NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:643
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Pintu lift yang langsung menuju area penthouse berdenting pelan, terbuka lebar menyingkap sosok Papi Adrian dan Mommy Revana yang baru saja mendarat dari Jakarta. Suasana di dalam ruangan itu seketika berubah hangat. Andrew, yang sudah menunggu di depan lift, segera memeluk Papi-nya dengan erat—sebuah pelukan antara dua pria yang baru saja melewati badai besar di balik layar.

​"Semua sudah terkendali, Papi," bisik Andrew singkat, sebuah laporan tersirat tentang masalah Nadya di Jakarta yang sudah dipadamkan. Adrian hanya menepuk punggung putranya dengan bangga, matanya berkaca-kaca.

​Namun, fokus utama hari itu adalah di ruang tengah. Ares sudah duduk di sofa panjang bersama Chloe. Begitu melihat Revana masuk, Ares mencoba untuk berdiri menggunakan tongkatnya.

​"Res, pelan-pelan..." Revana berlari kecil menghampiri putra bungsunya. Ia tidak lagi memikirkan keanggunan seorang sosialita, ia langsung mendekap Ares, mencium kedua pipinya dengan rasa rindu yang meluap. "Anakku... kamu sudah berdiri sekuat ini. Mommy sangat bangga padamu."

​Ares tersenyum lebar, membiarkan Mommy-nya menghujani dirinya dengan kasih sayang. "Berkat doa Mommy juga, dan dukungan semua orang di sini."

​Setelah pelukan panjang itu mereda, Ares menoleh ke arah gadis di sampingnya yang sedari tadi terdiam dengan wajah sedikit tegang namun tetap terlihat manis.

​"Papi, Mommy... perkenalkan," ucap Ares, suaranya terdengar penuh kebanggaan. "Ini Chloe. Teman paling berharga Ares selama di Singapura. Tanpa dia, mungkin Ares belum tentu punya semangat untuk berdiri secepat ini."

​Chloe segera berdiri, meski sedikit bertumpu pada tongkatnya. Ia membungkuk hormat dengan sopan. "Selamat siang, Om, Tante.... Saya Chloe. Suatu kehormatan bisa bertemu Anda berdua."

​Revana menatap Chloe dengan binar mata yang sangat lembut. Ia tidak melihat Chloe sebagai orang asing, ia melihat sosok yang telah memberikan "nyawa" kembali pada Ares. Revana menggenggam tangan Chloe, membuat gadis itu sedikit terkejut.

​"Terima kasih ya, Sayang," bisik Revana tulus. "Ares banyak bercerita tentang betapa hebatnya kamu. Terima kasih sudah menemaninya di masa-masa tersulitnya."

​Adrian pun mendekat, memberikan senyum kebapakan yang hangat. "Panggil saja Papi dan Mommy, seperti Andrew dan Ares memanggil kami. Di rumah ini, tidak ada orang asing, yang ada hanya keluarga."

----

​Siang itu, mereka semua berkumpul di meja makan besar yang menghadap langsung ke arah pemandangan kota Singapura yang indah. Perawat dan koki pribadi telah menyiapkan hidangan spesial Indonesia, kerinduan Ares selama di rumah sakit.

​Perbincangan mengalir dengan sangat santai dan ringan. Mereka tertawa mendengar cerita Ares dan Chloe tentang taruhan-taruhan kecil mereka di ruang fisioterapi. Mereka berdiskusi tentang tempat-tempat yang ingin dikunjungi Ares begitu ia bisa berjalan tanpa tongkat nanti.

​Tidak ada yang menyebut nama "Nadya". Tidak ada yang menyinggung tentang insiden di gudang atau kebakaran di Jakarta. Nama itu seolah telah terhapus dari kamus keluarga mereka, terkubur di bawah tumpukan kebahagiaan yang baru saja tumbuh. Mereka semua secara sadar menjaga ketenangan ini, sebuah kesepakatan bisu untuk melindungi kedamaian yang baru saja mereka raih dengan harga yang sangat mahal.

​Andrew sesekali melirik Papi Adrian, dan mereka saling melempar anggukan penuh pengertian. Rahasia tentang kondisi Nadya di rumah sakit jiwa akan tetap menjadi rahasia yang terkunci rapat di antara mereka berdua, demi senyum Ares yang tidak boleh redup lagi.

​"Setelah ini, kita semua pulang ke Jakarta ya?" ucap Adrian sambil mengangkat gelas jusnya. "Kita buat pesta kecil di rumah. Ares akan kembali ke reputasinya, Andrew kembali memimpin perusahaan, dan Chloe... kamu harus ikut kami ke Jakarta. Kamu adalah bagian dari keluarga kami sekarang."

​Ares menatap Chloe, dan Chloe mengangguk dengan mata berkaca-kaca karena bahagia. Di ruangan itu, di bawah sinar matahari Singapura yang cerah, luka lama itu akhirnya benar-benar mulai mengering, digantikan oleh harapan baru yang jauh lebih kuat dari masa lalu mana pun.

​Ini bukan sekadar kunjungan orang tua, ini adalah penegasan bahwa mereka telah menang melawan kegelapan. Mereka bukan lagi keluarga yang hancur karena pengkhianatan, melainkan keluarga yang lahir kembali karena kekuatan cinta dan pengampunan.

...----------------...

Waktu seolah berlari di Singapura. Dua bulan telah berlalu sejak badai emosi itu mereda. Pagi itu, Ares berdiri di depan cermin besar ruang fisioterapi, menatap pantulan dirinya. Ia mengenakan kemeja santai, berdiri tegap dengan kedua kakinya sendiri. Meskipun sebuah tongkat penyangga masih berada di genggaman tangan kanannya untuk berjaga-jaga, langkahnya sudah mantap. Ia bukan lagi pria rapuh yang datang dengan kursi roda dan keputusasaan.

​Hari ini adalah hari terakhirnya di pusat rehabilitasi. Seminggu lagi, ia dan Andrew akan terbang kembali ke Jakarta, memulai hidup baru yang telah lama tertunda.

​Ares baru saja menghela napas lega setelah menyelesaikan sesi latihan terakhirnya ketika pintu kaca ruang tunggu terbuka. Ia mengira akan melihat Andrew, namun sosok yang muncul adalah Chloe.

​Gadis itu tidak sendiri. Di belakangnya, berdiri sepasang suami istri paruh baya dengan raut wajah bangsawan yang elegan namun tampak lelah, mereka adalah orang tua Chloe. Namun, yang paling mencuri perhatian Ares adalah pria asing bertubuh tegap di samping Chloe. Pria itu mengenakan setelan jas formal, berwajah tampan dengan rahang tegas, namun menatap Ares dengan tatapan dingin dan protektif yang tak terselubung.

​"Chloe?" sapa Ares, langkahnya terhenti. Perasaannya mendadak tidak enak melihat koper kecil yang berada di samping kursi roda Chloe yang di pegang oleh pria asing itu.

​Chloe tersenyum, namun ada gurat kesedihan di matanya. "Ares... aku datang untuk berpamitan."

​Andrew muncul dari lorong belakang, langsung menyadari situasi yang canggung tersebut. Ia berdiri di samping Ares, menatap rombongan di depan mereka dengan waspada.

​"Papa dan Mama menjemputku, Ares. Kami... kami harus kembali ke London malam ini," ucap Chloe pelan. "Dan ini partner menariku dulu, Julian—" ia melirik pria dingin di sampingnya, "—dia telah mengatur jadwal operasi lanjutan dengan tim ahli di Inggris. Mereka bilang ada peluang besar bagiku untuk bisa menari kembali jika aku melakukan pengobatan di sana sekarang."

​Ares merasa jantungnya seperti diremas. Selama dua bulan ini, Chloe adalah napasnya, motivasinya. Mendengar bahwa gadis itu akan pergi ke belahan dunia lain secara tiba-tiba membuatnya merasa kehilangan tumpuan.

​Julian, pria asing itu, melangkah maju satu langkah, menatap Ares dari atas ke bawah. "Terima kasih sudah menjaga Chloe selama di sini. Tapi sekarang. Kami akan membawanya pulang ke tempat asalnya." Nada suaranya dingin, seolah menegaskan bahwa Ares hanyalah bagian kecil dari masa sulit Chloe yang kini harus dilupakan.

Ares berdiri mematung di tengah ruangan, mencoba mencerna kenyataan bahwa gadis yang menjadi pilar kekuatannya selama berbulan-bulan ini harus pergi ke belahan dunia lain. Suasana di ruang fisioterapi itu mendadak terasa begitu formal dengan kehadiran keluarga besar Chloe.

​Setelah Julian memberikan tatapan dinginnya, ayah Chloe, seorang pria paruh baya dengan wibawa khas pria Inggris, melangkah maju. Ia melepaskan sarung tangan kulitnya dan mengulurkan tangan secara resmi kepada Andrew, lalu kepada Ares.

​"Mr. Wijaksana," ucap ayah Chloe dengan aksen British yang kental dan berat. "Saya Thomas. Saya ingin mengucapkan terima kasih yang paling dalam atas segala hal yang telah Anda lakukan untuk putri saya. Kami mendengar bagaimana Anda menjamin perawatan terbaik untuknya saat kami sedang berada di titik terendah."

​Ibu Chloe, yang sejak tadi tampak menahan haru, mendekati Ares. Ia memegang kedua lengan Ares dengan lembut, menatap pria muda yang telah menjadi teman seperjuangan putrinya.

​"Ares," ucap sang Ibu dengan suara bergetar. "Chloe banyak bercerita di telepon tentangmu. Dia bilang, tanpa semangat bersaing darimu, dia mungkin sudah menyerah pada kakinya. Terima kasih karena telah menjadi alasan putri kami ingin kembali tersenyum. Kamu adalah pria muda yang luar biasa kuat."

​Ares hanya bisa mengangguk pelan, tenggorokannya terasa tercekat. "Chloe yang membantu saya, Tante. Dia yang mengajari saya bahwa hidup tidak berhenti di atas kursi roda."

​Chloe memutar kursi rodanya mendekat ke arah Andrew. Ia mengeluarkan sebuah amplop kecil dan menatap Andrew dengan penuh rasa hormat.

​"Kak Andrew," panggil Chloe. "Aku putuskan. Tentang bantuan itu... tentang semua biaya perawatan yang kamu bayarkan secara diam-diam untukku."

​Andrew terdiam, sedikit terkejut karena Chloe membahas hal itu lagi.

​"Keluargaku sudah mulai bangkit di London," lanjut Chloe dengan suara tegas namun tulus. "Aku berjanji, Kak Andrew... aku akan mengganti setiap sen yang telah kamu keluarkan untukku. Aku tidak ingin hubungan kita, terutama pertemananku dengan Ares, didasari oleh utang materi. Aku ingin membalas kebaikanmu sebagai bentuk kehormatan keluargaku."

​Andrew menggeleng pelan, tersenyum tipis. "Chloe, aku melakukannya bukan untuk dibayar kembali."

​Thomas, ayah Chloe, menimpali dengan tegas namun sopan. "Biarkan dia melakukannya, Andrew. Ini adalah masalah martabat bagi keluarga kami. Kami akan mengirimkan rincian pembayarannya segera setelah kami kembali ke London. Kami sangat menghargai bantuan Anda, tapi kami ingin persahabatan Chloe dan Ares tetap murni tanpa ada beban finansial di belakangnya."

​Ares mendekati Chloe, mengabaikan tatapan Julian yang seolah ingin segera mengakhiri pertemuan ini. Ia berlutut di depan kursi roda gadis itu agar mata mereka sejajar.

​"Jadi... Kamu beneran mau balik ke london ?" tanya Ares parau.

​Chloe meraih tangan Ares, menggenggamnya erat untuk terakhir kalinya. "Iya, Ares. Anggap saja ini awal yang baru untuk kita berdua. Kamu kembali ke panggung aktingmu di Jakarta, dan aku akan berjuang untuk kembali ke panggung baletku di London. Kita sudah berjanji untuk tidak menyerah, kan?"

​Julian memberikan isyarat bahwa mobil jemputan mereka sudah menunggu. Dengan satu lambaian tangan dari orang tua Chloe dan senyuman penuh air mata dari gadis itu, rombongan tersebut perlahan menghilang di balik lorong rumah sakit.

​Ares berdiri mematung, menopang tubuhnya dengan satu tongkat, menatap punggung Chloe yang menghilang di balik pintu otomatis. Ruang fisioterapi yang tadinya penuh semangat mendadak terasa hampa.

​Andrew menepuk bahu adiknya. "Dunia ini sempit, Res. Kalau kalian memang ditakdirkan bersama, London dan Jakarta hanya soal jarak penerbangan. Sekarang, tugas lo adalah membuktikan kalau pengorbanan dia buat semangatin lo nggak sia-sia. Jadilah aktor hebat lagi, agar dia bisa melihat lo dari London."

​Ares menarik napas dalam, menguatkan pegangannya pada tongkatnya. Perpisahan ini memang pahit, namun setidaknya ia tahu bahwa Chloe kembali ke pelukan keluarganya yang kini sudah siap menjaganya.

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!