Karena kesalahpahaman, Anindia harus menikah dengan cowok yang paling tidak disukainya, Keanu si badboy sekolah. Mereka tidak pernah akur, bahkan Anindia selalu menghindari Keanu.
Tapi, malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Mereka terjebak dalam kesalahpahaman yang fatal, dan sekarang mereka harus terpaksa menikah.
Anindia, siswi paling pintar di sekolah, harus menikah dengan Keanu, sang ketua geng sekolah yang terkenal dengan keberanian dan kenakalannya.
Mereka harus merahasiakan pernikahan mereka setidaknya sampai hari kelulusan. Tapi di sekolah, Keanu justru membuat pernyataan bahwa Anindia adalah pacarnya.
Apakah Keanu dan Anindia bisa merahasiakan pernikahan mereka?
•••
"Gue memang badboy, tapi setidaknya gue bukan playboy. Kenapa gue berani ngomong kayak gini?"
"Karena gak ada seorangpun yang bisa bikin hati gue luluh selain lo, Nindi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: First kiss
Anindia dan Keanu sudah tiba di kamarnya setelah selesai mencuci piring. Di atas tempat tidur, mereka berdua duduk bersama dengan duduk saling berhadap-hadapan, tidak seperti sebelumnya yang duduk saling membelakangi.
Perasaan kasih dan sayang mulai muncul di antara keduanya, mencoba untuk melupakan permusuhan mereka sebelumnya.
"Nindi, ternyata kenal lo itu asyik juga ya," ujar Keanu memulai perbincangan.
"Asyik gimana?" Ujar Anindia yang merasa bingung dengan penuturan suaminya itu.
"Ya asyik, lo itu orangnya humble, friendly, rajin lagi. Kayaknya gue dulu yang salah nilai lo," ujar Keanu dengan seutas senyum.
Anindia terkekeh sembari menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka bahwa Keanu akan mengatakan hal demikian. Sementara Keanu hanya menanggapinya dengan seutas senyum, ia merasa gemas ketika melihat Anindia yang ceria seperti itu.
"Jadi, dulu kamu nilai aku gimana?" Ujar Anindia kemudian.
"Hmm gimana ya?" Ujar Keanu yang mengambil jeda sejenak sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya. "Jujur aja, menurut gue lo itu dulu ngeselin, bawel, galak, satu lagi keras kepala. Bahkan, gue anggap lo itu musuh terbesar dalam hidup gue." Lanjut Keanu penuh kejujuran.
Mendengar hal itu, Anindia langsung menggelengkan kepalanya. Ia bukannya marah dengan kejujuran Keanu, tapi ia justru menanggapinya dengan tawa. Hal itu jelas saja membuat Keanu merasa heran.
"Lah kok malah ketawa? Emangnya lucu?" Ujar Keanu sembari menaikkan sebelah alisnya, merasa heran melihat tingkah istrinya itu.
"Enggak kok, gak ada," ujar Anindia yang masih tertawa. "Cuma lucu aja ingat kita dulu yang musuhan, eh sekarang malah... Menikah."
"Awalnya ya gue terpaksa menikah dengan lo karena kesalahpahaman itu. Tapi sekarang gue sadar, menikah dengan lo itu bukanlah suatu hal yang buruk," ujar Keanu yang terdengar serius.
Tanpa sadar, seutas senyum pun terukir di wajah Anindia. Setiap kata yang keluar dari mulut Keanu, terasa begitu tulus di telinganya. Dan ia juga merasakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh suaminya itu.
"Iya, aku juga merasa gitu," ujar Anindia kemudian.
Keanu menganggukkan kepalanya, lalu ia menatap Anindia dengan jarak yang sedikit lebih dekat. Ia mencondongkan wajahnya tepat di wajah istrinya itu.
"Kalo gitu gue boleh minta sesuatu?" Ujar Keanu serius.
"Minta ap-"
Belum selesai Anindia bertanya, tiba-tiba saja Keanu mengecup bibirnya. Hanya sebuah kecupan, tapi berhasil membuat jantung Anindia terhenti sejenak. Anindia langsung terdiam tanpa kata, merasa terkejut dengan tindakan Keanu yang tiba-tiba bahkan tanpa izinnya terlebih dahulu.
"Sorry," ujar Keanu, ia menatap Anindia dengan tatapan dalam. "Gue cuma mau jadi yang pertama dan yang terakhir buat lo, boleh?"
Ekspresi wajah Anindia yang awalnya terkejut, kini berubah menjadi malu-malu. Ia tidak menyangka bahwa suaminya itu bisa mengatakan hal yang begitu manis untuknya. Anindia pun akhirnya menganggukkan kepalanya perlahan, ia juga berharap bahwa bersama Keanu adalah cinta pertama dan terakhir nya.
"Bo-boleh, tentu aja boleh," ujar Anindia sedikit gugup.
Tanpa aba-aba, Keanu langsung memeluk Anindia karena rasa senangnya. Bahkan, ia membenamkan wajahnya di leher istrinya itu. Anindia pun membalas pelukannya dan membenamkan kepalanya di dada bidang Keanu. Aroma parfum yang dipakai Keanu, membuat Anindia merasa nyaman.
"Gue tau pernikahan kita ini terjadi karena kesalahan gue. Tapi gue janji bakal lindungi dan jaga lo, selalu." Bisik Keanu tepat di telinga Anindia.
Anindia pun mengurai pelukannya secara perlahan, lalu ia menatap Keanu dengan tatapan intens. Keanu juga melakukan hal yang sama, membuat manik mata mereka bertemu.
"Terima kasih ya, Keanu. Sekarang aku ngerti ternyata cinta itu enggak seburuk yang aku bayangkan," ujar Anindia dengan senyuman manisnya.
Keanu tersenyum menanggapinya, ia pun membenarkan posisi duduknya agar tepat berada di samping istrinya itu. Keanu mengacak lembut pucuk kepala Anindia sejenak, lalu menarik kepalanya untuk bersandar di pundaknya.
"Sama-sama, gue juga ngerasa gitu kok. Kita belajar bareng-bareng ya?" Ujar Keanu yang hanya mendapat anggukan dari Anindia.
Malam ini, di kamar mereka, Anindia dan Keanu mulai mencoba untuk belajar menjadi lebih baik dan memahami satu sama lain. Pendekatan tiga hari mereka, membuat keduanya mulai lebih terbuka dan melihat kelebihan serta kekurangan masing-masing.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Pagi harinya, setelah selesai sarapan, Anindia dan Keanu pun langsung berangkat ke sekolah dengan mobil yang sama seperti hari kemarin.
Saat Anindia baru saja duduk, tiba-tiba saja Keanu langsung memasangkan sabuk pengaman untuk dirinya. Anindia kembali terpaku dengan perhatian kecil dari suaminya itu. Tatapan keduanya kembali bertemu, membuat debaran kencang di dalam hati masing-masing.
"Gue pengennya yang manis-manis buat semangat pagi ini. Kalo lo izinin, sih," ujar Keanu ketika melihat bibir ranum Anindia. Sebagai laki-laki normal jelas saja membuat Keanu menginginkan hal itu.
Anindia tidak mengatakan apa-apa, namun langsung memejamkan matanya, seakan ia memberi izin kepada Keanu tanpa kata. Karena merasa diizinkan, Keanu pun langsung mencium bibir Anindia. Ciuman itu lebih dalam tidak seperti tadi malam yang hanya sebuah kecupan sekilas saja.
Tanpa sadar, tangan Anindia memegang erat kemeja sekolah Keanu, seakan ia terhanyut dalam ciuman pertama mereka. Setelah beberapa saat, Keanu pun melepaskan pautan bibir keduanya. Ia pun langsung membelai lembut pipi Anindia dan menatapnya dengan seutas senyum.
"Makasih ya lo udah izinin gue buat cium lo. Ini sebagai tanda kalo lo itu udah jadi milik gue, meskipun belum sepenuhnya," ujar Keanu yang mengarah ke hal lain.
"Kalo untuk itu... Aku belum siap, Keanu. Aku masih ingin sekolah dengan tenang tanpa adanya kesalahpahaman dari orang lain tentang pernikahan kita," ujar Anindia yang mengerti maksud dari perkataan Keanu.
Keanu menanggapinya dengan seutas senyum, lalu mengacak pucuk kepala Anindia lagi. Ia mengerti dengan perkataan Anindia, dan ia tidak ingin melakukannya sampai Anindia benar-benar siap untuk melakukannya.
"Gue paham kok, gue gak akan sentuh lo sebelum lo siap." Ujar Keanu kemudian. "Ya udah ayo kita berangkat, ntar telat lagi."
Anindia hanya menanggapinya dengan anggukan singkat. Ia merasa bersyukur karena Keanu memahami perasaannya. Keanu pun memulai perjalanan menuju ke sekolah dengan menyetir mobilnya dengan hati-hati.
Mobil hitam itu pun melaju membelah jalanan, melewati jalanan kota yang mulai sibuk dengan aktivitas para manusianya.
"Lo kalo lagi gak ngomel itu cantik banget, serius. Apalagi pas lagi senyum atau tertawa, duh rasanya... Meleleh abang dek," ujar Keanu yang masih fokus pada kemudinya.
Mendengar perkataan Keanu, Anindia pun jadi tersenyum sendiri membuat pipinya langsung bersemu merah. Ia yang merasa salah tingkah, langsung memukul pelan lengan suaminya itu.
"Bisa aja gombalnya," ujar Anindia yang mendapat kekehan dari Keanu.
"Sengaja, biar lo itu tersenyum. Senyum lo itu rasanya bikin gue candu," ujar Keanu yang terlihat lebih bersemangat hari ini.
"Ihhh," ujar Anindia yang merasa gemas dengan perkataan suaminya itu.
Tanpa sadar, Anindia pun langsung mencubit pinggang Keanu. Untung saja Keanu tidak terpengaruh dengan cubitan itu, karena akan mempengaruhi fokusnya pada jalanan di depannya.
"Hobi banget ya main cubit-cubit? Nanti aja cubit nya, jangan sekarang. Bahaya sayang," ujar Keanu yang pandangannya fokus ke depan, tapi tangan kirinya langsung menangkap pergelangan tangan Anindia.
Mendengar perkataan lembut dari Keanu, jelas saja membuat Anindia semakin merasa salah tingkah. Ia membiarkan tangannya digenggam oleh Keanu, tapi pandangannya ia alihkan ke arah kaca mobil.
Keanu melirik sekilas, ia merasa gemas dengan tingkah Anindia yang masih malu-malu seperti itu. Keanu hanya tersenyum tipis menanggapinya, tidak ingin mengganggu Anindia lagi.
Keanu pun melepaskan pegangan tangannya perlahan. Tapi sebelum ia benar-benar melepas pegangan tangannya, ia menyempatkan diri untuk mengelus lembut punggung tangan Anindia. Setelahnya ia pun kembali fokus dalam menyetir.
Beberapa menit melaju di jalanan, akhirnya mereka pun tiba di sekolahnya. Keanu pun langsung memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Ia memperhatikan sekeliling, berharap tidak ada yang memerhatikan dirinya yang pergi bersama Anindia.
Keanu tidak mempermasalahkan jika ada yang mengetahui kedekatannya dengan Anindia, ia sudah punya alasan jika ada yang menanyakan kedekatan keduanya. Namun berbeda dengan Anindia, ia tidak bisa memikirkan apa-apa jika ada temannya yang menanyakan kedekatannya dengan Keanu, si mantan badboy sekolah.
"Udah jangan khawatir, gue tau kok apa yang harus gue lakuin kalo ada yang liat kita pergi bareng." Ujar Keanu yang paham akan keheningan Anindia.
Anindia langsung menoleh ke arah Keanu, ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia benar-benar mengkhawatirkan pernikahannya. Sementara Keanu hanya tersenyum dengan anggukan singkat, seolah meyakinkan Anindia bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Sekarang ke kelas ya, duluan aja. Gue pantau dari sini," ujar Keanu kemudian.
Anindia tersenyum sedikit, merasa sedikit lega dengan kata-kata suaminya. Ia pun langsung melepas sabuk pengaman dan langsung membuka pintu.
"Nindi," panggil Keanu membuat Anindia langsung terhenti.
"Iya?" Ujar Anindia sembari menoleh ke arah Keanu, penasaran apa yang ingin dikatakan oleh Keanu.
"Semangat ya, my wife!" Ujar Keanu menyemangati.
Anindia langsung menggigit bibirnya karena menahan salting. Sejujurnya ia ingin melompat kegirangan saat ini juga, tapi mustahil untuk ia lakukan karena berada di lingkungan sekolah.
"Iya, semangat juga ya my husband," ujar Anindia kemudian sembari langsung melangkah turun keluar dari dalam mobil.
Keanu hanya bisa terkekeh kecil ketika melihat Anindia yang langsung berlari ketika mengatakan hal itu. Setelah Anindia menghilang dari pandangan, ia pun turun dari mobilnya dan langsung kembali ke setelan awal, dimana ia langsung memasang ekspresi cueknya.
Sementara itu di kelasnya, Anindia mencoba untuk terlihat seperti biasanya, berharap teman-teman dekatnya tidak menanyakan perihal wajahnya yang merona. Namun ternyata dugaannya salah, Dara, Yudhi dan Edo sudah memperhatikan rona merah di wajahnya itu.
"Wah-wah, kayaknya ada yang lagi berbunga-bunga nih," ledek Yudhi yang duduk santai di bangkunya.
"Ciee ciee Nindi, udahlah jujur aja... Siapa sih cowok yang bisa ambil hati lo?" Ujar Dara menggoda sahabatnya itu.
"Ekhem, first love nih kayaknya," ujar Edo yang juga ikut-ikutan.
"Apa sih kalian ini? Nyebelin tau gak?!" Ujar Anindia dengan nada yang pura-pura kesal.
Dara dan Yudhi langsung tertawa menanggapinya, sementara Edo seperti biasanya hanya menanggapinya dengan gelengan singkat. Saat itu, semua siswi di kelas itu langsung menoleh ke arah Keanu yang berjalan santai memasuki ruang kelas.
Sebagian dari mereka mencoba untuk menyapa bahkan menggoda Keanu, tapi Keanu sama sekali tidak merespon mereka. Dara yang berdiri di dekat Anindia pun langsung salah tingkah sendiri, ketika melihat orang yang disukainya itu memasuki ruang kelas.
"Makin ganteng aja Keanu," gumam Dara.
Anindia hanya bisa terdiam tanpa kata. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa Keanu itu adalah suaminya, tapi Anindia tidak bisa mengatakannya sekarang.
"Dar, gue juga ganteng kali. Asyik Keanu aja yang lo domba," celetuk Yudhi tiba-tiba yang masih juga memplesetkan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Itu damba kali Yudhi, bukan domba," ujar Anindia dengan gelengan kepala.
"Tau tuh si Yudhi, kangen kali sama dombanya di peternakan," ledek Dara kepada Yudhi.
Anindia hanya terkekeh menanggapinya, ia merasa selalu saja ada hiburan dari dua orang temannya itu. Sementara Keanu, ia langsung duduk diam di bangkunya tanpa kata. Tapi tatapan tajamnya langsung mengarah ke arah Anindia, seakan ingin mengawasi Anindia agar tidak terlalu dekat dengan teman laki-lakinya itu.
Tak lama kemudian, bel masuk pun berbunyi menandakan bahwa jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Semua orang di kelas itu langsung duduk di bangkunya masing-masing, tak terkecuali Anindia dan teman-temannya. Seorang guru pun memasuki kelas dan langsung memulai pembelajaran.
Suasana belajar mengajar pagi itu berjalan seperti biasanya, bedanya tidak ada lagi kerusuhan yang dibuat oleh Keanu. Keanu mendengarkan penjelasan guru, tapi matanya tidak bisa berhenti untuk melirik Anindia yang duduk di barisan tengah. Ia tersenyum sedikit, lalu mencoba untuk memfokuskan diri pada pelajaran yang sedang berlangsung.
^^^Bersambung...^^^