Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
Randi tertegun sejenak melihat Namira yang meledak-ledak. Ia sempat melirik air di dalam ember yang dibawa Namira—yang memang benar-benar berisi rendaman mukena—lalu kembali menatap Ayyan dengan senyum miring yang belum pudar.
"Kasar sekali, Namira. Pesantren ternyata tidak mengubah sifat 'liar' kamu ya?" Randi merapikan jasnya, lalu berdiri. "Kyai, saya tidak bermaksud menghina. Saya hanya realistis. Tapi jika sambutannya seperti ini, sepertinya saya harus memikirkan ulang soal pembangunan asrama ini."
"Silakan, Nak Randi," jawab Abah Kyai dengan nada yang sangat tenang, seolah ancaman penarikan dana itu hanyalah angin lalu. "Rezeki pesantren ini sudah diatur oleh Sang Pemilik Semesta. Kami tidak akan menukar prinsip kami dengan beberapa hektar tanah."
Randi mendengus, lalu melangkah menuju mobilnya. Namun, sebelum masuk, ia sempat berhenti dan berbisik cukup keras agar terdengar oleh Ayyan. "Gus, pastikan saja istrimu tidak bosan. Karena kalau dia bosan, dia tahu siapa yang punya 'pintu' yang lebih lebar untuknya."
Ayyan tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya menatap kepergian mobil Randi dengan tangan yang terkepal kuat di balik saku koko putihnya.
Setelah mobil itu hilang dari pandangan, Namira langsung meletakkan embernya dan mendekat ke arah Ayyan. "Mas... Mas jangan dengerin dia ya! Aku nggak bakal bosen kok! Beneran! Kalau aku bosen, aku bakal beli seblak yang lebih pedas aja biar melek lagi!"
Ayyan menoleh, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa bersalah di matanya.
"Namira, apa benar kamu tidak merasa kehilangan duniamu yang dulu? Di sini benar-benar jauh dari mall, jauh dari keramaian Jakarta."
Namira terdiam melihat sisi rapuh suaminya. Ia meraih tangan Ayyan dan menggenggamnya erat. "Mas Ayyan, dengerin aku. Di Jakarta emang ramai, tapi sepi kalau nggak ada tujuannya. Di sini, aku punya Mas, punya Umi, punya Abah, dan punya santri-santri yang lucu. Itu lebih dari cukup buat aku."
Umi Fatimah yang sejak tadi menyimak dari balik pintu, ikut keluar dan merangkul menantunya. "Sudah, jangan dipikirkan lagi. Nak Randi itu cuma sedang buta karena egonya."
"Tapi Bah," Ayyan menoleh ke arah Abah Kyai. "Bagaimana soal asrama itu? Para santri putra sudah sangat membutuhkan tempat baru."
Abah Kyai tersenyum bijak. "Ayyan, jangan pernah merasa kecil hati. Allah tidak pernah tidur. Barusan, sebelum Randi datang, Abah dapat telepon dari salah satu alumni kita yang sukses di Kalimantan. Beliau berniat mewakafkan tanah dan dana pembangunan asrama secara penuh, tanpa syarat apa pun. Nilainya jauh lebih besar dari yang ditawarkan Randi."
Mata Namira membelalak. "Tuh kan, Mas! Allah langsung bayar tunai! Randi mau pamer, eh langsung kena skakmat sama langit!"
Ayyan menghela napas lega, ketegangan di bahunya seketika luruh. "Alhamdulillah... benar-benar janji Allah itu nyata."
"Nah, karena masalah asrama beres, sekarang masalah perut aku nih yang belum beres," celetuk Namira tiba-tiba, merusak suasana haru itu. "Mas, tadi kan aku udah keren banget tuh ngusir Randi pakai ancaman air mukena. Boleh dong, hadiahnya martabak manis rasa cokelat kacang keju?"
Ayyan tertawa, kali ini tawanya benar-benar lepas. "Ternyata harga keberanian kamu itu martabak, ya?"
"Martabak spesial, Mas! Yang kejunya melimpah kayak kasih sayang Mas ke aku!"
Ayyan merangkul pundak Namira. "Ya sudah, nanti sore kita beli. Tapi habis itu..."
"Iya, iya! Hafalan Jurumiyah bab selanjutnya! Aku udah hafal kok Mas, tenang aja!" Namira menjulurkan lidahnya jahil.
Sore harinya, saat mereka sedang bersiap pergi mencari martabak, Namira sedang asyik mematut diri di cermin. Ia mencoba memakai bros baru yang dibelikan Umi.
"Mas, kalau seandainya Randi tiba-tiba bikin video TikTok soal kita dan bilang yang aneh-aneh gimana?" tanya Namira tiba-tiba.
Ayyan yang sedang merapikan sorban di bahunya berhenti sejenak. "Biarkan saja. Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Tapi kalau dia sudah mulai menyebar fitnah yang merugikan nama baikmu..."
"Mas mau apa?"
Ayyan mendekat ke arah Namira, menatap pantulan wajah istrinya di cermin. "Saya punya tim IT di pesantren yang lebih jago daripada sekadar admin gosip. Dan saya punya doa orang-orang terdzolimi yang langsung menembus langit. Mana yang menurutmu lebih ampuh?"
Namira nyengir lebar. "Oke, fiks! Gus Kulkas kalau udah mode 'dark' begini emang nggak ada tandingannya!"
"Bisa saja kamu ini," sahut Ayyan sambil menyentil dahi Namira pelan. "Ayo berangkat, keburu tokonya ramai. Mas tidak mau kamu antre kepanasan lalu berubah jadi reog lagi."
"Dih! Aku ini bidadari, Mas, bukan reog!" Namira memoleskan lip tint tipis-tipis agar wajahnya tidak terlihat pucat, lalu menyambar tas kecilnya.
Mereka pun berangkat menggunakan motor gede Ayyan. Angin sore pedesaan yang sejuk menerpa wajah, membuat Namira refleks memeluk pinggang Ayyan lebih erat. Namun, saat mereka sedang asyik membelah jalanan, ponsel Namira yang berada di tas selempangnya terus-menerus bergetar.
Drrrtt... drrrtt... drrrtt...
"Mas, bentar! Hp aku getar mulu kayak mesin cuci," ucap Namira saat mereka berhenti di lampu merah.
Namira mengeluarkan ponselnya. Begitu layar menyala, matanya hampir keluar dari kelopak. Notifikasi Instagram dan TikTok-nya meledak. Ribuan tagging masuk dalam hitungan menit.
"Astaga... Mas! Mas Ayyan! Lihat ini!" Namira menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah Ayyan yang tertutup helm full face.
Sebuah video viral diunggah oleh akun gosip besar. Di sana terlihat rekaman diam-diam saat Randi datang ke ndalem tadi pagi. Videonya dipotong dengan sangat licik—hanya memperlihatkan bagian saat Namira berteriak marah-marah membawa ember, sementara Randi terlihat tenang dan "terdzolimi".
Kapsionnya lebih parah: “Terungkap! Sifat asli selebgram N yang kini jadi istri Gus di Jatim. Ternyata kasar dan tidak mencerminkan istri pemuka agama? Kasihan donatur asrama ini niat baiknya malah diusir pakai air rendaman.”
Wajah Namira mendadak pucat. "Mas... ini kan pas aku ngusir Randi tadi pagi. Kok bisa ada yang rekam? Dan kenapa aku kelihatan kayak nenek sihir di sini?"
Ayyan segera meminggirkan motornya ke bahu jalan. Ia melepas helm, wajahnya kembali mengeras. Ia mengambil ponsel Namira dan membaca komentar-komentar netizen yang mulai menghujat istrinya.
"Oh, jadi ini Ning yang katanya imut itu? Ternyata galak ya."
"Kasian suaminya, pasti tertekan punya istri nggak punya adab gitu."
"Niat wakaf kok malah diusir, sombong banget sih keluarga pesantrennya."
Namira mulai gemetar. "Mas... orang-orang benci aku. Padahal kan Randi yang duluan..."
Ayyan mengembalikan ponsel itu ke tangan Namira. Ia menatap mata istrinya yang mulai berkaca-kaca dengan tatapan yang sangat dalam dan menenangkan.
"Namira, lihat Mas," pinta Ayyan lembut. Ia menggenggam tangan Namira yang dingin. "Ingat apa yang Mas bilang tadi? Randi itu pengecut. Dia tidak bisa menang di ndalem, jadi dia bawa masalah ini ke dunia kamu, ke media sosial."
"Tapi followers aku... mereka pasti kecewa, Mas. Aku bakal dihujat se-Indonesia!"
"Biarkan mereka bicara. Kebenaran itu seperti matahari, Namira. Mau ditutup awan sehitam apa pun, dia akan tetap bersinar pada waktunya," Ayyan mengusap air mata yang nyaris jatuh di pipi Namira.
"Sekarang, kita tetap beli martabak. Jangan biarkan rencana picik dia merusak kebahagiaan kamu sore ini."
"Tapi Mas..."
"Tidak ada tapi-tapi. Setelah makan martabak, kita balik ke pesantren. Mas yang akan selesaikan ini dengan cara Mas. Oke?"
Namira menghirup napas dalam-dalam, mencoba menelan rasa sesak di dadanya. "Oke... tapi Mas, martabaknya harus yang paling enak ya? Aku butuh asupan biar kuat baca komen jahat netizen."
Ayyan tersenyum tipis, tapi matanya memancarkan kilat yang berbahaya. Ia kembali memakai helmnya. Kamu sudah keterlaluan, Randi. Kamu menyentuh titik terlemah saya, yaitu kebahagiaan istri saya, batin Ayyan.
Malam harinya di pesantren, Namira duduk di pojok kamar sambil memeluk boneka beruangnya, tidak berani menyentuh ponsel. Sementara itu, Ayyan tampak sibuk dengan laptopnya di meja kerja. Jari-jarinya menari dengan sangat cepat di atas keyboard.
"Mas lagi apa? Balesin komen?" tanya Namira lemas.
"Bukan. Mas lagi mengumpulkan bukti rekaman CCTV ndalem yang asli, lengkap dengan suara saat Randi menghina kamu dan pesantren," jawab Ayyan tanpa menoleh.
"Dan Mas juga baru saja menemukan bahwa akun yang mengunggah video viral itu ternyata baru saja menerima transferan dari perusahaan ayah Randi."
Namira langsung tegak duduknya. "HAH?! Mas kok bisa tahu?! Mas ustadz apa hacker?!"
Ayyan berbalik, memberikan senyum misterius yang terlihat sangat cerdas. "Mas punya beberapa teman santri yang sekarang jadi ahli keamanan siber. Di pesantren, kita tidak cuma belajar kitab kuning, Namira. Kita juga belajar cara menghadapi fitnah di akhir zaman."
Ayyan kemudian berdiri dan mendekati istrinya. "Besok pagi, Mas akan unggah video aslinya di akun kamu. Lengkap dengan surat somasi hukum untuk Randi atas pencemaran nama baik. Mas sudah bicara dengan Abah, dan Abah setuju kita harus tegas."
Namira melongo. Ia tidak menyangka suaminya yang terlihat "kuno" karena selalu pakai sarung ini ternyata punya serangan balik yang begitu canggih.
"Gila... Mas Ayyan keren banget! Boleh aku peluk nggak?"
"Peluk saja, gratis. Tapi habis itu, jangan lupa..."
"IYA! JURUMIYAH! Mas mah ngerusak suasana mulu!" seru Namira sambil menubruk tubuh Ayyan dengan pelukan erat.