Shen Kuo Yu, bilioner wanita yang tewas di puncak kejayaannya karena kebocoran jantung, ia terbangun di tubuh Liu Xiao Xiao- gadis malang yang disiksa oleh keluarga angkatnya. Takdir pahit menantinya. Ia dipaksa menggantikan saudari tiri nya untuk menjadi pengantin pengganti dan menikahi Pangeran Keempat yang konon buruk rupa dan berhati kejam.
Shen Kuo Yu akan menaklukan Pangeran itu dan menjadikan nya bidak untuk membalas dendam pada Keluarga Liu yang memperlakukan nya seperti binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 : Pasar
Xiao Xiao terpaku di ambang jendela, menatap Selir Agung yang kini tersungkur di atas rumput basah. Napas wanita itu tersengal, tangannya mencengkeram lehernya sendiri seolah-olah ada duri tak kasatmata yang mencekiknya dari dalam.
"Nona, jangan mendekat! Itu pasti jebakan!" bisik Mao yang baru saja muncul di belakang Xiao Xiao dengan wajah pucat pasi.
Xiao Xiao tidak langsung bergerak. Otak cerdasnya bekerja cepat. Ia teringat dupa beracun tempo hari. Selir Agung hanyalah bidak catur yang digerakkan oleh tangan Permaisuri. Jika Selir Agung mati di halamannya malam ini, Permaisuri akan punya alasan baru untuk menuduh Pangeran Keempat melakukan pembunuhan.
"Mao, ambilkan kotak obat darurat di atas meja," perintah Xiao Xiao dengan nada dingin.
"Tapi Nona—"
"Cepat!"
Xiao Xiao melompat keluar jendela dengan anggun. Ia mendekati Selir Agung yang tubuhnya mulai kejang. Dengan gerakan cekatan, Xiao Xiao menekan titik saraf di bawah telinga wanita itu untuk memperlambat aliran darah. Bau racun yang sama dengan dupa tempo hari tercium, namun kali ini jauh lebih pekat.
"Anda datang ke tempat yang salah jika ingin memohon belas kasihan," bisik Xiao Xiao tepat di telinga Selir Agung. "Tapi Anda datang ke tempat yang benar jika ingin membalas dendam."
Mao datang membawa kotak obat. Xiao Xiao mengambil sebotol kecil cairan penetral yang ia racik dari sisa 'Air Keajaiban' yang telah diperkuat konsentrasinya. Ia memaksa Selir Agung meminumnya.
Beberapa saat kemudian, kejang Selir Agung mereda. Ia terbatuk hebat, mengeluarkan cairan hitam yang berbau busuk. Wajah cantiknya kini pucat dan dipenuhi keringat dingin.
"Kenapa... kenapa kau menyelamatkanku?" tanya Selir Agung dengan suara yang nyaris hilang. "Aku sudah mencoba membunuhmu."
"Karena mayatmu di sini hanya akan menyusahkanku," jawab Xiao Xiao sembari berdiri dan mengibas debu di bajunya. "Dan karena aku tahu, kau memegang banyak rahasia tentang bagaimana Permaisuri mengatur aliran uang dari wilayah Barat."
Tiba-tiba, langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Pangeran Wang Zhi Chen muncul dari balik bayangan paviliun dengan pedang yang sudah setengah terhunus. Matanya yang tajam menatap Selir Agung yang tergeletak di tanah dengan penuh kebencian.
"Apa yang dilakukan wanita ular ini di sini?" geram Zhi Chen.
"Dia adalah saksi kunci kita, Pangeran," sahut Xiao Xiao tenang, menghalangi jalan Zhi Chen. "Permaisuri baru saja mencoba menghapus jejaknya. Jika kita membiarkan dia hidup, kita punya bukti nyata tentang kekejaman di Istana Utama."
Zhi Chen menyipitkan mata, menatap istrinya dengan tak percaya. "Kau ingin melindunginya? Dia pernah mengirim racun ke kamarmu!"
"Dalam bisnis dan perang, dendam pribadi hanya akan menghambat keuntungan," balas Xiao Xiao tanpa ragu. "Mao, bawa Selir Agung ke kamar rahasia di bawah paviliun. Jangan sampai ada pelayan lain yang tahu. Katakan pada penjaga bahwa ada kucing liar yang tertabrak."
Setelah Selir Agung diamankan, Xiao Xiao dan Zhi Chen kembali ke ruang dalam. Suasana malam itu menjadi sangat tegang. Zhi Chen duduk di kursinya, terus memainkan hulu pedangnya, sementara Xiao Xiao sibuk mencatat sesuatu di atas meja.
"Kau terlalu berani, Xiao Xiao," ujar Zhi Chen akhirnya. "Jika Permaisuri tahu kita menyembunyikan Selir Agung, dia akan mengirim pasukan, bukan lagi sekadar kasim."
"Justru itu tujuannya," sahut Xiao Xiao sembari meletakkan kuasnya. "Besok pagi, kita akan tetap pergi ke pasar pusat kota seperti rencana semula. Kita akan bersikap seolah-olah tidak tahu apa-apa. Biarkan Permaisuri mengira Selir Agung sudah mati dan mayatnya sudah kita buang secara diam-diam."
Xiao Xiao menatap Zhi Chen dengan serius. "Pangeran, kita butuh aliansi. Selir Agung punya pengaruh di kalangan selir-selir lain. Jika kita bisa membuatnya berbalik memihak kita, kita akan punya telinga di setiap sudut istana."
Zhi Chen menghela napas panjang. Ia mulai menyadari bahwa istrinya ini memiliki cara berpikir yang jauh lebih luas dari sekadar membalas dendam. "Baiklah. Aku akan memperketat penjagaan malam ini. Tapi ingat, jika dia mencoba menusukmu dari belakang, aku sendiri yang akan memenggal kepalanya."
***
Keesokan paginya, suasana istana tampak tenang, namun ada ketegangan yang tersembunyi. Kabar hilangnya Selir Agung mulai menyebar di antara para pelayan.
Xiao Xiao tampil dengan sangat cantik pagi itu. Ia mengenakan hanfu biru muda dengan sulaman perak, menutupi bekas luka di lengannya dengan kain sutra. Ia menemui Zhi Chen yang sudah siap dengan penyamarannya---seorang pengawal dengan topi caping besar yang menutupi sebagian wajahnya.
"Siap untuk melihat dunia di luar tembok ini, Pangeran?" tanya Xiao Xiao dengan nada menggoda.
Zhi Chen hanya mengangguk singkat. Mereka berangkat menggunakan kereta kuda sederhana, menghindari pengawalan resmi kerajaan.
Begitu sampai di pasar pusat kota yang ramai, mata Xiao Xiao langsung berbinar. Bau rempah-rempah, suara tawar-menawar pedagang, dan hiruk-pikuk orang-orang membuatnya merasa hidup. Ia berjalan di depan, sementara Zhi Chen mengikutinya seperti bayangan yang waspada.
Namun, saat mereka melewati sebuah toko gandum yang besar, Xiao Xiao berhenti. Ia melihat antrean panjang rakyat jelata yang wajahnya tampak lesu. Harga gandum di papan pengumuman tertulis sangat tinggi---tiga kali lipat dari harga normal.
"Kenapa harganya melonjak setinggi ini?" tanya Xiao Xiao pada salah satu warga.
"Ah, Nona Muda, kabarnya gandum dari wilayah Barat ditahan oleh pejabat setempat untuk dikirim ke Istana Utama sebagai pajak tambahan. Kami rakyat kecil hanya bisa makan bubur encer," jawab warga itu dengan sedih.
Xiao Xiao melirik ke arah Zhi Chen. Ini adalah masalah yang mereka baca di memorial semalam. Korupsi wilayah Barat bukan hanya soal angka di kertas, tapi soal perut rakyat yang lapar.
Baru saja Xiao Xiao ingin melangkah lebih jauh, sekelompok pria bertubuh kekar dengan tato di lengan mereka mulai mengelilingi Xiao Xiao dan Zhi Chen. Mereka bukan pengemis, mereka terlihat seperti preman bayaran yang sengaja menunggu seseorang di pasar itu.
"Nona manis, kau sepertinya punya banyak uang perak di kantongmu. Bagaimana kalau berbagi sedikit dengan kami?" ujar pemimpin preman itu dengan seringai busuk.
Zhi Chen melangkah maju, menghalangi tangan preman itu yang hendak menyentuh pundak Xiao Xiao. Dari balik topinya, matanya berkilat haus darah. "Satu langkah lagi, dan tanganmu tidak akan pernah bisa menyentuh apa pun selamanya."
***
Happy Reading❤️
Mohon Dukungan
● Like
● Komen
● Subscribe
● Ikuti Penulis
Terimakasih ^_^ ❤️