Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
"AKU BALIKKK!"
Teriakan melengking itu membelah keheningan rumah bergaya minimalis tersebut. Araluna masuk dengan semangat membara, seolah baru saja memenangkan lotre, padahal ia hanya pulang bersama Arsen.
Arsen yang berjalan di belakangnya langsung refleks menutup kedua telinga dengan telapak tangan. Wajahnya menunjukkan ekspresi tertekan yang sudah menjadi makanan sehari-hari. "Bisa nggak sih sehari aja lo nggak teriak? Ini rumah, Cil, bukan hutan belantara!"
Araluna hanya nyengir tanpa dosa. Ia menoleh sekilas, memberikan kedipan mata yang membuat Arsen bergidik, lalu berlari naik ke lantai atas menuju kamarnya. Namun, tidak sampai satu menit, pintu kamar itu kembali terbuka. Luna muncul dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin—akting yang sudah ia asah di depan cermin selama berjam-jam.
"Kak Arsen..." panggilnya dengan suara kecil yang sengaja dibuat serak.
Arsen yang baru saja hendak merebahkan diri di sofa ruang tengah menghela napas panjang. Ia menatap langit-langit rumah, berdoa meminta kesabaran ekstra. "Apa lagi, Araluna? Gue capek, mau napas bentar."
Luna menuruni tangga dengan langkah gulai. "Kak, pinjem charger lo dong, punya gue tiba-tiba rusak. Eh, terus... lampu kamar gue juga kayaknya mati deh. Gelap banget di dalem, gue takut."
Arsen mengerutkan kening. "Rusak? Perasaan tadi pagi masih terang benderang pas Bunda bangunin lo."
"Ya namanya juga barang elektronik, Kak. Mana ada yang tahu kapan dia mau pensiun," sahut Luna cepat. "Tolong cek dong, ya? Ya? Ya? Masa lo tega biarin adek tiri lo yang cantik ini kegelapan?"
Arsen mendengus kesal, tapi tetap bangkit dari sofa. Itulah Arsen—meski mulutnya tajam dan hobi menjahili, ia tidak pernah bisa benar-benar mengabaikan permintaan Luna. "Ck, manja banget sih lo. Minggir!"
Arsen melangkah masuk ke kamar Luna yang bernuansa pastel. Benar saja, ruangan itu gelap gulita. Luna mengekor di belakangnya, nyaris menempel pada punggung Arsen. Ia menghirup aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau matahari dari jaket kulit Arsen. Baginya, itu adalah aroma paling memabukkan di dunia.
Arsen mencoba menekan saklar lampu berkali-kali. Nihil. "Beneran mati. Tumben banget bohlamnya putus barengan sama charger lo."
Arsen tidak tahu bahwa di bawah meja belajar, kabel charger itu sudah digunting sedikit oleh Luna, dan lampu kamarnya sengaja ia longgarkan dudukannya sampai tidak menyentuh arus listrik. Semua demi sepuluh menit waktu berdua di dalam kegelapan.
"Mungkin karena mereka tahu kalau kakaknya jago benerin apa aja," gumam Luna sambil tersenyum lebar di balik kegelapan.
Arsen mengeluarkan ponselnya, menyalakan fitur senter, lalu naik ke atas kursi belajar Luna untuk mengecek posisi lampu. "Siniin senternya, arahin ke atas," perintah Arsen.
Luna menerima ponsel Arsen. Bukannya mengarahkan cahaya ke lampu, ia malah mengarahkan cahaya itu tepat ke wajah Arsen. Cahaya putih itu menyoroti rahang tegas Arsen, bibirnya yang tipis, dan matanya yang fokus bekerja.
"Luna! Gue bilang ke atas, bukan ke muka gue!" bentak Arsen sambil menyipitkan mata karena silau.
"Eh, maaf, Kak. Habisnya dari sini lo kelihatan lebih menarik daripada lampu yang mati itu," sahut Luna tanpa malu. Jiwa cegilnya sedang meroket.
Arsen terdiam sejenak. Ia menunduk, menatap Luna yang berdiri di bawahnya. Jarak mereka hanya terpaut beberapa puluh sentimeter. Dalam keremangan yang hanya dibantu cahaya senter ponsel, suasana mendadak berubah menjadi aneh. Tensi di antara mereka menegang.
"Lo... beneran sengaja ya?" tanya Arsen dengan suara rendah, lebih dalam dari biasanya.
Jantung Luna berdegup kencang. "Sengaja apa? Sengaja sayang sama lo?"
Arsen mendengus, mencoba mengalihkan rasa canggung yang tiba-tiba menyerang. Ia meraih bohlam itu, memutarnya sedikit, dan—klik—lampu kembali menyala terang benderang. Arsen sengaja melonggarkannya tadi, dan sekarang ia tahu Luna hanya mencari alasan.
"Lampu lo nggak putus. Cuma longgar," ucap Arsen sambil melompat turun dari kursi. Ia menatap Luna dengan tatapan mengintimidasi namun jahil. "Lain kali kalau mau caper, cari cara yang lebih pinteran dikit, Bocil."
Luna yang ketahuan bukannya malu, malah makin menjadi. Ia justru merampas ponsel Arsen yang masih ada di tangannya.
"Oke, ketahuan. Terus kenapa? Lo seneng kan dapet perhatian dari gue?" tantang Luna. Ia memajukan langkah, membuat Arsen terpaksa mundur hingga punggungnya menabrak pintu kamar yang tertutup.
Luna mengunci pergerakan Arsen dengan meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Arsen, bersandar pada pintu. "Jangan panggil gue Bocil lagi kalau lo sendiri deg-degan pas gue deketin begini."
Arsen tertawa remeh, meski telinganya mulai memerah—tanda yang selalu Luna kenali saat kakaknya itu mulai merasa terpojok. Arsen menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Luna, membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Luna meremang.
"Lo itu emang cegil, Lun. Tapi inget, gue kakak lo. Dan kakak lo ini... punya batas kesabaran yang tipis banget."
Arsen kemudian menarik hidung Luna dengan keras sampai gadis itu memekik kesal, lalu ia membuka pintu dan keluar begitu saja sambil tertawa puas. "Cepat ganti baju! Bunda bentar lagi pulang, jangan sampai dia liat muka miring lo itu!"
Luna mengusap hidungnya yang memerah. Ia menatap punggung Arsen yang menjauh dengan senyum kemenangan. "Batas kesabaran tipis ya? Kita liat seberapa tipis pas gue beneran jadi satu-satunya cewek di hidup lo, Arsen Sergio!"