Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bawa Aku Pergi Limusin!
Kekacauan pun terjadi. Beberapa pelayan berlarian dan menjatuhkan taplak putih bersih ke lantai. Para tamu menjulurkan leher untuk menonton.
Kael mengitari meja dan memeluknya. "Perlu kita panggil ambulans?"
Maggie terpukul. Ia sudah melalui semua kepanikan itu seminggu lalu. Tapi kali ini tubuhnya tidak mau menurut. Ia menginginkan kencan ini. Makan malam ini. Pria ini. Dan ia tidak akan mendapatkannya.
Ia menggeleng. Air mata pun jatuh dan ia membencinya. "Aku bahkan belum kontraksi."
"Tapi ketubanmu pecah!" kata Kael.
Maggie mengangguk. "Aku tahu. Kita harus pergi. Tapi kita bisa naik mobil sendiri. Ini enggak darurat."
Kael mengambil HPnya, menekan satu tombol, lalu memasukkannya kembali ke saku. "Kita keluarin kamu dari sini."
Ia melangkah pendek-pendek, membenci sensasi sepatu basah. Lalu tahap berikutnya datang. Kontraksi panjang dan lambat, mencengkeram perutnya seperti kepalan raksasa.
"Ooooouuuuh," katanya. "Oooooh."
Ia tidak bisa bergerak, hanya menarik dan menghembuskan napas. Air kembali menetes ke lantai. Lebih banyak pelayan yang menjatuhkan taplak.
"Tarik napaaaaaas!" kata Kael sambil memegang pinggangnya. Maggie mengangguk, fokus pada wajah Kael yang tegas dan menawan.
Kenapa tuhan tidak bisa memberi satu saja kencan yang normal untuknya?
Saat kontraksi mereda, Maggie mencoba melangkah, tetapi kakinya terpeleset gara-gara sepatunya basah.
Kael menangkapnya. "Sini." Ia mengangkat Maggie ke dalam pelukannya, lengannya kuat menopang punggung dan lututnya. "Kita ke limusin!"
Maggie melingkarkan tangan di lehernya, bernapas perlahan, berusaha tidak memikirkan bagaimana gaunnya yang basah pasti ikut membasahi Kael.
Saat mereka bergegas keluar restoran, Maggie memejamkan mata, menolak tatapan kaget para tamu, ketika melihat seorang perempuan hamil dan basah kuyup sedang dievakuasi dari restoran mewah.
Petugas parkir pun menatap mereka dengan wajah panik. “Perlu saya panggilkan sopir Anda ,Tuan?”
“Udah,” jawabnya.
Malam terasa hangat. Maggie menyembunyikan wajah di lehernya. Meski sedang hamil, tubuhnya masih mudah digendong. Namun, ia tidak yakin Maggie bisa bertahan di posisi itu jika kontraksi datang lagi. Ia tidak tahu banyak soal persalinan, selain yang pernah ia lihat di film.
Limusin panjang dan elegan berhenti di bawah kanopi. Ia menyewa jasa ini, karena biasanya tidak bepergian dengan sopir, jadi sopir itu tidak mengenalnya. Setidaknya, orang itu bergerak cepat.
Petugas parkir mengantar mereka masuk. “Semoga beruntung, Tuan!” katanya sambil mengangkat topi.
Ia membungkuk, yang jelas tidak mudah dengan seorang wanita hamil di pelukannya, lalu membaringkan Maggie di jok kulit yang panjang. “Kamu baik-baik aja?” tanyanya.
Maggie mengangguk. “Enggak apa-apa. Cuma basah.”
Ia duduk di hadapannya saat mobil mulai melaju. Maggie mencoba duduk, tetapi matanya membelalak dan ia kembali berbaring. “Uhhh, kayaknya aku harus tetap dengan posisi ini, deh.”
Sopir menurunkan sekat kaca. “Semuanya aman?”
“Rumah sakit mana?” Kael bertanya pada Maggie. Ia tidak mengenal daerah PIK.
“Grand Family” jawab Maggie.
Ia menoleh ke sopir. “Kamu tahu?”
“Tentu,” kata sopir itu, lalu kembali ke kemudi. Ia menoleh lagi. “Oh dia lagi mau ...”
“Ya. Dia melahirkan.”
“Ya ampun,” kata si sopir. “Saya baru saja membersihkan mobil, Tuan!”
Kael ingin sekali mematahkan rahang pria itu. “Langsung ke rumah sakit!”
Sopir mengangguk dan limusin melaju.
Maggie pun menekan telapak tangan ke dahinya. “Aku enggak percaya bakal kayak gini.”
Ia meraih tangan Maggie. “Mungkin ini salahku. Aku udah dua kali ke Jakarta, dan dua-duanya kamu berakhir di rumah sakit.”
Maggie tertawa, suaranya bergetar di dada. “Kayaknya aku pembawa sial, selalu butuh bantuan medis saat kamu ada di dekatku.”
Ia mengangkat jari-jari Maggie ke bibirnya. Terasa terlalu cepat untuk gerakan seintim itu, tapi rasanya benar. “Perlu aku hubungin seseorang?”
Mata Maggie membelalak. “Oh, benar. Kayaknya ini serius, apalagi ketubanku pecah. Ya. Kakakku. Mamaku. Dan … oooouuuuh!”
Tangan Maggie mencengkeram tangannya kuat-kuat. Ia terengah, keringat mengalir di dahinya. Kael menyibak rambut Maggie yang menempel di kulitnya. Maggie berguling ke samping, menarik napas lalu menghembuskannya lagi.
“Yang tadi?” tanyanya. Kael bukan tipe yang mudah panik, tapi situasi ini membuatnya cemas. Ia membayangkan bayi itu lahir di jok mobil.
Haruskah ia menangkapnya?
Apa orang Jakarta masih menepuk pantat bayi agar tidak menangis?
“Agak … cepat …” kata Maggie.
“Perlu aku hitung waktunya?” Di film, mereka selalu bicara soal menghitung kontraksi.
“Iyaa. Lakukan.”
Maggie tidak melepaskan tangannya, jadi Kael menggunakan tangan lain untuk meraih HP. Ia menatap sopir. “Masih jauh?” tanyanya.
“Kota agak macet. Saya akan memutar.”
“Ada … festival … di jalan Priuk,” desah Maggie. “Pasti banyak orang.”
“Oh, begitu,” kata sopir. “Pantas saja.”
Sang sopir langsung membelok tajam ke kanan, dan HP itu jatuh ke lantai saat Kael menekan tangannya ke perut Maggie agar tubuhnya tidak tergeser.
Perut itu keras seperti batu.
Apa si Junior telah menjadi Malin Kundang?
“Memang selalu begini?” tanyanya.
“Cuma … saat … satu .…” Maggie menyerah berbicara, memejamkan mata dan bernapas pendek-pendek dengan cepat.
“Oke ... Ngerti.” Kael meraba lantai mencari HPnya. “Pelan-pelan,” katanya pada sopir.
Jarinyanya akhirnya menemukan HP. “Nomor Mamamu berapa?”
Maggie mengangkat satu jari dan menghela napas panjang. “Pakai HPku,” katanya.
Namun, mereka sadar kalau tas Maggie tertinggal di restoran dalam kekacauan tadi.
“Aku bakal nelepon restoran dan minta mereka mengirimkannya,” katanya cepat. “Kamu hafal nomornya?”
“Siapa yang masih hafalin nomor?” Maggie menangis. “Semuanya ada di kontak!”
...𓂃✍︎...
...Ikhlaskan sebisa mungkin, karena lawanmu kali ini bukan manusia, tetapi takdir....
...────୨ৎ────...
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .