Kehidupan seorang anak yang terus diremehkan. Di bully, karena miskin. Berpenampilan tidak menarik dan tampak tidak sehat.
Gavino adalah nama anak laki-laki tersebut. Yang secara kebetulan, mendapatkan keberuntungan dengan adanya sistem mafia yang hadir dalam otaknya.
Apakah Gavino bisa menjadi kuat, sama seperti seorang mafia yang hebat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Tersenyum
Bianca termangu memandangi wajah Gavino, yang tampak jelas jika sedang dalam keadaan serius. Bukan hanya sekedar membual atau mencari simpati padanya.
"Apa Kamu punya bukti atau informasi yang bisa membuat Aku percaya?"
Anggukan kepala Gavino yang cepat, membuat Bianca bertambah yakin. Jika hal yang dia dengar tadi memang benar adanya. Bukan hanya sekedar bualan saja, yang sudah direncanakan oleh cowok yang berada di depannya saat ini.
"Apa?"
Akhirnya Bianca ingin tahu. Karena tadi, Gavino ingin meminta bantuan padanya, agar bisa menyadarkan papanya Madalena. Melalui mamanya Bianca yang seorang spikiater.
"Semua informasi akan masuk ke dalam handphone milikmu Bi. Tak lama lagi," ujar Gavino memberitahu Bianca.
Bianca tampak menyipitkan matanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Gavino barusan. Tapi dia juga tidak bertanya apa-apa lagi, karena sedetik kemudian, handphone miliknya berdenting. Tanda jika ada notifikasi pesan yang masuk ke ponselnya.
Gavino memang sudah menghimpun semua informasi yang dia ketahui dari sistem informasi. Dia mengirimkan semua itu pada Bianca, melalui sistem yang dia aktifkan tanpa bersuara. Baik melalui pesan berupa data dan juga video. Hasil dari copy kamera cctv rumah milik Madalena.
( Ting )
( Sistem informasi aktif )
'Aku ingin mengirimkan semua informasi mengenai Madalena dan keluarganya pada Bianca.'
( Sistem informasi diaktifkan )
1%
5%
15%
25%
35%
40%
45%
55%
60%
75%
85%
95%
100%
( Informasi sudah dikirimkan )
'Wah terima kasih banyak.'
( Mengucapkan selamat terima kasih mendapatkan hadiah )
'Hah hadiah?'
( Hadiah berupa bonus tiket liburan ke taman bermain di mall )
'Hah, apa? Aneh-aneh saja.'
Tapi ternyata memang ada notifikasi pesan di ponsel, berupa pesan dari mall, jika Gavino mendapatkan hadiah vocer untuk bermain sepuasnya di arena permainan yang ada di mall tersebut.
Dan vocer itu bukan hanya untuk satu orang, tapi dua orang sekaligus.
Baik Gavino maupun Bianca sama-sama tercengang melihat pesan yang masuk ke dalam ponsel masing-masing. Meskipun pesan tersebut tidaklah sama.
Gavino mendapatkan pesan dari mall, atas hadiah yang dia dapatkan dari sistem.
Sedangkan untuk Bianca,dia terkejut dengan apa yang dia lihat Fatin video yang dikirimkan ke ponselnya.
Di dalam video tersebut, ada semua informasi dan juga rekaman cctv yang ada di rumah Mandela. Dan Bianca sendiri tidak tahu, dari mana pesan tersebut dikirim.
"Vin, ini benar?" tanya Bianca tidak percaya.
Gavino hanya mengangguk saja. Karena dia memang sudah tahu kebenaran tentang Madalena dan keluarganya, terutama papanya yang sedang menderita depresi berat.
Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental serius, yang bisa berbahaya. Baik pada dirinya sendiri ataupun untuk orang-orang disekitarnya. Dan ini banyak terjadi pada seseorang yang dalam keadaan tekanan, entah karena kesalahan yang dia buat sendiri, dan dari pihak luar atau orang lain.
Dan sepertinya, yang dialami oleh papanya Madalena adalah depresi dalam tingkatan yang berat. Karena selain kehilangan seorang istri, dia juga merasa gagal sebagai seorang ahli bedah dan penelitian yang dia banggakan selama ini.
"Aku akan bilang sama Mama. Supaya mama bisa membantu papanya Madalena.
Mamanya Bianca, yang merupakan spikiater, pasti punya banyak kenalan dan cara. Untuk bisa membantu kejiwaan papannya Madalena. Karena bisa jadi, mereka berdua juga sudah saling mengenal. Sebab, pekerjaan mereka sebenarnya sama-sama ada pada bidang kesehatan. Meskipun beda keahlian yang dimiliki.
"Apa Kamu mau ikut bersamaku nanti? sepulang sekolah," tanya Gavino, dengan maksud mengajak Bianca.
"Ke mana?"
Bianca tidak langsung menjawab pertanyaan dari Gavino. Dia justru balik bertanya.
"Ke mall. Aku dapat hadiah vocer di arena bermain. Kamu mau?" tanya Gavino lagi, dan tak lupa memberikan penjelasan kepada Bianca juga.
"Jangan bilang jika hadiah itu karena Kamu dan Madalena pergi ke tempat itu kemarin malam?"
Pertanyaan Bianca yang curiga, membuat Gavino tersenyum mendengarnya. Dia juga tahu, jika Bianca masih kesal dengan sikapnya kemarin. Karena dia pergi bersama dengan Madalena, tanpa peduli dengan keadaan dirinya.
Padahal sebenarnya, Gavino juga sudah menawarinya. Tapi Madalena sendiri yang tidak mau ikut.
Tapi begitulah hati seorang cewek. Tidak bisa ditebak oleh lawan jenis, karena apa yang keluar dari mulut mereka, belum tentu sama dengan apa yang ada di dalam hatinya.
Oleh karena itu juga, Gavino mengajak Bianca untuk pergi bermain di arena bermain nanti, sepulang sekolah. Karena selain untuk menghibur Bianca yang merasa kecewa kemarin, dia juga merasa sangat yakin jika, Madalena tidak akan mengajaknya pergi lagi. Sebab, Madalena tidak mungkin melanggar aturan yang ditetapkan oleh papanya. Dengan semua hukuman yang sekarang ini harus dia jalani.
Sebenarnya Gavino tidak tega, melihat keadaan Madalena saat ini. Tapi dia kembali berpikir bahwa, Madalena tetap akan baik-baik saja, meskipun tanpa ada ATM ataupun kartu kredit yang sudah diambil lagi oleh papanya. Sebagai bentuk hukuman yang diberikan, atas keterlambatan Madalena pulang dari sekolah kemarin.
Dan ini karena Gavino juga. Pangeran yang diinginkan oleh Madalena.
*****
Di mall, Bianca dengan cepat memilih permainan yang dia sukai. Dia seakan-akan lupa, jika masih belum bisa memaafkan Gavino sepenuhnya.
Tapi Gavino merasa senang, karena melihat senyum kebahagiaan yang ada di wajah Bianca.
"Mau ke tempat permainan yang lainnya juga gak Bi?" tanya Gavino menawari Bianca.
"Emangnya ke mana lagi kemarin kalian main?"
Tapi ternyata, Bianca salah paham. Dia mengira jika, Gavino ingin memperlihatkan ke mana saja dia pergi bersama dengan Madalena kemarin.
"Bukan Bi. Aku dan Madalena justru tidak pergi bermain. Kami hanya makan malam, kemudian Aku mengantarnya pulang ke rumah."
Sekarang, Bianca tertegun. Dia tidak mau percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gavino. Tapi sedetik kemudian, dia menyadari lagi. Jika Gavino bukanlah seorang cowok brengsek, yang suka berbohong.
"Maaf Vin."
Akhirnya, Bianca meminta maaf pada Gavino. Karena sudah berpikir macam-macam. Dia menyesali semua tuduhan yang sudah terlanjut dia miliki sedari kemarin.
"Tidak apa-apa. Sekarang, gak marah lagi kan?"
Bianca tampak tersenyum, dengan mengelengkan kepalanya beberapa kali. Dia tidak ingin marah atau mendiamkan temannya ini.
'*Ah, apakah Aku benar-bener menganggap Vin hanya sebagai teman?'
'Tapi bagaimana jika Aku salah mengartikan perasaanku padanya? Apa dia akan mentertawakan diriku*?'
Senyum yang tampak canggung, tercetak di sudut bibir Bianca. Dia merasa tidak tenang, dengan perasaannya sendiri.
"Bagaimana Bi?" tanya Gavino lagi, menyadarkan Bianca pada lamunannya.
"Eh... i_iya. Ayok lah ikut!"
Akhirnya, mereka berdua pindah dari satu arena permainan ke permainan yang lain. Yang membuat mereka berdua selalu tersenyum dalam keadaan bahagia.
'Semoga Bianca tidak lagi curiga dengan apa yang Aku lakukan pada Madalena. Aku hanya ingin menolong Madalena saja.'