NovelToon NovelToon
Diam-diam Hamil Anak Mantan

Diam-diam Hamil Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Mantan / Romansa / Cintapertama
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.

Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.

Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.

Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Bayu kini berada di ruang kerja Yudha setelah berhasil menenangkan Serly. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara halaman dokumen yang dibolak-balik oleh Yudha. Lelaki itu terlihat sibuk, fokus pada beberapa dokumen yang mungkin ia butuhkan untuk meeting esok hari. Namun, di balik kesibukan itu, Yudha melirik ke arah Bayu, menyadari kehadiran pria yang tampaknya ingin mengatakan sesuatu.

“Kalau kamu mau membahas tentang Serly, lebih baik kamu istirahat,” ujar Yudha lebih dulu, nadanya datar tapi tegas, seolah ingin segera mengakhiri pembicaraan sebelum dimulai.

Bayu menghela napas panjang, matanya menatap Yudha dengan campuran iba dan kekhawatiran. Ia tahu betul, sekali Yudha mengambil keputusan, tidak ada yang bisa mengubahnya. Namun, hatinya mendesaknya untuk tetap mencoba.

“Kamu jangan terlalu keras padanya. Dia masih muda, Yud,” kata Bayu dengan nada lembut, mencoba membuka pembicaraan.

Yudha berhenti sejenak, tangannya yang semula memegang pena kini diletakkan di atas meja. Ia menatap Bayu, ekspresinya tetap dingin dan tak tergoyahkan. “Bukannya kamu yang bilang aku harus tegas?” sahutnya, nada suaranya mengingatkan Bayu pada percakapan mereka tempo hari.

Bayu terdiam, tak bisa membantah. Memang benar, dia yang dulu menyarankan agar Yudha tegas dengan Serly. Dia yang mengatakan bahwa cinta tanpa kejelasan hanya akan melukai kedua belah pihak. Tapi melihat bagaimana saran itu kini melukai Serly, hatinya terasa berat.

“Kadang, aku merasa apa yang kukatakan dulu salah,” gumam Bayu akhirnya, suaranya penuh penyesalan. “Aku hanya ingin kamu menjaga Serly, bukan membuatnya merasa terabaikan.”

Yudha menyandarkan tubuhnya ke kursi, matanya menatap Bayu dengan tajam. “Menjaga tidak selalu berarti menuruti semua yang dia mau. Kalau aku memberinya harapan yang tidak bisa kupenuhi, itu sama saja aku menghancurkannya.”

Bayu mengangguk pelan, meski dalam hati ia masih merasa bersalah. “Aku hanya berharap, Yud… kalau memang kamu tidak bisa mencintainya, setidaknya jangan buat dia merasa seperti tidak ada artinya.”

Yudha terdiam, sorot matanya melembut sejenak sebelum ia kembali mengambil pena dan melanjutkan pekerjaannya. “Aku tidak pernah bermaksud membuat dia merasa seperti itu,” katanya, kali ini suaranya lebih rendah, hampir seperti gumaman. “Tapi aku juga tidak bisa memberi lebih dari yang sudah aku berikan, dan kamu tahu betul itu.”

Bayu menatap Yudha lama, mencoba mencari celah di balik dinginnya ekspresi lelaki itu. Namun, seperti menabrak dinding batu, ia tak menemukan apa pun selain dingin dan keteguhan yang tak terpecahkan.

Akhirnya, dengan napas berat, Bayu mencoba cara lain. “Apa ini karena Sonya?” tanyanya, suaranya pelan namun menusuk. “Dan… apakah kamu juga ingin memanfaatkannya untuk mengobati penyakitmu?”

Pena di tangan Yudha yang sejak tadi bergerak tanpa henti mendadak berhenti. Suara tinta yang biasa terdengar kini lenyap, digantikan keheningan yang mencekam. Perlahan, Yudha mengangkat wajahnya, dan tatapan dingin nan tajamnya menancap langsung ke arah Bayu, seperti bilah pisau yang tak terlihat.

“Kalau kamu tidak tahu apa-apa, lebih baik diam,” jawabnya, suaranya rendah, hampir berbisik, namun sarat ancaman yang membuat Bayu sejenak terdiam.

Namun, Bayu tak mundur. Ia tahu, ia harus mengatakan ini. “Ada satu rahasia, Yud,” ucapnya, menimbang setiap kata dengan hati-hati karena dirinya juga baru mengetaui hal itu. “Sesuatu yang belum kamu tahu.”

Yudha masih diam, tapi ekspresinya berubah sedikit, nyaris tak terlihat campuran antara kewaspadaan dan keingintahuan.

“Sonya…” Bayu melanjutkan, suaranya semakin pelan, seolah khawatir dinding ruangan pun bisa mendengarnya. “…dia sudah punya seorang anak.”

Pena di tangan Yudha terlepas, jatuh ke atas meja dengan bunyi pelan. Wajahnya membeku, matanya menatap Bayu tajam, tapi bibirnya tetap terkunci rapat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!