Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takhta dalam Kegelapan
Istana telah dibersihkan dari sisa-sisa pengkhianat, namun kabar tentang "Permaisuri yang Buta" menyebar seperti racun baru di kalangan menteri. Bagi banyak orang di kekaisaran, seorang penguasa dengan cacat fisik dianggap sebagai tanda bahwa langit tidak lagi memberkati takhta tersebut.
Li Hua duduk di kursi kebesarannya di Aula Utama. Ia tidak lagi mengenakan cadar, namun sehelai kain sutra putih tipis menutupi matanya yang kini tak lagi bisa melihat dunia. Meskipun begitu, pendengarannya menjadi setajam silet. Ia bisa mendengar bisik-bisik di barisan belakang menteri, bahkan suara detak jantung Ibu Suri yang duduk di samping takhta.
"Yang Mulia Kaisar," suara Ibu Suri memecah keheningan aula. "Seorang Permaisuri adalah lambang kesempurnaan negara. Bagaimana mungkin kita membiarkan seorang wanita buta memimpin upacara ritual musim semi? Ini adalah penghinaan bagi para leluhur!"
Tian Long yang duduk di samping Li Hua, menggenggam tangan istrinya dengan erat. "Ibu Suri, mata Permaisuri hilang karena ia melindungi kerajaan ini dari serangan sihir dan pengkhianatan. Cacatnya adalah medali kehormatan, bukan aib."
Strategi di Balik Kebutaan
Seorang menteri tua, yang merupakan sekutu tersembunyi klan Yue, maju ke depan. "Namun, Yang Mulia, beredar kabar bahwa di Kerajaan Barat, terdapat sebuah legenda tentang Bunga Cahaya Abadi. Bunga itu bisa menyembuhkan kebutaan apa pun. Jika Permaisuri benar-benar dicintai langit, mengapa kita tidak mengirim pasukan untuk mengambilnya?"
Li Hua tersenyum di balik kain sutranya. Ia tahu itu adalah jebakan. Kerajaan Barat saat ini sedang dipimpin oleh saudara laki-laki Selir Yue yang melarikan diri, dan wilayah tempat bunga itu tumbuh adalah benteng pertahanan paling mematikan.
"Menteri," suara Li Hua tenang namun berwibawa. "Anda ingin Kaisar mengirim pasukan ke sarang serigala hanya untuk sepasang mata saya? Apakah Anda lebih mementingkan estetika wajah saya daripada nyawa ribuan prajurit?"
Menteri itu terdiam, tidak menyangka Li Hua akan membalas dengan logika yang begitu tajam meskipun tidak bisa melihat.
"Saya tidak butuh mata untuk melihat siapa yang setia dan siapa yang berkhianat," lanjut Li Hua. "Saya bisa mencium bau ketakutan dan ambisi kalian dari sini."
Tabib Misterius dari Negeri Pasir
Malam harinya, seorang pria dengan pakaian eksotis dari wilayah gurun meminta audiensi rahasia. Ia diperkenalkan sebagai Tabib Zale. Berbeda dengan tabib istana, aroma tubuhnya berbau rempah-rempah kuno dan belerang.
"Yang Mulia Permaisuri," Zale berlutut. "Bunga Cahaya Abadi itu bukan sekadar legenda. Ia nyata. Namun, ia tidak tumbuh di tanah. Ia tumbuh di dalam gua kristal yang hanya bisa dibuka dengan darah seseorang yang pernah mati dan bangkit kembali."
Li Hua tersentak. Seseorang yang pernah mati dan bangkit kembali. Itu adalah deskripsi dirinya.
"Jangan dengarkan dia, Li Hua," Tian Long memperingatkan. "Ini pasti siasat Kerajaan Barat untuk memancingmu keluar dari perlindungan istana."
"Mungkin," jawab Li Hua pelan. "Tapi Tian Long, penglihatanku yang hilang adalah bagian dari perjanjian keseimbangan. Jika bunga itu benar-benar ada, mungkin itu adalah cara langit untuk menguji apakah aku berani menghadapi masa laluku sekali lagi."
Zale kemudian membisikkan sesuatu yang membuat jantung Li Hua berdegup kencang: "Di dalam gua itu, tidak hanya ada kesembuhan bagi matamu, tapi juga kebenaran tentang siapa sebenarnya yang membunuhmu saat kau masih menjadi Li Hua si buruk rupa. Itu bukan sekadar kejadian acak di jalanan."
Keberangkatan yang Sunyi
Li Hua memutuskan untuk pergi, namun bukan dengan pasukan besar. Ia pergi hanya bersama Tian Long yang menyamar sebagai pengawal pribadinya dan Mei Lin. Ia ingin menyelesaikan urusannya dengan masa lalu tanpa menumpahkan darah rakyat lagi.
Di tengah perjalanan menuju perbatasan Barat, rombongan kecil mereka disergap oleh sekelompok pembunuh bayaran yang aneh. Mereka tidak menyerang dengan pedang, melainkan dengan seruling yang mengeluarkan nada-nada frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga.
"Tutup telinga kalian!" teriak Tian Long.
Li Hua, yang tidak bisa melihat, justru menjadi satu-satunya yang tidak terpengaruh oleh ilusi visual yang diciptakan oleh nada-nada tersebut. Di dalam kegelapannya, ia "melihat" keberadaan musuh melalui getaran udara.
Ia mengambil busur panah dari punggung Tian Long. "yang mulia, arahkan bahuku ke arah jam dua!"
Dengan bantuan arahan pendek Tian Long, Li Hua melepaskan anak panah.
WUSH!
Seorang peniup seruling jatuh dari pohon. Frekuensi suara itu terhenti.
"Kau luar biasa," bisik Tian Long dengan penuh kekaguman.
Namun, kegembiraan itu singkat. Dari kegelapan hutan, muncul sosok wanita dengan cadar hitam yang matanya berkilat penuh dendam. Itu bukan Selir Yue, melainkan Ibu dari Selir Yue, mantan Permaisuri dari dinasti sebelumnya yang selama ini disangka sudah meninggal.
"Selamat datang di tanah kematianmu, pengemis kecil," suara wanita itu dingin dan berwibawa. "Kau pikir kau sudah menang? Kau baru saja berjalan masuk ke dalam jebakan yang sudah kupersiapkan sejak hari kau lahir."