Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lorong sepi
Acara pertandingan berlangsung ramai dengan durasi waktu hampir dua jam.
Satu persatu penonton meninggalkan kursi penonton menuju pintu keluar. Begitu pula rombongan Pak Sam.
"Pak Sam. Saya ingin ke toilet." Pie menghampiri Pak Sam yang berjalan di depan.
"Oh? Toiletnya di sana, Pie. Kami akan menunggu di depan."
"Baik, terima kasih, Pak."
"Jangan lama-lama, Pie."
"Ya." Pie berlari kecil karena sudah tak tahan. Kim diam-diam mengikuti Pie dari belakang. Perasaannya tak enak melihat lorong yang sepi menuju toilet.
Pie mengubah langkahnya menjadi pelan, ia mengedarkan pandangannya menatap tempat tersebut yang sangat sepi berbanding dengan tempat pertandingan yang sangat ramai.
Ia sedikit takut berada di sana, tapi hajatnya harus segera di tuntaskan. Ia segera masuk dan mengunci pintu, namun begitu terkejutnya ia saat akan menurunkan celananya, Pie melihat lubang angin yang ada di bawah jebol, posisi itu sangat pas jika ia jongkok menghadap ke arah pintu.
Pie segera keluar kembali dan memastikan area tersebut sepi.
Kim datang menghampiri Pie yang terlihat gelisah.
"Pie?"
"Kim?" Pie menatap Kim yang berdiri tak jauh darinya.
"Ada apa? Kau sudah ke toilet?"
"Tidak, belum."
"Lalu? Apa yang kau lakukan? Apa ada orang di dalam?"
"Huh? Tidak. Tapi.." ucapan Pie tergantung diikuti oleh pandangan Pie menatap lubang angin yang jebol.
Kim menyadari tatapan Pie.
"Masuk saja, biar aku yang jaga di depan pintu."
Pie menatap ragu Kim.
"Percaya padaku. Sana cepat masuk, Pak Sam menunggu."
Pie berbalik kembali masuk ke toilet dan menuntaskan hajatnya. Ia melihat kaki Kim yang menutupi lubang angin di bawah dengan membelakangi pintu.
Pie selesai dengan hajatnya segera bergegas keluar.
"Sudah selesai?" Kim berbalik ketika pintu dibuka.
"Ya. Kau ingin ke toilet?"
"Tidak."
"Ayo kita ke depan." Kim berjalan di belakang Pie mengawasi sekitar.
"Ada apa?" Pie menoleh ke belakang menyadari Kim tak di sampingnya.
"Di sini sepi sekali. Rawan kejahatan."
"Ya. Aku merasa takut tadi, beruntung kau datang."
Pie menyadari sesuatu.
"Kenapa kau kemari jika tak ingin ke toilet?"
"Aku hanya menemanimu, takut kau hilang." Ucap Kim asal.
"Hei, kau pikir aku anak kecil yang mudah hilang?"
"Ya. Kau pendek."
"Ugh. Menyebalkan." Kim hanya tertawa pelan.
Mereka berencana setelah dari gedung pertandingan akan ke kolam berenang, namun hari sudah sore ketika selesai menonton.
Pak Sam pun memutuskan untuk langsung pulang saja karena takut para siswa akan pulang terlalu malam.
Rombongan Pie singgah untuk mengisi perut mereka sebelum melanjutkan perjalanan.
Pie sampai di rumah pukul 08.00 malam.
Tubuhnya sangat lelah, usai mandi ia segera merebahkan diri di tempat tidur dan tertidur.
"Pie, setelah ini langsung pulang?"
"Tidak. Aku akan ke perpustakaan lebih dulu."
"Kau ingin pinjam buku?"
Pie mengangguk.
"Buku novel Siti Nurbaya." Pie tersenyum manis.
"Kau suka baca novel?"
"Ya. Kau suka?"
"Tidak terlalu. Penuh tulisan membuatku pusing." Mereka tertawa kecil.
Saat ini sedang jam istirahat. Dan akan pulang lebih cepat untuk kelas tiga dikarenakan guru pengganti yang mengajar kelas tiga bentrok dengan rapat.
"Kau benar-benar tidak makan?"
"Kim, berat badanku naik. Aku tak mau gendut."
"Oke, baiklah."
Pie menghabiskan jus apel pesanannya, Kim sesekali melirik pacar manisnya itu.
"Boleh minta fotomu, Pie?"
Pie menatap sejenak Kim yang tersenyum.
"Untuk?"
"Untuk kupandang saat rindu."
"Kau bisa meneleponku jika rindu, nomorku akan berkarat di kontakmu, Kim."
Sontak Kim tertawa.
"Kau tahu, aku tidak suka menelepon, itu membuatku harus berpikir untuk berbicara apa."
"Apa bedanya dengan bertemu langsung? Kau bahkan selalu bertanya sesuatu jika sedang bersama."
"Beda, Sayang. Jadi, apa boleh aku memiliki fotomu?"
"Tentu."
Pie mencari foto terbaiknya dan mengirimkan ke ponsel Kim melalui bluetooth.
"Oww, cantik."
"Kau membual."
"Tidak, aku serius, kau terlihat cantik dan manis."
"Apa berbeda dengan aslinya?"
Kim menjajarkan foto Pie di pipi kekasihnya.
"Tidak, hanya saja yang aslinya kulitmu sedikit lebih gelap."
Pie mengangguk.
"Filter ponselku memang mengerikan."
"No, ini tidak terlalu berbeda, Pie."
"Ya, ya."
"Aku sudah selesai."
"Oke, ayo kita ke perpustakaan."
Pie menatap sejenak Kim yang beranjak berdiri.
"Kenapa?"
"Kau ingin ke perpustakaan juga?"
Kim mengangguk.
"Ingin pinjam buku?"
"Aku ingin menemanimu, Pie."
"Ah, begitu. Baiklah."
Mereka berjalan bersama sembari mengobrol tentang banyak hal. Pie terlihat berbeda saat berpacaran dengan Kim, gadis itu terlihat lebih ceria dan beraura positive dibandingkan dengan mantan-mantannya dulu.
"Apa kau sudah membaca sinopsisnya?"
Kim melirik novel Siti Nurbaya yang berada di tangan Pie.
Mereka sudah keluar dari perpustakaan dan menuju kelas untuk mengambil tas lalu pulang.
"Aku bahkan sudah pernah membaca sampai tamat." Pie tersenyum simpul.
"Kenapa kau ingin membacanya lagi?"
"Kau akan ketagihan jika memakan sesuatu yang kau suka dan sesuai dengan seleramu, Kim."
Laki-laki berkulit putih itu mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Tapi, kita sebentar lagi akan ujian, kau tidak belajar?"
"Tentu akan belajar. Tapi membaca novel ini sampai habis tidak sampai seharian penuh, Kim. Aku hanya perlu refresh otak."
"Astaga, kau menyegarkan otak dengan tulisan? Orang lain pasti akan pergi liburan."
"Setiap orang berbeda, Kim."
"Ya, ya."
Sekolah mengadakan acara kunjungan ke museum yang akan dilaksanakan kurang lebih satu bulan lagi. Kunjungan ini tidak mewajibkan semua siswa harus mengikuti. Pie yang sudah pernah ke museum saat liburan kelulusan saat sekolah dasar merasa ingin mengikuti kegiatan itu lagi.
"Ma, aku boleh ikut wisata ke museum?"
"Museum? Kapan?"
"Bulan depan."
"Apa itu wajib untuk ikut?"
Pie menggeleng.
"Tidak, tapi aku belum puas saat kemarin ke sana, belum banyak yang kulihat karena banyak orang."
"Mama akan katakan pada ayahmu dulu ya."
Pie mengangguk.
"Terima kasih, Ma."
Pie berjalan menuju kamarnya untuk memulai belajar.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi tanda satu pesan masuk.
Caca : "Aku ikut ke Museum. Kau bagaimana?"
Pie : "Masih menunggu keputusan Big Boss."
Caca : "Ok."
Hujan turun saat Pie baru saja menginjakkan kaki di koridor sekolah. Pagi ini masih sedikit siswa yang sudah datang ke sekolah.
"Yes, bisa dipastikan pagi ini tidak upacara."
Pie menoleh ke arah Ezti yang berdiri tak jauh darinya.
"Ez? Tumben sekali kau sudah datang?"
"Huh? Pie. Hehehe. Aku ingin mencari contekan PR Fisika."
"Ouh, begitu."
"Ya, begitu. Aku akan mencari mangsa dulu, byeee."
Ezti berlalu dengan tersenyum meninggalkan Pie yang menatap hujan sangat deras.
Sudah pukul 09.00, tapi hujan masih mengguyur namun tak sederas pagi tadi. Hanya sedikit siswa yang mau ke sekolah, tak banyak bertambah.
Pie, dengan teman sekelasnya tak lebih dari lima belas orang yang hadir hari ini.
"Pie, Ezti mengatakan padaku ada PR fisika. Apa kau sudah mengerjakannya?" Tanya Gem yang duduk di depan Pie.
"Kelas kita tidak ada PR Fisika. Hanya kelas B, Gem."
"Ouhh, syukurlah kalau begitu." Gem membalikkan tubuhnya kembali ke depan, namun tak lama ia kembali menghadap ke arah Pie.
Gadis itu mengerutkan kening menatap Gem yang menatapnya dengan heran.
"Apa?"
"Kenapa wajahmu terlihat sedih? Apa pangeran berkulit putihmu tidak sekolah?" Gem mengatakan tentang Kim.
"Ah.. Apa sangat jelas?" Pie memegang wajahnya dengan malu.
"Astaga. Bahkan di dahimu sangat jelas tertulis AKU MERINDUKAN KIM." Gem terkekeh pelan yang membuat Pie cemberut.
"Sudah sana, jangan mengangguku."
"Ya, ya. Dasar orang kasmaran." Gumam Gem berbalik ke depan.
Pie menunggu sosok Kim muncul di pintu kelasnya, ia enggan mengirimkan pesan untuk menanyakan kehadirannya hari ini. Sangat percuma, pikirnya.
Kim jika tak bersama Pie seperti hantu yang sering menghilang tanpa jejak. Laki-laki itu bagai hilang ditelan bumi.