Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Malam harinya, di kamarnya yang luas dan mewah, Zayn pria dengan kharisma yang mampu membius setiap mata yang memandang, justru terjebak dalam labirin pikirannya sendiri. Sosok wanita bercadar di kantornya tempo hari. Bayangan wajahnya yang hanya tertangkap sekilas, terus menari-nari di benaknya.
Zayn berusaha keras mengusir perasaan asing yang menyeruak dalam hatinya. "Enggak mungkin!" bisiknya pada diri sendiri, menggelengkan kepala seolah ingin menghapus figur Nafiza dari benaknya. "Sadar Zayn, dia masih istri orang?"gumamnya frustasi.
Di usianya yang ke-26, Zayn Al-Malik atau Zayn seperti yang orang-orang kenal adalah seorang workaholic sejati. Dunia bisnis adalah dunianya, dan kesuksesan adalah obsesinya. Urusan asmara? Jauh dari prioritasnya. Bahkan, orang tuanya sudah lelah menjodohkannya. Baginya, belum ada wanita yang mampu menarik perhatiannya lebih dari setumpuk proposal bisnis dengan keuntungan deretan angka miliaran.
Namun, Nafiza berbeda. Ada sesuatu dalam tatapan matanya, dalam caranya membawa diri, yang membuat Zayn merasa tertarik. Rasa penasaran yang kuat tiba-tiba muncul, mendorongnya untuk ingin tahu lebih banyak tentang wanita itu.
"Huff!" Zayn menghela napas berat, bangkit dari tempat tidurnya, dan berjalan menuju balkon kamarnya. Langit malam bertaburan bintang seolah mengejek kegelisahannya. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan harapan yang selama ini terkubur dalam kesibukannya.
"Mungkinkah dia orang yang selama ini gue cari?" bisik Zayn lirih, matanya terpaku pada bintang yang bersinar paling terang di langit. Ia bertekad untuk mencari tahu siapa wanita itu. Statusnya sebagai seorang istri orang? Itu urusan nanti. Yang penting sekarang adalah memenuhi rasa penasarannya.
________&& _______
Di taman yang mulai sepi, Nafiza masih terduduk lesu. Langit malam menjadi saksi bisu air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah dengan sendirinya. Rumah mewah Farhan, yang selama ini menjadi tempat berlindungnya, kini terasa seperti penjara baginya. Ia bukan lagi istrinya, lalu ke mana ia harus pergi?
Derdering ponsel di dalam tas jinjing di pangkuan membuyarkan lamunannya. Dengan ragu ia mengeceknya, ternyata nama Uminya tertera di layar. Dengan jantung berdebar, ia menjawab panggilan itu.
"Assalamualaikum, Umi," sapa Nafiza, berusaha menyembunyikan getaran dalam suaranya. Ia tak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa dan khawatir padanya.
"Walaikumsalam, Naf. Kamu baik-baik saja, Nak? Dari tadi perasaan Umi tidak tenang," tutur Uminya dengan nada khawatir yang kentara.
Nafiza terdiam, menelan ludah dengan susah payah. "Naf, di taman, Umi. Naf ... sudah ditalak Mas Farhan, Umi," akhirnya ia mengakui kenyataan pahit itu.
Terdengar suara terkejut dari seberang telepon. "Apa!? Ditalak!? Bagaimana bisa, Nak? Ceritakan pada Umi." desaknya dengan cemas.
Dengan suara bergetar, Nafiza akhirnya menceritakan semuanya: perselingkuhan Farhan dengan sekretarisnya, hinaan yang ia terima, dan talak yang diucapkan farhan. Ia menceritakan dengan jujur apa adanya.
Uminya terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada menenangkan, "Ya Allah, Nak ... sudah, jangan bersedih lagi ya. Kamu tidak bersalah. Farhan yang tidak pantas untukmu. Sekarang kamu di mana? Biar Abi yang menjemputmu."
Nafiza terharu mendengar kata-kata Uminya. Ia merasa sedikit lega karena keluarganya masih menerimanya, padahal ia sebelumnya sudah menyiapkan mental nya menerima kekecewaan orang tuanya. "Naf, di taman dekat kantor Farhan, Umi. Naf, tidak mau pulang ke rumah itu lagi. Naf bukan istrinya lagi," jawab Nafiza dengan suara yang lebih tenang dan enggan menyebut kata Mas lagi untuk Farhan ia masih menyimpan dendam pada pria itu.
"Iya, Nak. Umi mengerti. Jangan khawatir. Biar Abi menjemputmu di taman, ya. Tetap di sana jangang kemana-mana, nanti pulang ke rumah saja."
"Baik Umi."
Setelah menutup telepon, Nafiza menghela napas panjang. Air matanya masih mengalir, tetapi hatinya sudah sedikit lebih tenang. Ia tahu, ia tidak sendirian. Ia memiliki keluarga yang akan selalu ada untuknya.
Nafiza bangkit dari bangku taman, menunggu kedatangan Abinya. Ia menatap langit malam, berharap badai ini segera berlalu dan pelangi akan menghiasi hidupnya kembali. Ia percaya, Allah tidak akan memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuannya. "Mungkin inilah cobaan yang harus aku cobain!" ocehnya lalu terkekeh pelan mencoba menghibur suasana hatinya yang porak poranda.
Tak lama kemudian, sebuah mobil pribadi bewarna putih berhenti di depan gerbang taman. Nafiza melihat Abinya keluar dari mobil dengan wajah lelah dan khawatir. Gegas ia berlari menghampiri Abinya dan memeluknya erat.
"Abi," panggil Nafiza lirih, air matanya kembali tumpah.
"Sudah, Nak. Jangan menangis lagi. Abi di sini," ucapnya lembut, mengusap punggung sang putri dengan penuh kasih sayang.
Nafiza melepaskan pelukannya, menatap wajah cinta pertamanya dengan tatapan penuh terima kasih. "Terima kasih, Abi," ujarnya tulus.
Abi-nya tersenyum, mengangguk kecil. "Ayo, kita pulang," ajaknya, menggandeng tangan sang putri dengan lembut. Begitulah kasih seorang ayah meskipun putrinya sudah dewasa, tapi baginya tetaplah putri kecilnya yang menggemaskan.
Nafiza dan Abinya berjalan beriringan menuju mobil, meninggalkan taman yang sepi itu. Nafiza tahu, ia harus meninggalkan masa lalunya dan bersiap untuk memulai babak yang baru dengan status yang berbeda kedepannya.
_______&&_______
Sementara itu, di kediaman Farhan Al-fayyad. Farhan mondar-mandir di dalam kamarnya. Penyesalan mulai menghantuinya. Ia tahu, ia telah menyakiti Nafiza, wanita yang selalu sabar dan setia mendampinginya selama setahun ini.
"Apa yang telah kamu lakukan Farhan, kau benar-benar bodoh menyia-nyiakan wanita secantik itu selama ini. Dan sekarang kau bahkan tak punya kesempatan lagi untuk memperbaikinya, semua sudah selesai!" keluhnya pada diri sendiri sambil menjambak rambutnya frustasi.
Namun, bayangan Riana, dengan segala pesona dan kenangan indah yang telah mereka lewati kembali hadir dalam benaknya mengambil alih isi sisi sesalnya. Ia merasa tidak bisa hidup tanpa wanita itu. Ia mencintai Riana, dan ia ingin bersamanya. Tapi di satu sisi ia juga merasa ada yang kurang dalam dirinya.
"Huff!" Farhan menghela napas panjang, bangkit dari kursinya, dan berjalan menuju jendela kamarnya. Langit malam yang gelap mencerminkan kekalutan hatinya. Ia merasa bimbang, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Tiba-tiba ponsel berdering nyaring di atas kasur. Gegas Ia melihat nama ibunya tertera di layar. Dengan enggan, ia menjawab panggilan itu.
"Assalamualaikum, Bu," sapa Farhan dengan nada dingin.
"Walaikumsalam, Farhan. Apa benar kamu sudah menalak istrimu, Nafiza?" tanya ibunya tapa basa basi dengan nada kecewa.
Farhan terdiam sejenak, lalu menjawab dengan jujur, "Iya, Bu. Farhan sudah menalak Nafiza."
"Astaghfirullah, Farhan! Kenapa kamu melakukan itu? Kamu tahu betapa baiknya Nafiza padamu? Kamu sudah menyia-nyiakan wanita sebaik dia!" bentak ibunya dengan nada geram dengan tingkah anak pertamanya itu.
Farhan menghela napas panjang, berusaha membela diri, "Farhan tidak bisa, Bu. Farhan tidak mencintai Nafiza. Farhan mencintai Riana. Ibu tahu itu."
"Riana? Sekretarismu itu? Kamu gila, Farhan! Kamu lebih memilih wanita murahan seperti dia daripada Nafiza istri sah kamu?" bentak ibunya lagi semakin geram.
Farhan terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Ia tahu, ibunya tidak akan pernah menyetujui hubungannya dengan Riana.
"Ibu tidak mau tahu, Farhan. Kamu harus rujuk dengan Nafiza! Kamu harus meminta maaf padanya, dan memperbaiki semuanya! Sebelum kamu menyesal!" perintah ibunya dengan nada tinggi, lalu mematikan telepon secara sepihak.
Farhan menghela napas kasar, melempar ponselnya ke atas kasur. Ia merasa tertekan dengan tuntutan ibunya. Ia ingin bebas, dan ia ingin memilih pendampingnya sendiri.
Namun, jauh di lubuk hatinya, keraguan mulai menghantuinya.
Bersambung ....