NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 4 Ketika Restu Menjadi Ujian

Rumah keluarga Wirawan berdiri megah di kawasan yang tertata rapi. Pagar besi tinggi, halaman luas dengan taman yang terawat, dan bangunan dua lantai yang mencerminkan kemapanan penghuninya. Adit melangkah masuk dengan perasaan yang tidak biasa. Sudah lama ia tidak merasa gelisah ini hanya untuk pulang ke rumah sendiri.

Sore itu, ia duduk di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya. Ayahnya, Pak Rangga Wirawan, membaca koran seperti biasa. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi. Sementara ibunya, Bu Ratna, sibuk merapikan bantal sofa, meski jelas perhatiannya tertuju pada Adit.

“Ada apa?” tanya Bu Ratna akhirnya. “Dari tadi kamu diam saja.”

Adit menarik napas panjang. Inilah saatnya. “Aku mau bicara soal sesuatu yang penting.”

Pak Wirawan menurunkan korannya perlahan. “Tentang pekerjaan?”

“Bukan,” jawab Adit pelan. “Tentang rencana menikah.”

Bu Ratna langsung menoleh. Matanya membesar, antara terkejut dan penasaran. “Menikah? Dengan siapa?”

Adit menegakkan punggungnya. “Dengan seorang perempuan yang aku kenal dari desa. Namanya Naya.”

Hening seketika memenuhi ruangan. Pak rangga Wirawan kembali melipat korannya, kali ini meletakkannya di meja. Bu Ratna tidak langsung menjawab. Ia memandang Adit seolah sedang memastikan bahwa yang ia dengar bukan kesalahpahaman.

“Desa?” ulangnya pelan. “Desa mana?”

“Desa Sukamerta,” jawab Adit jujur.

Raut wajah Bu Ratna berubah. Senyum tipis yang sempat muncul lenyap begitu saja. “Dia siapa? Anak siapa?”

“Dia tinggal sendiri. Orang tuanya sudah meninggal,” jawab Adit.

Hening kembali tercipta, namun kali ini terasa lebih berat. Bu Ratna menyilang kan tangannya di dada. “Pendidikannya?”

“Lulusan Madrasah Aliyah,” kata Adit, tetap tenang.

Bu Ratna menghela napas panjang. “Adit… kamu serius?”

“Aku tidak pernah lebih serius dari ini,” jawab Adit tegas.

Bu Ratna berdiri, berjalan beberapa langkah seolah menahan sesuatu yang mendesak di dadanya. “Kamu tahu lingkungan kita, kan? Kamu tahu bagaimana kehidupan kita? Kamu yakin perempuan itu bisa menyesuaikan diri?”

Nada suaranya tidak meninggi, tetapi justru itulah yang membuat Adit merasakan tekanan. “Naya perempuan baik, Bu. Dia menjaga diri, mandiri, dan tahu batas.”

“Baik saja tidak cukup,” potong Bu Ratna cepat. “Menikah itu bukan hanya soal akhlak. Ada keluarga, ada lingkungan, ada nama baik.”

Pak Rangga Wirawan akhirnya ikut bersuara.

“Ibumu bukan melarang. Kami hanya khawatir.”

“Khawatir apa, Yah?” tanya Adit.

“Kamu sudah mapan,” jawab ayahnya datar. “Lingkaran pergaulanmu luas. Pernikahanmu bukan hanya tentang kamu, tapi juga tentang bagaimana orang akan memandang keluarga kita.”

Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang Adit duga. Bu Ratna kembali duduk, kali ini menatap Adit dengan sorot mata yang lebih tajam.

“Kami mengenal banyak perempuan yang sepadan denganmu,” ujarnya. “Pendidikan bagus, keluarga jelas, lingkungan sama. Kenapa harus gadis desa?”

Adit mengepalkan tangannya perlahan. “Karena aku mencintainya, Bu.”

Bu Ratna terdiam. Untuk sesaat, Adit berharap ibunya akan melunak. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

“Cinta bisa tumbuh,” kata Bu Ratna dingin. “Tapi ketidak sepadanan akan terasa seumur hidup.”

Ucapan itu menggantung di udara, berat dan menyesakkan. Adit berdiri. “Aku tidak meminta kalian langsung setuju. Aku hanya ingin kalian mengenalnya sebelum menilai.”

Bu Ratna menggeleng. “Kami hanya ingin kamu berpikir ulang. Jangan terburu-buru.”

Tidak ada larangan tegas, tidak ada bentakan. Namun Adit tahu, penolakan itu nyata. Dibungkus rapi dalam kalimat-kalimat yang terdengar masuk akal.

Malam itu, Adit masuk ke kamarnya dengan perasaan campur aduk. Ia menatap langit-langit, menyadari satu hal pahit—jalan yang ia pilih tidak akan semudah yang ia bayangkan.

Malam itu, rumah keluarga Wirawan tidak benar-benar sunyi. Lampu-lampu menyala terang, namun kehangatan yang biasanya terasa justru menghilang. Adit duduk di ruang kerjanya, berusaha menenangkan pikiran, ketika suara ketukan terdengar di pintu.

“Masuk,” ucapnya pelan.

Bu Ratna melangkah masuk tanpa senyum. Wajahnya tampak tegas, sorot matanya menyimpan kegelisahan yang tak lagi ia sembunyikan. Ia duduk di hadapan Adit, menyilang kan tangan di dada, seperti seseorang yang telah menyiapkan argumen panjang.

“Kita perlu bicara lagi,” katanya tanpa basa-basi.

Adit mengangguk. “Aku dengar, Bu.”

Bu Ratna menarik napas dalam, lalu mulai berbicara dengan nada yang lebih tajam dari sebelumnya. “Adit, ibu tidak ingin kamu terjebak dalam pernikahan yang akan kamu sesali seumur hidup.”

“Aku tidak merasa terjebak,” jawab Adit, berusaha tetap tenang.

“Itu karena kamu belum melihat kenyataannya,” sahut Bu Ratna cepat. “Kamu hidup di kota, bergaul dengan orang-orang berpendidikan, mapan. Kamu punya masa depan yang jelas. Lalu kamu ingin membawa seorang gadis desa ke dunia itu?”

Kata-kata itu menusuk. Adit menahan diri agar tidak terpancing emosi. “Naya bukan beban, Bu.”

“Bukan soal beban,” Bu Ratna meninggikan sedikit suaranya. “Ini soal kesesuaian. Soal bagaimana dia akan duduk di tengah keluarga besar kita, menghadapi pertanyaan-pertanyaan, menghadiri acara-acara. Kamu pikir dia siap?”

Adit terdiam. Bukan karena tidak punya jawaban, melainkan karena ia tahu, bagi ibunya, jawaban apa pun tidak akan cukup.

Bu Ratna melanjutkan, “Ibu sudah mendengar banyak cerita. Pernikahan beda kelas sosial itu tidak pernah mudah. Perempuan seperti dia akan selalu merasa rendah, atau sebaliknya, justru menjadi bahan omongan.”

Nada suaranya kini terdengar lebih dingin. “Ibu tidak ingin keluarga kita menjadi bahan pembicaraan.”

Kalimat itu terasa seperti garis tegas yang ditarik di antara niat Adit dan restu ibunya.

“Bu,” ucap Adit akhirnya, suaranya sedikit bergetar, “aku tidak memilih Naya karena latar belakangnya. Aku memilih dia karena akhlaknya.”

“Akhlak bisa dibentuk,” potong Bu Ratna. “Tapi lingkungan dan kebiasaan tidak bisa diubah dalam semalam.”

Ia berdiri, berjalan beberapa langkah, lalu berhenti tepat di depan jendela. “Ibu ingin kamu mempertimbangkan ulang. Kenalilah perempuan lain. Banyak yang sepadan denganmu.”

Adit bangkit dari duduknya. “Jadi, ibu ingin aku meninggalkannya?”

Bu Ratna menoleh. Tidak ada jawaban langsung. Hanya tatapan yang sarat makna.

“Ibu ingin kamu bahagia,” katanya akhirnya. “Dan menurut ibu, jalan ini bukan jalannya.”

Kalimat itu adalah ultimatum yang dibungkus dengan kata-kata lembut. Tidak ada larangan, tapi jelas ada tekanan.

Setelah Bu Ratna pergi, Adit terduduk kembali. Dadanya terasa sesak. Ia baru menyadari, memilih jalan yang benar tidak selalu berarti jalan itu mudah. Ia terjepit di antara baktinya pada orang tua dan tanggung jawabnya terhadap niat yang telah ia ucapkan.

Malam itu, Adit mengambil ponselnya. Ia menatap nama Naya cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol panggil.

“Nay,” suaranya terdengar lebih pelan saat panggilan tersambung, “aku mau jujur.”

Naya bisa merasakan keseriusan dari nada suara itu. “Ada apa, Mas?”

Adit tidak menutup-nutupi apa pun. Ia menceritakan reaksi ibunya, tekanan yang ia terima, dan kekhawatiran yang dilontarkan keluarga. Tidak ada yang ia kurangi, tidak pula ia lebih-lebihkan.

Di seberang sana, Naya terdiam lama.

“Aku minta maaf,” ucap Adit akhirnya. “Aku tidak ingin kamu tahu ini dari orang lain. Aku tidak ingin kamu merasa sendirian.”

Naya menelan ludah. Hatinya terasa perih, namun ia berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

“Terima kasih sudah jujur, Mas.”

Setelah telepon itu berakhir, Naya duduk lama di ruang tengah rumahnya. Lampu redup menyinari wajahnya yang basah oleh air mata. Kata-kata Bu Ratna terngiang di kepalanya, meski ia belum pernah mendengarnya secara langsung.

Gadis desa.

Label itu terasa begitu kecil, namun berat. Untuk pertama kalinya, Naya merasakan jarak yang nyata antara dirinya dan Adit. Jarak yang bukan diukur oleh jarak desa dan kota, melainkan oleh pandangan manusia.

Telepon dari Adit malam itu meninggalkan bekas yang tidak mudah dihapus dari hati Naya. Setelah panggilan terputus, ia masih duduk di tempat yang sama, ponsel tergeletak di pangkuannya. Dadanya terasa sesak, seolah ada beban besar yang tiba-tiba diletakkan begitu saja tanpa izin.

Ia tidak menangis keras. Air matanya jatuh perlahan, satu per satu, membasahi ujung gamisnya. Kata-kata Adit tentang ibunya terus berputar di kepala. Tentang kekhawatiran, tentang gengsi, tentang ketidak sepadanan. Dan yang paling menyakitkan—tentang bagaimana dirinya dipandang bahkan sebelum benar-benar dikenal.

Gadis desa.

Kata itu kembali terngiang.

Naya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Selama ini, ia tidak pernah merasa rendah dengan kehidupannya. Ia bekerja keras, menjaga diri, dan berusaha hidup lurus sesuai keyakinannya. Namun malam itu, semua keyakinan itu seperti diguncang.

“Ya Allah,” bisik nya lirih, “jika memang aku hanya akan menjadi penghalang, kuatkan aku untuk menerima.”

Di kota, pada waktu yang hampir bersamaan, Bu Ratna kembali mendatangi kamar Adit. Kali ini tanpa mengetuk. Wajahnya tegang, dan nada suaranya tidak lagi berusaha disamarkan.

“Adit,” katanya dingin, “ibu tidak ingin ini berlarut-larut.”

Adit menatap ibunya dengan lelah. “Maksud ibu?”

“Ibu sudah memikirkannya,” lanjut Bu Ratna tegas. “Ibu tidak setuju dengan pernikahan ini.”

Kalimat itu jatuh seperti palu. Tidak ada lagi bungkus kalimat lembut. Tidak ada lagi kata ‘pertimbangkan’. Penolakan itu kini berdiri telanjang.

“Bu…” Adit berdiri. “Ibu bahkan belum mengenalnya.”

“Tidak perlu,” potong Bu Ratna cepat. “Ibu cukup tahu latar belakangnya. Hidup itu bukan hanya soal niat baik. Kamu akan hidup dengan dia, membawa dia ke lingkungan kita. Dan ibu tidak ingin kamu menyesal.”

“Aku yang akan menjalani hidupku,” jawab Adit, kali ini suaranya bergetar. “Bukan ibu.”

Bu Ratna menatapnya tajam. “Dan kamu tetap anak ibu.”

Kalimat itu menekan lebih dalam dari amarah mana pun. Bu Ratna melanjutkan dengan suara yang lebih rendah namun penuh tekanan, “Ibu tidak akan merestui pernikahan ini. Setidaknya, tidak sekarang. Dan selama ibu belum merestui, ibu harap kamu tidak melangkah lebih jauh.”

Adit terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasakan jarak yang nyata dengan ibunya sendiri.

Keesokan paginya, Naya kembali ke kebun. Matahari belum terlalu tinggi, embun masih menempel di daun-daun. Ia bekerja seperti biasa—menyiram, membersihkan, memetik. Namun setiap gerakan terasa berat. Kebun yang biasanya menenangkan kini menjadi saksi kegundahan yang ia simpan sendiri.

Ia berhenti sejenak, menatap tanah di bawah kakinya. Tanah yang sama yang selama ini memberinya hidup, namun kini terasa seperti pengingat akan batas yang tak kasatmata.

“Mungkin memang sejauh ini jalanku,” gumamnya pelan.

Dalam benaknya, terlintas wajah Bu Ratna—perempuan yang belum pernah ia temui, namun telah membuatnya merasa begitu kecil. Naya tidak marah. Ia hanya lelah. Lelah merasa harus cukup untuk dunia yang bahkan belum mau menerimanya.

Saat sore tiba, Adit kembali menelepon. Suaranya terdengar berat.

“Nay,” ucapnya pelan, “ibu… tidak merestui.”

Naya memejamkan mata. Dadanya terasa nyeri, namun anehnya ia sudah menduga. “Aku paham, Mas.”

“Aku tidak ingin kamu merasa disalahkan,” lanjut Adit cepat. “Ini bukan salahmu.”

Naya tersenyum tipis, meski Adit tak bisa melihatnya. “Kadang, niat baik pun harus diuji, Mas.”

“Aku tidak akan menyerah,” kata Adit tegas. “Tapi aku juga tidak ingin melukaimu.”

Hening sejenak di antara mereka. Naya menarik napas panjang. “Kalau memang jalannya harus pelan, aku akan berjalan pelan. Tapi aku tidak ingin menjadi alasan Mas berkonflik dengan keluarga.”

Kalimat itu menusuk hati Adit lebih dalam dari penolakan ibunya.

Malam itu, setelah salat, Naya kembali duduk di hadapan sajadah. Tidak ada tangis yang meledak-ledak. Hanya doa panjang yang ia ucapkan dengan suara lirih. Ia menyerahkan segalanya—harapan, rasa takut, dan rasa sayang yang belum sempat tumbuh sempurna.

Selamat pagi ..selamat membaca

Tinggalkan jejak kalian like komen nya ya..

Terimakasih

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!