NovelToon NovelToon
Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Balas Dendam
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Liontin Perak dan Benang Merah

Alana menatap layar ponselnya dengan perasaan yang sulit digambarkan. Baru saja mau bernapas lega, kenapa muncul lagi teka-teki baru? pikirnya kesal. Ia melirik Arkan yang sedang duduk di tepi ambulans. Petugas medis sedang sibuk membersihkan luka sobek di lengan pria itu.

Di leher Arkan, di balik kerah kemeja putihnya yang compang-camping, memang tampak seuntai rantai perak tipis. Selama ini Alana mengira itu hanya kalung biasa, atau mungkin jimat keberuntungan orang kaya. Namun, komentar anonim di TikTok-nya membuat kalung itu terasa seperti bom waktu yang baru saja diaktifkan.

"Lana? Kamu kenapa melamun? Masih syok?" Arkan bertanya, suaranya terdengar lembut namun tetap berwibawa.

Alana mendekat, ia duduk di samping Arkan, membiarkan petugas medis menempelkan plester di pipinya yang tergores. "Mas... kalung itu. Boleh saya lihat?"

Arkan tampak sedikit terkejut. Refleks, tangannya menyentuh liontin yang tersembunyi di balik kemejanya. "Ini? Ini hanya peninggalan lama, Lana. Kenapa tiba-tiba tertarik?"

"Nggak tahu, Mas. Feeling aku aja nggak enak. Kata orang, kalau benda disembunyiin terus di balik baju, isinya kalau nggak harta karun ya rahasia gelap," sahut Alana mencoba tetap bergaya "julid" meski hatinya was-was.

Arkan terdiam sejenak. Ia menatap mata Alana, seolah mencoba mencari tahu apakah istrinya itu sudah tahu sesuatu. Akhirnya, dengan gerakan pelan, Arkan melepas kalung itu dan meletakkannya di telapak tangan Alana.

Liontin itu berbentuk bulat lonjong dengan ukiran bunga lily yang sangat detail. Alana membukanya dengan kuku jempolnya. Di dalamnya bukan foto Arkan kecil atau foto ibunya. Melainkan sebuah foto bayi mungil yang sedang didekap oleh seorang wanita... yang wajahnya sangat ia kenali.

"Ini... ini kan Ibu Panti tempat aku dibesarin?" suara Alana bergetar. "Kenapa Mas simpan foto ini?"

Arkan menghela napas panjang, ia memberi isyarat agar petugas medis menjauh sebentar. "Lana, saya harus jujur. Alasan kenapa saya memilihmu sejak awal bukan cuma karena kamu yatim piatu yang berani. Tapi karena ibu saya, sebelum meninggal, pernah berpesan untuk mencari anak dari sahabat terbaiknya yang hilang saat kerusuhan bertahun-tahun lalu."

"Sahabat terbaik?"

"Ibu kamu, Lana. Dia bukan orang biasa. Dia adalah pengacara keluarga Arkananta yang tahu semua rahasia kotor kakek saya. Dia menghilang setelah memberikan dokumen penting kepada ibu saya, dan dia menitipkan bayinya—yaitu kamu—kepada Ibu Panti itu sebelum ia... tewas dalam kecelakaan yang disengaja."

Alana merasa kepalanya berputar. "Jadi... aku ini anak orang dalam? Dan Mas cari aku bukan buat nolong aku, tapi buat nyari dokumen itu?"

"Awalnya, iya," Arkan menunduk, tidak berani menatap mata Alana. "Saya pikir dokumen itu ada bersamamu. Tapi seiring berjalannya waktu, saya sadar kalau kamu jauh lebih berharga daripada dokumen apa pun. Itulah kenapa saya tidak pernah memberitahumu. Saya takut kamu akan berpikir kalau cinta saya ini palsu."

Alana tertawa pedih, ia mengembalikan liontin itu ke tangan Arkan. "Mas Arkan, Mas Arkan. Mas beneran raja manipulasi ya. Semuanya direncanain, semuanya ada tujuannya. Terus sekarang apa? Mas sudah dapet dokumennya?"

"Belum. Dan saya tidak peduli lagi. Biarlah dokumen itu hilang bersama sejarah," Arkan mencoba meraih tangan Alana, tapi Alana menjauh.

"Dokumen itu nggak hilang, Mas." Alana merogoh saku hoodie-nya yang kotor. Ia mengeluarkan kunci Phoenix yang kemarin ia ambil dari kamar rahasia Arkan. "Mas ingat kunci ini? Kemarin Mas bilang ini kunci buat pintu rahasia di apartemen. Tapi Mas nggak tahu kan, kalau di dalam gantungan kunci ini ada chip kecil yang disembunyiin?"

Arkan membelalakkan matanya. "Apa?"

Alana membuka bagian bawah gantungan kunci itu, menampakkan sebuah micro SD yang sangat kecil. "Ibu Panti kasih ini ke aku pas aku umur tujuh belas tahun. Dia bilang, 'Simpan ini, jangan kasih ke siapa pun kecuali orang yang kamu percayai seumur hidupmu'. Selama ini aku simpan di dalam boneka lama aku, dan baru kemarin aku masukin ke gantungan kunci ini karena ngerasa pas aja bentuknya."

Alana menatap chip itu, lalu menatap Arkan. "Aku hampir mau kasih ini ke Mas tadi malam. Tapi setelah tahu kalau Mas juga nyembunyiin soal identitas ibuku... aku jadi ragu. Mas beneran sayang sama aku, atau cuma sayang sama isi chip ini?"

Suasana di sekitar ambulans itu mendadak hening. Hanya terdengar suara sirine polisi yang menjauh dan deru angin malam. Arkan menatap Alana dengan tatapan yang sangat dalam, penuh dengan luka dan kejujuran yang baru kali ini benar-benar terpancar.

"Buang saja chip itu, Lana," ucap Arkan tegas.

"Hah?"

"Buang. Bakar. Atau telan kalau perlu. Saya tidak mau tahu isinya. Kalau dokumen itu yang membuat hidupmu dalam bahaya selama dua puluh tahun ini, maka saya tidak membutuhkannya," Arkan mengambil chip itu dari tangan Alana dan melemparnya ke arah kobaran api sisa ledakan taksi di kejauhan.

Plung.

Chip itu menghilang di antara bara api. Alana ternganga. "Mas! Itu kan kunci buat nguasain seluruh perusahaan Arkananta tanpa gangguan dewan direksi!"

"Saya bisa menguasai perusahaan itu dengan kemampuan saya sendiri, Lana. Tapi saya tidak bisa mendapatkan kembali kepercayaanmu kalau saya terus mengejar bayang-bayang masa lalu," Arkan menarik Alana ke dalam pelukannya, kali ini lebih erat dan lebih protektif. "Aku mencintaimu, Alana. Bukan sebagai anak pengacara, bukan sebagai ahli waris, tapi sebagai gadis yang narik dasi aku di kondangan mantan sambil minta ganti rugi mie ayam."

Alana terdiam di pelukan Arkan. Ia bisa merasakan detak jantung pria itu yang cepat dan tidak beraturan. Rasa ragunya perlahan memuai, digantikan oleh kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Ya udah," bisik Alana di dada Arkan. "Tapi ganti rugi mie ayamnya belum lunas ya. Mas berutang sama aku mie ayam seumur hidup."

Arkan tertawa rendah, ia mencium dahi Alana. "Seumur hidup, Lana. Aku janji."

Keesokan harinya, berita tentang tertangkapnya Sofia dan Bayu meledak di seluruh media. Nama Alana menjadi pahlawan bagi netizen. Namun, di sebuah kafe kecil di pinggiran kota, Alana dan Arkan duduk santai dengan pakaian biasa. Alana asyik menyuapi Mochi, sementara Arkan sibuk membaca berita di tabletnya.

"Mas, lihat deh. Netizen bilang kita 'Couple Goal' tahun ini. Katanya Mas itu 'CEO Bucin' nomor satu," Alana terkikik sambil menunjukkan layar ponselnya.

Arkan menutup tabletnya, ia menatap istrinya dengan senyum nakal. "Mereka belum tahu saja kalau di rumah, saya sering kena 'julid' istri saya sampai pusing."

"Dih, emang kenyataan kan? Mas itu kalau nggak dipantau suka lupa jadi manusia!"

Tiba-tiba, seorang pria berpakaian rapi menghampiri meja mereka. Ia memberikan sebuah amplop cokelat kepada Alana. "Nyonya Arkananta? Ini kiriman dari kantor pengadilan. Surat wasiat tambahan dari Ibu Panti Anda yang baru saja diverifikasi."

Alana mengerutkan kening. Ia membuka amplop itu. Di dalamnya ada sebuah akta kepemilikan tanah... atas nama sebuah yayasan yatim piatu. Dan di bawahnya ada catatan kecil: "Alana, kamu bukan hanya mewarisi rahasia, tapi kamu mewarisi tanggung jawab untuk menjaga tempatmu berasal. Jadilah pelindung bagi mereka yang tidak punya siapa-siapa."

Alana menatap Arkan dengan mata berkaca-kaca. "Mas... aku mau buka yayasan ini lagi. Aku mau kita bantu anak-anak yang kayak aku dulu."

Arkan menggenggam tangan Alana. "Kita lakukan bersama, Lana. Mulai sekarang, hidup kita bukan lagi soal bertahan dari musuh, tapi soal membangun sesuatu yang nyata."

Saat mereka keluar dari kafe, sebuah mobil mewah berhenti di depan mereka. Pintu terbuka, dan seorang pria tua yang tampak sangat berwibawa—Kakek Arkan—keluar dengan tongkatnya. Ia menatap Alana dengan senyum misterius. "Selamat, Alana. Kamu sudah melewati ujian pertama. Tapi apakah kamu siap untuk ujian yang sebenarnya? Keluarga Arkananta punya satu rahasia lagi... dan itu melibatkan ayah kandungmu yang ternyata... masih hidup."

Alana hampir pingsan di tempat. "YA AMPUN! INI KEHIDUPAN APASIH?! KAPAN SELESAINYA?!" teriak Alana dalam hati.

1
Sefna Wati
"Nulis bab ini beneran bikin aku putar otak banget biar tetep seru buat kalian. Semoga suka ya! Kalau ada saran atau kritik, langsung tumpahin aja di sini. Aku butuh asupan semangat dari kalian nih! ❤️"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!