NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Kisah cinta masa kecil / Kencan Online / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:18
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cahaya Matahari

Cahaya matahari pagi yang menerobos celah gorden terasa seperti serangan fisik. Raka mengerang, menarik selimut hingga menutupi kepala, mencoba bersembunyi dari hari Rabu yang sudah dimulai tanpa persetujuannya.

Biasanya, pukul enam pagi adalah waktu di mana mesin tubuhnya sudah panas. Mandi air dingin, kopi hitam, kemeja yang disetrika licin, lalu bertarung dengan kemacetan Jakarta. Itu adalah ritme yang menjaga kewarasannya. Namun hari ini, ritme itu rusak total.

Kepalanya terasa berat, seolah ada bola timah yang menggelinding di dalam tengkoraknya setiap kali ia bergerak satu sentimeter saja. Tenggorokannya kering dan perih, seperti baru saja menelan segenggam pasir. Minyak angin aromaterapi pemberian Bayu semalam masih menyisakan aroma samar di bantal, bercampur dengan bau keringat dingin yang membasahi seprai.

Raka memaksakan diri untuk duduk. Dunia di sekitarnya berputar pelan. Ia melirik ponsel di nakas. Pukul 07.15.

Dia terlambat.

Rasa panik sesaat menyergap dada—refleks seorang karyawan korporat yang terbiasa patuh pada absensi. Ia mencoba menurunkan kaki ke lantai, tapi lututnya gemetar. Gravitasi terasa dua kali lipat lebih kuat dari biasanya. Raka sadar, hari ini dia kalah. Tubuhnya melakukan pemberontakan yang tidak bisa diredam hanya dengan tekad atau kafein.

Dengan jemari yang terasa kaku, Raka mengetik pesan singkat kepada bosnya. Kalimat standar, formal, tanpa emosi. *Izin sakit. Demam tinggi. Akan tetap memantau email jika memungkinkan.*

Setelah tombol kirim ditekan, Raka melempar ponselnya ke sisi kasur. Keheningan apartemen yang biasanya ia hindari kini menyelimutinya secara utuh.

Selama ini, Raka jarang berada di apartemen pada jam kerja. Ia tidak tahu bahwa pada pukul delapan pagi, suara mesin air tetangga di lantai atas terdengar begitu bising. Ia tidak tahu bahwa cahaya matahari pagi menciptakan pola persegi panjang yang bergerak lambat di dinding kamarnya yang bercat putih polos. Ia asing dengan tempat tinggalnya sendiri di siang hari.

Ia kembali berbaring, menatap langit-langit. Hidungnya tersumbat, memaksanya bernapas lewat mulut yang terasa pahit.

Ingatan itu datang lagi, menyusup masuk melalui celah pertahanannya yang melemah akibat demam.

Dulu, sakit bukan sesuatu yang sepi.

Ada suara langkah kaki yang diseret pelan agar tidak membangunkannya. Ada bunyi denting sendok beradu dengan gelas keramik saat obat dilarutkan atau teh hangat diaduk. Ada omelan pelan—suara perempuan itu—yang menggerutu karena Raka terlalu keras kepala untuk minum vitamin sebelum jatuh sakit.

*"Kamu tuh ya, kalau dibilangin ngeyel. Sekarang rasain sendiri, kan?"*

Suara itu begitu nyata di telinganya sampai Raka menoleh ke arah pintu kamar, berharap melihat sosok itu berdiri di sana dengan daster rumahan dan rambut yang dicepol asal-asalan.

Kosong. Hanya ada pintu lemari yang sedikit terbuka, menampakkan deretan kemeja kerjanya yang tergantung rapi seperti tentara baris-berbaris.

Raka memejamkan mata, merasakan panas di kelopak matanya. Dulu, saat demam seperti ini, perempuan itu punya kebiasaan aneh. Dia tidak akan langsung memberikan obat. Dia akan duduk di tepi ranjang, meletakkan punggung tangannya di dahi Raka, lalu mendesis pelan, *"Panas banget, Ka."*

Sentuhan itu. Raka merindukan sensasi kulit yang sejuk di dahinya yang terbakar. Lebih dari obat apa pun, validasi fisik bahwa ada orang lain yang peduli pada rasa sakitnya adalah hal yang paling menyembuhkan. Sekarang, satu-satunya yang menyentuh dahinya adalah rambutnya sendiri yang lepek oleh keringat.

Ponselnya bergetar.

Raka meraihnya dengan malas. Pesan dari Bayu.

*Bayu: Bos bilang lo izin sakit. Parah banget emang?*

*Bayu: Gue pesenin bubur ya. Jangan nolak. Gue tau stok kulkas lo cuma air mineral sama harapan palsu.*

Raka ingin mengetik balasan sarkas, tapi jarinya terlalu lemas. Dan Bayu benar. Bubur instan semalam adalah stok terakhirnya. Ia hanya membalas dengan emoji jempol. Sederhana, tapi cukup untuk membiarkan Bayu mengambil alih kendali.

Setengah jam kemudian, bel apartemen berbunyi.

Berjalan dari kamar tidur ke pintu depan terasa seperti mendaki gunung. Raka menyeret langkahnya, berpegangan pada dinding lorong. Ia membuka pintu, mengambil bungkusan plastik dari kurir pengantar makanan tanpa banyak bicara, hanya gumaman terima kasih yang serak.

Kembali ke meja makan kecil di sudut ruang tengah, Raka membuka bungkusan itu. Aroma kaldu ayam, bawang goreng, dan daun seledri menguar, memenuhi ruangan yang berbau apek.

Bayu memesankan bubur ayam dari kedai langganan kantor. Lengkap dengan sate usus dan telur puyuh. Raka duduk, menatap mangkuk styrofoam itu. Uap panas mengepul, membasahi wajahnya.

Ia mengambil sendok, mengaduk bubur itu pelan.

Gerakan mengaduk itu memicu memori sensorik lainnya. Mantan kekasihnya adalah penganut aliran bubur tidak diaduk. Dulu, mereka sering berdebat konyol soal ini di warung pinggir jalan.

*"Kalau diaduk itu jadi kayak muntahan kucing, Ka. Ilfeel tau,"* katanya dulu, sambil melindungi mangkuknya seolah Raka akan mengacaukannya.

Raka tersenyum tipis, senyum yang terasa perih di sudut bibirnya yang pecah-pecah. Hari ini, tanpa sadar, Raka tidak mengaduk buburnya sampai hancur seperti biasanya. Ia menyendok bagian pinggir, membiarkan *topping*-nya tetap rapi di tengah. Sebuah kompromi bawah sadar untuk seseorang yang bahkan tidak ada di sana untuk melihatnya.

Suapan pertama terasa hambar. Lidahnya mati rasa karena demam. Tapi kehangatan bubur itu menjalar turun ke kerongkongan, memberikan sedikit kenyamanan pada tubuhnya yang menggigil.

Raka makan dalam diam. Hanya bunyi kunyahan pelan dan suara dengungan kulkas yang menemani.

Kesendirian saat sehat adalah pilihan. Kesendirian saat sakit adalah hukuman.

Ia teringat satu kejadian spesifik. Sekitar tiga tahun lalu, saat ia terkena tifus. Perempuan itu mengambil cuti dua hari hanya untuk merawatnya. Raka ingat terbangun di tengah malam, basah kuyup oleh keringat, dan menemukan perempuan itu tertidur dalam posisi duduk di kursi samping tempat tidur, tangannya masih memegang waslap basah.

Raka ingat betapa bersalahnya ia merasa saat itu, melihat kantung mata di wajah kekasihnya. Tapi di saat yang sama, ia merasa sangat aman. Perasaan aman yang mengatakan, *'Dunia boleh runtuh, tapi ada orang ini yang menjagaku.'*

Sekarang, siapa yang menjaganya?

Raka meletakkan sendok. Nafsu makannya hilang meski buburnya baru habis seperempat. Ia menutup kembali mangkuk styrofoam itu. Rasa mual mulai naik.

Ia butuh air.

Raka berjalan tertatih ke dapur, mengambil gelas, dan menyalakan keran dispenser. Air dingin mengalir. Ia meneguknya rakus. Sensasi dingin itu bertabrakan dengan panas dalam tubuhnya, menciptakan kejutan yang tidak menyenangkan tapi membuat sadar.

Ia melihat pantulan wajahnya di jendela dapur yang gelap karena mendung mulai turun di luar. Wajah pucat, mata cekung, rambut berantakan, dan dagu yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus yang belum dicukur dua hari. Ia terlihat menyedihkan.

"Menyedihkan," gumamnya pada bayangan itu. Suaranya serak, asing di telinganya sendiri.

Ia kembali ke kamar, menarik selimut lagi. Tubuhnya menuntut istirahat, tapi pikirannya terus berisik. Ia mencoba memejamkan mata, berharap tidur bisa membawanya lari dari rasa sepi ini.

Namun, demam membawanya pada mimpi-mimpi yang aneh.

Dalam tidurnya, Raka berada di kantor. Bosnya berteriak tentang laporan yang hilang, tapi suara bosnya berubah menjadi suara ibunya yang menanyakan kapan ia akan menikah. Lalu adegan berubah, ia berada di supermarket, di lorong sabun cuci piring. Ia memegang botol aroma jeruk nipis, tapi botol itu semakin berat hingga ia tidak kuat mengangkatnya. Dan di ujung lorong, ia melihat punggung perempuan itu. Rambut hitam panjang yang diikat satu. Raka mencoba memanggil, tapi suaranya tidak keluar. Ia mencoba berlari, tapi kakinya terpaku di lantai ubin yang dingin.

Raka tersentak bangun. Napasnya memburu.

Jantungnya berdetak kencang, memukul-mukul rongga dada. Kamar sudah remang-remang. Cahaya oranye dari lampu jalan mulai masuk, bercampur dengan sisa cahaya sore yang kelabu. Sudah sore. Hujan deras terdengar menghantam kaca jendela.

Ia meraba dahinya. Masih panas, tapi tidak setinggi tadi pagi. Keringat membasahi bajunya, membuatnya lengket dan tidak nyaman.

Raka bangun, merasa sedikit lebih ringan meski kepalanya masih pening. Ia mengganti kaosnya yang basah dengan kaos kering. Saat melempar kaos kotor ke keranjang cucian, ia melihat tumpukan pakaian yang belum dicuci selama seminggu.

Apartemen ini berantakan. Tidak kotor, tapi tidak terawat. Ada debu di atas meja rias yang kosong—meja yang dulu penuh dengan botol-botol *skincare* dan pernak-pernik perempuan itu. Sekarang meja itu hanya menampung dompet, kunci, dan debu.

Raka duduk di tepi ranjang, menatap meja kosong itu.

Sakit ini memaksanya berhenti berlari. Dan saat berhenti, ia dipaksa melihat sekeliling. Ia menyadari bahwa selama ini ia hanya "menginap" di hidupnya sendiri. Ia bekerja, pulang, tidur, dan mengulanginya lagi, menjadikan apartemen ini hanya sebagai tempat transit, bukan tempat tinggal.

Karena jika ia menganggap ini tempat tinggal, ia harus mengakui bahwa "rumah" itu sudah tidak ada isinya.

Ponselnya berkedip lagi. Satu notifikasi email kerja masuk. Raka mengabaikannya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tidak peduli pada pekerjaan.

Ia berjalan ke jendela, menatap butiran hujan yang meluncur di kaca. Kota Jakarta di bawah sana tampak buram, kelabu, dan basah. Lampu-lampu kendaraan mulai menyala, membentuk sungai cahaya merah dan putih yang merayap pelan.

Jutaan orang di luar sana. Jutaan hidup yang saling bersinggungan. Tapi di lantai 17 ini, Raka merasa terputus dari segalanya.

Perutnya berbunyi. Lapar, tapi ia tidak ingin bubur dingin sisa tadi pagi.

Ia teringat resep sup ayam jahe yang pernah dibuatkan mantannya. Sederhana, hanya ayam, jahe geprek, bawang putih, dan sedikit garam. Rasanya tidak semewah restoran, kadang sedikit keasinan, tapi hangatnya menjalar sampai ke tulang.

Raka membuka aplikasi pesan antar lagi. Ia mengetik "Sup Ayam Jahe" di kolom pencarian. Ada puluhan pilihan. Ia memilih satu secara acak, tidak peduli rasanya. Ia hanya ingin sesuatu yang panas.

Sambil menunggu pesanan, Raka mengambil obat penurun panas dari laci nakas. Ia menelan pil itu tanpa air, membiarkan rasa pahitnya tertinggal di lidah.

"Besok harus sembuh," bisiknya pada kaca jendela yang mengembun.

Bukan karena ia ingin bekerja. Tapi karena ia tidak sanggup menghabiskan satu hari lagi terkurung di sini bersama hantu-hantu masa lalu yang muncul dari setiap sudut ruangan yang sepi. Menjadi sakit membuatnya lemah, dan kelemahan itu membuka pintu gerbang memori yang sudah susah payah ia tutup rapat-rapat.

Malam itu, Raka makan sup ayam sendirian di bawah cahaya lampu ruang tengah yang temaram. Rasanya enak, tapi kurang asin. Kurang jahe. Kurang "dia".

Namun, garis waktu terus berjalan. Jam dinding terus berdetak. Dan Raka, mau tidak mau, harus menelan suapan berikutnya agar bisa bertahan hidup untuk menghadapi hari esok.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!