NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab: 12

Keluar dari lemari piala bukan berarti mereka sudah aman. Raka bergerak cepat, namun langkahnya seringan kucing. Dia menarik lengan Keyra, memberi isyarat agar gadis itu tetap menunduk di balik jajaran meja rapat yang panjang.

Ruang OSIS kembali hening, hanya terdengar dengungan rendah dari pendingin ruangan yang lupa dimatikan. Cahaya bulan yang menerobos masuk lewat celah ventilasi menciptakan garis-garis perak di lantai vinil, seolah menjadi jebakan laser yang harus mereka hindari.

"Lewat jendela belakang," bisik Raka, nyaris tanpa suara. Dia tidak menoleh, matanya awas memindai pintu masuk, memastikan Pak Asep benar-benar sudah pergi ke gerbang depan.

Keyra mengangguk, meski dia tahu Raka tidak bisa melihatnya. Tangannya mencengkeram erat saku jaket denimnya. Di sana, terselip sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam yang sempat dia sambar dari meja Julian tepat sebelum mereka mendengar langkah kaki Pak Asep tadi. Benda itu terasa panas di balik kain, seolah menyimpan energi negatif yang siap meledak.

Mereka merayap menuju jendela di sudut ruangan. Raka dengan cekatan membuka kuncinya. Engsel jendela itu untungnya baru diminyaki—mungkin bagian dari program kerja Julian yang perfeksionis—sehingga terbuka tanpa derit sedikit pun. Satu per satu, mereka melompat keluar, mendarat di atas rumput basah di halaman belakang sekolah.

Udara malam langsung menampar wajah Keyra, dingin namun membebaskan. Wangi tanah basah dan daun kering menggantikan aroma pengap lemari piala yang bercampur dengan parfum maskulin Raka. Namun, sensasi kedekatan fisik tadi masih menyisakan jejak debaran aneh di dada Keyra, yang berusaha keras dia abaikan demi fokus pada misi.

"Lari ke tembok samping perpustakaan. Mobil gue parkir di jalan tikus belakang sana," perintah Raka. Tanpa menunggu jawaban, cowok itu sudah berlari kecil, tubuhnya membungkuk untuk menghindari sorotan lampu taman.

Keyra menyusul di belakangnya. Adrenalin memompa darah ke seluruh tubuhnya, membuat kakinya terasa ringan. Mereka memanjat tembok setinggi dua meter dengan bantuan tumpukan batako bekas renovasi. Raka melompat lebih dulu, lalu mengulurkan tangan untuk menangkap Keyra.

Saat telapak tangan mereka bersentuhan lagi, ada sengatan listrik statis yang membuat Keyra tersentak, tapi genggaman Raka kokoh. Dia menarik Keyra turun hingga mendarat dengan aman di trotoar jalanan luar sekolah yang sepi.

"Masuk," kata Raka sambil membuka pintu Jeep Wrangler tuanya yang terparkir di bawah pohon rindang.

Begitu mereka berdua berada di dalam mobil dan pintu tertutup rapat, Raka menghembuskan napas panjang. Dia menyandarkan kepalanya ke setir sejenak, lalu menoleh ke arah Keyra. Wajahnya yang terkena bias lampu jalan terlihat lega, namun matanya menyiratkan rasa penasaran yang besar.

"Lo gila," kata Raka, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk seringai miring yang khas. "Benar-benar gila. Gue nggak nyangka murid teladan kayak lo punya bakat jadi maling profesional."

Keyra tertawa pendek, tawa yang lepas karena rasa takut yang mulai surut. "Gue belajar dari yang terbaik. Lo sering bolos lewat jalur tadi, kan?"

"Itu rahasia perusahaan," elak Raka sambil menyalakan mesin mobil. Suara derum halus mesin memecah kesunyian jalanan. Dia tidak langsung menjalankan mobil, melainkan menatap saku jaket Keyra. "Sekarang, tunjukin ke gue. Apa yang lo ambil dari meja Si Robot itu?"

Keyra merogoh sakunya dan mengeluarkan buku catatan hitam itu. Ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan orang dewasa, dengan sampul kulit sintetis yang licin tanpa tulisan apa pun di depannya. Sangat minimalis. Sangat Julian.

"Tadi gue sempet liat halaman pertamanya pas di dalem," kata Keyra sambil membuka buku itu di bawah nyala lampu kabin mobil yang remang. "Ada kode angka. 11-09-JL-44. Gue nggak tau itu apa, makanya gue hafalin."

"Coba liat isinya," desak Raka, mencondongkan tubuhnya mendekat.

Keyra membalik halaman pertama. Halaman kedua. Halaman ketiga. Keningnya berkerut. Raka yang ikut mengintip pun terdiam, ekspresinya berubah dari antusias menjadi bingung.

"Ini... jadwal pelajaran?" tanya Raka skeptis.

"Bukan," gumam Keyra, matanya menelusuri baris demi baris tulisan tangan yang sangat rapi—begitu rapi hingga menyerupai cetakan komputer. "Ini jadwal hidup."

Keyra menunjuk salah satu entri di halaman tengah. Itu adalah tanggal hari ini.

*06:00:00 - Bangun. Detak jantung target: 65 bpm.*

*06:03:15 - Minum air mineral 300ml. Suhu ruang.*

*06:15:00 - Mandi air dingin. Durasi: 8 menit tepat.*

*06:45:30 - Berangkat ke sekolah. Kecepatan rata-rata kendaraan: 40 km/jam.*

"Tunggu," potong Raka, jarinya menunjuk angka-angka di sisi kiri. "Dia nulis sampai ke detiknya? Siapa orang yang bangun tidur terus nyatet detak jantung target?"

"Baca yang ini," suara Keyra merendah, terdengar ngeri. Dia menunjuk baris di jam istirahat sekolah tadi siang.

*12:30:00 - Makan siang di kantin. Menu: Nasi merah, ayam bakar. Kalori: 450 kkal.*

*12:45:20 - Interaksi sosial dengan Raka. Topik: Provokasi ringan tentang proposal dana. Durasi: 120 detik. Tujuan: Menjaga citra rivalitas.*

*12:47:20 - Mengakhiri percakapan. Senyum sopan tipe B.*

Keheningan menyelimuti kabin mobil Jeep itu. Raka menarik diri, punggungnya menabrak sandaran kursi dengan keras. Wajahnya pucat, seolah baru saja melihat hantu.

"'Provokasi ringan'? 'Senyum sopan tipe B'?" Raka mengulang kata-kata itu dengan nada tidak percaya. "Jadi waktu dia nyolot ke gue tadi siang... itu semua skenario? Dia ngerencanain buat berantem sama gue di detik yang udah dia tentuin?"

Keyra merasakan bulu kuduknya meremang. Dia membalik halaman-halaman berikutnya dengan cepat. Semuanya sama. Kolom-kolom presisi, waktu yang diatur hingga satuan detik, dan catatan kecil tentang 'tujuan' dari setiap tindakan. Julian tidak menjalani hidup; dia menjalankan sebuah program.

"Ini nggak wajar, Ka," bisik Keyra. "Ini obsesif. Liat ini, bahkan dia nyatet kapan harus kedip atau napas panjang kalau lagi stress."

Keyra berhenti membalik halaman ketika sampai pada halaman untuk jam saat ini. Jam di mana mereka seharusnya sedang berada di ruang OSIS.

*21:00:00 - Evaluasi mandiri di rumah.*

*21:30:00 - Pengecekan keamanan ruang OSIS (Delegasi ke Pak Asep via manipulasi jadwal patroli).*

Keyra ternganga. Dia menatap Raka dengan mata membelalak. "Dia nggak lupa nyuruh Pak Asep ngecek. Dia *memanipulasi* jadwal Pak Asep supaya ngecek jam segini. Dia tahu, Raka. Atau setidaknya, dia antisipasi ada yang bakal masuk."

"Manipulasi jadwal patroli..." Raka mengepalkan tangannya di setir, buku-buku jarinya memutih. "Pantesan Pak Asep balik lagi. Biasanya jam segini dia ngopi di pos depan."

Raka menyambar buku itu dari tangan Keyra, membolak-baliknya dengan kasar hingga sampai ke halaman paling belakang. Tidak ada jadwal di sana. Hanya ada satu kalimat yang ditulis dengan tinta merah, berbeda dari tinta hitam yang mendominasi halaman lain.

*"Variabel tak terduga mulai muncul. Garis waktu bergeser 0.004%. Eliminasi gangguan segera."*

"Variabel tak terduga," gumam Raka, matanya gelap. "Itu kita, Key."

"Atau gue," sahut Keyra pelan. Dia teringat bagaimana tatapan Julian padanya belakangan ini. Tatapan yang bukan seperti seorang ketua OSIS melihat sekretarisnya, melainkan seperti seorang ilmuwan yang mengamati tikus percobaan yang mulai bertingkah aneh.

"Kita harus bawa ini," kata Raka tegas. Dia menutup buku itu dan menyerahkannya kembali pada Keyra. "Simpen baik-baik. Jangan sampe ilang, dan demi Tuhan, jangan sampe Julian tau buku ini ada di lo."

"Terus kita mau apa? Laporin ke guru BK? Mereka bakal nganggep ini cuma buku harian anak rajin yang agak aneh," bantah Keyra.

"Nggak," Raka menyalakan lampu depan mobil, menyorot jalanan aspal yang panjang dan gelap di depan mereka. "Kita bakal cari tau apa maksud 'Garis Waktu' yang dia tulis. Julian bukan cuma perfeksionis, Key. Dia main Tuhan-tuhanan sama hidupnya sendiri, dan mungkin hidup orang lain juga."

Mobil Raka melaju meninggalkan area sekolah, membawa mereka menjauh dari gedung yang kini terasa seperti sarang monster. Namun, Keyra tidak bisa melepaskan pandangannya dari buku hitam di pangkuannya. Di dalamnya, tersimpan bukti bahwa cowok paling sempurna di sekolah mereka mungkin adalah sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar manusia ambisius.

Dan yang paling menakutkan adalah entri terakhir di halaman besok pagi:

*07:00:00 - Konfrontasi Keyra. Cek respons pupil mata. Validasi kecurigaan.*

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!