NovelToon NovelToon
Mahkota Duri Dinasti Yang Terluka

Mahkota Duri Dinasti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pelakor / CEO / Hamil di luar nikah / Dark Romance / Balas Dendam
Popularitas:67
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: PERSEMBAHAN DARAH DI ALTAR DINASTI

Di ruang takhta Menara Matsuda yang kedap suara dan berlapis titanium, atmosfer terasa begitu berat. Kenzo Matsuda berdiri di depan jendela kaca raksasa yang memperlihatkan gemerlap Tokyo, namun matanya tertuju pada sebuah tabung medis yang baru saja dipindahkan dari fasilitas bawah laut. Di dalamnya, Miyu tampak seperti kerangka hidup—tubuhnya kurus kering, kulitnya pucat pasi, dan matanya menatap kosong ke langit-langit akibat prosedur Neural Erase yang dilakukan Renji.

"Renji," suara Kenzo bergema, dingin dan penuh otoritas. "Kau telah menunjukkan kecerdasanmu dalam melumpuhkan musuh. Namun, seorang diktator sejati tidak boleh hanya mengandalkan mesin dan kode. Kau harus merasakan hangatnya darah musuhmu dan melihat cahaya terakhir di mata mereka mati karena tanganmu sendiri."

Hana Sato berdiri di samping Kenzo, mengenakan gaun sutra hitam yang kontras dengan kulit porselennya. Ia memegang sebuah belati perak berukir lambang Mahkota Duri. "Miyu adalah benang terakhir yang menghubungkan kita dengan masa lalu yang kotor, Sayang. Hari ini, kau akan memotong benang itu di hadapan kami."

Renji, yang kini mengenakan sarung tangan kulit putih, melangkah mendekati meja eksekusi tempat Miyu diikat. Ia tidak menunjukkan rasa takut atau ragu. Baginya, ini hanyalah sebuah tugas logis untuk mengamankan kenyamanan orang tuanya.

Kenzo menyuntikkan stimulan ke leher Miyu, memaksa kesadaran wanita itu kembali secara paksa hanya untuk satu tujuan: agar ia bisa merasakan setiap detik kematiannya. Miyu tersedak, paru-parunya yang rusak dipaksa bekerja kembali. Matanya yang kabur perlahan fokus pada tiga sosok di depannya—Keluarga Kudus dari Neraka.

"Ken... zo..." rintih Miyu.

"Jangan melihatnya, Miyu," sela Hana sambil mengelus pipi Miyu dengan ujung belati, memberikan sayatan kecil yang membuat darah merembes pelan. "Lihatlah putraku. Dia adalah orang yang akan mengirimmu menemui Shizuka."

Eksekusi ini tidak dilakukan dengan cepat. Kenzo memerintahkan Renji untuk memulai dengan bagian yang paling menyakitkan secara sistematis. Dengan bimbingan ayahnya, Renji menggunakan alat bedah frekuensi tinggi untuk memutuskan saraf motorik di persendian Miyu satu per satu.

Kenzo menekan luka-luka itu dengan tangannya, memastikan Miyu tetap terjaga. "Ingat rasa sakit ini, Miyu? Ini adalah akumulasi dari setiap pengkhianatanmu," desis Kenzo.

Hana tidak tinggal diam. Ia membisikkan kata-kata penghinaan ke telinga Miyu, menceritakan bagaimana dunia telah melupakan namanya, bagaimana makam Shizuka telah diratakan dan dijadikan tempat pembuangan limbah. Siksaan mental yang diberikan Hana membuat Miyu menjerit tanpa suara, sementara Renji terus bekerja dengan ketenangan seorang pematung.

Renji mengambil belati dari ibunya. Ia menatap mata Miyu, mencari secercah emosi. "Kau tidak perlu takut, Bibi," kata Renji dengan nada yang sangat sopan namun mengerikan. "Setelah ini, tidak akan ada lagi suara Shizuka. Tidak akan ada lagi kegelapan. Hanya ada ketiadaan yang sempurna."

Dengan satu gerakan yang sangat presisi—seperti yang diajarkan Kenzo melalui Protokol Eksekusi Korporat—Renji menghujamkan belati perak itu tepat ke jantung Miyu. Namun, ia tidak segera mencabutnya. Ia memutar bilah itu perlahan, merasakan getaran jantung Miyu yang semakin melemah di genggamannya.

Miyu terbatuk, darah kental membasahi bibirnya. Ia menatap Kenzo untuk terakhir kalinya—tatapan kebencian yang abadi—lalu beralih ke Hana, dan terakhir ke Renji. Di mata anak itu, ia tidak melihat kebencian; ia melihat kekosongan yang lebih mengerikan dari neraka mana pun.

Napas Miyu menjadi pendek dan berat. Tubuhnya mengejang satu kali, lalu perlahan menjadi kaku. Cahaya di matanya meredup, menyisakan kekosongan yang dingin. Miyu telah mati, di hadapan dinasti yang ia coba hancurkan.

Kenzo meletakkan tangannya di bahu Renji yang bersimbah darah. "Sempurna. Kau tidak berkedip sedikit pun."

Hana mencium dahi putranya, membiarkan sedikit noda darah Miyu menempel di kulitnya sendiri. "Hari ini, kau benar-benar menjadi seorang Matsuda, Renji."

Renji mengambil kain sutra untuk membersihkan tangannya. Ia menatap mayat Miyu seolah itu hanyalah tumpukan daging tanpa arti. "Masa lalu sudah selesai, Ayah. Ibu. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa menghentikan keabadian kita."

Di bawah mereka, Tokyo terus berdenyut, sama sekali tidak menyadari bahwa di puncak menara tertinggi, seorang dewa baru telah lahir melalui darah kerabatnya sendiri. Dinasti abadi kini berdiri tegak di atas fondasi kematian yang mutlak.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!