Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.
Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat Yang Mencari Jawaban
Di dalam ruang rapat yang luas dan megah di gedung utama Grup Usaha Wijaya di kawasan Braga, Bandung, sinar matahari siang menerobos melalui kaca jendela tinggi yang menghadap ke jalan raya yang ramai. Ruangan dihiasi dengan perabotan kayu mahoni tua yang mewah, dengan sebuah meja rapat berbentuk persegi panjang yang cukup besar untuk menampung lebih dari sepuluh orang. Di dinding belakang ruangan, terdapat lukisan besar keluarga Wijaya yang dibuat beberapa dekade yang lalu, menunjukkan wajah-wajah yang penuh dengan kebanggaan dan kemakmuran.
Pak Wijaya—ayah kandung Dewi dan ketua utama Grup Usaha Wijaya—duduk di ujung utama meja rapat dengan tubuh yang masih tegak meskipun usianya sudah menginjak enam puluhan tahun. Ia mengenakan jas hitam yang rapi dengan dasi berwarna biru tua, rambut putih keputihannya diatur dengan sangat rapi. Wajahnya yang biasanya tenang dan penuh dengan kedewasaan kini menunjukkan ekspresi yang serius dan penuh dengan kekhawatiran, kerut di dahinya menunjukkan betapa beratnya masalah yang sedang dihadapi oleh keluarganya.
Di sekeliling meja rapat, anggota keluarga Wijaya lainnya telah berkumpul—adik laki-laki Dewi yang bernama Hendra, adik perempuan Dewi yang bernama Siti, serta sepupu dan kerabat dekat lainnya yang memiliki peran penting dalam pengelolaan grup usaha keluarga. Semua mereka mengenakan pakaian resmi, wajah mereka penuh dengan perhatian dan kesedihan yang sama mendalamnya.
“Kita berkumpul hari ini karena ada hal yang sangat penting yang harus kita bahas,” mulai Pak Wijaya dengan suara yang kuat namun penuh dengan emosi yang terkendali. Ia melihat satu per satu wajah anggota keluarga yang hadir, mata nya penuh dengan makna. “Seperti yang kalian ketahui, sudah delapan tahun sejak cucuku, Ridwan—anak satu-satunya Dewi—hilang tanpa jejak setelah kematian Dewi yang sangat mencurigakan.”
Suara bisik kecil mulai terdengar di antara anggota keluarga yang hadir. Beberapa di antaranya mengangguk perlahan, sementara yang lain menurunkan pandangan mereka sebagai tanda kesedihan atas kepergian Dewi dan hilangnya Ridwan.
“Saya telah melakukan penyelidikan secara diam-diam selama beberapa bulan terakhir,” lanjut Pak Wijaya, mengambil selembar kertas dari tumpukan dokumen yang ada di depannya. “Hasil penyelidikan tersebut menunjukkan bahwa kematian Dewi tidak terjadi secara alami seperti yang telah kita diberitahu. Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa dia mungkin telah menjadi korban dari rencana jahat yang dirancang oleh seseorang yang ingin mengambil alih kendali perusahaan yang dia dirikan bersama suaminya, Budi Santoso.”
Suara bisik menjadi semakin keras. Siti—adik perempuan Dewi yang berusia empat puluhan tahun dengan wajah yang mirip dengan Dewi—membuka mulutnya dengan ekspresi yang tidak percaya. “Tapi Pak, bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi? Dokter mengatakan bahwa kakak saya meninggal karena penyakit yang tidak dapat disembuhkan.”
Pak Wijaya menggeleng-geleng kepala dengan perlahan, ekspresi wajahnya menjadi semakin berat. “Dokter tersebut bekerja di rumah sakit yang dimiliki oleh keluarga Santoso,” katanya dengan suara yang penuh dengan kemarahan tersembunyi. “Setelah saya melakukan pemeriksaan ulang terhadap rekam medis Dewi dan melakukan wawancara dengan beberapa orang yang bekerja di rumah sakit tersebut, saya menemukan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan perawatan yang diberikan padanya. Ada zat berbahaya yang ditemukan dalam tubuhnya—zat yang tidak ada hubungannya dengan penyakit yang dideritanya.”
Hendra—adik laki-laki Dewi yang menjabat sebagai direktur operasional grup usaha—melompat dari kursinya dengan wajah yang penuh dengan kemarahan. “Siapa yang berani melakukan hal keji seperti itu? Apakah itu Budi Santoso dan wanita baru nya yang bernama Ratna?”
Pak Wijaya mengangguk dengan perlahan, menoleh ke arah Hendra dengan mata yang penuh dengan kesedihan. “Saya memiliki bukti yang menunjukkan bahwa Ratna—yang dulunya adalah sekretaris Dewi sebelum menjadi kekasih Budi—terlibat dalam rencana ini. Dia telah lama merencanakan untuk mengambil alih perusahaan Dewi dan Budi, dan dia melihat Dewi sebagai rintangan utama yang harus dihilangkan. Budi tampaknya telah diperdaya olehnya atau bahkan mungkin telah bersekongkol dengannya untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar.”
Suara kebingungan dan kemarahan semakin terdengar di dalam ruangan. Anggota keluarga Wijaya lainnya mulai berbicara dengan cepat, menyampaikan kemarahan dan kekhawatiran mereka tentang apa yang telah terjadi pada Dewi dan tentang nasib Ridwan yang hilang.
“Tapi apa yang terjadi pada Ridwan?” tanya salah satu sepupu Dewi dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran. “Apakah mereka juga telah menyakiti dia? Apakah kita masih bisa menemukan dia hidup?”
Pak Wijaya mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab. “Setelah kematian Dewi, Budi dan Ratna mengatakan bahwa mereka telah mengirim Ridwan ke panti asuhan di luar kota,” katanya dengan suara yang pelan. “Namun setelah saya melakukan penyelidikan lebih lanjut, saya menemukan bahwa tidak ada satu pun panti asuhan di sekitar Bandung atau di kota lain yang menerima anak bernama Ridwan Santoso pada waktu itu. Ada kemungkinan besar bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang kejam padanya juga.”
Siti menangis dengan diam-diam, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya bagi Ridwan—seorang anak berusia empat belas tahun yang harus ditinggalkan oleh ayahnya sendiri dan mungkin telah disakiti oleh orang-orang yang seharusnya merawatnya.
“Saya telah memutuskan bahwa sudah saatnya kita mengambil tindakan tegas,” ujar Pak Wijaya dengan suara yang kembali menjadi kuat dan penuh dengan tekad. Ia melihat satu per satu wajah anggota keluarga yang hadir, mata nya penuh dengan keyakinan. “Kita tidak akan membiarkan Dewi mati dengan sia-sia, dan kita tidak akan membiarkan Ridwan hilang tanpa jejak. Kita akan mencari dia dengan sekuat tenaga dan memberikan keadilan yang pantas bagi mereka yang telah menyakitinya dan menyakitkan cucuku.”
Ia kemudian mengambil selembar dokumen lain dari tumpukan di depannya, menaruhnya di atas meja rapat dengan lembut. “Saya telah menyusun rencana untuk mencari Ridwan,” katanya dengan suara yang jelas dan tegas. “Kita akan membentuk tim khusus yang akan melakukan penyelidikan menyeluruh tentang keberadaan dia. Kita akan mencari tahu apa yang benar-benar terjadi padanya setelah dia hilang dan kita akan melakukan segala yang bisa kita lakukan untuk menemukan dia dan membawanya pulang ke keluarga nya yang sebenarnya.”
Siti mengangkat wajahnya, menghapus air mata dari pipinya dengan lengan bajunya. Ia melihat ke arah Pak Wijaya dengan mata yang penuh dengan tekad. “Saya akan bergabung dalam tim pencarian, Pak,” katanya dengan suara yang sedikit gemetar namun penuh dengan keyakinan. “Kakak saya sangat mencintai Ridwan, dan saya tidak akan pernah berhenti mencari dia sampai dia ditemukan dan dibawa pulang dengan aman.”
Hendra juga mengangguk dengan tegas, menoleh ke arah Pak Wijaya dengan wajah yang penuh dengan kemarahan dan tekad. “Saya akan menggunakan semua sumber daya yang kita miliki untuk mencari Ridwan dan untuk mengumpulkan bukti terhadap Budi dan Ratna,” katanya dengan suara yang kuat. “Mereka harus membayar untuk apa yang telah mereka lakukan terhadap Dewi dan Ridwan.”
Pak Wijaya mengangguk dengan penuh penghargaan, melihat kedua anaknya dengan rasa bangga yang mendalam. Ia tahu bahwa keluarga Wijaya adalah keluarga yang kuat dan tidak akan pernah menyerah dalam menghadapi kesulitan. Mereka akan melakukan segala yang bisa mereka lakukan untuk melindungi anggota keluarga mereka dan untuk memberikan keadilan yang pantas bagi mereka yang telah menyakitinya.
“Kita akan mulai penyelidikan mulai hari ini,” lanjut Pak Wijaya dengan suara yang jelas dan tegas. “Kita akan memeriksa semua bukti yang kita miliki, kita akan mewawancarai semua orang yang mungkin tahu sesuatu tentang keberadaan Ridwan, dan kita akan melakukan segala yang bisa kita lakukan untuk menemukan dia. Kita juga akan mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan untuk membawa Budi dan Ratna ke pengadilan dan membuat mereka membayar untuk kejahatan yang telah mereka lakukan.”
Ia kemudian berdiri dari kursinya, melihat ke arah semua anggota keluarga yang hadir dengan mata yang penuh dengan harapan dan tekad. “Dewi adalah bagian penting dari keluarga kita, dan Ridwan adalah masa depan keluarga kita,” katanya dengan suara yang penuh dengan emosi. “Kita tidak akan pernah menyerah dalam mencari dia dan dalam memberikan keadilan bagi mereka yang telah menyakitinya. Kita akan membuktikan bahwa keluarga Wijaya tidak bisa dipermainkan dan bahwa kebaikan akan selalu menang pada akhirnya.”
Suara persetujuan dan semangat yang tinggi terdengar di dalam ruangan. Anggota keluarga Wijaya lainnya berdiri dari kursi mereka, menunjukkan dukungan mereka yang penuh terhadap keputusan Pak Wijaya dan terhadap rencana untuk mencari Ridwan dan memberikan keadilan bagi Dewi.
Di luar jendela ruangan rapat, matahari siang mulai berpindah ke sisi lain gedung, membawa bayangan panjang yang menutupi sebagian jalan raya yang ramai. Namun di dalam ruangan rapat, semangat keluarga Wijaya semakin membara—semangat untuk mencari kebenaran, untuk menemukan Ridwan, dan untuk memberikan keadilan yang pantas bagi mereka yang telah menyakitinya dan menyakitkan cucu mereka yang hilang. Mereka tahu bahwa perjalanan yang akan mereka tempuh tidak akan mudah, bahwa mereka akan menghadapi banyak rintangan dan bahaya di jalan. Tapi mereka juga tahu bahwa mereka tidak akan pernah menyerah—karena keluarga Wijaya selalu berdiri bersama dalam menghadapi segala kesulitan dan karena mereka akan selalu melindungi salah satu anggota keluarga mereka yang sedang dalam kesusahan.