahu perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
"Kau baik-baik saja?" tanya Abian lembut, tangannya menyentuh bahu Safira.
Safira menatap Abian , lalu tersenyum—senyuman kecil yang tulus. "Aku baik-baik saja. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar bebas. Meskipun itu artinya aku harus melihat duniaku yang lama runtuh."
"Terkadang," gumam Abian , "sesuatu harus runtuh seluruhnya agar bisa dibangun kembali dengan fondasi yang lebih kuat. Dan kali ini, kau yang akan memegang cetak birunya."
Sementara itu, di dalam ruang rapat, suara teriakan histeris Ratih dan tangisan Maya pecah, namun Raka dan Bima hanya diam membisu, menatap meja bundar itu dengan tatapan kosong. Mereka tahu, mulai hari ini, keluarga Maheswara tidak akan pernah sama lagi.
...****************...
Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas