Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
27
Pagi itu, Desa Sukamaju seolah menahan napas. Kabut tipis masih menyelimuti pucuk-pucuk pohon jati ketika sebuah mobil SUV berwarna putih dengan logo instansi pemerintah di pintunya perlahan memasuki jalanan desa yang berbatu. Suara deru mesinnya yang halus terdengar asing di telinga para warga yang biasanya hanya mendengar suara traktor atau motor bebek tua.
Di depan rumahnya yang asri, Anjeli sudah berdiri rapi. Ia mengenakan kemeja katun berwarna biru langit yang sederhana namun bersih. Rambutnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan wajahnya yang tenang meski di dalam dadanya jantung berdegup seperti tabuhan genderang. Di sampingnya, Ayah berdiri tegak tanpa bantuan tongkat, mengenakan batik kesayangannya yang warnanya sudah mulai memudar namun tetap terlihat gagah.
"Tarik napas, Nak. Ingat, kita hanya perlu menunjukkan siapa kita sebenarnya," bisik Ayah, seolah bisa merasakan kegelisahan putrinya.
Anjeli mengangguk pelan. Pandangannya beralih ke tanaman Lavender Embun Surga yang ia tanam di ambang pintu. Pagi ini, bunga-bunga itu mekar sempurna. Warnanya ungu pucat yang menyejukkan mata, dan aroma yang dikeluarkannya begitu halus, menyusup ke setiap sudut teras rumah. Siapa pun yang berdiri di sana akan merasakan beban di pundaknya seolah menguap begitu saja.
Namun, sebelum mobil petugas itu mencapai rumah keluarga Pak Burhan, sebuah insiden terjadi di dekat balai desa. Bu Sumi, yang sudah bersiap sejak subuh dengan kebaya paling menterengnya, sengaja berdiri di tengah jalan, memaksa mobil itu untuk berhenti.
Pak Doni, petugas sosial senior yang memimpin rombongan, menurunkan kaca jendela mobilnya. "Selamat pagi, Bu. Benarkah ini jalan menuju rumah Bapak Burhanudin?"
Bu Sumi tersenyum lebar, senyum yang dipaksakan dan terlihat sangat dibuat-buat. "Oh, benar sekali, Pak! Bapak-bapak ini pasti petugas dari pengadilan kota ya? Saya Sumi, tetangga paling dekat dengan mereka. Saya sangat senang Bapak-bapak datang, karena memang banyak yang harus Bapak ketahui tentang keadaan di sini."
Pak Doni dan rekannya, seorang wanita muda bernama Bu Sari, saling lirik. "Ada informasi penting yang ingin Ibu sampaikan?" tanya Bu Sari sambil membuka buku catatannya.
Bu Sumi mendekatkan wajahnya ke jendela mobil, suaranya mengecil menjadi bisikan yang penuh racun. "Begini, Pak... kami warga desa sini sebenarnya agak khawatir karena Keluarga itu tertutup sekali. Sejak Anjeli, anak itu, mulai berkebun, banyak hal aneh terjadi. Masa ada orang lumpuh tiba-tiba bisa jalan? Terus bau-bauan di rumahnya itu aneh sekali, Pak. Takutnya mereka pakai cara-cara yang tidak benar untuk menarik perhatian pengadilan. Bapak harus teliti ya, jangan sampai tertipu muka polos mereka."
Pak Doni mengangguk datar. "Terima kasih atas informasinya, Bu. Kami akan melakukan penilaian secara objektif."
Mobil itu kembali melaju, meninggalkan Bu Sumi yang mendesis puas. Ia yakin benih kecurigaan yang ia tanam akan membuat petugas itu bersikap skeptis sejak langkah pertama.
Saat mobil berhenti di depan pagar mawar milik Anjeli, Pak Doni dan Bu Sari turun dengan raut wajah yang serius, bahkan sedikit kaku akibat ucapan Bu Sumi tadi. Mereka membawa map tebal dan alat dokumentasi.
Anjeli melangkah maju dan membuka pagar dengan gerakan yang sangat sopan. "Selamat datang di rumah kami, Bapak dan Ibu. Saya Anjeli, dan ini Ayah saya, Bapak Burhanudin."
"Terima kasih. Saya Doni, dan ini rekan saya Sari. Kami di sini untuk melakukan peninjauan lapangan terkait hak asuh Aris," ucap Pak Doni dengan nada profesional yang dingin.
Namun, saat mereka melangkah melewati pagar dan mendekati teras rumah, sesuatu yang ajaib terjadi. Aroma lavender yang ditanam Anjeli mulai menyapa indra penciuman mereka.
Bu Sari, yang awalnya tampak tegang dan terus membolak-balik berkas dengan gusar, tiba-tiba berhenti melangkah. Ia menghirup udara dalam-dalam. "Harum sekali... bunga apa ini, Dek Anjeli?"
"Itu lavender, Bu. Jenis liar yang saya temukan dan saya coba rawat di sini," jawab Anjeli dengan suara yang menenangkan.
Pak Doni yang tadi wajahnya tampak berkerut karena memikirkan ucapan Bu Sumi, perlahan-lahan merilekskan otot wajahnya. Ia merasa beban pekerjaannya yang menumpuk di kota seolah terlupakan sejenak. Ketegangan di antara mereka mencair begitu saja, digantikan oleh rasa damai yang sulit dijelaskan.
"Mari silakan duduk, Pak, Bu. Mohon maaf jika rumah kami sederhana," ajak Ayah sambil mempersilakan mereka duduk di kursi bambu yang sudah ia perbaiki.
"Kami ingin mulai dengan melihat kondisi fisik rumah dan kebun terlebih dahulu, jika diperbolehkan," ujar Pak Doni. Kali ini suaranya terdengar jauh lebih lembut.
Anjeli pertama-tama mengajak mereka ke kebun belakang. Di sana, mereka melihat keteraturan yang luar biasa. Tanaman buncis yang merambat rapi, selada yang hijau royo-royo, dan petak jahe merah yang baru saja dipanen namun tanahnya sudah diolah kembali untuk penanaman berikutnya.
"Semua ini kamu kerjakan sendiri, Anjeli?" tanya Bu Sari sambil menyentuh daun selada yang sangat renyah.
"Dibantu Ayah dan Aris untuk hal-hal ringan, Bu. Kami menganggap kebun ini sebagai bagian dari keluarga. Tanah ini yang memberi kami makan, jadi kami merawatnya dengan penuh rasa syukur," jelas Anjeli.
Pak Doni memeriksa saluran air dan tempat penyimpanan pupuk kompos. Ia mencari tanda-tanda penggunaan zat kimia berbahaya atau kondisi lingkungan yang tidak sehat seperti yang dituduhkan Bu Sumi, namun ia tidak menemukan apa pun selain kebersihan dan keteraturan.
"Lalu, bagaimana dengan adikmu, Aris? Di mana dia sekarang?" tanya Pak Doni.
"Aris sedang di dalam, sedang merapikan hasil gambarnya. Dia sangat ingin menunjukkannya pada Bapak dan Ibu," sahut Ayah dengan bangga.
Mereka masuk ke dalam rumah. Meskipun dindingnya hanya dari papan kayu, namun setiap sudutnya mengkilap bersih. Lantai semennya disapu hingga tak ada sebutir debu pun. Aris duduk di meja kayu kecilnya, menyambut mereka dengan senyum yang lebar dan tulus.
"Ini gambar Aris!" bocah itu menunjukkan sebuah lukisan krayon yang memperlihatkan Ayah sedang berdiri tegak, Anjeli sedang menyiram bunga, dan Aris sedang memegang buah tomat. "Ayah sudah bisa jalan sekarang, jadi Aris tidak sedih lagi."
Bu Sari berjongkok di samping Aris, matanya berkaca-kaca melihat kepolosan anak itu. "Aris senang tinggal di sini?"
"Senang sekali! Di sini banyak burung, terus Kak Anjeli suka buatkan sup buncis yang enak. Aris tidak mau ke kota, di sana bising dan tidak ada kebun buncis," jawab Aris dengan jujur.
Setelah berkeliling, mereka kembali ke teras untuk menikmati teh jahe merah hangat yang disiapkan Anjeli. Pak Doni menutup mapnya sejenak.
"Pak Burhan, saya harus jujur. Tadi di depan desa, kami sempat mendengar beberapa kekhawatiran dari warga tentang kondisi di sini. Namun, setelah melihat langsung, apa yang kami temukan sangat bertolak belakang dengan rumor tersebut," ujar Pak Doni.
Ayah tersenyum tenang. "Dunia ini luas, Pak. Terkadang keberhasilan kecil dari keluarga miskin seperti kami sering disalahartikan. Namun, saya tidak punya waktu untuk membenci. Energi saya lebih baik digunakan untuk belajar berjalan lagi demi anak-anak saya."
"Kesehatan Bapak memang mengalami kemajuan yang signifikan. Itu poin yang sangat kuat bagi kami," tambah Bu Sari sambil mencatat sesuatu.
Anjeli menatap kedua petugas itu. Ia bisa merasakan aura mereka yang kini sangat positif. Keajaiban lavender itu bukan untuk menipu, melainkan untuk membuka mata hati mereka agar bisa melihat kebenaran tanpa tertutup oleh kabut prasangka.
"Bapak, Ibu," Anjeli memulai pembicaraan dengan perlahan. "Kami tahu kami tidak kaya. Tapi di rumah ini, Aris mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang jika di kota, kehadiran seorang Ayah dan rasa aman bahwa dia tidak akan pernah ditinggalkan lagi. Saya harap Bapak dan Ibu bisa mempertimbangkan hal itu dalam laporan nanti."
Pak Doni menatap Anjeli cukup lama, seolah sedang menilai kedewasaan gadis di depannya. "Kami akan menuliskan fakta apa adanya, Anjeli. Dan fakta yang kami lihat hari ini adalah sebuah rumah yang sehat, penuh cinta, dan sangat layak untuk pertumbuhan seorang anak."
Saat petugas sosial itu berpamitan dan mobil mereka mulai menjauh dari halaman, Anjeli mengembuskan napas panjang. Rasa lega luar biasa menyerbu dirinya. Ia melihat ke arah jalan, di mana Bu Sumi tampak mengintip dari balik pohon dengan raut wajah kecewa karena tidak melihat tanda-tanda keributan atau penggeledahan.
"Kita sudah melakukannya dengan baik, Nak," ucap Ayah sambil merangkul bahu Anjeli.
"Belum selesai, Ayah. Tapi setidaknya kita sudah menunjukkan bahwa kebenaran itu baunya harum, bukan bau busuk seperti yang mereka sebarkan," sahut Anjeli.
Aris memegang tangan mereka berdua. "Kak, nanti kalau mereka datang lagi, Aris mau kasih lihat tomat yang sudah merah ya?"
"Iya, Sayang. Pasti," Anjeli tersenyum.
Malam harinya, Anjeli kembali ke Ruang Ajaib. Ia tidak meminta benih baru. Ia hanya duduk bersyukur di depan gubuk kayu. Ia menyadari bahwa setiap langkah perlahan yang ia ambil dari mulai dari memulihkan kaki Ayah, menanam jahe, menanam sayuran, hingga menghadirkan aroma lavender itu adalah jalinan takdir yang sedang ia susun untuk menyelamatkan keluarganya.
Keputusan sidang akhir masih satu minggu lagi, namun Anjeli tahu, bumi tempat ia berpijak telah memberikan restunya. Di jarinya, cincin hitam itu berkilau lembut, seolah ikut merayakan kemenangan kecil atas kebencian yang baru saja mereka lalui.
semangat updatenya 💪💪