NovelToon NovelToon
SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Duda
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.

Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.

Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.

Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. MEMBELI BENIH PADI

Pada pagi hari yang cerah dan penuh dengan semangat, Rian mempersiapkan diri untuk pergi ke pasar desa yang lebih besar di kota terdekat untuk membeli benih padi berkualitas baik dan beberapa alat pertanian yang dibutuhkan. Hadian dan Alea dengan tegas meminta untuk ikut bersama, tidak ingin ketinggalan dalam langkah penting ini untuk membangun kehidupan baru mereka.

“Kita akan membeli benih yang akan kita tanam di lahan Kakek dan Nenek ya!” teriak Alea dengan suara yang ceria, sudah mengenakan baju terbaiknya dan membawa keranjang kecil yang biasanya digunakan untuk berbelanja. Hadian membawa sebuah buku catatan kecil untuk mencatat barang-barang yang perlu dibeli, seperti yang diajarkan oleh ayahnya.

Rian menyewa becak milik Pak Joni, seorang tetangga desa yang sering membantu penduduk desa dalam bepergian ke kota terdekat. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam, dengan pemandangan sawah dan perkebunan kelapa yang menjulang tinggi di sepanjang jalan. Anak-anak tidak pernah merasa bosan melihat pemandangan yang indah ini, seringkali berteriak kegirangan ketika melihat kelompok anak-anak lain yang sedang bermain di pinggir jalan atau petani yang sedang bekerja di sawahnya.

Setelah tiba di pasar, mereka langsung menuju kios benih pertanian yang dikenal oleh Pak Soleh. Kios tersebut dijalankan oleh Pak Sugeng, seorang petani berpengalaman yang telah menjual benih dan alat pertanian selama puluhan tahun. Dia dengan senang hati menyambut kedatangan Rian dan anak-anak, mengenali Rian sebagai cucu dari keluarga petani yang dulu terkenal di desa.

“Kabar baiknya, kamu kembali ke desa untuk melanjutkan pekerjaan orang tuamu ya, Rian?” ujar Pak Sugeng dengan suara yang ramah, menyodorkan secangkir teh hangat kepada mereka. “Aku sudah tahu bahwa kamu akan datang – Pak Soleh sudah memberitahuku tentang rencana kamu untuk mengembangkan lahan pertanian peninggalan orang tuamu.”

Rian mengangguk dengan senyum hangat dan menjelaskan kebutuhannya – benih padi yang cocok untuk tanah di desa mereka, beberapa alat pertanian sederhana seperti cangkul, garu, sabit, dan ember penyiram, serta pupuk organik yang aman untuk digunakan dan tidak merusak kesuburan tanah.

Pak Sugeng dengan sabar menjelaskan berbagai jenis benih padi yang tersedia, menunjukkan kelebihan dan kekurangan masing-masing jenis. Dia merekomendasikan benih padi jenis lokal yang telah terbukti tahan terhadap cuaca ekstrem dan memiliki rasa yang sangat enak ketika diolah menjadi nasi.

“Benih ini adalah jenis yang dulu sering ditanam oleh orang tuamu, Rian,” ujar Pak Sugeng dengan suara yang penuh dengan kenangan. “Mereka selalu membeli benih dari kiosku, dan hasil panen mereka selalu sangat baik. Aku yakin kamu juga akan bisa mendapatkan hasil yang sama jika merawatnya dengan baik.”

Hadian dengan antusias mengajukan berbagai pertanyaan tentang cara menanam dan merawat benih padi, mencatat setiap penjelasan Pak Sugeng di dalam buku catatannya. Alea juga tidak mau ketinggalan, seringkali menyentuh benih padi yang diletakkan di atas meja dengan hati-hati dan bertanya tentang bagaimana benih tersebut akan tumbuh menjadi tanaman padi yang tinggi.

Setelah memilih benih padi yang tepat, mereka melanjutkan untuk membeli alat pertanian sederhana. Pak Sugeng memberikan diskon khusus kepada mereka, mengatakan bahwa dia sangat mendukung upaya muda-mudi desa untuk kembali menjadi petani dan mengembangkan sektor pertanian di daerah ini. Dia juga memberikan beberapa tambahan kecil seperti benih sayuran dan beberapa biji jagung secara cuma-cuma.

“Ini untuk anak-anakmu,” ujar Pak Sugeng dengan senyum hangat, memberikan beberapa paket benih sayuran kepada Hadian dan Alea. “Biarkan mereka belajar menanam sejak dini – itu adalah warisan yang tak ternilai harganya.”

Setelah selesai berbelanja di kios Pak Sugeng, mereka pergi ke bagian lain pasar untuk membeli beberapa kebutuhan rumah tangga lainnya. Rian membeli beberapa bahan makanan dasar seperti gula, garam, minyak goreng, dan beberapa ikan asin yang bisa bertahan lama. Anak-anak sangat antusias membantu memilih barang-barang ini, dengan Alea yang memilih sayuran segar dari pedagang yang mengenalnya dan Hadian yang membantu membawa barang-barang yang sudah dibeli.

Saat mereka siap pulang, paket-paket benih dan alat pertanian sudah memenuhi bagian belakang becak milik Pak Joni. Anak-anak merasa sangat bangga melihat hasil belanjaan mereka, tahu bahwa barang-barang ini akan membantu mereka membangun kehidupan baru yang lebih baik di desa.

Perjalanan pulang terasa lebih cepat dengan kegembiraan yang mereka rasakan. Hadian bercerita tentang rencana dia untuk membantu ayahnya membajak tanah dan menanam benih, sementara Alea bercerita tentang bagaimana dia akan membantu menyiram tanaman setiap pagi dan menjaga kebun dari hewan pengganggu seperti kelinci atau burung.

Ketika mereka sampai di rumah panggung, Pak Soleh dan beberapa tetangga lain sudah menunggu mereka dengan senyum hangat. Mereka segera membantu membongkar barang-barang yang dibeli, dengan mata yang penuh dengan kagum melihat berbagai jenis benih dan alat pertanian yang sudah siap digunakan.

“Kita bisa mulai membajak tanah besok pagi jika cuacanya baik,” ujar Pak Soleh dengan suara yang penuh dengan semangat. “Aku sudah menyuruh beberapa anak muda desa untuk membantu kita. Kita akan bekerja bersama-sama agar lahan tersebut bisa segera siap untuk ditanami.”

Hadian dan Alea segera berlari ke arah lahan pertanian untuk melihat kondisi tanah yang akan mereka tanami, membawa beberapa paket benih sayuran yang diberikan oleh Pak Sugeng. Mereka sudah tidak sabar untuk mulai bekerja dan melihat benih-benih tersebut tumbuh menjadi tanaman yang besar dan memberikan hasil yang melimpah.

Di malam hari itu, mereka berkumpul bersama dengan Nenek Siti dan tetangga desa lainnya untuk makan malam yang meriah. Rian memasak ikan bakar dengan bumbu khas desa dan sayuran rebus dari kebun Pak Soleh, sementara Nenek Siti membuat kue tradisional dari tepung beras yang sangat lezat. Selama makan malam, mereka bercerita tentang perjalanan mereka ke pasar dan rencana mereka untuk menanam benih padi besok pagi.

“Kamu sudah membuat orang tuamu bangga, Rian,” ujar Nenek Siti dengan suara yang penuh dengan emosi, menyentuh wajah cucunya dengan lembut. “Mereka selalu berharap agar ada salah satu dari anak-anak mereka yang akan melanjutkan pekerjaan mereka sebagai petani dan menjaga lahan pertanian keluarga. Sekarang impian mereka akan menjadi kenyataan.”

Rian merasa mataharinya berkaca-kaca mendengar kata-kata neneknya. Dia melihat anak-anaknya yang sedang bermain dengan bahagia bersama anak-anak desa lainnya, dan tahu bahwa semua usaha yang dia lakukan sebanding dengan kebahagiaan dan masa depan yang lebih baik yang akan mereka dapatkan. Benih padi yang dia beli bukan hanya benih untuk ditanam di lahan, tapi juga benih harapan yang akan tumbuh menjadi kehidupan yang layak dan penuh dengan keberkahan bagi keluarga mereka dan desa yang mereka cintai.

Di langit malam yang penuh dengan bintang-bintang, Rian melihat ke arah lahan pertanian yang terletak di kejauhan. Dia merasakan tekad yang semakin kuat dalam dirinya untuk membuat lahan tersebut kembali produktif dan menjadikan keluarga mereka sebagai contoh bagi penduduk desa tentang bagaimana kerja keras, kebersamaan, dan cinta pada tanah kelahiran bisa mengubah keadaan buruk menjadi lebih baik. Dengan benih dan alat pertanian yang sudah mereka miliki, serta dukungan dari keluarga dan tetangga, dia yakin bahwa mereka akan bisa mendapatkan hasil panen yang melimpah dan membangun kehidupan yang bahagia serta sejahtera di desa yang penuh dengan cinta dan harapan ini.

1
Dewiendahsetiowati
ada typo Thor Budi yang harusnya kakak jadi ayah
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!