Arumi tercenung, bimbang antara harus mengikuti permintaan seorang sekretaris pribadi dari Andara Group. Atau tetap menjadi budak seumur hidup, untuk tinggal bersama ibu dan saudara tirinya.
Memiliki kemiripan wajah dengan mendiang wanita yang amat di cintai sang pewaris tunggal Andara Group mungkin bisa menjadi sebuah keberuntungan atau mungkin petaka di kemudian hari. Sebab Pria bernama Arga Sanjaya itu menganggapnya sebagai Alicia bukanlah Arumi. Pria arogan yang belum bisa menerima kematian sang kekasih memang tidak pernah kasar padanya. Namun, ia bisa melakukan apapun demi menyingkirkan orang-orang yang berkemungkinan akan melukainya. Lantas, sampai kapan Arum akan berperan sebagai Alicia, melayani sang suami sepenuhnya. Lalu, apakah ia akan tetap selamat saat Arga mulai tersadar bahwa Arumi bukanlah Alicia-nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
siasat
Tidak terasa, waktu sudah berjalan lebih dari tiga bulan lamanya.
Hubungan antara Arum dan orang rumah memang terbilang biasa. Mama Nessie wanita yang sibuk. Sering bolak-balik luar Negeri, sehingga amat jarang untuknya bertemunya apalagi mengobrol hal basa-basi.
Sementara Kakek, walaupun sudah pensiun tapi Beliau tetap sesekali memantau kinerja cucu satu-satunya yang menjadi kesayangan. Jika tidak ada pekerjaan, kakek lebih sering menikmati hari-harinya di luar rumah. Seperti memancing, atau hanya sekedar menikmati teh di perbukitan, intinya yang lekat dengan alam. Karena Beliau memang mencintai ketenangan.
Lalu hubungannya dengan Arga? Ya, Tidak perlu ditanya. Sama saja tidak ada yang berubah. Manusia satu itu memang terkadang terlihat baik, selayaknya sang kekasih. Namun sepersekian detik kemudian menjadi pria menyebalkan yang tak bisa di duga keinginan.
Hari ini adalah jadwal mereka untuk suntik. Arum memandangi Arga dengan perasaan lain. Terlihat laki-laki itu dengan santainya menjalani serangkaian pemeriksaan demi menjalankan program penunda kehamilan.
Dia benar-benar teguh dengan pendiriannya. Tapi, mau sampai kapan? Sementara aku tidak pernah tahu kapan kontrak pernikahan yang ku jalani ini berakhir.
Wanita itu membatin, masih menatap tidak suka, dengan tangan meremas ponsel di pangkuannya. Arga sendiri yang di awasi menoleh membuat Arum buru-buru mengalihkannya dengan yang lain. Namun sejurus kemudian kembali mengawasi Arga.
Pria yang licik ini pasti sengaja menuliskan masa berlakunya, yaitu hingga dia bosan. Cih! Kenapa aku baru sadar kalau aku dibodohi. Demi nominal di bawah lima puluh juta, aku harus merelakan harga diriku sampai batas waktu yang tak di tentukan! Kalau sampai seumur hidupku bagaimana?
Arga meraih Air minum yang di ulurkan sekretaris Tomi. Kemudian menengguknya tanpa menawarkan air itu pada sang istri. Matanya melirik sekilas pada wanita yang lagi-lagi kedapatan sedang memandang kearahnya. Walaupun kemudian mengalihkan dengan kegiatan lain.
Dasar aneh... –batin Arga yang kembali tidak peduli. Arum pula menggeser lagi pandangannya pada pria itu. Menghela napas kemudian bertopang dagu.
Tuan, kapankah Anda akan bosan dengan saya? Anda tidak berniat untuk menceraikan saya ketika sudah jadi nenek-nenek, kan? Uh... amit-amit!
Mendadak Arumi merinding, entah pikiran dari mana tiba-tiba muncul kekhawatiran itu. Sehingga membuatnya blingsatan sendiri.
Tuan, bisakah hari ini saja kau bosannya. Lalu ceraikan aku. Dari pada hubungan ini membingungkan? Iya, kan? mau ya menceraikanku?
Tak sampai tiga detik saat Arum membatin. Pria itu langsung menoleh kearahnya. Yang di pandang pula jadi salah tingkah.
"Apa itu?" Tanyanya langsung bernada dingin. Jelas membuat Arum seketika terkesiap.
Dia bisa membaca pikiranku, Kah? Ku harap tidak! walaupun aku terus berusaha untuk meracuni pikiranku ini, supaya otak dapat sinkron dengan raga yang sedang bermain peran.
"Kenapa menatapku sampai seperti itu." Sambungnya. Arum pun menggeleng. "Aku melihatnya kau terus mengawasi ku. Ada yang salah, kah?"
"Tidak ada suamiku. Sungguh. Aku menatapmu karena kagum. Kau menyuruhku untuk memberikan cintaku, kan? Tentu aku sedang berusaha mengikuti saran yang ada di artikel. Salah satunya tadi, yaitu dengan cara memandangimu terus, Suamiku," jawabnya. Arga tersenyum sangat samar, bahkan sampai tak di sadari Arumi.
"Ya sudah, kasih tahu link situs artikelnya."
"Eh,untuk apa Sayang?"
"Tentunya untuk memberi hadiah jika Dia bisa membuatmu benar-benar menyerahkan apa yang ku inginkan, namun jika tidak bisa maka aku akan mentakedown-nya dari dunia maya. Jadi sekarang lakukanlah terus. Pandang wajahku setiap saat. Tanpa jeda kalau perlu."
Mendengar itu Arum tertawa aneh. Dasar gila!
"Sebegitu senangnya kah dirimu ku beri izin memandang wajahku setiap saat, Aliee?" Menyunggingkan separuh bibirnya.
"T–tidak juga sayang." Mengusap lengan Arga sembari terkekeh.
"Tidak juga?!" Arga melepaskan tangan Arum lalu meremasnya cukup kuat.
"Ah... maksudnya Tentu saja sayang. Aku sangat senang memandangmu setiap saat. Terima kasih sayang." Merebahkan kepalanya ke kanan tepat di lengan Arga. Aaaaa, lama-lama akupun turut gila jadinya.
Arga tersenyum singkat, sembari kembali fokus pada tab di tangannya.
***
Di tempat lain...
Mama Linda nampak memijat keningnya sendiri, membaca saldo dalam rekening yang ia lihat dari layar ponselnya. Nampak frustasi wanita paruh baya itu terus saja berpikir.
Bagaimana cara membayar tagihan kartu kreditnya yang sudah menunggak itu. Belum lagi pemasukan makin kesini mulai berkurang. Sementara pengeluaran semakin tak terkendali.
Linda semakin di buat stress kala bisnisnya yang mulai morat-marit. Toko yang ada pun kini sering tutup. Karena memang semenjak Arumi menikah, tak cuma satu dua kali ganti pegawai. Hingga ia memutuskan untuk tak mencari lagi setelah hampir dua Minggu, pegawai terakhir bekerja dengannya. Semuanya tidak ada yang becus, yang ada justru membuatnya merugi.
Grabaaaakkk... grubuuukkk... Terdengar keributan dari luar kamarnya.
"Iiissshhh... mereka tidak bisa lebih tenang sedikit apa?" Mama Linda semakin menekan pijatan di keningnya.
Braaakk, pintu kamar terbuka dengan kasar.
"Mama! Kakak pakai jaket denim yang akan ku berikan pada Boni. Lihat, kena noda kopi dan Dia tidak mengakuinya," rengek Maura sembari menunjukkan jaket yang ia pegang pada sang ibu.
"Apa sih?! Sukanya mengadu! Aku cuma pakai sebentar."
"Tapi ini jaket baru untuk pacarku! aku tidak mau tahu, kau harus menggantinya dengan yang baru!"
"Enak saja belikan yang baru, jaket jelek seperti itu saja kau ributkan! Lagian untuk apa kau pakai uang Mama untuk membelanjakan cecunguk itu, hah!"
"Cih, Dia bicara seolah tidak pernah membelanjakan pacarnya dengan kartu kredit yang di bayar Mama. Tidak tahu malu!" Cibir Maura tak mau kalah.
Pletaaaak, Soni memukul kepala Maura. Hingga gadis itu merengek-rengek.
"Mama–" tangisnya mendekati sang ibu.
"Mengadu saja sanaa! Mengadu! Mengadu!" Soni mendorong-dorong punggung Maura dengan kakinya. Tentu hal itu membuat Maura semakin mengeraskan suaranya.
Dan di saat yang bersamaan sang ibu pun beranjak lalu memukuli mereka berdua dengan tangan kosong. Amat brutal hingga mereka berdua berpelukan saling menjadikan tubuh saudaranya sebagai perisai dari amukan Mama.
"Aaaa... Mama, sakit!" Seru Maura yang masih berusaha menangkis tangan ringan Mamanya.
"Teruskan ... teruskan saja kalian berdua ribut! Dasar tidak berguna, tidak punya otak! Kalian HANYA BISA MENYUSAHKAN KU SAJA!!!" Tangan kecil Mama Linda konstan memukul bahu mereka secara bergantian.
"Ampun! Maaaa..." Rengek keduanya meminta ampun. Mama Linda pun menghentikan pukulannya. Mengatur nafasnya sejak sembari membenahi rambut.
"Kalian benar-benar membuatku pusing! Yang satu kuliah tidak lulus-lulus! Yang satu lagi kerjanya tidak bertahan! Sudah gitu borosnya minta ampun. Kalian benar-benar MAU MEMBUNUH MAMA DENGAN CEPAT ATAU BAGAIMANA, SIH!!!"
Keduanya menunduk dengan posisi bersimpuh. Saling sikut antar satu sama lain.
"Haaaah... kalian harus paham keuangan sedang sulit. Bahkan Mama sedang pusing, memikirkan bagaimana bisa mendapatkan modal untuk bisnis yang di Bogor. Belum lagi tagihan kartu kredit yang membengkak. Aaaaa, benar-benar!" Mama Linda menggaruk kepalanya kasar.
"Ma– kenapa tidak mencoba untuk menghubungi Arumi. Dia pasti mau membantu kita."
"Wanita itu licik, dia sekarang memutuskan hubungan dengan kita. Mentang-mentang sudah menjadi Nyonya Arga... cih!"
"Maksudnya dengan sedikit ancaman," usul Soni kemudian.
"Ancaman apa? Mama sudah tidak memiliki kartu akses untuk menyetirnya."
"Kan bisa dengan sebuah jebakan, Ma?"
"Maksudnya?"
"Jebakan perselingkuhan Arumi."
Mama Linda nampak terdiam. "Apa itu akan mudah, sekarang untuk menghubunginya saja sulit. Karena harus terhubung ke Sekretaris itu lebih dulu."
"Urusan gampang. Semuanya serahkan pada Soni, mama tinggal menanti uang dari Arumi mengalir ke rekening Mama..."
Mama linda tersenyum. Ia pun tidak sabar menanti hari esok. Berpikir jika ide Soni lumayan bagus. Sudah lama juga, dia tidak bermain kotor seperti ini.
*semua pria lain yang menyukai akan dianggap lelaki baik2 dan cinta nya dinggap tulus dan harus diperlakukan sangat lembut dan baik2
*sedangkan semua wanita lain yang menyukai sang suami akan dianggap wanita pelakor murahan, menjijikan harus diperlakukan kasar, kejam dan dibinasakan
fakta novel mu cerminan pola pikirmu bagaimana pola pikir mu akan bisa dilihat dari novel mu
sampai disini paham akan
polah pikir bodoh kayak gini akan menunjukkan betapa egoisnya nya kalian
jika ada pria lain yang menyukainya maka dia akan anggap cinta pria itu tulus, dan akan memperlakukan pria itu secara lembut dana akan menolak dan menjelaskan secara lembut
tapi saat ada wanita lain yang menyukai suami otomatis wanita itu adalah wanita murahan, menjijikan pelakor, harus diperlakukan kasar dan harus dibinasakan
dengan pola pikir ini kalian berkarya novel maka jadi novel kayak gini yang begitu lembut memperlakukan pebinor
miris
klu di hati tuan muda cuma Alicia 🥺