Kharis, seorang gadis di sebuah kota kecil, seorang mahasiswa, hidupnya terlalu fokus dengan studinya sehingga cenderung tidak peduli dengan apa itu cinta, sampai Lewi menjadi tetangganya. Cowok itu mengalihkan dunianya, ia jatuh cinta, sayangnya Lewi yang begitu supel, berteman dengan siapa saja tetapi bersikap berbeda pada Kharis, cenderung tidak peduli. Akankah cinta pertama Kharis menemukan tempat yang seharusnya di hati Lewi....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abygail TM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 27. Baiklah
Setelah kepergian papi kembali ke M, Lewi masih enggan bertemu maminya. Berhari-hari Lewi semakin tidak bersemangat untuk berada di luar kamar. Dia hanya akan keluar kamar untuk mengisi perut, selebihnya dia masuk lagi, tidur, nonton tv, main game di ponsel, tidur lagi. Sebuah titik terendah karena tekanan keinginan mami papi juga tentang Kharis.
Pagi ini ponselnya berbunyi dalam beberapa kali panggilan, tidak dia hiraukan, pasti papi atau mami. Bosan tengkurap di tempat tidur dia meraih ponsel bermaksud memainkan game, matanya menangkap panggilan dari ARTnya Kharis, segera dia melakukan panggilan balik. Sebelum ini dia sering menelpon tapi tidak ada berita baik...
📱
"Halo... bu, ada kabar apa?" Lewi tidak sabar.
Maaf bos ganteng, jadi lupa kasih kabar...
"Iya... Kharis bagaimana bu?"
Ade sudah pulang seminggu yang lalu, tapi hanya beberapa hari di rumah sudah pergi lagi.
"Ke mana lagi bu?"
Katanya pergi Kuliah Kerja gitu, tapi cuma di daerah sini aja, sebulan ini katanya. Tapi maaf belum dapat nomor ponselnya Ade yang baru.
"Iya nggak papa, makasih bu..."
Akhirnya ada kabar juga tentang gadis itu. Termenung dia memikirkan apa yang dilakukan Kharis sekarang. Dia tidak teralih hidupnya terencana, baru masuk semester tujuh sudah KKT, berarti tidak lama lagi selesai. Semangat belajarnya luar biasa.
Memikirkan itu seperti ada sebuah pecut mendarat di kepalanya. Dia jadi ingat cerita tentang Ocang, dan hari ini kabar tentang Kharis seperti sebuah bahan bakar yang membangkitkan 'mesin' semangatnya, seperti percikan cahaya yang masuk di kegelapan ruang hatinya, memunculkan niat untuk melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri.
"Baiklah... mari mulai hari ini... Lewi Andrean, untuk sesuatu yang baik yang menanti di depan sana."
Lewi turun dengan tampilan yang jauh berbeda, rapih dengan gaya casualnya, kemeja lengan pendek hitam tidak dikancing, ada dalaman kaos putih terlihat plus celana corduroy coklat muda. Dan alas kaki sneakers warna putih.
Mami yang baru keluar kamar tertegun menatap anaknya. Hampir putus asa bagaimana cara membangun komunikasi dengan anak semata wayangnya yang menjadi tumpuan harapannya. Penolakan demi penolakan setiap hari, ada dalam satu rumah tapi tidak pernah berjumpa.
"Pagi mi..."
Lewi menatap sejenak dan menyapa maminya. Dia segera menuju ruang makan dan langsung duduk di kursinya. Mami Vero heran dengan perubahan anaknya yang lebih dahulu menyapa dia, sesuatu yang belum pernah terjadi. Mami menyusul ke ruang makan dan duduk di hadapan Lewi.
"Mau ke mana Andre?"
"Ke kantor..."
"Kantor siapa?"
"Kantor mami... mami yang minta aku kerja kan?"
"Mmmh... baguslah."
Mami Vero merasa senang meski wajahnya tidak menunjukkan hal itu, tapi otaknya langsung jalan melihat penampilan Lewi.
"Kamu akan pergi dengan tamp..."
Mami baru akan protes dengan cara berpakaian Lewi yang teramat santai untuk ke kantornya, tapi mami teringat nasehat papi untuk jangan terlalu mendikte Lewi. Dia niat pergi hari ini tanpa paksaan itu sebuah kemajuan. Ya biarkan saja dulu sebagai awal biarkan dia berorientasi dengan caranya sendiri.
"Baiklah... makanlah yang berkarbo karena penting untuk jaga stamina."
Lewi mengangguk. Dia mencomot selembar roti tawar setelah menghabiskan susunya. Tidak menyentuh buah seperti biasa. Masih mengunyah roti Lewi ke dapur dan kembali dengan bi Mina yang membawa wadah plastik. Bi Mina memasukkan potongan buah kemudian memberikan wadah tersebut pada Carla asisten mami Vero yang sedang duduk tak jauh dari meja makan, menunggu bossnya selesai sarapan.
"Tolong dibawa, buat bekal den Andre."
Carla menerima wadah itu sambil melirik anak bossnya yang selama ini hanya dilihatnya di foto keluarga di ruang tengah rumah besar ini.
"Lebih ganteng aslinya, hmm... siapa tahu masih single" Carla membatin.
"Mina, panggil mang Ujang ke sini..."
Suara mami terdengar.
"Iya bu..."
Bi Mina bergegas ke belakang.
Lewi yang tadi naik lagi ke kamarnya sudah turun lagi, waist bag sudah terselempang di bahu dan sudah mengenakan kacamata hitam. Mami Vero yang baru selesai sarapan dan sudah berjalan ke pintu depan mengangah dengan muka yang semakin kecut saat melihat Lewi, anaknya mau ke mana sih ini... Berbeda dengan Carla sang asisten yang justru semakin terpana.
Di depan rumah...
"Andre, mang Ujang akan jadi sopirmu mulai sekarang."
"Aku bawa mobil sendiri, mi... nggak usah pakai sopir."
"Kamu ke kantor sebagai pemilik bukan sebagai anak magang, dan ini salah satu cara untuk menunjukkan itu."
Mami langsung naik ke mobil sedan mewah keluaran akhir, tak menghiraukan protes Lewi, sementara mang Ujang sudah ada di belakang kemudi mobil SUV M Bens G-Class yang baru Lewi lihat hari ini.
Akhirnya Lewi naik tersenyum pada mang Ujang. Mobilpun melaju mengantar Lewi menuju 'dunia yang baru' yang sudah diatur mami untuknya. Lewi mulai berusaha mengalah pada mami, di samping itu dia punya tekad juga untuk mulai menyusun tesisnya. Di kantor itu pasti ada sesuatu yang menarik untuk dijadikan bahan penelitiannya. Jika tesisnya selesai dia bisa ke kota M untuk menjumpai seseorang.
Mobil berhenti di depan lobby sebuah tower di sebuah jalan utama di pusat kota J. Lewi tercengang mengetahui di mana mami bekerja selama ini.
Ya dia tidak peduli tentang mami karena dia juga merasa tidak dipedulikan bahkan diabaikan. Sejak kecil hanya ada papi dalam hidupnya, yang mengantar ke sekolah di hari pertama, yang bersama dia meniup lilin ulang tahun, mengambil raport, jalan-jalan, mengajak makan. Hingga dia dewasa mami adalah sosok yang ada dekat tapi jauh.
"Terima kasih mang Ujang..."
"Sama-sama den..."
Seorang security membuka pintu mobil dengan sikap hormat, Lewi tersenyum dia harus mulai membiasakan diri tidak memfungsikan tangannya.
"Terima kasih pak..."
Lewi menepuk bahu si security diiringi tatapan tidak suka dari mami yang juga sudah turun.
Lewi mengikuti mami Vero yang melangkah masuk ke lobby, di belakang Lewi asisten mami mengikuti dengan kedua tangan yang penuh terlihat kerepotan membawa tas mami, tas dokumen, tasnya sendiri serta sebuah paper bag. Lewi yang melihat itu tergerak ingin membantu.
"Mari saya bawa yang lain..."
Lewi berujar sambil mensejajari langkah asisten Carla. Mami yang mendengar langsung berhenti tapi tidak menoleh.
"Andre... itu bukan tugasmu!"
Suara mami pelan tapi penuh wibawa.
Carla menghentikan langkah, salah tingkah karena perhatian anak bos yang menyentuh hati di pagi ini dan karena suara bossnya yang terdengar marah. Tangannya yang sempat mengulurkan tas dokumen dan paper bag segera dia tarik kembali. Sementara Lewi hanya mengangkat bahu.
Boss kantor ini, wanita yang selalu anggun dan elegan kembali melangkah melewati karyawan yang sudah ada di area lobby yang menghentikan kegiatan dan mengangguk hormat. Lewi melangkah kini sejajar dengan maminya dengan kedua tangan di saku celananya, melempar senyum kepada karyawan yang dilewati.
Ada rasa penasaran pada tatapan setiap karyawan melihat boss masuk dengan seorang anak muda. Terlebih karyawan wanita yang mendapat pemandangan pagi yang sangat menarik, sosok makhluk sempurna yang terlihat ramah.
Di depan lift, Lewi melihat ada 2 orang yang bergabung berdiri dengan asisten mami terlihat saling melempar kode bertanya siapa Lewi. Lift terbuka dan hanya mami dan Lewi yang masuk.
"Jaga sikapmu di depan karyawan. Jangan tebar pesona dengan senyummu itu... Buka kacamata hitammu dan lepas tas di lehermu itu. Itu tidak cocok di sini."
Lewi mendelik, kesal dengan perkataan mami. Belum apa-apa dia sudah merasa direndahkan. Perasaan marah mulai menguasainya. Di hadapan mami dia selalu merasa tidak berharga, tidak ada yang baik dalam dirinya. Lewi memutuskan pulang, dan akan langsung ke bandara ke tempat papi saja dan bertemu Ririsnya.
Sekelebat bayangan gadis itu melintas. Pintu lift terbuka, mami keluar dan Lewi turun ke lantai dasar lagi dengan lift itu. Mami menoleh ketika sadar anaknya tidak mengikutinya. Pintu lift sudah tertutup. Mami membuang nafas kasar. Anak itu... tidak bisa diharapkan.
Baiklah...
.
🏢🏢🏢
maka kemungkinan M cuma dua, Makassar atau Medan. tp lebih condong k Makassar sih
Sungguh cerita novel yg ringan tdk terlalu berbelit belit aqu suka kak..🤗🤗😘😘😘😘😘😘