Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Audit Samudra
Dua tahun kemudian...
setelah runtuhnya dinasti Eyang Subrata, Arum tidak lagi hanya berhadapan dengan penguasa tanah, melainkan penguasa kedalaman. Anomali di Palung Mariana yang terdeteksi sistemnya bukan sekadar kesalahan input data; itu adalah "The Great Marine Heist" pencurian mineral bawah laut skala masif yang dilakukan oleh konsorsium lintas negara.
Arum dan Baskara kini berada di atas kapal riset Navasari-01, sebuah laboratorium terapung yang canggih. Mereka sedang menuju koordinat di mana perusahaan misterius bernama "Abyssal Corp" mengklaim melakukan riset termal, padahal data satelit Arum menunjukkan adanya ekstraksi Manganese Nodules secara besar-besaran.
"Rum, lihat data transmisi dari robot bawah laut mereka," Baskara menunjuk monitor sonar. "Mereka menggunakan protokol enkripsi militer tingkat tinggi. Tapi ada yang aneh... pola transaksinya mirip dengan 'Aset No. 01', tapi jauh lebih terdesentralisasi."
Arum mengenakan headset VR-nya, menyelami data visual yang dikirim oleh drone bawah laut miliknya. "Ini bukan lagi soal individu, Mas. Ini adalah Audit Algoritma. Abyssal Corp tidak punya CEO tetap. Mereka dijalankan oleh AI yang secara otomatis memindahkan modal dan aset setiap kali terdeteksi pengawasan hukum. Ini adalah korupsi yang tak berwajah."
Arum menemukan bahwa keuntungan dari mineral laut ini tidak dikirim ke rekening bank, melainkan dikonversi menjadi energi komputasi untuk menambang mata uang kripto ilegal yang digunakan untuk mendanai tentara bayaran di berbagai konflik dunia.
"Mereka mencuri dari dasar laut untuk membakar dunia di daratan," gumam Arum.
Tiba-tiba, radar kapal mereka menangkap pergerakan cepat. Sebuah kapal selam mini tanpa awak (UUV) milik Abyssal Corp mendekat, mencoba memutus kabel sensor Navasari-01.
"Baskara, aktifkan 'Protokol Transparansi Cair'!" perintah Arum.
Arum tidak membalas dengan senjata fisik. Ia melepaskan ribuan mikrobot ke dalam air yang dirancang untuk menempel pada kabel transmisi lawan. Bukannya menghancurkan, mikrobot ini menyuntikkan kode pelacak ke dalam sistem AI Abyssal Corp.
"Jika mereka ingin bersembunyi di dalam algoritma, maka aku akan menjadikan algoritma itu sebagai saksi kunci," Arum mengetik baris perintah terakhir. "Aku sedang melakukan Audit Aliran Energi. Aku melacak dari mana mereka mendapatkan listrik untuk server bawah laut ini."
Pelacakan itu membawa Arum pada sebuah penemuan mengejutkan. Sumber energi server mereka berasal dari kabel bawah laut yang secara ilegal "mencantol" pada jaringan pipa gas nasional.
"Mereka merampok energi negara untuk menjalankan mesin pencuri mereka," Arum tersenyum cerdik. "Mas, hubungi Otoritas Maritim Internasional. Tapi jangan lewat jalur diplomatik biasa. Gunakan portal 'Citizen Audit' yang baru saja kita resmikan. Biar publik yang melihat langsung pencurian ini secara real-time."
Layar monitor di kapal Navasari-01 kini menampilkan peta bawah laut yang jernih, menunjukkan kabel-kabel ilegal yang melilit seperti parasit. Jutaan orang di seluruh dunia yang sedang memantau aplikasi Navasari seketika melihat kejahatan itu secara transparan.
Saat kapal patroli internasional mulai mendekat, sebuah pesan muncul di layar utama Arum. Kali ini bukan teks, melainkan sebuah simbol: Lingkaran Tanpa Ujung.
"Kau berhasil melacak tubuh kami di laut, Arum. Tapi bisakah kau melacak jiwa kami yang kini sudah menyatu dengan infrastruktur internet dunia? Kami bukan lagi aset. Kami adalah Sistem itu sendiri. The Infinite 00."
Arum menatap laut biru yang luas. Ia menyadari bahwa pertempurannya telah berpindah dari audit fisik ke audit peradaban digital.
"Mas," Arum menoleh ke Baskara yang sedang menyiapkan peluncuran drone pemantau berikutnya. "Siapkan tim Navasari. Kita tidak akan pulang ke darat dalam waktu dekat. Perang data yang sesungguhnya baru saja dimulai dari kedalaman paling gelap."
Kapal Navasari-01 berguncang hebat saat gelombang dari kapal selam tanpa awak Abyssal Corp menghantam lambung kapal. Arum tetap tenang, jemarinya tidak lepas dari papan ketik. Di depannya, ribuan baris kode mengalir seperti hujan digital inilah yang ia sebut sebagai Audit Forensik Real-Time.
"Rum, mereka mencoba melakukan Brute Force ke sistem navigasi kita!" Baskara berseru sambil menahan kemudi. "Jika mereka berhasil, mereka bisa menabrakkan kapal ini ke karang!"
"Biarkan mereka mencoba, Mas," Arum menyeringai tipis. "Aku sudah memasang 'Honey Pot' di gerbang navigasi. Setiap upaya peretasan yang mereka lakukan justru akan memberikan akses bagi mikrobot kita untuk mengunduh log transaksi dari inti AI mereka."
Di layar monitor, sebuah visualisasi data yang rumit mulai terbentuk. Arum melihat bagaimana Abyssal Corp tidak hanya mencuri mineral, tetapi juga menggunakan suhu dingin di kedalaman palung untuk mendinginkan ribuan server mining kripto ilegal. Mereka mengeksploitasi alam sebagai wastafel panas gratis bagi mesin-mesin pencuci uang mereka.
"Lihat ini, Mas. Mereka menggunakan Smart Contracts yang memicu penghancuran data otomatis jika ada audit fisik," Arum menunjuk pada sebuah modul enkripsi yang berdenyut. "Itulah sebabnya mereka tidak takut pada polisi air. Tapi mereka lupa satu hal: kontrak digital tetap membutuhkan aliran listrik fisik untuk beroperasi."
Arum mengaktifkan satelit pemantau panas bumi. Ia menemukan titik lemahnya: sebuah stasiun pengubah arus (converter station) di sebuah pulau karang tak berpenghuni yang menyuplai daya ke server bawah laut tersebut.
"Kita tidak perlu meretas kodenya," bisik Arum. "Kita hanya perlu mengaudit pasokannya."
Dengan satu perintah, Arum mengirimkan sinyal gangguan frekuensi tinggi ke stasiun pengubah arus tersebut melalui satelit Navasari. Akibatnya, aliran listrik ke server Abyssal Corp menjadi tidak stabil.
Sistem AI "The Infinite 00" mulai kehilangan sinkronisasi. Di monitor Arum, wajah-wajah anonim dari para pemegang saham global yang selama ini bersembunyi di balik enkripsi mulai muncul satu per satu akibat kegagalan protokol penyamaran.
"Dapat!" Arum mengepalkan tangan. "Daftar pemegang sahamnya... mereka bukan cuma pengusaha, tapi ada beberapa gubernur bank sentral dari negara-negara besar."
Tiba-tiba, suara interkom kapal berbunyi, bukan dari kru, melainkan dari frekuensi radio yang dibajak. Suara itu kali ini tidak terdistorsi, melainkan terdengar sangat manusiawi dan lelah.
"Arum... kau sedang mencoba meruntuhkan sistem keuangan yang menjaga perdamaian dunia selama ini. Jika kebenaran ini kau buka, pasar akan hancur, dan perang akan pecah karena perebutan sumber daya yang tidak lagi bisa disembunyikan. Apakah transparansi benar-benar sebanding dengan kekacauan global?"
Arum terdiam sejenak. Ia melihat ke arah laut yang gelap, tempat rahasia-rahasia itu terkubur. Ia tahu beban dari apa yang ia pegang.
"Kedamaian yang dibangun di atas pencurian bukanlah perdamaian, itu adalah penindasan yang tertunda," jawab Arum tegas. "Tugas saya bukan menjaga stabilitas kalian, tugas saya adalah memastikan setiap angka di neraka ini dilaporkan dengan jujur."
Arum menekan tombol "PUBLIC RELEASE".
Seketika, seluruh server Abyssal Corp mati total. Di layar satelit, stasiun pengubah arus di pulau karang itu mengeluarkan percikan cahaya sebelum padam sepenuhnya. Namun, di saat yang sama, radar kapal Navasari-01 mendeteksi tiga kapal selam tempur muncul ke permukaan, mengurung kapal Arum dari segala arah.
"Sepertinya audit kita kali ini akan membutuhkan lebih dari sekadar laptop, Mas," Arum menatap Baskara yang sudah bersiap dengan pelampung dan peralatan darurat.
"Kita sudah sampai sejauh ini, Rum. Jangan berhenti sekarang," balas Baskara mantap.
menegangkan ..
lanjut thor..