Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.
Daftar Karakter Utama:
Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.
Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).
Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).
Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teratai darah dari Utara part 6
Suasana di dalam gua mendadak berubah sibuk. Mei Lian, meski masih lemas, mulai memetakan kekuatan armada Gao Zhan di atas tanah gua yang berdebu. Sementara itu, Satya dan Li Wei bergantian mempelajari gulungan kitab rahasia yang ditemukan di balik pintu batu.
“Gao Zhan tidak akan datang sendiri,” ujar Mei Lian sambil menunjuk sebuah titik di peta daruratnya. “Dia membawa Pasukan Bayangan Besi. Mereka mengenakan baju zirah yang telah direndam dalam minyak khusus—kebal terhadap api dan sulit ditembus pedang biasa.”
Li Wei mengerutkan kening. “Dan tangan besinya... aku dengar itu bukan sekadar protesa. Itu adalah senjata mekanis yang bisa menembakkan jarum beracun dan memiliki daya hancur setara hantaman godam raksasa.”
Satya, yang sedari tadi mencoba melakukan gerakan jungkir balik sesuai instruksi kitab, tiba-tiba berhenti. Ia menatap Toya Emasnya yang kini berpendar cahaya keemasan yang lebih redup namun terasa lebih padat.
“Kalau begitu, kita tidak bisa main kasar terus,” gumam Satya. “Li Wei, kau bilang tungku abadi ini bisa digunakan untuk menempa kembali senjata, kan?”
“Benar. Kitab ini menyebutkan teknik Penyatuan Dua Jagad. Kita bisa menyatukan sisa energi dari pedang giokku dan hawa meteorid dari tongkatmu untuk menciptakan gelombang kejut yang bisa melumpuhkan mekanisme logam,” jawab Li Wei.
Selama tiga hari berikutnya, lereng Gunung Lawu menjadi saksi bisu persiapan yang mustahil.
Mei Lian melatih Satya untuk mengenali titik lemah pada zirah Teratai Darah.
Li Wei memandu Satya dalam meditasi untuk mengendalikan "Hawa Murni Matahari" agar tidak hanya menghancurkan, tapi juga mampu melumpuhkan.
Satya sendiri, dengan kreatifitas "Sableng"-nya, memasang berbagai jebakan di sepanjang jalan menuju gua—mulai dari jaring akar pohon hingga jebakan buah beruk yang diisi dengan bubuk cabai dan belerang.
“Ingat,” ujar Mei Lian saat suara gemuruh langkah kaki kuda mulai terdengar dari kejauhan, “Gao Zhan sangat angkuh. Dia akan menantangmu satu lawan satu untuk membuktikan bahwa kekuatannya melampaui legenda Sun Wukong. Gunakan keangkuhannya sebagai senjatamu.”
Matahari mulai terbenam saat sosok raksasa Gao Zhan muncul di ujung jembatan bambu yang menuju Curug Parang Ijo. Di belakangnya, ratusan pasukan berbaju zirah hitam berdiri diam seperti patung maut.
Gao Zhan menatap ke arah mulut gua. Suaranya menggelegar, mengalahkan suara air terjun.
“Arya Gading! Keluar kau! Bawa Toya Emas itu kepadaku, dan aku mungkin akan menyisakan satu pohon untuk tempatmu bergantung sebagai monyet peliharaan!”
Satya muncul di bibir tebing, bukan dengan wajah takut, melainkan sedang asyik mengorek telinga dengan ranting kecil.
“Waduh, Paman Gao! Suaramu kencang sekali, apa tidak haus?” teriak Satya. “Kalau mau Toya ini, ambil sendiri ke sini. Tapi maaf ya, tangganya sedang licin, baru saja saya pel pakai minyak babi.”
Gao Zhan menggeram. Ia memberi isyarat, dan pasukannya mulai merangsek maju. Namun, baru beberapa langkah, ledakan-ledakan kecil terjadi. Bubuk cabai dan belerang yang disiapkan Satya meledak di tengah formasi mereka, menciptakan kepulan asap yang membuat pasukan elit itu kocar-kacir, bersin-bersin, dan mengumpal-umpal dalam bahasa yang tidak karuan.
“Kurang ajar!” Gao Zhan melompat. Dengan sekali hentakan tangan besinya, jembatan bambu itu hancur berkeping-keping. Ia terbang melintasi jurang dengan ilmu meringankan tubuh yang mengerikan, mendarat tepat di depan Satya.
Pertempuran sesungguhnya dimulai. Gao Zhan menyerang dengan tinju besinya yang mengeluarkan uap panas. Setiap pukulannya menciptakan lubang besar di dinding batu gua.
Satya bergerak lincah, namun kali ini gerakannya lebih terukur. Ia menggunakan teknik Langkah Awan yang baru ia pelajari. Ia seolah-olah menari di antara sela-sela pukulan Gao Zhan.
“Hanya lari? Mana kesaktian kera yang mereka bicarakan?” ejek Gao Zhan.
Dengan satu gertakan otot yang luar biasa, Gao Zhan melesat maju. Kecepatannya tidak masuk akal untuk pria sebesar itu. Sebelum Satya sempat melompat, tangan besi itu menyambar secepat kilat. Dengan kekuatan fisik murni yang mengerikan, Gao Zhan mencengkeram leher Satya dan mengangkatnya ke udara.
“Ugh... Paman, tanganmu dingin sekali, kurang kasih sayang ya?” Satya menyeringai meski napasnya tersengal dan urat-urat di lehernya mulai menonjol akibat cengkeraman baja itu.
Tiba-tiba, dari kegelapan gua, Li Wei melesat keluar. Ia tidak menebas tubuh Gao Zhan, melainkan menghantamkan pedang gioknya tepat ke arah Toya Emas yang sedang didekap Satya di depan dadanya.
DUAAARRR!
Cahaya putih dan hijau menyatu, menciptakan resonansi frekuensi tinggi yang sangat dahsyat. Getaran murni itu merambat dari Toya Emas langsung ke sarung tangan besi yang sedang mencengkeram Satya. Logam bertemu dengan getaran energi suci menciptakan efek destruktif; sarung tangan besi itu mulai retak karena tidak kuat menahan resonansi energi tersebut.
Cengkeraman Gao Zhan terlepas karena rasa sakit yang luar biasa akibat getaran yang merambat ke tulang lengannya.
Satya menggunakan momentum itu. Ia memutar Toya Emasnya, mengumpulkan seluruh sisa tenaga dalam Matahari, dan menghantamkan ujung tongkatnya tepat ke bagian pergelangan tangan besi yang sudah retak seribu.
“Ini salam dari orang sableng!”
KRAAAK!
Sarung tangan besi yang legendaris itu hancur berkeping-keping. Kekuatan hantaman Satya membuat Gao Zhan terpental jauh hingga menghantam dinding gua dan jatuh tak sadarkan diri. Pasukannya yang melihat pemimpin mereka tumbang secara telak langsung kehilangan nyali dan melarikan diri ke dalam kegelapan hutan Lawu.
Asap sisa ledakan mulai menipis, menyisakan keheningan yang mencekam di mulut gua. Gao Zhan terkapar, napasnya tersengal berat dengan sisa-sisa logam sarung tangan besinya yang hancur berserakan.
Mei Lian melangkah maju. Wajahnya yang biasanya tenang kini dingin seperti es di puncak Lawu. Ia menatap sosok pria yang selama ini menganggapnya hanya sebagai alat—sebuah bidak yang bisa dipoles saat berguna dan dibuang saat retak.
Tanpa sepatah kata pun, Mei Lian menarik belati kecil yang tersembunyi di balik lengan bajunya. Cahaya bulan yang mulai muncul memantul di mata pisau itu.
"Gao Zhan," bisik Mei Lian, suaranya rendah namun tajam. "Kau selalu bilang aku adalah benda koleksimu. Hari ini, benda ini yang akan mengakhiri ambisimu."
Gao Zhan mencoba membuka matanya, hendak menggeramkan kutukan, namun Mei Lian tidak memberinya waktu. Dengan satu gerakan cepat dan presisi, ia menghujamkan belatinya tepat ke titik syaraf mematikan di leher Gao Zhan. Pria raksasa itu kejang sejenak, lalu tubuhnya melemas selamanya.
Mei Lian berdiri, menyeka darah yang memercik ke pipinya dengan punggung tangan. Ia merasa sebuah beban berat yang selama bertahun-tahun merantai jiwanya baru saja hancur berkeping-keping.
Li Wei menyarungkan pedang gioknya. Ia menatap Satya yang sedang sibuk membersihkan debu dari Toya Emasnya sembari sesekali meringis memegang lehernya yang memar.
"Pertarungan yang luar biasa, Satya," ujar Li Wei tulus. "Lalu, setelah badai ini reda... ke mana tujuanmu hari ini?"
Satya terdiam sejenak, menatap hamparan hutan Lawu yang luas di bawah mereka. Bayangan wajah gurunya, Eyang Sableng Jati, terlintas di benaknya lengkap dengan tawa parau dan petuah pedasnya.
"Aku akan mengembara, Li Wei. Sesuai pesan terakhir Eyang," jawab Satya. Ia teringat kata-kata gurunya yang selalu membekas:
"Berkelanalah. Basmi kejahatan di mana pun kakimu berpijak. Ingat, Satya... ilmu yang tidak diamalkan itu ibarat pohon yang tidak berbuah; hanya menjadi beban bagi tanah dan hanya layak menjadi kayu bakar. Jika kau sakti tapi diam saja melihat kedzaliman, lebih baik kau jadi batu nisan saja!"
Satya tertawa kecil, tawa yang menyembunyikan rasa haru. "Dunia ini terlalu luas untuk dilewatkan hanya dengan duduk diam di satu gua."
Satya kemudian berbalik, menatap Mei Lian yang berdiri menatap cakrawala dengan tatapan kosong namun lega.
"Lalu kau sendiri, bagaimana denganmu Mei Lian? Ke mana tujuanmu sekarang?" tanya Satya lembut.
Mei Lian menoleh. Untuk pertama kalinya, Satya melihat senyum tipis yang tulus di bibir gadis itu.
"Selama ini aku berlari dari bayang-bayang Gao Zhan dan kaisar. Sekarang, bayangan itu sudah mati," jawab Mei Lian. "Aku ingin mencari tempat di mana namaku bukan sekadar angka atau alat. Mungkin aku akan kembali ke pesisir utara, mencari sisa-sisa keluargaku... atau mungkin membangun tempat perlindungan bagi mereka yang juga dianggap 'benda' oleh penguasa."
Ia menatap Satya dan Li Wei bergantian. "Jalan kita mungkin berbeda, tapi aku tidak akan melupakan orang sableng sepertimu dan pendekar giok yang telah memberiku kembali nyawaku."
Matahari mulai menyembul dari ufuk timur, menyiram lereng Gunung Lawu dengan warna jingga yang hangat. Kabut tipis bergerak perlahan di antara pepohonan, seolah ikut mengiringi perpisahan tiga pendekar yang baru saja mengguncang takdir tersebut.
Epilog: Persimpangan Takdir
Satya menyampirkan Toya Emasnya di bahu dengan gaya santai yang menjadi ciri khasnya. Ia mengenakan ikat kepala siap untuk menapaki jalan setapak yang menurun menuju lembah.
"Sepertinya ini saatnya aku pamit," ujar Satya sambil nyengir. "Kalau ada umur panjang, kita pasti ketemu lagi. Entah di warung atau di tengah medan perang."
Li Wei melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu Satya. Tatapannya yang biasanya dingin kini tampak hangat dan penuh rasa hormat.
"Jaga dirimu baik-baik, Satya," ucap Li Wei dengan nada rendah namun mantap. "Dunia di bawah sana jauh lebih licin daripada jembatan bambu yang kau lumuri minyak babi kemarin. Tetaplah menjadi orang 'sableng' yang jujur."
Satya tertawa lepas, lalu melambaikan tangan tanpa menoleh lagi. Langkahnya ringan, sesekali ia bersiul mengikuti kicauan burung hutan, lambat laun sosoknya mengecil dan menghilang di balik rimbunnya pepohonan jati.
Kini hanya tersisa Li Wei dan Mei Lian di bibir tebing. Angin gunung berhembus memainkan ujung jubah mereka. Mei Lian masih berdiri diam, menatap punggung Satya yang menghilang, namun pikirannya justru tertambat pada sosok pria di sampingnya.
Li Wei menghela napas panjang, menatap langit luas. "Sepertinya petualangan besar baru saja usai, Mei Lian. Kau yakin bisa menjaga dirimu dalam perjalanan ke utara?"
Mei Lian menoleh. Saat matanya bertemu dengan mata tajam Li Wei, tiba-tiba jantungnya berdegup lebih kencang dari saat ia menghadapi pasukan Gao Zhan. Wajahnya yang pucat perlahan merona merah, menjalar hingga ke telinganya.
"A-aku... aku akan baik-baik saja, Li Wei," jawab Mei Lian terbata, ia segera membuang muka agar rona merah di pipinya tidak terlihat jelas.
Selama bertahun-tahun ia hanya dianggap sebagai benda mati, namun perhatian kecil dan perlindungan yang diberikan Li Wei selama beberapa hari terakhir telah menyentuh bagian dari dirinya yang sudah lama beku. Diam-diam, kekagumannya pada sang pendekar giok telah tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang belum berani ia ungkapkan dengan kata-kata.
Li Wei hanya mengangguk pelan, tidak menyadari kemelut di hati gadis itu. Ia adalah seorang pendekar yang mahir membaca jurus pedang, namun buta dalam membaca bahasa hati.
"Kalau begitu, mari kita turun," ajak Li Wei lembut.
Mei Lian mengangguk, mengikuti langkah Li Wei dari belakang. Ia tersenyum tipis dalam tunduknya. Meski jalan di depan masih penuh misteri, setidaknya untuk saat ini, ia tidak lagi berjalan sendirian.