NovelToon NovelToon
PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Konglomerat berpura-pura miskin / Wanita Karir / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Percintaan Konglomerat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: F.A queen

Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.

Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.

Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.

Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.

Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.

Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.

“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”

Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LIMA

Mobil mewah melenggang menjauh dari gedung resepsi.

Mikhasa menoleh ke samping memperhatikan jalanan yang mulai penuh dengan lampu-lampu malam. Ia menarik nafasnya dalam-dalam. Mencoba menyemangati dirinya sendiri.

Armin menatapnya sekilas.

"Mau main ke arena fantasi?" Tawarnya, nadanya ringan tapi hati-hati. Barang kali, Mikhasa tertarik. Di sana banyak permainan ekstrem, bisa untuk berteriak sekencang-kencanganya. Tempat itu juga, adalah salah satu tempat favorit Liora.

Mikhasa menggeleng pelan. Armin menatapnya, ternyata memang dua orang yang berbeda.

"Ke pantai, yuk," ajak Mikhasa.

"Oke." Armin menyetujui dengan mudah.

Mereka ke pantai terdekat. Mencari sudut yang sunyi. Angin malam menyapanya. Dingin yang menusuk.

Mikhasa berteriak sekuat tenaga di sana. Suaranya segera di bawa pergi oleh angin yang berlarian diatas ombak.

"Bawa semua perasaan ini hingga tak tersisa. Aku nggak butuh cinta. Hapus perasaan ini dan musnahkanlah."

Armin menatapnya dari belakang. Tersenyum tenang dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku.

"Kenapa kamu suka pantai?" Tanya Armin. Ia melangkah maju, berdiri di samping Mikhasa.

Gadis itu masih menatap jauh kedepan. Menatap lengkungan rembulan di cakrawala. Senyum tipis mengulas bibirnya. "Hanya kalau lagi kacau aja," jawabnya.

"Aku sih nggak suka," ucap Armin tiba-tiba.

"Siapa?" Tanya Mikhasa tanpa menoleh.

"Aku."

"Yang tanya."

Armin ngelag bentar. Loading... dan tawa lepas terdengar darinya.

"Sial," ujarnya sambil menggeleng pelan. "Lucu, lucu," lanjutnya masih dengan tawa kecil.

"Apanya yang lucu?" Mikhasa menoleh perlahan, menatap Armin.

Armin membalas tatapannya. "Kamu."

Mikha menghela nafas rendah. "Emm, lucu ya?" katanya. "Aku cantik nggak sih?"

Armin mengangguk cepat, "Cantik," jawabnya tanpa ragu. Jawaban itu langsung di balas anggukan kecil oleh Mikha. Seolah mengkonfirmasi dirinya sendiri. Ya, dia memang merasa cantik. Narsis dikit lah.

"Aku cantik, aku pintar, aku royal, aku perhatian dan aku lucu tapi kenapa masih diselingkuhi ya?"

Armin terdiam sepersekian detik, matanya menelusuri wajah Mikhasa. Sinar rembulan jatuh lembut di pipi gadis itu. Memantulkan kilauan samar. Gadis ini terlihat rapuh meskipun bibirnya menampilkan senyuman.

"Karena kamu terlalu indah buat orang yang cuma ngasih separo hatinya," ucap Armin pelan.

Mikhasa terkekeh pendek, tapi matanya tidak benar-benar ikut tertawa. Dia kembali menatap ke depan, menatap ombak yang pecah di bibir pantai. Gelombang silih berganti seolah mengerti bahwa betapa mudahnya hati manusia dibuat retak dan betapa sulitnya dibuat utuh.

"Thanks, buat hari ini, Armin. Setidaknya aku nggak sendirian hari ini."

🍀🍀🍀

"Sini nomer rekening kamu, Armin," ucap Mikhasa. Setelah mobil berhenti di parkiran sebelah kanan gedung apartemennya. Dia mengambil ponselnya, siap mentransfer sejumlah uang untuk membayar Armin sebagai pacar bayaran.

Armin menoleh menatapnya. Tenang, tanpa suara.

"Oh, ayo kita total," lanjut Mikhasa. Kini dia membuka kalkulator di ponselnya. "Tiga kali gaji UMR kamu. Sewa mobil, lalu .... " ucapannya menggantung. Pandangannya kosong sepersekian sedetik sebelum akhirnya membelalak. Dia ingat sesuatu.

"Armin!!" Serunya panik. Kedua tangannya refleks menggenggam lengan Armin. "Bilang sama aku, kalau kartu ATM warna hitam itu cuma kamu cat kan? Biar keliatan gaya doang, kan. Itu nggak ada isinya 'kan?"

Armin masih dengan tatapan tenangnya. Tersenyum, membawa pandangan pada tangan Mikha yang berada di lengannya. Lalu kembali pada Mikhasa.

"Sebelum bahas kartu ATM itu, ayo kita hitung dulu berapa bayaranku, tiga kali lipat dari gajiku." Armin berkata tenang.

Mikhasa mengangguk setuju. "Ok." Ia mencoba mengusir rasa penasaran. Tangannya bersiap mengetik di atas aplikasi kalkulator.

"Oh sebelumnya," Armin mengambil kartu nama dari sakunya. Lalu menyerahkan pada Mikhasa.

Mikhasa menatapnya bingung, "untuk apa kartu nama," pikirnya. Namun ia tetap menerimanya lalu membacanya.

Axel Pradipta Mercier.

"Mercier?" Kening Mikha berkerut, mengeja nama yang seolah terlalu besar untuk disebut. Nama yang tidak asing. Nama salah satu konglomerat terkenal di negara ini.

Pelan, Mikhasa membawa pandangan pada Armin. Menatapnya tak mengerti. "Mercier?"

Armin mengangguk, "Ya, itu aku."

Seketika otak Mikhasa berdenyut. Dia menggeleng lalu tertawa kecil. "Kamu pasti bohong. Mana mungkin seorang Mercier nyambi jadi pelayan dan sekarang jadi pacar bayaran."

"Aku lagi gabut aja," jawab Armin santai. "Armin nama samaranku." Ia mencondongkan tubuh, mendekat ke Mikhasa yang saat ini terlihat belum percaya. "Nama asliku ... Axel."

Mikhasa menatapnya lama, tanpa kata. Hening menyapa diantara mereka sementara. Ia mencoba mencerna, memikirkan ulang semua yang dikatakan lelaki itu.

"Nggak lucu," ucap Mikhasa akhirnya, bibirnya tersenyum tipis sinis. "Kamu pikir, aku bakal percaya? Kamu ngaku keluarga Mercier cuma biar bayaran kamu gede kan? Gila. Mana punya aku duit sebanyak itu."

Axel terseyum kecil. Matanya menatap wajah Mikha dengan keteduhan, seolah menjangkau dimensi lain. Wajah ini ... benar-benar mirip dengan seseorang di masalalunya. Seseorang yang kini berbeda ruang dan waktu.

"Kamu lagi pegang ponsel kan? Kenapa nggak nyari aja di internet." Suara Axel merendah, seperti membisikkan sesuatu. "Biar tau, gimana wajah putra Rajendra Mercier."

Nama itu membuat udara di sekitar Mikhasa berubah berat. Sangat berat, hingga membuat otaknya berdenyut.

Mikhasa menunduk. Menatap ponselnya. Dengan tangan gemetar, ia mengetik : Axel Pradipta Mercier putra Rajendra Mercier.

Jantungnya berdentum hebat saat layar ponsel menampilkan puluhan artikel dan foto tentang putra dari tuan besar Rajendra Mercier. Wajah yang tersenyum dalam balutan jas mahal.

Ia memejamkan mata rapat dan ingin menangis darah saat mengetahui fakta bahwa pria yang ada di sampingnya saat ini adalah benar Axel Pradipta Mercier.

Ia membuka mata perlahan, pandangannya sedikit berkabut. "Salam hormat, Tuan muda," ucapnya menunduk dalam. Ucapan yang membuat Axel tertawa kecil.

"Tuan muda? Hahaa." Ia mengalihkan pandangan sebentar merasa lucu. Kemudian kembali menatap Mikhasa. "Sekarang kamu percaya?" Tanyanya. Senyum miring menghiasi bibirnya.

Pelan, Mikhasa mengangkat wajah menatap Axel dengan gemetar.

"Jadi, Mikha, berapa kira-kira tiga kali lipat dari gajiku," ucap Axel santai.

"Semua tabunganku mungkin bahkan nggak bisa nyentuh gaji kamu sebulan," jawab Mikhasa. Ia segera menguncupkan kedua tangannya. Menatap Axel dengan eksepsi sedih. "Tuan muda, saya nggak punya uang sebanyak itu. Tolong ampuni rakyat jelata seperti saya. Maaf lancang membuat Anda menjadi pacar bayaran hari ini," ucapannya dramatis ngalahin ftv.

Tawa Axel terdengar lagi, rendah. "Kesepakatan nggak bisa diubah, Mikha."

"Aku beneran nggak punya duit sebanyak itu, Ar... Um, maksudku ... Axel."

"Jadi?"

"Masa aku harus jual ginjal," keluhannya, hampir menangis darah.

Sementara Axel masih dengan tawa kecilnya. Lalu dengan sengaja menghitung semua yang harus Mikhasa bayarkan padanya.

"Tiga kali lipat gajiku, sewa mobil, black card. Jika di total.... "

Mata Mikhasa membelalak. "Gila! Jadi aku harus jual ginjal beneran. Mending kemarin aku nyebur ke sungai aja." Mikhasa menangis tanpa air mata.

"Tenang." Axel mencondongkan tubuhnya. "Aku ada tawaran buat kamu, biar kamu bisa bayar itu semua."

"Tawaran apa? Aku siap kerja part-time bersihin toilet perusahaan kamu."

Axel menggeleng, "Enggak dong. Gampang kok."

"Terus."

Axel bersandar santai di kursinya. Tatapannya mengunci Mikhasa, tajam tetapi ada kilatan iseng di dalamnya. Seolah sudah menyiapkan kartu truf yang akan membuat lawannya tak berkutik.

"Ayo pacaran beneran, Mikha," ucapnya.

Mata Mikhasa membelalak lebar. "Gila."

"Aku anggap lunas."

Belum sempat Mikhasa memberi reaksi apapun, Axel mendekat, menunduk dan membuat kecupan manis di bibirnya. Hangat, cepat dan singkat. Tetapi mampu membuat otak Mikhasa ngeblank.

"Deal, kita pacaran," ucap Axel ringan. Seolah memutuskan hal yang paling sederhana di dunia ini.

1
taju gejrot
Mikha gampang tersenyum saat bersama orang lain karena gak ada tekanan😂
Nay@ka
intinta cuma patuh mikha...jgn ngeyel ntar tuan muda ngambek🤣
Nay@ka
pas banget..buka apk ada yg up tuh💃
Momogi
wakakakkkk sabar, tuan. sabaarrrr😆
Momogi
karena axel pikir kamu suka pria berkaca mata 🤣🤣
Momogi
Langsung pake kaca mata dooong 🤣🤣🤣 ciee yg cari perhatian cieee
Momogi
uhukkk awaaasss ya
Momogi
bisa dong. kenapa? kesel ya liat mikha senyum ke orang lain
Momogi
semoga setelah ini kalian akur ya
Momogi
alahh bilang aja cemas mikha pake alesan short drama
Momogi
timpuk aja Mikha, timpuk 🤣🤣
Momogi
semoga kamu segera sadar ya akan luka hati Mikha. jangan bikin dia sedih
Momogi
berharap ini happy end buat kalian. sama2 saling menyembuhkan
Momogi
Yuhuuu mantap Mikha jangan mau ditindas Axel
Momogi
untungnya Mikha tau tentang ini lebih dlu jadinya dia ga bakal nyesek
Momogi
nyesek banget perjalanan hidupmu mikha 😭
Momogi
ya ampun mikha 🥺 kamu dimanfaatin keluarga bibimu ternyata ya
Momogi
Aihh kok kita sama sih. curiga besok aku ketemu cogan ternyata ceo
Momogi
tom and jarry kalian tuuh
Momogi
dimana lagi dapet 1 milyar ya mikha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!