NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 21: Pelindung yang Setia

Arkan lagi nyetir pulang dari kantor. Jalanan macet. Panas. Keringet ngucur meskipun pendingin udara mobil udah nyala maksimal.

Pikirannya melayang. Ke Zahra. Selalu ke Zahra.

"Gimana dia sekarang? Dia... dia makan nggak ya? Dia... dia sehat nggak?"

Sudah dua minggu lebih dia nggak ketemu Zahra. Nggak ada kabar. Telepon genggam Zahra selalu mati—mungkin pulsa habis atau memang sengaja dimatiin.

"Zahra... aku kangen..."

Dia belok ke jalan kecil—jalan pintas yang biasa dia lewatin kalau mau ke apartemen. Dan tiba-tiba...

WIIUUU WIIUUU!

Ambulans lewat dari arah depan. Kenceng. Lampu berkedip-kedip.

Arkan minggir. Ngeliatin ambulans itu lewat. Dan... dan hatinya tiba-tiba nggak tenang.

"Kenapa... kenapa aku ngerasa aneh?"

Ambulans itu belok ke klinik deket situ—klinik kecil yang sering dia lewatin tapi nggak pernah masuk.

"Mungkin... mungkin aku harus liat... siapa tau..."

Dia nggak tau kenapa dia ikutin ambulans itu. Instingnya aja yang bilang harus ikut.

Dia parkir mobil sembarangan di depan klinik. Turun. Lari masuk.

Di ruang tunggu, dia liat paramedis lagi bawa tandu. Di atas tandu ada... ada seseorang. Perempuan. Pake daster pink pudar. Hijab coklat kusut. Wajahnya pucat. Mata tertutup.

Zahra.

"ZAHRA!"

Arkan lari deket. Paramedis ngeliatin dia bingung.

"Mas kenal pasien ini?"

"Iya! Dia... dia temen aku! Dia kenapa?! Dia... dia pingsan?!"

"Iya. Kami temuin dia pingsan di pinggir jalan. Kondisinya lemah. Dehidrasi. Mungkin kelelahan."

Kelelahan.

Zahra... kelelahan?

"Dia... dia dibawa kemana?"

"Ruang periksa. Mas tunggu di luar dulu ya."

Dan tandu itu dibawa masuk. Zahra... Zahra masih nggak sadar.

Arkan berdiri di situ kayak orang bego. Tangannya gemetar. Napasnya nggak teratur.

"Zahra... kenapa... kenapa kamu kayak gini?"

---

Setengah jam kemudian, dokter keluar. Dokter muda yang mukanya capek.

"Mas kenal pasien Zahra Amanda?"

"Iya, Dok. Saya... saya temannya. Dia gimana?"

"Dia kena kelelahan akut. Dehidrasi berat. Kurang gizi parah. Dan demam tinggi. Sepertinya dia kerja terlalu keras tanpa istirahat cukup. Tubuhnya... tubuhnya nggak kuat lagi."

Arkan diem. Otak nggak bisa proses.

Zahra... kerja terlalu keras? Kenapa? Buat apa?

"Dok... dia... dia bahaya nggak?"

"Sekarang kondisinya stabil. Tapi dia harus istirahat total minimal seminggu. Kalau nggak... bisa lebih parah. Jantungnya bisa kena. Ginjalnya bisa rusak."

"Dok... apa... apa dia bisa dijenguk?"

"Sebentar lagi. Kami lagi pasang infus. Mas tunggu dulu ya."

Dokter masuk lagi. Arkan duduk di bangku plastik keras. Tangannya masih gemetar. Pikirannya kacau.

"Zahra... kenapa kamu nggak bilang? Kenapa kamu... kenapa kamu kerja sampe kayak gini?"

Dia inget kata-kata Zahra terakhir kali mereka ketemu. "Zahra harus jaga jarak. Sampai Mas beneran yakin."

"Zahra... kamu... kamu ngejauh dari aku buat apa? Buat kerja sampe mati?"

Pintu ruang periksa kebuka. Dokter keluar lagi.

"Mas bisa masuk sekarang. Tapi jangan lama-lama. Pasien butuh istirahat."

"Terima kasih, Dok."

Arkan masuk. Ruangan kecil dengan dinding putih kusam. Kasur besi di tengah. Dan... dan Zahra. Tidur di situ. Infus nempel di tangan kiri. Wajahnya pucat. Bibir kering pecah-pecah. Tangan penuh luka-luka lecet.

"Zahra..."

Dia jalan deket. Duduk di kursi sebelah kasur. Pegang tangan Zahra yang dingin.

"Zahra... aku disini... aku... aku nggak bakal ninggalin kamu..."

Zahra nggak bales. Masih pingsan.

Arkan natap wajah Zahra lama. Wajah yang dulu sering senyum. Sekarang... sekarang pucat. Kurus. Kayak orang yang nggak makan berhari-hari.

"Kenapa... kenapa aku nggak tau? Kenapa aku... kenapa aku nggak ngecek kamu?"

Air mata keluar. Dia lap cepet.

"Zahra... maafin aku... maafin aku egois... aku cuma mikirin perasaan aku... aku nggak mikirin kamu... aku nggak mikirin... kamu pasti susah sendirian..."

Dia pegang tangan Zahra erat. "Zahra... aku janji... aku janji nggak bakal ninggalin kamu lagi... aku... aku bakal jaga kamu... apapun yang terjadi..."

---

Dua jam kemudian, Bapak Zahra datang. Bu Ria yang anter naik becak—karena nggak ada uang buat taksi.

"Zahra... Zahra dimana?!" Bapak panik. Napasnya ngos-ngosan. Wajahnya pucat.

Arkan keluar dari ruang periksa. "Pak Ahmad..."

Bapak berhenti. Natap Arkan. Matanya... marah.

"Kamu... kamu kenapa disini?"

"Pak... saya... saya kebetulan liat ambulans bawa Zahra kesini... saya... saya khawatir—"

"Kamu khawatir?" Bapak jalan deket. "Kamu khawatir tapi kamu ninggalin anak Bapak sendirian?! Kamu khawatir tapi kamu nggak tau dia kerja sampe pingsan?!"

"Pak... saya... saya nggak tau... Zahra nggak bilang—"

"Karena dia nggak mau ngerepotin kamu!" Bapak teriak. "Dia... dia cinta kamu! Dia... dia ngelepas kamu demi agamanya! Dan kamu? Kamu cuma mikirin diri sendiri!"

Arkan diem. Nggak bisa jawab. Karena... karena Bapak bener.

"Pak... maafin saya... saya... saya beneran nggak tau..."

"Sekarang kamu tau! Sekarang kamu liat sendiri! Anak Bapak... anak Bapak sekarat gara-gara dia terlalu kuat! Gara-gara dia... dia nggak mau minta tolong ke siapapun!"

"Pak... saya... saya mau bantuin—"

"Bantuin gimana?!" Bapak natap Arkan tajam. "Kamu mau kasih uang? Kamu pikir anak Bapak butuh uang kamu?! Yang dia butuh itu... yang dia butuh itu kepastian! Kepastian kamu mau masuk Islam atau nggak! Kepastian... kepastian kalian bisa bersama atau nggak!"

Arkan diem. Tenggorokannya kayak dicekek.

"Pak... saya... saya lagi cari jawaban... saya lagi... lagi belajar—"

"Belajar mulu! Sampe kapan?!" Bapak batuk keras. Bu Ria langsung pegang bahunya.

"Pak Ahmad... pelan-pelan... jantung Bapak..."

Bapak ambil napas pelan. Terus natap Arkan lagi. "Mas Arkan... dengerin Bapak. Anak Bapak itu cewek yang baik. Dia... dia taat sama agamanya. Dia sayang sama keluarganya. Dia kerja keras. Dan dia... dia cinta sama kamu. Tapi... tapi dia nggak bisa terus kayak gini. Dia nggak bisa... nggak bisa terus menunggu kamu. Dia butuh... dia butuh kepastian. Dan kalau kamu nggak bisa kasih kepastian... tolong... tolong jangan ganggu dia lagi. Biarkan dia... biarkan dia hidup tenang."

Dan Bapak masuk ruang periksa. Ninggalin Arkan berdiri sendirian di lorong klinik yang dingin.

Bu Ria masih di situ. Dia natap Arkan sedih.

"Mas... Bapak nya emang keras. Tapi... tapi dia nggak salah. Zahra... Zahra beneran butuh kepastian."

"Bu... saya... saya ngerti. Tapi saya... saya masih bingung... saya masih... masih belum yakin—"

"Terus kamu mau Zahra nunggu sampe kapan? Sampe dia mati kelelahan? Sampe dia... sampe dia nggak kuat lagi?" Bu Ria pegang bahu Arkan. "Mas, Zahra itu cewek kuat. Tapi dia juga manusia. Dia juga butuh sandaran. Dan kalau kamu nggak bisa jadi sandaran dia... tolong... tolong lepas dia. Biar dia bisa cari orang lain yang... yang bisa kasih dia kepastian."

Arkan nangis. Diam-diam. "Bu... saya... saya nggak mau lepas dia... saya cinta dia..."

"Cinta itu bukan cuma ngomong, Mas. Cinta itu tindakan. Cinta itu... cinta itu rela berkorban. Dan kalau kamu beneran cinta sama Zahra... kamu harus tau... apa yang dia butuh. Dan dia butuh... dia butuh kamu masuk Islam. Kalau kamu nggak bisa... kamu harus rela lepas dia."

Bu Ria masuk ruang periksa. Ninggalin Arkan sendirian lagi.

Arkan duduk di bangku plastik. Nangis dalam diam.

"Zahra... maafin aku... maafin aku egois... aku... aku beneran nggak tau kamu susah... aku... aku cuma mikirin aku sendiri..."

Dia pegang kepala. Keras-keras. "Aku harus gimana? Aku harus... aku harus yakin gimana? Tuhan... tolong... tolong kasih aku jawaban... aku... aku nggak kuat lagi..."

---

Sejam kemudian, perawat keluar. "Mas yang tadi tanya soal Zahra?"

Arkan langsung berdiri. "Iya, Suster. Dia gimana?"

"Dia udah sadar. Tapi masih lemah. Mas mau ketemu dia?"

"Boleh?"

"Sebentar aja ya. Dia butuh istirahat."

"Terima kasih, Suster."

Arkan masuk lagi. Zahra udah bangun. Duduk di kasur sambil bersandar di bantal. Bapak duduk di sebelahnya. Bu Ria berdiri di pojok.

Zahra liat Arkan. Matanya melebar. Shock.

"M-Mas... Mas Arkan... kenapa... kenapa Mas disini?"

"Aku... aku kebetulan liat ambulans bawa kamu kesini... aku... aku khawatir..."

Zahra nunduk. "Mas... Mas nggak usah khawatir... Zahra... Zahra baik-baik aja..."

"Baik-baik aja?!" Arkan jalan deket. "Zahra, kamu pingsan! Kamu kelelahan! Kamu kurang gizi! Itu... itu nggak baik-baik aja!"

"Mas... Zahra cuma... cuma capek dikit... nggak apa-apa—"

"Nggak apa-apa?!" Arkan naikkan suara. "Zahra, kamu... kamu kerja sampe mati! Kenapa?! Kenapa kamu nggak bilang ke aku?! Kenapa kamu... kenapa kamu nahan sendiri?!"

"Karena Zahra nggak mau ngerepotin Mas!" Zahra balas teriak. "Mas... Mas udah punya masalah sendiri! Mas lagi bingung soal agama! Mas lagi... lagi cari jawaban! Zahra nggak mau... nggak mau nambahin beban Mas!"

"Kamu bukan beban!" Arkan nangis. "Kamu... kamu orang yang paling penting buat aku! Dan aku... aku harusnya tau! Aku harusnya... harusnya jaga kamu!"

"Mas..." Zahra juga nangis. "Zahra... Zahra nggak butuh dijaga... Zahra cuma... cuma butuh Mas yakin... yakin sama Islam... yakin... yakin kalian bisa bersama dengan cara yang bener..."

Arkan diem. Napasnya ngos-ngosan.

"...Zahra, aku... aku janji. Aku janji aku bakal cari jawaban. Aku bakal... bakal belajar lebih serius. Dan kalau... kalau aku yakin... aku... aku bakal masuk Islam. Buat kamu. Buat kita."

Bapak berdiri. "Mas Arkan. Bapak udah bilang. Jangan masuk Islam kalau cuma buat anak Bapak. Masuk Islam itu... itu harus karena yakin. Karena... karena percaya."

"Pak... saya... saya tau. Tapi saya juga tau... saya nggak bisa hidup tanpa Zahra. Dan kalau... kalau satu-satunya cara buat saya bisa sama dia adalah masuk Islam... saya... saya bakal coba yakin."

Bapak diem lama. "...oke. Bapak kasih Mas waktu. Tiga bulan. Tiga bulan buat Mas belajar. Buat Mas yakin. Dan kalau setelah tiga bulan Mas nggak yakin... tolong... tolong jangan ganggu anak Bapak lagi."

"Pak—"

"Tiga bulan, Mas. Itu waktu yang cukup."

Arkan natap Zahra. Zahra natap balik. Mata mereka sama-sama basah.

"...oke, Pak. Tiga bulan. Saya... saya janji."

---

Sebelum Arkan pulang, dia sempet bayar biaya berobat Zahra di kasir klinik. Tiga ratus ribu. Dia bayar tanpa bilang siapa-siapa.

"Untuk pasien Zahra Amanda. Sudah lunas."

"Terima kasih, Pak."

Arkan keluar klinik. Duduk di mobil. Napas dalam.

"Tiga bulan. Aku punya waktu tiga bulan."

Dia tatap langit malam yang gelap.

"Tuhan... tolong tunjukkan jalan. Aku... aku nggak bisa terus kayak gini. Aku butuh jawaban. Sekarang."

Dan malam itu... Arkan tau.

Dia harus serius.

Nggak boleh setengah-setengah lagi.

Karena Zahra... Zahra nggak bisa nunggu lebih lama lagi.

Dan dia... dia nggak mau kehilangan Zahra.

Apapun yang terjadi.

---

**BERSAMBUNG KE BAB 22: Rencana Arkan**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!