Perjodohan? Ya mereka menikah karena perjodohan.
Seperti seperti cerita lain, jika menyangkut perjodohan maka mereka adalah dua insan yang tidak saling mengenal yang terpaksa duduk di depan pak penghulu dan menjadi pusat perhatian.
Kira-kira bagaimana kisah dua insan tersebut dalam menjalani bahtera rumah tangga? Dengan sifat lelaki itu yang dingin dan juga sifat perempuan yang sedikit bar-bar?
Ikuti kisahnya di novel Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
Salam kenal,
ptrmyllln
(PROSES REVISI)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ptrmyllln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duapuluhdelapan
Terdengar suara ketukan dari arah luar.
"Masuk!" suara berat itu menggema dalam ruangannya.
"Maaf pak, sekedar mengingatkan. Meeting dengan Hunter Group 45 menit lagi," ucap Viola. Tanpa repot menoleh Ardo hanya menjawab dengan deheman.
"Tadi aja manis banget sekarang dingin lagi. Dasar ice cream, Kulkas berjalan! Beruang Kutub," gerutu Viola kesal.
"Tidak baik mengumpat suami sendiri, dosa. Nggak ingat ya, dosa kamu udah numpuk, ditambah sering ngumpatin saya lagi, lama-lama jadi gunung tuh," kata Ardo sambil terkikik geli melihat ekspresi lucu Viola. Viola mendelik kesal.
"Sini deh,"
"Apa?!" tanya Viola ketus.
"Enggak usah sok ketus, kamu jelek. Sini aja," Viola menurut, ia mendekati Ardo.
"Apa?" tanya Viola lagi.
"Udah makan?" tanya Ardo.
Tuh kan manis lagi!, kayaknya Ardo sakit lagi deh,
"Belum," ronde kedua.
"Kok belum? Makan dulu yuk, saya udah delivery tadi, harusnya sudah sampai, tapi ke mana ya?" ucap Ardo dengan ekspresi khawatir.
Fix! Ardo demam lagi,
Viola mengecek suhu tubuh Ardo. "Enggak panas," gumam Viola. "Kamu ngerasa pusing gak?" tanya Viola.
Ardo menggeleng. "Kamu kenapa? Saya baik-baik aja, atau kamu yang demam?" ucap Ardo.
Viola menggeleng. "Kamu tadi ada kejedot tembok? Atau kepeleset di kamar mandi terus kepala kamu terbentur?" tanya Viola beruntun.
Ardo mengernyit bingung. "Tidak, kenapa?"
"Sifat kamu itu lho, manis banget. Apa jangan-jangan ... " Viola menggantung ucapannya lalu memperhatikan keadaan sekitar yang menjadi terasa horror sekarang, ia meneguk ludahnya kasar kemudian menatap Ardo yang juga menatapnya.
"Apa?" tanya Ardo melihat ekspresi Viola seakan ada sesuatu didalam tubuhnya.
Tanpa babibu lagi Viola langsung mengguncang badan Ardo. "Kamu siapa! Cepat keluar dari dalam tubuh suamiku! Wahai roh jahat keluar kamu!" Viola terus mengguncang guncang badan Ardo dan mengucapkan kalimat kalimat pengusir Setan. Ia sudah sering menonton ruqiyah dan sekarang ia menyaksikannya secara langsung.
"Saya tidak kesurupan Viola. Lepasin badan saya sakit ini, kamu tuh kesurupan," ucap Ardo sambil meringis kesakitan.
Viola langsung melepaskan cengkeraman nya lalu menyengir. "Habisnya, kamu kok jadi berubah gini?"
"Berubah gimana?" tanya Ardo
"Ya gitu. Sikap kamu jadi manis gitu, kayak bukan Ardo yang ku kenal,"
"Begitu? Tapi kamu suka?" tanya Ardo lagi.
"Sukalah. Apalagi waktu kamu cium aku—Eh? eng- ma-maksud aku—anu—"
"Jadi kamu mau aku cium lagi hm?" ucap Ardo menyeringai sambil memojokkan Viola.
"E-eh ka-kamu mau ngapain?" tanya Viola gugup saat nafas Ardo menerpa kulit wajah Viola.
"Mau apa ya? Cium kamu mungkin," Ardo semakin mengikiskan jarak mereka.
Viola memejamkan matanya. Jantung Viola sudah seperti ingin loncat dari sarangnya begitupun dengan jantung Ardo.
Ardo sudah menempelkan hidungnya ke hidung Viola. Saat ingin mencecap bibir istrinya itu suara ketukan pintu membuat Ardo mengerang kesal.
Shit!
Viola bernafas lega. Ia sangat berterima kasih pada orang yang mengetuk pintu itu.
"Masuk!" perintah Ardo.
"Maaf Pak. Ini pesanan Anda dititipkan ke saya, saya tidak melihat sekretaris Anda tadi makanya—"
"Letakkan saja," ucap Ardo memotong ucapan karyawan wanita itu, karyawan itu meletakkan makanannya ke meja Ardo.
"Saya permisi, pak." Karyawan wanita itu melirik Viola yang penampilannya sedikit berantakan. Dia melirik sinis Viola, lalu berlalu pergi.
"Sini makan dulu," ajak Ardo ke Viola dan di balas deheman oleh Viola. Sejujurnya jantung Viola masih berdetak kencang.
Mereka makan dalam hening.
"Meeting nya 15 menit lagi. Jadi, cepat habiskan makanannya. Aku mau ngecek ruangannya dulu," ucap Viola dan langsung meninggalkan ruangan Ardo.
Saat Viola berjalan menuju ruangan meeting ia mendengar seseorang memanggilnya
"Viola kan?" Viola berbalik dan melihat seorang pria tampan yang sedang menatapnya.
"Betul, Anda siapa?" tanya Viola karna ia tidak mengingat orang itu walaupun wajahnya tak begitu asing bagi Viola
"Wah kamu sudah lupa ternyata. Aku Anton, masih belum ingat?" tanya pria bernama Anton itu. Viola masih nampak mengingat ingat.
"Anton ... Anton-Oh iya aku baru ingat. Kamu ... kamu yang bantuin aku ngambil susu kotak waktu itu kan?"
"Nah itu! Akhirnya kamu ingat juga," Anton tersenyum.
"Iya. Hm by the way aku masuk dulu ya. Ada meeting soalnya. Sampai ketemu lagi," ucap Viola langsung masuk ke ruangan meeting.
Di sana sudah ada Ardo yang menunggu, entah kapan Ardo bisa masuk terlebih dahulu. Terkadang Viola heran, apa jangan-jangan Ardo ini jelmaan siluman yang bisa menghilang sesuka hati?
"Maaf saya terlambat," ucap seseorang yang baru masuk. Viola kaget melihat orang itu. Orang itu duduk diseberang Viola.
"Psstt, Kok kamu disini? Utusan Hunter Group?" tanya Viola berbisik. Anton hanya tersenyum sebagai jawaban.
Ardo yang melihat interaksi keduanya itu merasakan hatinya memanas.
"Ekhem. Bisa kita mulai sekarang?" ucap Ardo dingin.
"Lho jadi Anton itu ... " belum sempat Viola bicara Ardo sudah menatap tajam Viola. Sedangkan Anton hanya tersenyum.
"Maaf Pak Anton,"
Viola langsung mempresentasikan laporan nya.
Selama Viola bicara Anton terus menerus memperhatikan Viola dengan pandangan memuja. Ardo yang melihat itu merasa hatinya lagi-lagi panas.
"Tolong fokus pak Anton. Jangan memandangi sekretaris saya seperti itu, tidak ada yang menarik dari dia hingga Anda tidak berkedip seperti itu!" ketus Ardo yang tak di hiraukan oleh Anton.
"... jadi, keputusan ada di tangan pak Anton sekarang. Sekian dan terimakasih," Viola menutup presentasinya.
"Saya menerima kerja sama ini, " ucap Anton. "Baiklah kalau begitu. Kita akan membicarakan nya lagi nanti. Saya permisi," lanjutnya.
"Saya permisi," pamit Viola pada Ardo.
***
Anton yang melihat Viola yang baru saja keluar langsung memanggilnya.
"Viola!" panggil Anton.
Viola menoleh. "E-em, ya pak Anton?" jawab Viola formal. Ia agak segan dengan Anton sebenarnya.
"Sudah jangan terlalu formal denganku, kamu mau pulang?" tanya Anton.
Viola melirik jam di pergelangan tangannya. "Sebentar lagi, mungkin,"
"Sama aku aja ya? Aku juga pengen ngobrol sama kamu, boleh?" pinta Anton.
"Aku—"
"Viola pulang dengan saya," ucap seseorang yang memotong omongan Viola.
"Eh pak Ardo," kata Anton.
"Ayo kita pulang,"
"Eum aku pulang dulu ya. Bye," pamit Viola pada Anton. Anton membalas Viola dengan senyumannya. Sedangkan Ardo memandang tajam Anton, terlihat sekali Ardo sangat tidak suka dengan kehadiran Anton.
Gue yakin hubungan lo sama Ardo bukan hanya sebatas bos dan sekretaris aja, batinnya.
***
Sesampainya di mobil Ardo hanya diam dan memasang wajah datar andalannya. Viola yang bingung dengan tingkah Ardo hanya diam saja.
Diperjalanan pun Ardo masih memasang wajah datar.
"Ada hubungan apa kamu sama dia? Atau jangan jangan dia pacar kamu?" tanya Ardo ke Viola akhirnya.
"Dia? Dia siapa?" tanya Viola bingung.
"Antonio,"
"Anton maksud kamu?"
"Antonio,"
"Anton?"
"Antoni—"
"Iya Antonio! Puas?!" tanya Viola kesal. "Temen doang. Aku kenal dia di mall, dia nolong aku ambilin susu kotak. Rak nya tinggi jadi aku ga bisa gape. Badan aku kan mungil," jelas Viola disertai kekehan di akhir kalimatnya.
"Temen kok deket banget," terdengar nada cemburu saat Ardo mengatakan itu.
"Enggak kok, biasa aja." elak Viola
"Saya gak suka kamu dekat dia," ucap Ardo spontan membuat Viola terkejut.
"Eh? Kamu cemburu?" tanya Viola sambil tersenyum.
"Enggak!" bantah Ardo
Viola tertawa. "Adudu lucu banget si suamiku, apalagi pipi memerah gini. Pake Blush on merek apa sih?" goda Viola. Ardo hanya diam saja menghiraukan Viola yang terus-terusan menggodanya.
"Tenang, aku nggak mungkin selingkuh. Cukup kamu aja, aku hanya mau nikah satu kali," ucap Viola tersenyum hangat ke Ardo. Ardo pun juga tersenyum ke Viola.
"Nah gitu kek senyum, kan tambah ganteng," kekeh Viola.
"Baru sadar kamu? Harusnya kamu berterimakasih pada Allah udah diberikan suami tampan kayak saya,"
"Idih si Bapak, pedenya kebangetan euy."
Mereka pun turun dari mobil karna sudah sampai di apartemen. Viola turun dengan menggandeng tangan Ardo membuat banyak wanita iri dengan Viola.
Tanpa mereka sadari sepasang mata sedang memperhatikan mereka dengan senyuman miring terpatri di wajahnya.
Ia mengambil objek yang sedang ia perhatikan ini. Yang kemudian ia mendial salah satu nomor yang ada di telepon canggih itu.
"Cari tau semua tentang gadis yang ada difoto itu. Jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun. Mengerti?!"
"Baik tuan," telepon pun terputus.
"Adelardo Cetta Vazquez," gumamnya tersenyum miring dan langsung memacu kecepatan mobilnya.
Semoga sehat selalu ya thor,semoga sukses selalu🤲🏻🤲🏻🤲🏻🌺🌺🌺🌺🌺⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️