NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Berbohong

Ketika Cinta Berbohong

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Wanita perkasa / Konflik etika / Kehidupan di Kantor / Penyesalan Suami
Popularitas:275
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LINA MERASA BERSALAH ATAS TINDAKAN SELINGKUHNYA

Di sebuah kota yang cukup jauh dari tempat tinggal Arini dan Rizky, Lina sedang duduk di taman kampus universitas tempat dia kuliah.

Dia mengenakan seragam kuliah yang sederhana, dengan rambutnya terikat rapi. Di mejanya ada buku-buku tentang desain dan sebuah laptop yang menampilkan rancangan proyek akhir semesternya.

Namun matanya tidak fokus pada pekerjaannya. Dia sedang melihat foto kecil yang tersimpan di casing ponselnya – foto dirinya bersama seseorang yang dulunya menjadi bagian dari pekerjaannya.

Wajah mereka di foto itu penuh dengan senyum, namun saat ini melihatnya hanya membuatnya merasa sangat bersalah dan sedih.

"Lina, kamu lagi mikir apa ya?" suara teman sekelasnya, Maya, membuatnya terkejut dan segera menyembunyikan ponselnya. "Kamu sudah tiga kali membaca halaman yang sama lho. Apakah kamu sedang kesulitan dengan tugas akhir kita?"

Lina mengangguk perlahan dan mencoba memberikan senyum. "Sedikit saja Maya. Desain yang kita kerjakan ini memang cukup kompleks. Kita harus memastikan semua aspeknya sesuai standar dan nyaman untuk pengguna."

Maya duduk bersebelahan dengannya dan melihat layar laptopnya. "Kamu tahu kan kalau kamu perlu bantuan, aku dan teman-teman lain siap membantu ya. Kita sudah bekerja sama dari awal, jadi harus saling bantu sampai selesai."

Setelah Maya pergi untuk mengambil minuman, Lina kembali membuka ponselnya dan melihat foto itu lagi.

Sejak bertemu dengan sang istri beberapa waktu yang lalu, rasa bersalah yang selama ini dia coba sembunyikan semakin terasa berat di hatinya.

Dia tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana tindakan salahnya telah menyakiti banyak orang, termasuk keluarga yang dulu dia kagumi.

Dia ingat bagaimana awalnya dia hanya melihat orang itu sebagai seorang atasan yang cerdas dan perhatian – seseorang yang selalu siap membantu ketika ada kesulitan.

Saat mereka bekerja bersama pada sebuah proyek besar, dia sering mendapatkan bimbingan dan dukungan yang berharga, membuatnya merasa dihargai seperti tidak pernah sebelumnya.

Namun seiring waktu, rasa kagumnya berubah menjadi perasaan yang tidak pantas.

Malam itu, Lina pulang ke tempat tinggalnya yang kecil namun rapi, dengan dekorasi sederhana yang sebagian besar hasil karya tangannya sendiri.

Dia memasak makanan sederhana untuk makan malam, lalu duduk di balkon kecilnya sambil melihat pemandangan kota yang mulai menerangi lampu malam.

Dia mengambil telepon dan mencari nomor seorang kakak dari pihak lain di daftar kontaknya. Setelah berpikir lama, dia akhirnya menekan tombol panggil dan menunggu dengan hati yang berdebar.

"Halo? Siapa ini?" suara orang itu terdengar dari sisi lain.

"Ini Lina... maaf kalau mengganggu malam ini," jawabnya dengan suara lembut dan sedikit gemetar.

Ada jeda sebentar sebelum orang itu menjawab. "Tidak apa-apa Lina. Apa yang bisa saya bantu?"

"Saya ingin minta maaf sekali lagi atas semua masalah yang saya timbulkan," ujar Lina dengan mata yang berkaca-kaca. "Saya sangat menyesal dengan apa yang telah saya lakukan. Saya tidak pernah bermaksud menyakiti siapapun, tapi saya tahu tindakan saya telah merusak banyak hal yang berharga."

Orang itu terdengar terdiam sebentar sebelum menjawab dengan nada yang lebih lembut. "Kita semua pernah membuat kesalahan dalam hidup, Lina. Yang terpenting adalah menyadarinya dan berusaha tidak mengulanginya lagi. Sudah cukup banyak orang yang terluka. Yang penting sekarang adalah kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan lebih baik."

Lina menangis pelan mendengar kata-kata itu. "Saya sudah berusaha untuk berubah. Saya masuk kuliah lagi dan bekerja paruh waktu untuk mendapatkan pengalaman yang benar. Tapi saya tidak bisa berhenti merasa bersalah. Saya ingin melakukan sesuatu untuk membuat semuanya lebih baik, tapi tidak tahu harus bagaimana."

"Saya bisa melihat bahwa kamu benar-benar telah berubah," ujar orang itu dengan suara yang penuh pengertian.

"Namun kamu tidak bisa mengubah masa lalu. Yang bisa kamu lakukan adalah fokus pada masa depan. Bagi keluarga kami, yang paling penting adalah mereka bisa menemukan cara untuk menyelesaikan masalah dan membangun kembali kebahagiaan mereka."

Setelah berbicara, Lina merasa sedikit lega namun rasa bersalah masih tetap ada.

Dia memutuskan untuk menulis surat bagi sang istri – sebuah surat panjang yang berisi rasa minta maaf yang tulus dan ucapan terima kasih karena telah memberi kesempatan kedua.

Dia juga menuliskan beberapa ide desain untuk bisnis sang istri yang mungkin bisa membantu mengembangkannya.

Di suratnya, dia menulis: "Saya tahu kata-kata tidak cukup untuk meminta maaf atas semua yang telah saya lakukan. Saya telah merusak kebahagiaan keluarga Anda dan menyakiti hati Anda. Saya tidak punya hak untuk meminta maaf, tapi saya ingin Anda tahu bahwa saya benar-benar menyesal dan sedang berusaha menjadi orang yang lebih baik. Ide desain yang saya lampirkan adalah bentuk kecil dari permintaan maaf saya. Jika Anda merasa nyaman menggunakannya, saya akan sangat senang. Jika tidak, saya akan menghargai keputusan Anda."

Keesokan paginya, Lina pergi ke kantor pos untuk mengirim surat itu beserta amplop kecil yang berisi uang yang dia kumpulkan dari gajinya.

Dia tidak berharap uang itu bisa mengganti semua kerusakan yang dia buat, namun merasa perlu melakukan sesuatu sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Setelah mengirim surat, dia pergi ke kampus dan mulai bekerja dengan lebih fokus.

Teman-temannya memperhatikan bahwa dia tampak lebih tenang dari biasanya. Maya datang dan duduk bersebelahan dengannya lagi.

"Kamu terlihat lebih baik hari ini ya Lina," ujar Maya dengan senyum ramah. "Ada apa ya? Sudah menemukan solusi untuk masalah desain kita?"

Lina tersenyum dengan lebih tulus. "Ya sedikit saja Maya. Selain itu, saya sudah melakukan sesuatu yang membuat hati saya lebih ringan. Kadang kita hanya perlu keberanian untuk menghadapi kesalahan kita dan berusaha memperbaikinya dengan cara terbaik."

Beberapa hari kemudian, sang istri menerima surat dari Lina saat dia sedang mengemas pesanan untuk bisnisnya.

Dia membukanya dengan hati yang sedikit gugup, namun setelah membacanya, air mata mulai menetes di pipinya.

Isinya tidak hanya permintaan maaf yang tulus, tapi juga beberapa sketsa desain yang sangat detail – mulai dari kemasan produk yang menarik hingga rancangan untuk memperluas ruang produksi.

Ada juga amplop kecil dengan catatan: "Untuk biaya pengembangan bisnis Anda – bentuk kecil dari permintaan maaf saya."

Ibu dari sang istri yang sedang membantu mengemas pesanan melihatnya dan segera mendekat. "Apa yang terjadi? Siapa yang mengirim surat itu?"

"Ini dari Lina," jawabnya dengan suara yang bergetar. "Dia mengirim surat minta maaf yang sangat tulus dan bahkan memberikan beberapa ide desain untuk bisnis kita. Dia juga mengirim uang sebagai bentuk permintaan maafnya."

Ibu sang istri mengambil surat dan membacanya dengan cermat. Setelah selesai, dia menghela napas panjang.

"Sepertinya dia benar-benar menyesal dengan apa yang telah dia lakukan. Dan sepertinya dia juga sedang berusaha menjadi orang yang lebih baik."

Sang istri melihat ide desain yang diberikan Lina dengan cermat. Desain kemasan baru yang diusulkan sangat sesuai dengan konsep bisnisnya yang fokus pada keaslian dan keindahan.

Ide untuk memperluas ruang produksi juga sangat praktis, menunjukkan bahwa Lina memang memiliki bakat yang besar dalam bidang desain.

Malam itu, sang istri mengunjungi rumah lama untuk membicarakan hal ini dengan suaminya.

Saat dia sampai, suaminya sedang memasak makanan kesukaan keluarga – hidangan yang selalu jadi favorit mereka berdua dan anak mereka.

Anak kecil itu sedang bermain dengan mainannya di ruang tamu, kadang datang ke dapur untuk meminta camilan dari ayahnya.

Setelah makan malam dan anak mereka tertidur di pangkuannya, sang istri menunjukkan surat dan ide desain dari Lina kepada suaminya.

Suaminya membacanya dengan cermat, memperhatikan setiap kata dan sketsa desainnya. Kemudian dia menatap istri nya dengan mata yang penuh emosi.

"Saya tidak tahu harus berkata apa lagi, sayang," ujarnya dengan suara lembut. "Saya hanya berharap bahwa dia juga bisa menemukan kedamaian dalam hatinya dan melanjutkan hidupnya dengan lebih baik. Tindakan saya telah menyakiti banyak orang, termasuk dia sendiri."

Sang istri mengangguk perlahan. "Saya merasa bahwa dia benar-benar menyesal dan sedang berusaha berubah. Mungkin kita bisa mempertimbangkan menggunakan ide desain yang dia berikan. Mereka sangat bagus dan bisa membantu mengembangkan bisnis kita. Selain itu, saya merasa bahwa dengan menerimanya, saya juga mengambil langkah untuk menyembuhkan luka hati yang telah lama ada."

Suaminya mengambil tangannya dengan lembut dan menciumnya dengan penuh cinta.

"Itu semua tergantung padamu, sayang. Jika kamu merasa nyaman dengan itu, saya tidak punya masalah apapun. Yang penting adalah kamu merasa tenang dan damai dengan keputusan yang kamu buat."

Mereka duduk bersama di teras belakang rumah, menyaksikan bulan yang bersinar terang dan mendengarkan suara alam yang merdu di sekitar taman.

Sang istri merasa bahwa dengan menerima permintaan maaf dari Lina dan mempertimbangkan ide-ide nya, dia sedang mengambil langkah penting untuk membebaskan diri dari rasa sakit dan dendam, serta membuka pintu bagi masa depan yang lebih baik bagi keluarga mereka.

Di kota yang jauh, Lina sedang duduk di balkon tempat tinggalnya lagi, melihat pemandangan kota yang sama sambil memegang secangkir teh hangat.

Dia tidak tahu apakah suratnya akan diterima atau tidak, namun merasa lega telah melakukan sesuatu yang benar dan mengambil tanggung jawab atas tindakan salahnya.

Dia berdoa agar keluarga itu bisa menemukan kebahagiaan kembali dan bahwa dia juga bisa menemukan jalan hidup yang benar dan penuh makna.

"Saya akan terus berusaha menjadi orang yang lebih baik," bisiknya pelan sendirian di balkon yang tenang. "Itu adalah satu-satunya cara untuk memaafkan diri saya sendiri dan membuat semua kesalahan saya menjadi berharga."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!