Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAPI DIA SUAMIKU
Baru saja Melisa hendak memejamkan mata, suara rintihan tertahan dari arah ranjang membuatnya terjaga seketika.
"Mas? Mas Rendra, ada apa?" Melisa langsung menghambur ke sisi suaminya.
Narendra memegangi kepalanya dengan kedua tangan, matanya terpejam rapat dengan dahi yang berkerut dalam. Napasnya mulai pendek-pendek, dan wajahnya yang tadi sempat memerah kini kembali pucat pasi.
"Sakit... Mel... kepalaku seperti mau pecah," rintih Narendra. Pegangannya pada tangan Melisa begitu kuat, menyalurkan rasa sakit yang luar biasa.
Bu Rini panik bukan main. "Narendra! Mel, cepat panggil dokter! Panggil perawat!"
Melisa dengan gemetar menekan tombol darurat di samping ranjang. Tak sampai satu menit, seorang perawat jaga masuk dengan terburu-buru, disusul oleh Harvey yang sepertinya memang belum meninggalkan area VIP.
Harvey langsung mengambil alih situasi. "Semua mundur! Jangan mengerumuni pasien!" perintahnya tegas.
Harvey memeriksa pupil mata Narendra dengan senter medis, lalu memeriksa monitor jantung yang mulai berbunyi nyaring karena detak jantung Narendra yang meningkat drastis akibat rasa sakit.
"Ini efek tekanan intrakranial karena trauma kepalanya. Perawat, siapkan injeksi analgesik dosis tinggi sekarang!" bentak Harvey.
Melisa berdiri mematung di sudut ruangan, air matanya mengalir deras melihat suaminya mengerang kesakitan. Di tengah kesibukan medis itu, Harvey sempat melirik ke arah Melisa. Tatapannya dingin, namun ada kilatan peringatan di sana—seolah ingin mengatakan bahwa hidup dan mati Narendra saat ini benar-benar ada di tangannya.
Setelah obat disuntikkan, rintihan Narendra perlahan mereda. Ia tampak sangat lemas dan akhirnya jatuh tertidur karena pengaruh obat bius yang kuat.
Harvey merapikan jas putihnya, lalu berjalan mendekati Melisa dan Bu Rini. "Kondisinya belum stabil. Gejala seperti ini sangat berbahaya jika terjadi lagi sebelum operasi besok pagi. Dia butuh pengawasan yang sangat ketat malam ini."
"Dokter, tolong selamatkan suami saya," isak Melisa.
Harvey menatap Melisa dalam-dalam, mengabaikan keberadaan Bu Rini di samping mereka. "Saya akan melakukan bagian saya. Tapi pastikan Anda melakukan bagian Anda. Jangan biarkan pikiran-pikiran lain mengganggu jadwal Anda sore ini. Suami Anda butuh saya dalam kondisi pikiran yang tenang untuk operasinya besok."
Melisa tahu apa maksud tersembunyi dari perkataan Harvey. Pria itu memintanya untuk tetap datang ke apartemen tepat waktu, tidak peduli betapa hancurnya perasaan Melisa meninggalkan Narendra dalam kondisi seperti ini.
Bu Rini yang melihat interaksi itu merasa ada sesuatu yang sangat janggal, namun rasa takutnya akan kondisi Narendra mengalahkan kecurigaannya. "Mel... bagaimana ini? Kamu harus kerja, tapi Narendra..."
"Pergi saja, Melisa," suara lirih Narendra terdengar, ia rupanya belum sepenuhnya terlelap. "Ibu ada di sini... Jangan sampai kamu kehilangan pekerjaanmu. Kita butuh uangnya..."
Melisa mencium tangan suaminya dengan penuh duka. Ia harus pergi ke rumah pria yang menyebabkan tekanan batin baginya, demi menyelamatkan pria yang sangat ia cintai.
Melisa tiba di depan pintu apartemen Harvey dengan perasaan hancur. Bayangan rintihan kesakitan Narendra masih terngiang jelas di telinganya. Begitu pintu terbuka otomatis, ia langsung melihat Harvey duduk santai di sofa ruang tengah sambil menyesap segelas wine merah, seolah ketegangan di rumah sakit tadi tidak pernah terjadi.
Melisa menghambur ke arahnya tanpa melepas tas atau sepatunya. "Harvey! Bagaimana keadaan Mas Rendra? Kau dokter yang menanganinya, katakan padaku jujur, apa operasinya besok akan aman? Kenapa dia kesakitan seperti itu?"
Harvey tidak langsung menjawab. Ia meletakkan gelasnya perlahan di meja marmer, lalu menoleh menatap Melisa dengan mata yang dingin dan datar. "Kau terlambat sepuluh menit, Melisa."
"Aku tidak peduli soal sepuluh menit!" teriak Melisa histeris. "Suamiku kesakitan! Dia hampir pingsan karena menahan sakit di kepalanya, dan kau malah duduk di sini membicarakan waktu?"
Harvey berdiri, langkahnya pelan namun penuh intimidasi saat ia berjalan mendekat. Ia meraih dagu Melisa, memaksa wanita itu menatap matanya yang tidak menunjukkan simpati sedikit pun.
"Dengarkan aku baik-baik," desis Harvey. "Di rumah sakit, aku adalah dokternya. Di sini, aku adalah pemilikmu. Jangan bawa urusan pasien ke dalam apartemenku."
"Tapi dia suamiku!"
"Dan dia sedang ditangani oleh tim medis terbaik karena aku yang memerintahkannya," potong Harvey tajam. "Jika kau terus bersikap emosional seperti ini, tanganku bisa saja gemetar saat memegang pisau bedah besok pagi. Kau ingin itu terjadi?"
Melisa terkesiap, tubuhnya mendadak lemas. Ancaman Harvey sangat halus namun mematikan. Pria itu menggunakan nyawa Narendra sebagai sandera untuk menundukkannya.
"Kau... kau sungguh kejam," bisik Melisa dengan air mata yang kembali mengalir.
Harvey mengusap air mata di pipi Melisa dengan ibu jarinya, namun gerakannya tidak terasa hangat. "Aku tidak kejam, aku hanya menuntut profesionalisme dari perjanjian kita. Aku sudah menyelamatkannya dari koma, sekarang giliranku yang mendapatkan perhatianmu."
Harvey menarik syal yang melilit leher Melisa, memperlihatkan kulit pucat yang tadi pagi ia tutupi dengan susah payah. "Sekarang, hapus riasan di wajahmu. Aku tidak suka melihatmu menangis karena pria lain saat bersamaku. Bersiaplah, aku ingin kau menemaniku makan malam seolah-olah beban dunia ini tidak pernah ada di bahumu."
Melisa hanya bisa mematung. Di apartemen ini, ia harus berperan sebagai pendamping yang manis bagi pria yang secara perlahan sedang membunuh jiwanya, sementara di rumah sakit, suaminya sedang bertaruh nyawa.
Malam itu, atmosfer di apartemen terasa berbeda. Tidak ada sentuhan kasar atau intimidasi fisik seperti biasanya. Harvey melepaskan cengkeramannya pada dagu Melisa, lalu melangkah menuju meja makan yang luas, duduk di sana dengan angkuh sambil melonggarkan dasinya.
"Aku sedang tidak ingin menyentuh wanita yang matanya penuh dengan bayangan pria lain," ucap Harvey datar, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu. "Pergilah ke dapur. Masakkan aku fettuccine carbonara seperti yang sering kau buatkan dulu. Tanpa instan, gunakan resep yang kau pelajari dari ibumu."
Melisa tertegun. Permintaan itu terdengar sangat sederhana, namun baginya, itu adalah bentuk siksaan psikologis yang lain. Harvey sedang mencoba membangkitkan kenangan masa lalu, masa di mana mereka masih saling mencintai dan dapur adalah tempat favorit mereka.
Dengan langkah gontai, Melisa menuju dapur. Ia mulai memotong bawang putih, merebus pasta, dan mengocok telur dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Pikirannya melayang ke kamar rumah sakit, membayangkan Narendra yang mungkin sedang terbangun dan mencari keberadaannya.
Harvey memperhatikan Melisa dari kejauhan. Ia menikmati pemandangan itu—punggung Melisa yang sibuk di dapur, persis seperti bayangan yang selalu ia dambakan selama bertahun-tahun ia pergi.
"Kau tahu, Melisa," suara Harvey terdengar dari arah ruang makan, "Narendra adalah pria yang beruntung. Dia mendapatkan cinta tulusmu, sementara aku hanya mendapatkan ragamu melalui kontrak."
Melisa menghentikan gerakannya sejenak, namun tidak menoleh. "Kau yang memilih cara ini, Harvey. Kau yang menghancurkan kenangan baik yang tersisa di antara kita."
"Aku tidak menghancurkannya. Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal," sahut Harvey dingin.
Setelah makanan siap, Melisa menyajikannya di depan Harvey. Aroma gurih pasta itu memenuhi ruangan. Harvey mulai makan dengan tenang, sementara Melisa hanya berdiri di samping meja, menanti instruksi selanjutnya seperti seorang pelayan.
"Duduk dan makanlah bersamaku," perintah Harvey. "Aku butuh kau tetap bertenaga untuk besok. Operasi Narendra akan memakan waktu berjam-jam, dan aku tidak mau kau pingsan di koridor rumah sakit dan mempermalukanku."
Melisa duduk dengan ragu. Di tengah keheningan makan malam yang mencekam itu, Harvey tiba-tiba meletakkan garpunya dan menatap Melisa dalam-dalam.
"Jika operasi besok berhasil, kau berhutang satu hal lagi padaku, Melisa. Bukan soal tubuhmu, tapi soal kejujuranmu."
***
Bersambung...