NovelToon NovelToon
Turunnya Naga Suci: Bangkit Dalam Dendam

Turunnya Naga Suci: Bangkit Dalam Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di Benua Langit Sembilan, Xiao Yuan adalah jenius tak tertandingi yang memegang Sumsum Naga Suci. Namun, di malam pernikahannya, ia dikhianati oleh tunangannya, Ling’er, yang meracuninya dan membedah tulang naganya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya. Xiao Yuan dibuang ke Jurang Keputusasaan dalam kondisi cacat.
Namun, takdir tidak berhenti. Roh Naga Kuno yang tertidur di dasar jurang menyatu dengan jiwanya yang hancur. Dengan bantuan Yun’er, gadis misterius dari klan terbuang, Xiao Yuan merangkak naik dari neraka. Kali ini, ia tidak akan menjadi pelindung dunia, melainkan Dewa Naga yang akan menghancurkan siapa pun yang pernah menginjaknya. "Jika langit menghalangi jalanku, aku akan merobek langit!".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Abu Masa Lalu, Benih Masa Depan

Salju turun tipis-tipis di Desa Teratai Putih, sebuah pemukiman tersembunyi yang terletak di lembah terdalam pegunungan es yang tak terjamah peta. Di tepi sebuah danau yang membeku, Xiao Yuan duduk diam. Rambut putihnya yang kini bersih dari noda darah melambai pelan dimainkan angin musim dingin. Di pangkuannya, terbaring sebuah pedang hitam legam yang permukaannya diselimuti lapisan es tipis yang tidak pernah mencair.

Sudah satu tahun berlalu sejak ia terbangun di desa ini tanpa ingatan tentang siapa dirinya. Kakek Gu, pria tua yang mengaku sebagai kerabat jauhnya, hanya memberitahunya bahwa ia adalah korban selamat dari sebuah perang besar yang menghancurkan seluruh keluarganya.

Namun, Xiao Yuan tidak bodoh. Ia merasakan sesuatu yang asing di dalam dadanya. Setiap kali ia menarik napas, ia merasakan ada kekuatan yang mengerikan yang sedang meringkuk tidur di dalam tulang punggungnya sesuatu yang besar, gelap, dan penuh dengan rasa lapar.

"Yuan, kau masih di sini?" Kakek Gu berjalan mendekat, membawa mantel bulu yang tebal. Wajahnya yang keriput tampak penuh kecemasan setiap kali menatap mata Xiao Yuan yang jernih namun kosong.

"Kek," Xiao Yuan menoleh. "Pedang ini... setiap malam ia berbicara padaku. Aku mendengar suara seorang gadis di dalam sana. Dia memanggil namaku, tapi suaranya terdengar sangat jauh, seolah dia terkurung di balik dinding es yang tak tertembus."

Kakek Gu terdiam, tangannya yang gemetar menyentuh bahu Xiao Yuan. "Itu hanya imajinasimu, Nak. Kau terlalu banyak berlatih sendiri di hutan."

Xiao Yuan menatap tajam ke arah pedangnya. "Tidak, Kek. Kemarin, saat aku menebang kayu di hutan dan tak sengaja melukai tanganku, setetes darahku jatuh ke hulu pedang ini. Seketika, aku melihat bayangan sebuah menara yang runtuh dan seorang wanita dengan mahkota emas yang menangis memohon ampun padaku. Siapa wanita itu, Kek? Kenapa hatiku merasa sangat puas sekaligus sangat hancur saat melihatnya?"

Kakek Gu memalingkan wajah, tak sanggup menatap mata Xiao Yuan. Ia tahu bahwa meskipun teknik reinkarnasi terbalik telah menghapus ingatan sadar Xiao Yuan, namun Sumsum Naga Suci dan ikatan jiwa dengan Yun'er tidak bisa dihapus sepenuhnya oleh kekuatan dewa mana pun.

Tiba-tiba, kedamaian desa itu pecah oleh suara derap kaki kuda yang berat. Belasan pria berseragam zirah perak mengkilap dengan lambang matahari hitam di dada mereka menyerbu masuk ke gerbang desa. Mereka adalah pasukan elit dari Aliansi Dewa Baru, faksi yang bangkit di atas puing-puing kekuasaan Xiao Tian di Alam Atas.

"Semua warga berkumpul di lapangan!" teriak pemimpin pasukan itu, seorang wanita cantik dengan rambut merah menyala dan mata yang dingin. Nama wanita itu adalah Sura, panglima perang yang dikenal kejam dalam memburu sisa-sisa "Darah Pemberontak".

Xiao Yuan berdiri perlahan. Ia merasakan denyut aneh di dahinya tempat di mana tanda Mahkota Tulang dulu berada. Rasa sakit yang tajam mulai menyerang kepalanya, namun bersamaan dengan itu, pedang hitam di tangannya mulai berdengung kencang.

"Yuan, masuk ke dalam! Jangan biarkan mereka melihatmu!" bisik Kakek Gu panik.

Namun sudah terlambat. Sura telah memacu kudanya mendekati tepi danau. Matanya yang tajam langsung terpaku pada sosok pemuda berambut putih itu. Ia mengeluarkan sebuah gulungan lukisan kuno dan membandingkannya dengan wajah Xiao Yuan.

"Rambut putih, pedang hitam tanpa pelindung tangan, dan aura yang bisa membekukan air terjun..." Sura tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung maut. "Akhirnya... setelah satu tahun mencari ke seluruh penjuru dunia rendah, aku menemukanmu, Tuan Muda Xiao Yuan."

Xiao Yuan menatap Sura dengan tenang, meskipun di dalam kepalanya ribuan kilasan memori mulai pecah seperti kaca. "Siapa kau? Dan kenapa kau mengenalku?"

"Aku adalah orang yang akan membawamu kembali ke Alam Atas untuk menerima hukuman yang tertunda," Sura melompat dari kudanya, menghunus pedang api yang sangat panas. "Kau mungkin lupa, tapi darah yang mengalir di tubuhmu adalah hutang yang harus dibayar kepada Kaisar Langit."

Sura melesat maju. Kecepatannya luar biasa, meninggalkan jejak api di atas es danau yang membeku. Kakek Gu mencoba menghalanginya, namun Sura hanya melambaikan tangan dan sebuah ledakan energi mementalkan pria tua itu hingga menghantam pohon.

"KEK!" Xiao Yuan berteriak.

Melihat Kakek Gu terluka, sesuatu yang terkunci di dalam jiwa Xiao Yuan mendadak retak. Amarah yang tidak ia kenal asalnya meluap seperti lahar gunung berapi.

SYUUUUT!

Tanpa sadar, Xiao Yuan mencabut pedang hitamnya. Saat bilah pedang itu keluar dari sarungnya, hawa dingin yang absolut meledak, memadamkan api pada pedang Sura dalam sekejap. Seluruh danau yang tadinya beku kini retak menjadi ribuan kepingan tajam yang melayang di udara.

"Ini... kekuatan ini!" Sura terbelalak. "Kau bahkan belum memulihkan ingatanmu, tapi insting bertarungmu masih di tingkat ini?!"

Xiao Yuan tidak menjawab. Matanya yang tadinya cokelat gelap kini mulai berubah warna mata kirinya berubah menjadi emas murni, sementara mata kanannya berubah menjadi biru safir yang dingin.

Cring!

Xiao Yuan menangkis serangan Sura. Setiap kali pedang mereka beradu, Xiao Yuan merasakan sebuah suara semakin jelas di telinganya.

"Yuan... ambil kekuatanku... bangunlah, Naga-ku..."

Itu suara Yun'er. Xiao Yuan merasakannya sekarang. Gadis di dalam pedang itu sedang menangis, mencoba mendobrak segel ingatan Xiao Yuan dari dalam.

"Aku... aku tidak tahu siapa aku!" Xiao Yuan meraung, ia menghantamkan pangkal pedangnya ke dada Sura, mengirim wanita itu terbang sejauh puluhan meter. "Tapi aku tahu... kau dan orang-orang sepertimu adalah alasan kenapa duniaku menjadi gelap!"

Xiao Yuan mengangkat pedangnya ke langit. Secara insting, ia merapalkan mantra yang tidak pernah ia pelajari.

"Tebasan Esensi: Pemecah Tabir!"

Sinar biru hitam yang dahsyat meluncur dari pedang Xiao Yuan, membelah langit musim dingin desa itu. Serangan itu begitu kuat hingga menghancurkan seluruh kereta logistik pasukan Sura dalam satu kedipan mata. Para prajurit Aliansi Dewa Baru gemetar; mereka merasa seolah sedang berhadapan dengan hantu dari masa lalu yang paling mengerikan.

Sura berdiri dengan susah payah, darah mengalir dari mulutnya. "Cuih! Ternyata benar, kau adalah monster. Tapi jangan senang dulu, Xiao Yuan. Jika aku bisa menemukanmu, maka 'Dia' juga bisa."

"Siapa?" desis Xiao Yuan.

"Ling’er," ucap Sura dengan tawa mengejek. "Kau pikir kau sudah menyegelnya selamanya di Menara Keputusasaan? Dia telah menjual sisa jiwanya kepada Iblis Luar Angkasa untuk bisa keluar. Dia sekarang memiliki tubuh baru, dan dia haus akan jantungmu!"

Mendengar nama 'Ling’er', kepala Xiao Yuan meledak oleh rasa sakit. Ia berlutut, memegang kepalanya yang seolah sedang dibelah oleh kapak. Bayangan malam pernikahan, rasa sakit saat sumsumnya dicabut, dan wajah ibunya yang hancur berkecamuk di dalam benaknya.

"ARGHHHHHHHHHH!"

Ledakan energi naga keluar dari tubuh Xiao Yuan, meruntuhkan sebagian bukit di samping danau. Sura dan pasukannya segera menggunakan kesempatan itu untuk mundur melalui portal darurat. "Kita pergi! Misiku hanya untuk memastikan dia masih hidup. Biarkan Ling’er yang menyelesaikannya!"

Setelah para prajurit itu pergi, kesunyian kembali mencekam. Xiao Yuan terengah-engah di atas es yang hancur. Kakek Gu merangkak mendekatinya dengan air mata mengalir.

"Maafkan aku, Yuan... aku gagal menjagamu dari takdir ini," isak Kakek Gu.

Xiao Yuan perlahan berdiri. Ingatannya belum sepenuhnya kembali, namun segel itu sudah retak parah. Ia menatap pedang hitam di tangannya yang kini memancarkan cahaya biru lembut yang hangat esensi dari Yun'er yang sedang menenangkannya.

"Kek," suara Xiao Yuan kini datar, sedalam samudra, dan setajam mata pisau. "Jangan minta maaf. Takdir ini bukan untuk dihindari, tapi untuk diselesaikan."

Xiao Yuan menatap ke arah langit, ke arah di mana Alam Atas berada. Meskipun ia belum mengingat semuanya secara detail, ia kini tahu tujuannya.

"Aku akan pergi ke tempat di mana menara itu dulu berdiri," ucap Xiao Yuan. "Aku harus membebaskan gadis di dalam pedang ini, dan aku harus memastikan bahwa pengkhianat itu benar-benar tidak akan pernah bangun lagi."

Xiao Yuan menyarungkan kembali pedangnya. Penampilannya yang dulu polos sebagai pemuda desa kini telah hilang, digantikan oleh aura seorang raja yang sedang mengumpulkan kekuatannya kembali.

Di dalam pedang, Yun’er tersenyum dalam tidurnya. Perjalanan panjang Bagian 1 telah berakhir dengan pahit, namun

Bagian 2 Bangkitnya Sang Penguasa Naga baru saja dimulai dengan api dendam yang kini bersatu dengan cinta yang abadi.

Xiao Yuan melangkah keluar dari desa, namun di jalan setapak gunung, ia dihadang oleh seorang wanita misterius yang mengenakan cadar hitam. Wanita itu membawa sebuah kotak kayu kecil yang berdenyut dengan energi kehidupan. "Tuan Muda Xiao, ingatanmu mungkin hilang, tapi hutang darahmu pada ibumu masih ada di dalam kotak ini," ucap wanita itu. Saat Xiao Yuan membuka kotak tersebut, ia menemukan 'Jantung Naga' milik ibunya yang masih berdetak. Dan di saat yang sama, di Alam Atas, seorang wanita dengan mata ungu kegelapan baru saja terbangun dari peti mati hitam di dasar reruntuhan Menara Keputusasaan. Ling’er telah kembali, namun kali ini ia bukan lagi manusia.

1
Rebeka Saja
keren ka...
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
Nur Aini
lanjut terus Thor
christian Defit Karamoy: siap kak 🙏
total 1 replies
christian Defit Karamoy
mampir yuk di cerita baru thor
perjuangan suamiku:istriku surgaku😍
christian Defit Karamoy
mantap
christian Defit Karamoy
mampir yuk di cerita baru thor
perjuangan suamiku:istriku Surgaku😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!