Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Reruntuhan Masa Lalu
# NEGERI TANPA HARAPAN
## BAB 1: RERUNTUHAN MASA LALU
Asap masih mengepul tipis dari sisa-sisa kayu yang hangus. Arjuna berdiri di tengah jalan tanah yang dulu ia kenal dengan mata tertutup, sekarang hanya hamparan abu dan puing. Kakinya gemetar, bukan karena lelah setelah perjalanan tiga hari dari kota, tapi karena... karena ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin nyata.
"Ayah?" suaranya serak, hampir berbisik. Tenggorokannya seperti dicengkeram. "Ayah, di mana kau?"
Angin membawa bau anyir yang membuat perutnya mual. Bau daging terbakar bercampur kayu lapuk dan sesuatu yang lebih manis, lebih mengerikan. Ia pernah mencium bau ini sekali, waktu tetangga sebelah rumahnya kebakar. Tapi ini... ini puluhan kali lebih kuat. Ratusan kali.
Rumahnya dulu ada di ujung jalan, yang paling dekat dengan sungai. Ayahnya bilang itu lokasi terbaik. Sejuk, airnya jernih, dan kalau pagi-pagi bisa lihat kabut tipis di atas air. Arjuna ingat ia sering duduk di teras sambil baca buku pemberian ayahnya, dengerin suara air mengalir pelan.
Sekarang rumah itu... rumah itu tinggal pondasi batu yang menghitam dan satu tiang kayu yang masih berdiri miring, seperti tulang rusuk yang mencuat dari mayat.
"Tidak, tidak, tidak..." Arjuna jatuh berlutut. Tangannya meraba-raba abu di tanah. Masih hangat. Masih sialan hangat. "Ayah pasti... pasti pergi kan? Pasti... pasti sempat lari..."
Tapi ia tahu. Entah bagaimana ia tahu. Ayahnya tidak akan pernah lari meninggalkan desanya. Hendrawan Surya bukan tipe orang yang kabur saat bahaya datang. Justru itu yang selalu bikin Arjuna takut. Ayahnya terlalu... terlalu benar. Terlalu idealis. Terlalu bodoh.
Arjuna bangkit, limbung. Kakinya membawanya ke reruntuhan rumahnya sendiri. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pisau. Ia lewati rumah Pak Darno yang dulu selalu ngasih ia mangga. Hangus. Rumah Bu Siti yang suka masakin ia soto kalau ayahnya lagi pergi. Rata dengan tanah. Rumah Beni, sahabatnya waktu kecil yang jago panjat pohon. Tinggal cerobong asap yang meleleh.
Semua orang... semua orang yang ia kenal sejak lahir...
"AYAAAAH!" teriaknya, suaranya pecah jadi raung. "AYAH, JAWAB AKU!"
Hanya angin yang menjawab. Angin yang bawa abu ke mukanya sampai ia tersedak, batuk-batuk sambil berlutut lagi. Matanya perih. Bukan cuma karena abu. Air matanya mengalir begitu saja, tanpa izin, tanpa bisa ia tahan.
Ia pernah pergi tiga bulan. Cuma tiga bulan ke kota buat cari kerja. Ayahnya yang nyuruh. "Arjun, kau harus lihat dunia di luar desa ini. Jangan seperti ayah yang terjebak di sini sampai tua." Tapi nada ayahnya waktu itu... ada sesuatu. Sesuatu yang tidak biasa. Seperti orang yang lagi pamit untuk terakhir kali tapi tidak mau ngasih tahu.
Arjuna harusnya sadar. Harusnya ia bertanya lebih banyak. Harusnya...
"Kenapa aku pergi..." gumamnya, tangannya mencakar tanah. Kuku-kukunya hitam penuh abu. "Kenapa... kenapa aku bodoh sangat..."
Ia merangkak ke arah pondasi rumahnya. Di sana, di bawah tangga yang biasa ayahnya duduki sambil ngopi, ada ruang kecil yang ayahnya selalu kunci. Arjuna tidak pernah tahu isinya. Ayahnya cuma bilang, "Kalau suatu hari nanti ayah tidak ada, kau cari di bawah tangga. Ada sesuatu untuk kamu."
Waktu itu Arjuna cuma ketawa. "Ayah bicara apa sih? Kayak mau mati aja."
Ayahnya tidak ketawa. Cuma tersenyum sedih, terus elus kepala Arjuna pelan. "Hidup itu tidak bisa ditebak, Nak. Ayah cuma mau pastiin kau... kau punya jawaban nanti."
Jawaban untuk apa?
Arjuna menggali abu dan puing dengan tangan kosong. Tangannya tergores batu tajam, darah mengalir pelan tapi ia tidak peduli. Ia terus gali, terus gali sampai...
Sampai tangannya menyentuh sesuatu yang dingin. Logam.
Kotak besi kecil. Berkarat di beberapa bagian tapi masih utuh. Ada gembok kecil yang sudah meleleh sebagian karena panas, tapi pas Arjuna tarik, gemboknya copot begitu saja.
Tangannya gemetar saat ia buka kotak itu. Di dalamnya, ada sebuah amplop cokelat tebal yang entah bagaimana tidak hangus sama sekali. Di sampulnya, ditulis dengan tulisan tangan ayahnya yang rapi:
**Untuk Arjuna. Buka saat ayah sudah tiada.**
Dada Arjuna sesak. Sesak sekali sampai ia tidak bisa napas. Ia sobek amplop itu, tangannya gemetar begitu kuat sampai kertas dalamnya hampir ikut robek. Ada beberapa lembar, ditulis tangan, dan sebuah foto lama yang sudah menguning.
Ia baca baris pertama surat itu. Suara ayahnya terngiang di kepalanya, seolah ayahnya lagi baca surat ini untuknya.
*Arjuna, anakku yang pemberani.*
*Kalau kau membaca ini, berarti ayah sudah pergi. Maafkan ayah yang tidak bisa pamit dengan benar. Maafkan ayah yang harus berbohong padamu tentang banyak hal.*
*Ayah bukan aktivis biasa seperti yang kau kira. Ayah... ayah dulunya bekerja untuk orang yang sangat jahat. Orang yang sekarang mungkin sudah menghancurkan desa kita. Namanya... namanya Kaisar Kelam.*
Arjuna berhenti. Tangannya gemetar begitu kuat sampai kertas itu berbunyi. Kaisar Kelam. Nama itu asing tapi entah kenapa bikin bulu kuduknya berdiri.
Ia lanjutkan membaca, air matanya membasahi kertas.
*Kaisar Kelam adalah julukan untuk Adrian Mahendra, pemilik Axion Corporation. Orang terkaya ketiga di negeri ini. Tapi di balik wajahnya yang tampan dan dermawan itu, ia adalah monster. Ia menjalankan perdagangan manusia, senjata ilegal, narkoba, dan hal-hal yang lebih mengerikan dari yang bisa ayah ceritakan.*
*Ayah dulunya adalah temannya. Rekan bisnisnya. Ayah ikut membangun kekaisarannya yang kotor itu. Tapi sepuluh tahun lalu, ayah sadar. Ayah melihat anak-anak dijual seperti barang. Ayah melihat desa-desa dihancurkan untuk tambang ilegal. Ayah... ayah tidak bisa lagi.*
*Jadi ayah kabur. Ayah mengkhianatinya. Ayah bawa dokumen-dokumen penting dan sembunyi di desa ini. Ayah kira... ayah kira ia tidak akan menemukanku. Tapi ayah salah.*
*Arjuna, kalau kau membaca ini, jangan cari balas dendam. Jangan dekati Adrian. Ia terlalu kuat. Terlalu berbahaya. Pergilah jauh. Lupakan desa ini. Lupakan ayah. Hidup bahagia di tempat yang aman.*
*Tapi kalau kau tetap keras kepala seperti ayahmu... kalau kau tetap ingin mencari kebenaran... ada flashdisk di kotak ini. Di dalamnya ada sebagian kecil bukti kejahatan Adrian. Gunakan dengan hati-hati. Percayakan hanya pada orang yang benar-benar bisa kau percaya.*
*Maafkan ayah, Arjuna. Maafkan ayah yang membawamu ke dunia yang kejam ini. Maafkan ayah yang tidak bisa melindungimu sampai akhir.*
*Ayah mencintaimu. Lebih dari apapun di dunia ini.*
*Hendrawan Surya*
Surat itu jatuh dari tangan Arjuna. Ia meraung. Raung yang keluar dari dalam dadanya, dari tempat paling dalam yang tidak pernah ia tahu ada. Raung yang bukan lagi suara manusia tapi suara binatang yang terluka, yang kehilangan segalanya, yang tidak tahu harus bagaimana lagi.
"AYAH... AYAH BODOH... KENAPA... KENAPA KAU TIDAK BILANG..." Ia memukul tanah, memukul terus sampai tangannya berdarah. "KENAPA KAU SURUH AKU PERGI... KENAPA KAU TIDAK AJAK AKU LARI BERSAMA..."
Ia tahu kenapa. Ayahnya mau ia aman. Ayahnya mau ia jauh-jauh dari bahaya. Tapi sekarang... sekarang ia sendirian. Semua orang yang ia kenal, semua orang yang ia sayangi, semua kenangan indahnya...
Hangus. Semua hangus.
Arjuna mengambil foto yang ada di amplop. Foto lama yang entah kapan diambil. Di foto itu, ada ayahnya yang masih muda, mungkin baru dua puluhan. Di sebelahnya berdiri seorang pria tampan berjas mahal, senyumnya lebar, tangan merangkul bahu ayahnya. Mereka berdua ketawa ke kamera.
Di belakang foto, ada tulisan: *Aku dan Adrian, 1999. Sebelum semuanya hancur.*
Adrian Mahendra. Kaisar Kelam.
Arjuna menatap wajah pria itu. Wajah yang tampan. Wajah yang... yang terlihat seperti orang baik. Seperti orang yang tidak mungkin membunuh ratusan orang tidak bersalah.
Tapi ia membunuh. Ia membakar desa ini. Ia membunuh ayahnya. Ia...
"Aku akan membunuhmu." Suara Arjuna serak, tapi ada sesuatu di dalamnya yang dingin. Dingin dan keras seperti batu. "Aku bersumpah... aku akan mencari kau. Aku akan bongkar semua yang kau lakukan. Dan aku... aku akan membuat kau merasakan sakit yang sama seperti yang kau berikan pada mereka."
Ia mengambil flashdisk kecil dari kotak itu. Merah, mungil, terlihat tidak penting. Tapi di dalamnya... di dalamnya mungkin ada jawaban. Mungkin ada jalan untuk menghancurkan monster bernama Adrian Mahendra.
Arjuna berdiri. Kakinya masih gemetar tapi ia paksa dirinya untuk tegak. Ia menatap sisa-sisa desanya untuk terakhir kali. Ia tatap setiap reruntuhan, setiap rumah yang dulunya penuh tawa.
"Aku janji..." bisiknya, suaranya terbawa angin. "Aku janji akan bawa kalian keadilan. Aku janji..."
Tapi janjinya terasa kosong. Karena keadilan tidak akan bawa mereka kembali. Tidak akan bawa ayahnya kembali. Tidak akan bawa apapun kembali.
Yang tersisa cuma... cuma marah. Marah yang membakar di dadanya, lebih panas dari api yang menghanguskan desanya.
Arjuna berbalik, mulai berjalan keluar dari desa. Setiap langkahnya meninggalkan jejak di abu. Jejak yang perlahan tertiup angin, hilang, seolah ia tidak pernah ada di sana.
Seolah Desa Harapan Baru tidak pernah ada sama sekali.
Tapi di genggamannya, flashdisk merah itu terasa berat. Lebih berat dari batu. Lebih berat dari dunia.
Dan di hatinya, nama itu terus bergema.
*Kaisar Kelam. Adrian Mahendra. Kaisar Kelam. Adrian Mahendra.*
Nama yang akan ia buru sampai napas terakhirnya.
Atau sampai salah satu dari mereka mati.
***
Arjuna tidak tahu. Tidak tahu bahwa di kejauhan, dari atas bukit yang menghadap desa, ada seseorang yang mengawasinya lewat teropong. Seseorang yang tersenyum tipis melihat pemuda itu berjalan keluar dari reruntuhan.
"Dia hidup," gumam orang itu pelan. "Anak Hendrawan... masih hidup."
Orang itu menurunkan teropong, memasukkannya ke dalam tas. Lalu berbalik, menghilang di balik pepohonan.
Meninggalkan Arjuna sendirian dengan dendam dan kesedihannya.
Sendirian di negeri yang sudah lama tidak punya harapan.