Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...
Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?
Baca ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.Janji di Atas Trotoar
Sebelum jeritan itu bergema di kamar hotel melati, sebelum ulat-ulat itu merobek kulit Bimo, semuanya dimulai dari sebuah hal yang sangat sederhana: harapan
----------------------------
Jakarta belum benar-benar bangun ketika Ratih sudah harus bergulat dengan tumpukan kain kotor. Di sebuah gang sempit kawasan padat penduduk, uap panas dari rebusan air di panci besar mengepul, memenuhi ruangan kontrakannya yang pengap. Suara sikat yang beradu dengan papan kayu menjadi melodi pembuka harinya, setiap hari, tanpa jeda.
Ratih adalah definisi dari ketabahan yang dipaksa keadaan. Tangannya yang dulu halus, kini berubah menjadi kasar, kemerahan, dan seringkali pecah-pecah akibat terpapar deterjen murahan selama berjam-jam. Baginya, setiap helai pakaian yang ia cuci bukan sekadar kain, melainkan koin-koin harapan untuk masa depan yang lebih baik.
"Nduk, jangan terlalu dipaksakan. Istirahat dulu, sarapan," suara ibunya di telepon seringkali terngiang, membuat matanya berkaca-kaca. Namun, Ratih segera menyeka air mata itu dengan lengan bajunya yang basah. Ia harus kuat. Ia punya mimpi. Dan mimpi itu bernama Bimo.
Kehidupan Ratih di kota adalah sebuah siklus kelelahan yang tak berujung. Setelah selesai dengan urusan cuci-setrika di sore hari, ia hanya punya waktu satu jam untuk memejamkan mata sebelum harus berangkat ke sebuah warung tenda pecel lele di pinggir jalan protokol.
Di sana, ia bertransformasi menjadi pelayan yang gesit. Di tengah kepulan asap bakaran ayam dan aroma sambal yang menyengat, Ratih berlarian mengantar pesanan, mencuci piring-piring berminyak, dan menghadapi berbagai macam tabiat pembeli.
"Ratih! Meja nomor empat tambah nasi satu!" teriak pemilik warung.
"Iya, Cak!" sahutnya cepat.
Keringat bercucuran di pelipisnya, daster batiknya sudah lembap oleh uap panas, namun senyumnya tetap terjaga. Mengapa? Karena setiap malam, tepat pukul jam 1 malam, seorang pria dengan motor matic mengkilap akan menepi di depan warung itu.
Bimo.
Pria itu akan turun dengan kemeja kantor yang masih rapi, meski dasinya sudah sedikit dilonggarkan. Di mata Ratih, Bimo adalah sosok pangeran yang turun ke bumi yang kotor ini hanya untuk menjemputnya.
"Capek ya, Sayang?" tanya Bimo lembut suatu malam, sambil menyodorkan sebotol air mineral dingin kepada Ratih yang baru saja selesai membereskan meja.
Ratih menyeka keringatnya dengan handuk kecil di leher. "Sedikit, Mas. Tapi lihat Mas datang, capeknya hilang."
Bimo terkekeh, tangannya mengacak rambut Ratih yang sedikit acak-acakan. "Sabar ya. Aku nggak akan biarkan kamu begini selamanya. Aku lagi urus proyek besar di kantor. Kalau tembus, kita langsung cari tanggal baik."
Dialog-dialog manis seperti itu adalah bahan bakar Ratih. Ia merasa dicintai, dihargai, dan yang paling penting: ia merasa memiliki tujuan.
Awal mula cinta mereka terajut adalah sebuah memori yang Ratih simpan rapat-rapat di hatinya. Itu terjadi setahun yang lalu, saat Ratih baru saja ditipu oleh salah satu pelanggan cuciannya yang kabur tanpa membayar borongan tiga bulan. Ratih duduk menangis di trotoar, merasa dunia begitu kejam pada orang miskin seperti dirinya.
Bimo, yang saat itu kebetulan lewat untuk membeli rokok, berhenti. Ia tidak hanya menawarkan tisu, tapi juga mendengarkan tangisan Ratih selama satu jam penuh.
"Dunia memang keras, Ratih. Tapi kamu nggak sendirian sekarang. Ada aku," kata Bimo saat itu, sambil menatap mata Ratih dengan dalam.
Sejak saat itu, Bimo menjadi sosok penyelamat. Ia mulai sering membawakan makanan, membantu Ratih menghitung uang tabungan, dan memberikan saran-saran tentang kehidupan kota yang keras. Bimo menceritakan betapa ia juga berjuang dari bawah di kantor pemasarannya, membangun empati palsu yang membuat Ratih merasa mereka adalah dua jiwa yang sedang berjuang bersama.
"Ratih," puji Bimo suatu kali saat mereka makan malam sederhana di pinggir jalan. "Aku kagum sama kamu. Kamu kerja dari subuh sampai tengah malam tanpa mengeluh. Kamu itu wanita paling tulus yang pernah aku temui."
"Aku cuma mau bantu Ibu di desa, Mas. Dan... aku mau kita punya modal buat nanti," jawab Ratih malu-malu.
Bimo menggenggam tangan Ratih. Tangan yang kasar dan berbau sabun itu ia cium dengan penuh khidmat, seolah-olah itu adalah tangan seorang putri raja. "Aku janji. Uang yang kamu kumpulkan, uang yang aku kumpulkan, akan jadi pondasi rumah kita. Aku akan simpan di rekeningku supaya aman dari potongan, ya? Aku mau bunganya maksimal buat kita."
Ratih, yang tidak pernah memiliki rekening bank dan buta akan dunia keuangan, hanya mengangguk patuh. Baginya, kata-kata Bimo adalah kebenaran mutlak.
Bulan demi bulan berlalu. Rutinitas Ratih semakin berat karena ia ingin mengejar target tabungan yang ditetapkan Bimo. Jika biasanya ia mencuci untuk lima keluarga, kini ia menambahnya menjadi delapan. Di warung tenda, ia seringkali pulang lebih lambat untuk membantu membereskan peralatan demi mendapatkan bonus dari pemilik warung.
"Mas Bimo, ini ada tambahan dua ratus ribu dari bonus lemburku minggu ini," kata Ratih dengan wajah cerah, menyerahkan uang itu di sebuah taman kota yang sepi.
Bimo menerima uang itu, memasukkannya ke dalam dompet kulitnya yang tampak mahal. "Makasih, Sayang. Kamu memang luar biasa. Tadi aku juga sudah cek, tabungan kita hampir menyentuh angka Lima belas juta. Semoga, kita bisa DP rumah di pinggir kota."
Ratih tersenyum lebar. Ia membayangkan sebuah rumah kecil dengan teras yang penuh bunga, di mana ia tidak perlu lagi menyentuh deterjen yang menyiksa kulitnya. Ia membayangkan dirinya bangun siang hari, menyiapkan sarapan untuk Bimo, dan hidup dengan tenang.
Namun, di balik senyumnya yang manis, Bimo adalah serigala dalam selimut. Setiap kali Ratih menyerahkan uangnya, Bimo tidak membawanya ke bank. Uang itu mengalir ke tempat-tempat yang tak pernah dibayangkan Ratih.
Saat Ratih makan nasi dengan garam di kontrakannya demi menghemat, Bimo sedang duduk di sebuah cafe mewah, memesan steak mahal untuk wanita lain yang ia temui di aplikasi kencan. Saat Ratih memeras kain hingga jemarinya kaku, Bimo sedang membayar tagihan minuman keras untuk teman-temannya agar ia dianggap sebagai "bos besar".
"Bimo, kemejamu itu kok kelihatan baru? Mahal ya?" tanya Ratih suatu kali saat melihat Bimo memakai kemeja branded.
Bimo dengan cepat berkelit, "Oh, ini? Ini dikasih bos kantor, Ratih. Katanya hadiah karena kinerjaku bagus. Kamu jangan khawatir, aku nggak akan pakai uang kita buat beli ginian."
Ratih percaya. Ia selalu percaya. Bahkan ketika Bimo mulai jarang menjemputnya dengan alasan "rapat mendadak", Ratih tetap memberikan pembelaan di dalam hatinya. Mas Bimo sedang berjuang untuk kita, pikirnya.
Puncak dari "janji" itu adalah ketika Bimo membawa sebuah brosur perumahan yang tampak sangat mewah bagi Ratih.
"Lihat ini, Ratih. Ini tipe yang mau aku ambil buat kita. Ada dua kamar, satu buat kita, satu buat anak kita nanti. Kamu suka?" tanya Bimo sambil merangkul bahu Ratih.
Ratih menatap gambar rumah itu dengan mata berkaca-kaca. "Bagus banget, Mas. Tapi... apa uang kita cukup?"
"Makanya, Sayang, kita harus lebih kencang lagi. Kamu bisa kan ambil borongan cuci di kompleks baru itu? Katanya di sana orangnya kaya-kaya, bayarannya mahal," hasut Bimo dengan halus.
Tanpa pikir panjang, Ratih setuju. Ia menambah jam kerjanya. Tidurnya hanya tiga jam sehari. Tubuhnya semakin kurus, matanya cekung, namun semangatnya tak pernah padam. Ia merasa setiap tetes keringatnya adalah batu bata untuk rumah impian mereka.
Ia tidak pernah menyadari bahwa setiap rupiah yang ia kumpulkan hanyalah bahan bakar bagi pengkhianatan yang sedang disusun rapi oleh Bimo. Ia tidak tahu bahwa pria yang ia cintai itu sudah merencanakan untuk meninggalkannya begitu tabungan itu benar-benar habis, dan mencari wanita lain yang "lebih berkelas" untuk mendampingi gaya hidup palsunya.
Ratih hidup dalam gelembung kebahagiaan yang dibangun di atas kebohongan. Ia terus mencuci, terus melayani di warung tenda, dan terus memuja Bimo, tanpa tahu bahwa di balik janji manis itu, sebuah badai besar sedang bersiap menghantam dan mengubahnya menjadi sosok yang paling mengerikan bagi Bimo.